Entries from September 2009
September 30, 2009

Judul Novel: The Chosen Prince, Pangeran Pilihan
Penulis: Risma Budiyani
Penerbit: DIVA Press
Bagi kita yang berusia mulai 25 tahun ke atas, dan masih single, tentu saja sangat mengakrabi bagaimana “tekanan” lingkungan sosial terhadap diri kita. Anda akan menemukan pertanyaan-pertanyaan umum di pesta pernikahan teman, atau bahkan ketika silaturahmi ke keluarga besar di hari raya idul fitri. Daftar pertanyaan ini sebenarnya hanya basa-basi, tetapi setelah sekian lama diterpa pertanyaan-pertanyaan itu, kita akan merasakan betapa menyakitkannya.
Let say ambil beberapa contoh: Kapan menikah? Kok belum punya calon? Apakah terlalu tinggi standarmu? Kenapa kamu pilih-pilih?
Inilah yang dialami Jasmine, si tokoh utama dalam novel The Chosen Prince ini. Ia adalah gadis muslimah yang cerdas, yang sehari-harinya mengalami kehidupan yang relijius. Konflik yang dialami biasa juga dialami oleh anak-anak muda yang sedang mencari jati diri dan kedewasaan berpikir. Ia terlanjur jatuh cinta kepada seseorang bernama Saiful Malook dan patah hati karena sang pria meninggalkannya.
Ia terlanjur membentuk konsep mahligai cinta yang ideal adalah seperti yang ia bangun mimpinya dengan Saiful Malook. Saiful Malook lah pria satu-satunya! Tak ada yang lain! Segalanya adalah dia! Nah, dalam perjalanan berusaha kembali menyembuhkan luka-lukanya dengan Saiful Malook, muncul dua orang pria baik-baik yang mencintainya: Rashid dan Mike Carlos.
Sampai di sini dia dihadapkan dengan pilihan-pilihan di tengah-tengah tekanan sosial yang sedang menghantamnya kiri dan kanan. Harus diakui, ia belum menemukan sebentuk cinta ideal yang telah ia bangun serupa cinta kepada Saiful Malook. Apakah itu yang dimaksud dengan terlalu memilih-milih? Apakah ia harus mengikuti tekanan sosial dimana umur akan bertambah tanpa ampun sedangkan apa yang ia cita-citakan belumlah datang? Apakah benar pernikahan bisa tanpa cinta yang telah ia impikan?
Gaya Penulisan
Novel ini jelas inspiratif, khususnya bagi para lajang yang sedang dirundung kegelisahan karena sang pangeran belum datang menjemput, sementara waktu terus menggelinding tanpa ampun, dan pertanyaan-pertanyaan dari kiri-kanan semakin tajam mengiris perasaan.
Risma Budiyani membawa alur cerita dengan pembawaan orang pertama dan orang ketiga. Tetapi ia tidak konsisten di satu tokoh saja. Tiga tokoh sentral saling bergantian menceritakan perasaannya dari bab ke bab. Selagi “aku” berarti Jasmine, di bab depan, “aku” bisa berarti Rashid atau Mike. Atau tiba-tiba saja, bab berikutnya, sang penulis ikut campur dalam posisi orang ketiga serba tahu.
Sayangnya, menurut saya, meskipun Jasmine, Rashid, dan Mike adalah tokoh rekaan penulis yang sangat berkarakter, saya tidak melihat karakter masing-masing mereka ketika mereka bercerita. Jadi, kalau tidak tahu konteks yang sedang dibicarakan, tidak bisa dibedakan mana gaya bercerita Jasmine, Rashid, dan Mike. Padahal, secara logis, dengan karakter ketiganya yang berbeda, mereka pasti memiliki gaya bercerita yang berbeda pula. Saya bahkan beranggapan bahwa yang bercerita dengan kata ganti “aku” itu adalah Risma Budiyani sendiri, bukan Jasmine, Rashid, atau Mike.
Kalau tidak salah ingat, saya menemukan model bercerita lompat-lompat begini di novelnya Agatha Christie: The Man in the Brown Suit. Tetapi di sini saya benar-benar bisa membedakan mana cerita Anne Beddingfeld mana cerita Sir Eustace Pedler. Gaya bercerita mereka berbeda. Lagipula, Sir Eustace Pedler bercerita dalam catatan hariannya yang kelak diberikannya kepada Anne, jadi sebenarnya, penulis tetap berada pada titik Anne, tidak pernah melompat. Kalau di novel The Chosen Prince, penulis melompat-lompat sehingga terkesan buku itu adalah buku tiga orang (bahkan empat — karena ada gaya orang ketiga serba tahu) yang digabung menjadi satu.
Penutup
Saya suka novel ini karena dalam beberapa hal memberikan sedikit jawaban atas beberapa pertanyaan saya selama ini. Kisah cinta Rashid kepada Jasmine, dalam beberapa hal menjawab pertanyaan kenapa saya dulu ditolak dan cinta ideal yang dibangun Jasmine akan Saiful Malook adalah impian yang saya pernah bangun tentangnya, dan karenanya saya harus bersusah payah menyembuhkan luka. Kisah cinta antara Mike dan Jasmine, memberikan saya gambaran bagaimana seorang wanita menangani sebuah lamaran, dan ketika sholat istikharah yang dipanjatkan setiap malam tidak memberikan ketetapan hati kepada seseorang, maka seorang pria itulah yang harus ditolak.
Begitulah cinta.
Posted in Review
11 Comments »
September 26, 2009

