Selamat Siang, Karimun Jawa
FLICKR
Lokasi: Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM
Tiga jam perut diaduk-aduk oleh laju kapal cepat Kartini yang lepas jangkar dari pelabuhan Tanjung Mas Semarang, kami pun merapat di Pulau Karimun Jawa Besar, pulau terbesar dalam gugusan kepulauan Karimun Jawa. Rasa mual mau muntah karena mabuk laut dihajar ombak tiga meteran seketika sirna tatkala melihat betapa cantik kepulauan ini. Langit yang begitu biru, bersatu dengan air laut yang jernih biru bergradasi kehijauan, angin laut semilir yang segar menerpa dan mempermainkan rambut beberapa gadis yang dibiarkan tergerai. Daun pohon kelapa yang berbaris di tepi pantai seperti menyambut kami dengan riang gembira.
Selamat siang, Karimun Jawa. Ini adalah awal dari ekspedisi dua hari kami di kepulauan Karimun Jawa.
Tentang Video Clip Hello
Saya mengenal lagu Hello-nya Lionel Richie ini sudah lama, lagu ini adalah salah satu lagu latihan saya waktu belajar bermain gitar belasan tahun yang lalu. Tapi saya tidak pernah menduga videoclip-nya seperti ini. Banyak orang berkomentar videoclip ini jelek ceritanya, tapi saya kok berpenilaian lain. Sangat menyentuh kalau buat saya.
Adalah seorang guru seni muda (saya pikir kelas musik) yang diam-diam menyukai salah satu muridnya yang tuna netra. Namanya Laura. Ia kemudian memperhatikannya, memikirkannya, mencuri pandang kepadanya, bahkan menguntitnya, yang kadang-kadang hanya sekadar untuk menikmati indahnya sinar mentari yang jatuh di gerai rambutnya.
Menurut saya, sejatinya lagu ini adalah lagu tentang keragu-raguan seorang pria ketika mulai jatuh cinta kepada gadis yang dipilihnya dan harus memutuskan apakah ia akan melangkah lebih lanjut ataukah justru berlari menjauh. Dan inilah yang dialami pak guru yang sedang jatuh cinta kepada muridnya yang tuna netra. Tetapi masalahnya, ia sendiri tak tahu bagaimana harus menyatakan cintanya kepada Laura. Ia tak tahu bagaimana cara merebut hati sang gadis, bagaimana cara menunjukkan bahwa ia sebenarnya jatuh cinta kepadanya.
Hingga akhirnya, ketika suatu hari di kelas seni patung, Laura menunjukkan hasil karya-nya. Seorang tuna netra, dengan mata hati perasaannya, mencoba melukiskan apa yang ia lihat dalam karyanya. Katanya, “I’ve wanted you to see it so many times. But I finally think it’s done. Tell me what you think of it… This is how I see you…”Â
Hello… is it me you’re looking for?
Cat Pagar yang Menyelamatkan Saya
FLICKR
Lokasi: Stasiun Duren Kalibata, Jakarta Selatan
Canon Ixus 860 IS | Canon Zoom Lens 4.6-17.3 mm
Beginilah mungkin cara engineer menyelesaikan masalahnya hahaha. Saya pergi ke Bogor untuk sebuah keperluan dengan kereta KRL Ekonomi AC Tanah Abang – Bogor dan kembali dengan kereta terakhir, KRL yang sama. Saya naik dari stasiun Duren Kalibata dan turun di stasiun kecil bernama Cilebut, satu pemberhentian sebelum stasiun Bogor — setelah Bojong Gede.
Saya sangat jarang naik KRL, terakhir adalah waktu ke Kebun Raya Bogor, itupun naik Pakuan Express yang tidak berhenti di stasiun-stasiun kecil. Jadi masalah saya adalah: saya tidak mengenali bentuk stasiun dimana saya harus turun. Pas berangkat, saya berdiri di dekat pintu agar bisa melihat papan nama stasiun sehingga waktu saya lihat papan bertuliskan Bojong Gede, saya tahu pemberhentian berikutnya saya harus turun.
Masalah terjadi pada waktu pulang. Kereta terakhir berangkat dari Cilebut pukul 21:04, praktis saya tidak bisa melihat papan nama setiap stasiun. Kaca jendela gelap tidak bisa diintip. Saya hanya bisa melihat sebatas ketika pintu dibuka, dan itu sangat singkat. Kalau saya tidak turun terlalu awal, bisa jadi saya turun terlalu jauh.
Langkah pertama, saya mengandalkan GPS di Nokia N95 saya. Sialnya, mulai stasiun Depok, dia kehilangan kontak satelit dan tidak bisa tracking posisi saya. Nokia Maps, Google Maps, MGmaps, sama saja, ngak ngok tidak bisa tentukan posisi. Saya tidak bisa lagi mengetahui stasiun mana, entah Lenteng Agung, entah Pasar Minggu.
