Biang Macet Jalan Dr. Satrio
FLICKR
Lokasi: Depan Mal Ambassador, Jakarta Selatan
Nokia N95 | Carl Zeiss Optics
Mal Ambassador mungkin adalah mal yang paling strategis di Jakarta. Tidak terlalu mewah, tetapi lokasinya sangat dekat dengan pusat perkantoran Mega Kuningan, dan merupakan salah satu ikon di kawasan segitiga emas Jakarta. Sangat strategis, karena jalan Dr. Satrio ini membelah Jakarta dari barat hingga ke timur. Tanah Abang, Sudirman, Kuningan, Kampung Melayu, sampai menembus Pondok Bambu.
Nah, pertanyaan besar saya adalah: kenapa di depan mal ini tidak ada jembatan penyeberangan? Asal tahu saja, mobilitas pengunjung menyeberangi jalan ini sangat tinggi dan ini jelas membuat kemacetan yang mahaparah di sini dari pagi sampai malam. Siapa yang bertanggung jawab kira-kira? Pemerintah DKI? Atau pengelola mal?
Duniaku, Duniamu, Dunia Kita
FLICKR
Lokasi: Stasiun Kereta Api Kediri, Jawa Timur
Nokia N95 | Carl Zeiss Optics
Rem kereta ekspress malam Gajayana berdecit ketika matahari mulai naik dan mewarnai langit Kediri yang cerah. Masih setengah jam lagi untuk sampai di Tulungagung. Orang-orang mulai sibuk menyambut hari. Petugas pengatur perjalanan kereta api berdiri di depan panel kontrol bikinan Belanda dengan khidmat. Seorang pemuda tanggung, memakai kaos yang lusuh, dengan wajah yang masih bersih bersinar air mandi bergegas mengambil barang dagangan asongan di warung sebelah toilet umum stasiun.
Saya, meringkuk di sudut kursi bernomor 3A, mencoba menarik kelambu dan melihat keluar. Pendingin kereta terasa berlebihan, dan selimut hijau yang nyaman telah dikumpulkan petugas sejak masih di Kertosono. Saya termenung dan hanyut dalam lamunan…
Setiap pagi, matahari yang sama menyinari kita semua, namun kita hidup dalam dunia kecil yang berbeda-beda yang disebut rutinitas. Suasana Stasiun Kediri setiap hari akan mirip seperti itu, semirip saya yang sudah bermandikan asap knalpot, menghirup kabut SMOG yang beracun, berebut celah di jalanan Jakarta, mengais sesuatu yang orang sebut sebagai peluang, harapan, dan cita-cita akan kualitas hidup yang lebih baik.
Perjalanan kecil yang singkat seperti ini seperti memberikan kesempatan bagi saya untuk melihat sisi dunia yang lain. Dunia kecil yang tampak damai di kota kecil macam Kediri dan Tulungagung, tempat melarikan diri sejenak dari rutinitas. Suasana yang akan selalu saya rindukan.
PS: Galih mengucapkan terima kasih banyak kepada teman-teman yang ketemu kemarin di Tulungagung, dan kepada yang telah menemani ke kondangan. Thanks Lin, Neng, mantene wis meh medun panggung he he he…
Kemana Independensi Metro TV?
Saya sudah lama berkesan bahwa MetroTV tidak independen dalam berita-beritanya. Karena hal itu tersamarkan oleh Tapi saya tidak pernah melihat Metro sevulgar ini dalam menyajikan bedah editorialnya edisi hari ini: Pengerdilan Demokrasi.
Andi yang juga Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu melontarkan pernyataan itu ketika berorasi dengan penuh semangat di depan pendukung capres-cawapres SBY-Boediono di Makassar, Sulawesi Selatan.
Banyak yang marah atas pernyataan Andi itu. Kemarahan yang sangat wajar, karena demokrasi yang dengan susah payah ditegakkan, bahkan dengan darah dan air mata anak bangsa, hendak dimundurkan puluhan abad ke belakang.
Subjektivitas saya melihat, apa pun yang dicelotehkan para tim sukses capres tidak ada yang bermutu. Seperti anak kecil yang memamerkan bahwa ayahnya dokter, gubernur, lalu satu sama lain tak mau kalah dan akhirnya berantem. Coba lihat cara debat mereka, bisa sangat riuh rendah, moderator tidak berdaya lagi dalam memilah-milah dan mengatur alur debat. Mungkin bukan debat kusir lagi namanya, tapi hanya adu argumen yang sama sekali tidak mendidik. Seperti sinetron. Sayangnya, jualan tayangan model begini ada di setiap media televisi terestrial.
Yang saya tidak mengerti adalah betapa Media Indonesia (dan Metro TV) mengangkat salah satu ocehan tak bermutu itu menjadi tajuk editorial harian mereka. Gaya penulisannya pun tidak menurut aliran jurnalistik yang bersifat paparan dan deskriptif, tetapi lebih hidup dengan cenderung mengambil gaya personal yang persuatif. Lebih mirip blog pribadi — yang seharusnya tidak terjadi dalam sebuah media resmi. Sisi subjektivitas saya menilai, artikel itu sama sekali jauh dari isi sebuah ulasan dari media jurnalis yang besar di Indonesia.
Dulu saya menyukai acara Bedah Editorial Media Indonesia, karena ulasannya yang tegas dan tajam, ditambah narator yang sangat berkarakter dalam penyajiannya. Tapi lama kelamaan, ketajaman itu menjadi sesuatu yang menjengkelkan karena tidak disertai oleh argumen yang cerdas.
Apalagi ketika kita melihat sosok di balik nama besar Media Group, maka tentu saja tuduhan tidak independen ini akan muncul secara wajar ketika kita membaca artikel editorial edisi hari ini. Kalau begini saya kembali teringat pada tokoh antagonis film James Bond: Tomorrow Never Dies, Elliot Carver, pemilik Carver Media Group Network, yang kira-kira jika saya sarikan kembali, ia berkata,
Kini orang tidak perlu menguasai militer untuk menguasai dunia. Siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia!
Alangkah mengerikan membayangkan jika posisi media di Indonesia sudah seperti apa yang dikatakan Elliot Carver. Semoga itu tidak benar, dan Metro TV kembali kepada independensinya seperti yang seharusnya dilakukan oleh media jurnalistik resmi.
Sudut yang Terlupakan
FLICKR
Lokasi: Jl. Otto Iskandar Dinata, Bandung, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm
Sore yang mendung sama sekali tidak dipedulikan orang yang lalu lalang di jalan itu. Saya berdiri di trotoar, merasakan sejuknya udara Bandung yang mengingatkan saya dengan kota Malang. Tapi ini bukan jalan Dago yang mewah. Ini sisi Bandung yang tua. Dan di sudut sana, saya melihat sisi itu pada ibu penjual makanan di sudut pertokoan yang tutup. Ya, sisi yang terabaikan. Terlupakan.
Comments