FLICKR
Lokasi: Kebon Belakang Rumah, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Sigma 17-70 mm Macro
Momen idul fitri tentu memiliki banyak makna bagi setiap orang. Adalah bohong jika lebaran tidak berarti sedikitpun bagi Anda (yang muslim), apalagi, kita di Indonesia memiliki tradisi unik: mudik ke kampung halaman setiap lebaran.
Bagi saya, idul fitri selama ini selalu menjadi jembatan antara masa kini dengan masa lalu. Setiap kali saya bertemu dengan teman-teman lama, setiap itu pula saya merasa terlempar kembali ke masa itu. Hanya saja, kami telah banyak berubah. Di antara kami ada yang telah memulai hidup barunya sebagai suami/isteri, ada yang telah menggendong batita mungil lucu, dan beberapa dari kami, tidak banyak berubah — hanya dulu yang masih sekolah/kuliah sekarang bekerja.
Kadangkala saya tak menyadari betapa waktu begitu cepat berlalu, dan betapa kami-kami ini sudah beranjak tua. Dan Tulungagung yang tua, nampaknya sangat lambat untuk tumbuh. Kalidawir masih lah seperti itu. Campurdarat, hanya jalannya yang sekarang lebih mulus karena aspal hot mix, sementara di Jetakan ada pom bensin baru di pinggir sawah yang sejuk.

FLICKR
Lokasi: Kebon Belakang Rumah, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Sigma 17-70 mm Macro
Saya dilanda perasaan yang aneh ketika “terpaksa” menyadari bahwa hometown saya ini hanya akan saya kunjungi ketika liburan saja. Saya tidak akan bisa menikmati suasana pagi dan sore seperti ini setiap hari. Apakah saya mendambakan suatu hari bekerja di Tulungagung? Nampaknya hidup tenteram dan damai bisa hidup di hometown sendiri adalah ide yang bagus juga (saya iri dengan teman-teman yang bisa bekerja mapan di hometown).
Tetapi apa iya? Mungkin hanya kepenatan jiwa saja yang berpikiran begitu. Saya kira, andai jika saya diberi kesempatan bekerja selama enam bulan saja, saya akan segera merindukan hiruk pikuk Jakarta, tempat saya jungkir balik mengejar apa yang dinamakan: aktualisasi diri. Iya kan? Dagangan saya hanya laku di situ sih, apa iya di sini ada yang mau beli konsep-konsep macam enterprise service bus? Hahaha…
Posted in Catatan Harian, Makro
11 Comments »
September 25, 2009