Untunglah saya ingat di pagi waktu berangkat tadi, saya foto-foto suasana stasiun Duren Kalibata, seperti yang biasa saya lakukan ketika bepergian untuk membunuh waktu. Jadi saya keluarkan Ixus dari saku celana, mereview foto-foto tadi dan menghapalkan ciri-ciri stasiun Duren Kalibata. Ciri yang saya hapalkan adalah pagar yang bercat oranye kombinasi kuning, bangku bercat biru, dan latar pohon-pohon (bukan toko/jalan raya). Saya kaget ketika tepat saat kereta berhenti, ciri-ciri itu langsung muncul di pintu yang terbuka. Saya lompat keluar dan memang saya turun di tempat yang tepat. Hahaha…
Saya geli menyadari bagaimana saya memecahkan masalah. Mungkin akan lebih menyederhanakan persoalan jika saya bertanya ke petugas bahwa ini telah sampai mana, dan berapa kali berhenti lagi untuk tiba di tempat tujuan saya. Tapi ya inilah mungkin pola pikir seorang engineer yang terbiasa berpikir deduktif dan analitik. Terstruktur, terpola seperti kode program komputer saja, hahahaha… )
Selamat Menunaikan Ibadah Puasa
FLICKR
Lokasi: Kepulauan Karimun Jawa, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM
Tak terasa setahun telah berlalu dengan begitu cepatnya. Ramadhan tahun ini, tak banyak persiapan yang saya lakukan, tak banyak target yang saya pancang. Apa yang saya inginkan hanyalah bisa lebih mendekatkan diri kepada-Nya, instrospeksi diri, merenung dalam hening, mencurahkan segalanya kepada-Nya.
Kepada teman-teman yang selalu meluangkan dan menyisihkan bandwidth-nya untuk membaca celotehan saya, izinkanlah saya mengucapkan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1430H bagi yang menjalankan. Jika ada kesalahan yang kurang berkenan — baik yang saya sengaja ataupun tidak — dengan setulus hati mohon saya dimaafkan. Karena jihad terbesar adalah jihad melawan hawa nafsu, semoga kita diberi kekuatan dalam bulan yang penuh berkah ini. Amin.
Galih Satria.
Masjid Agung Semarang
FLICKR
Lokasi: Masjid Agung Semarang
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM
Saya membayangkan, di pelataran inilah Haydar Ali Said, tokoh utama novel Bismillah, Ini Tentang Cinta, melarikan dirinya dan menengadah ke langit untuk meluapkan emosinya. Remaja yang baru lepas lulus SMA itu berlari keluar dari dalam gedung yang menjadi acara akad nikahnya yang aneh. Sementara dua gadis cantik berkerudung putih, Lexa dan Salma, memandanginya dengan mata yang berkaca-kaca. Saya sendiri ketika berada disana langsung didera perasaan yang aneh, seperti yang saya tulis di tulisan Tentang Pagi Hari Itu.
Karawang Bekasi
Karawang Bekasi
Oleh: Chairil Anwar
Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi
Tidak bisa teriak “Merdeka” dan angkat senjata lagiTapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami
Terbayang kami maju dan berdegap hati ?Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetakKami mati muda. Yang tinggal tulang diliputi debu
Kenang, kenanglah kamiKami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apaKami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu jiwaKami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Ataukah jiwa kami melayang untuk kemerdekaan, kemenangan dan harapanAtau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
Kaulah sekarang yang berkataKami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetakKenang-kenanglah kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung Syahrir
Kami sekarang mayatBerilah kami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impianKenang-kenanglah kami
Yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi
Sebuah pagi yang berkesan. Saya membaca puisi ini dengan gegap gempita di sebuah ruangan bernama kantor Depdikbud Kecamatan Pakel, Tulungagung, di depan tiga orang juri yang sedang sibuk menghitung dan mengukur rima, irama, pemenggalan, intonasi, artikulasi, dan mimik penghayatan yang sedang saya keluarkan sekuat tenaga. Sementara di ujung sana, Bu Yatmi, guru kelas saya, berharap-harap cemas melihat penampilan saya, khawatir ada yang meleset dari latihan panjang sebelum hari ini. Di ujung lain, ada bunda yang sedang mengulum senyum simpul. Sinar mata kebanggaan nampak di wajahnya.
Lima belas tahun kemudian, ingin sekali rasanya saya membaca puisi ini sekali lagi. Ingin saya mengenang mereka yang mau mengorbankan jiwa dan raga demi negeri tercinta Indonesia. Tak berharap imbal balik, tak khawatir akan masa depan. Ingin saya berteriak kembali lewat puisi ini, kepada mereka yang tega melukai ibu pertiwi, tanah kelahiran mereka sendiri, atas nama sebuah doktrin yang absurd.
Seperti dulu, ketika saya bisa berteriak, mengepalkan tangan, dan akhirnya menatap jauh ke depan sambil berucap… Beribu kami… terbaring antara… Karawang… Bekasi….
Dirgahayu Indonesiaku.
Iklan yang Berbisik, Tidak Berteriak
FLICKR
Lokasi: Jl. HR Rasuna Said, Jakarta Selatan
Nokia N95 | Carl Zeiss Optics
Saya selalu menyukai ad/iklan yang bergaya halus. Saya menyukai foto-foto poster yang tidak berteriak menyampaikan pesannya, tetapi tersenyum simpul. Menyimpan pesannya, memiliki simbolisasi. Memancing imajinasi, kecerdasan, dan wawasan penikmatnya. Buat saya, gaya komunikasi seperti ini lebih berkesan daripada yang langsung menyampaikan pesan.
Seperti iklan Rasuna Epicentrum di perempatan kuningan ini. Awalnya saya tak mengerti apa maksud penempatan foto perempuan yang tersenyum sambil membentangkan kain. Saya terkesiap waktu menyadari bahwa kain itu adalah sprei yang dibentangkan. Tatkala membaca tagline-nya, seketika itu pula saya tersenyum. Pas sekali!
Comments