Kemana Independensi Metro TV?
July 3, 2009
Saya sudah lama berkesan bahwa MetroTV tidak independen dalam berita-beritanya. Karena hal itu tersamarkan oleh Tapi saya tidak pernah melihat Metro sevulgar ini dalam menyajikan bedah editorialnya edisi hari ini: Pengerdilan Demokrasi.
Andi yang juga Juru Bicara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono itu melontarkan pernyataan itu ketika berorasi dengan penuh semangat di depan pendukung capres-cawapres SBY-Boediono di Makassar, Sulawesi Selatan.
Banyak yang marah atas pernyataan Andi itu. Kemarahan yang sangat wajar, karena demokrasi yang dengan susah payah ditegakkan, bahkan dengan darah dan air mata anak bangsa, hendak dimundurkan puluhan abad ke belakang.
Subjektivitas saya melihat, apa pun yang dicelotehkan para tim sukses capres tidak ada yang bermutu. Seperti anak kecil yang memamerkan bahwa ayahnya dokter, gubernur, lalu satu sama lain tak mau kalah dan akhirnya berantem. Coba lihat cara debat mereka, bisa sangat riuh rendah, moderator tidak berdaya lagi dalam memilah-milah dan mengatur alur debat. Mungkin bukan debat kusir lagi namanya, tapi hanya adu argumen yang sama sekali tidak mendidik. Seperti sinetron. Sayangnya, jualan tayangan model begini ada di setiap media televisi terestrial.
Yang saya tidak mengerti adalah betapa Media Indonesia (dan Metro TV) mengangkat salah satu ocehan tak bermutu itu menjadi tajuk editorial harian mereka. Gaya penulisannya pun tidak menurut aliran jurnalistik yang bersifat paparan dan deskriptif, tetapi lebih hidup dengan cenderung mengambil gaya personal yang persuatif. Lebih mirip blog pribadi — yang seharusnya tidak terjadi dalam sebuah media resmi. Sisi subjektivitas saya menilai, artikel itu sama sekali jauh dari isi sebuah ulasan dari media jurnalis yang besar di Indonesia.
Dulu saya menyukai acara Bedah Editorial Media Indonesia, karena ulasannya yang tegas dan tajam, ditambah narator yang sangat berkarakter dalam penyajiannya. Tapi lama kelamaan, ketajaman itu menjadi sesuatu yang menjengkelkan karena tidak disertai oleh argumen yang cerdas.
Apalagi ketika kita melihat sosok di balik nama besar Media Group, maka tentu saja tuduhan tidak independen ini akan muncul secara wajar ketika kita membaca artikel editorial edisi hari ini. Kalau begini saya kembali teringat pada tokoh antagonis film James Bond: Tomorrow Never Dies, Elliot Carver, pemilik Carver Media Group Network, yang kira-kira jika saya sarikan kembali, ia berkata,
Kini orang tidak perlu menguasai militer untuk menguasai dunia. Siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia!
Alangkah mengerikan membayangkan jika posisi media di Indonesia sudah seperti apa yang dikatakan Elliot Carver. Semoga itu tidak benar, dan Metro TV kembali kepada independensinya seperti yang seharusnya dilakukan oleh media jurnalistik resmi.
Posted in 












July 3rd, 2009 at 12:40 pm
Wew… MI jadi blog pribadi?
Posting dari BB… *yummy*
Penulisnya kog gak disertakan ya? *mikir*
July 3rd, 2009 at 12:53 pm
@yht:
Kalau Editorial Media Indonesia, penulisnya Dewan Redaksi Media Group.
July 3rd, 2009 at 4:02 pm
bener saia juga setuju…
news2 yang ditayangkan di metro tv banyak yang tidak independen…
menguntungkan salah 1 capres,,,,,
gmna neh metro ??bisa beri jawaban ??
July 3rd, 2009 at 10:10 pm
semua dikerahkan untuk tujuan politis, maybe!
July 4th, 2009 at 1:58 am
ndak bener ini, lha media massa kok ndak independent :evil:
July 4th, 2009 at 2:19 am
coba tengok di makassar dan sulsel secara umum, dikecam habis-habisan
menginjak2 martabat orang sulsel dan bugis pada khususnya.
perasaan di detik jg memberikan space masalah ini…
hmm
July 5th, 2009 at 6:55 am
@arul:
dan pem-blow-up-an media ini menjadikan isu ini sepuluh kali lebih serius….
July 9th, 2009 at 5:41 pm
ya jelas lah metro TV itu yang punya kan Surya Paloh Yg Tim sukses JK
July 14th, 2009 at 7:43 pm
Benar.. seperti kemarin pada saat2 kampanye , pelanggaran kampanye misalnya yang ditayangkan semua…kecuali dari partai golkar. Kemudian belakangan hari ini setelah pilpres.. semua isu yang menggoyang pemerintah, kayaknya diblow up .. sengaja untuk membawa opini yang menguntungkan salah satu pihak. Tapi yang dikuatirkan adalah masyarakat yang “termakan” cara ini, Misalnya terbawa-bawa menolak rame2 hasil pilpres spt skrg ini. Atau iklan gratis pendidikan.. (orang kita sih maunya enak terus.. disuapin wae), yang penting mah kita sudah dibantu.. dan itu bertahap..