FLICKR
Lokasi: Kebon Belakang Rumah, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Sigma 17-70 mm Macro HSM
Nektar adalah zat yang ada di ujung putik-putik bunga yang amat disukai oleh baik kumbang maupun lebah. Zat ini merupakan cikal bakal madu. Saya bukanlah seorang ahli botani atau seorang zoologist, hanya saja saya cukup terkesan dengan lensa pinjaman Sigma 17-70 mm macro rasio 1:3 (sebenarnya ini lensa normal — cuma bisa untuk fokus sangat dekat). Yang jelas, lensa ini cukup membuat saya keracunan untuk memiliki sebuah lensa makro 1:1 :(
Posted in Makro
5 Comments »
September 18, 2009

FLICKR
Lokasi: Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM
Hidup itu ibaratnya seperti sebuah perjalanan mengarungi samudera panjang. Dunia tempat kita berpijak ini hanyalah tempat singgah sementara. Mengisi perahu dengan bekal, bahan bakar, untuk melanjutkan perjalanan yang lebih panjang. Adalah menyedihkan dan sangat disesali jikalau perahu itu harus cacat karena kecerobohan kita sendiri sewaktu transit ini.
Oleh karena itu, dalam suasana idul fitri ini, izinkanlah saya memohon maaf setulus hati jika ada dalam tindakan, tulisan, yang tidak berkenan di hati. Izinkanlah saya mengucapkan selamat hari raya Idul Fitri, 1 Syawal 1430 H bagi yang merayakan. Selamat menikmati liburan bersama keluarga.
Taqaballahu mina wa mingkum,
Shiyamana wa shiyamakum.
Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.
Galih Satriaji, sekeluarga
Posted in Catatan Harian, Landscape
8 Comments »
September 16, 2009
Saya tidak mengatakan bahwa Delicious akan bisa mengalahkan Google dalam hal pencarian, tapi paling tidak Delicious menawarkan sesuatu yang lain, yang practical buat dipakai!
Saya membutuhkan software gratis (free) untuk melakukan konversi dari format MIDI ke MP3. Maka dari itu, saya googling dengan kata kunci midi converter free. Google, membangun indeks-nya berdasarkan isi halaman dan struktur peringkat yang dilakukan oleh sebuah mesin dengan kecerdasan buatan (artificial intelligence) tinggi. Tapi sehebat apapun mesin Google, para webmaster jauh lebih cerdas. Bahkan, topik ini telah menjadi cabang ilmu pengetahuan baru, yaitu: Search Engine Optimization (SEO).

Sejak awal, saya tahu, kata free diterjemahkan Google secara tidak murni lagi. Saya hanya akan menemukan software yang bersifat shareware. Mereka ini dengan cerdik menyisipkan kata free dalam artian bukan free harga software-nya, tetapi hanya sebatas free download. Tahu apa mesin soal beda free download dengan free charge? Oleh karena itu, hasil pencarian Google dalam hal ini sangat mengecewakan, karena halaman pertama hingga kedua bercokol shareware-shareware yang sama sekali tidak free.

Oke, bagaimana dengan Delicious? Salah satu gelombang legenda web 2.0? Ini menarik. Pembangunan indeks-nya didasarkan pada hasil voting manusia. Semakin banyak orang yang mem-bookmark, semakin tinggi peringkatnya. Kualitas sebuah situs ditentukan oleh manusia yang hasilnya tentu lebih akurat daripada mesin. Paling tidak, para ahli SEO tidak/belum bisa mengakali bagaimana supaya situsnya nangkring di posisi teratas hasil pencarian Delicious.
Hasilnya? Sangat memuaskan. Saya diantarkan ke situs bernama Media-Convert.com, sebuah situs yang bisa melakukan konversi berbagai macam format multimedia baik video, audio, dan gambar ke dalam format yang lain secara online dan yang paling penting: benar-benar gratis! Situs ini bahkan tidak masuk di halaman kedua pencarian Google. Padahal inilah yang saya butuhkan. Dengan segera, saya bisa mendapatkan file MP3 atau 3GP saya dari format MIDI yang saya upload.
Ada perlu mencoba juga sekali-sekali. ;)
Posted in Internet
6 Comments »