Karawang Bekasi
Karawang Bekasi
Oleh: Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagiTapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetakKami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kamiKami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apaKami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwaKami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapanAtau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkataKami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetakKenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayatBerilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impianKenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
Sebuah pagi yang berkesan. Saya membaca puisi ini dengan gegap gempita di sebuah ruangan bernama kantor Depdikbud Kecamatan Pakel, Tulungagung, di depan tiga orang juri yang sedang sibuk menghitung dan mengukur rima, irama, pemenggalan, intonasi, artikulasi, dan mimik penghayatan yang sedang saya keluarkan sekuat tenaga. Sementara di ujung sana, Bu Yatmi, guru kelas saya, berharap-harap cemas melihat penampilan saya, khawatir ada yang meleset dari latihan panjang sebelum hari ini. Di ujung lain, ada bunda yang sedang mengulum senyum simpul. Sinar mata kebanggaan nampak di wajahnya.
Lima belas tahun kemudian, ingin sekali rasanya saya membaca puisi ini sekali lagi. Ingin saya mengenang mereka yang mau mengorbankan jiwa dan raga demi negeri tercinta Indonesia. Tak berharap imbal balik, tak khawatir akan masa depan. Ingin saya berteriak kembali lewat puisi ini, kepada mereka yang tega melukai ibu pertiwi, tanah kelahiran mereka sendiri, atas nama sebuah doktrin yang absurd.
Seperti dulu, ketika saya bisa berteriak, mengepalkan tangan, dan akhirnya menatap jauh ke depan sambil berucap… Beribu kami… terbaring antara… Karawang… Bekasi….
Dirgahayu Indonesiaku.
4 Comments
dhodie
August 14, 2009Saya masih ingat juga, mendeklamasikan puisi ini di sebuah lomba. Karena saya dibesarkan di Bekasi dan dulu sering sekali berjalan melintas kota ini, jadi lumayan dapat `feel`nya ketika bicara Karawang…. Bekasi…. hehehehe
Indonesia, you’re still the one for me
Kelopakbiru
August 14, 2009Aslm. Maturnuwun atas puisinya. Mau dibaca pas syukuran 17-an.
hedi
August 15, 2009dah pernah ke kerawang belum, Sat?
Fenty
August 15, 2009waaahh daleeemmmm