Entries from July 2009
July 27, 2009
Tidak terasa, empat bulan perjalanan saya belajar piano. Jari-jari masih kaku, dan saya adalah orang yang paling malas melakukan penjarian. Latihan penjarian itu membosankan, hanya tang ting tung dari kiri ke kanan lalu balik lagi sampai bosen. Tapi memang terasa sekali manfaatnya untuk melemaskan jari. Memaksa jari-jari bekerja keras karena setengah jam saja sudah bisa bikin kelingking gemetar tak mampu lagi mencet tuts piano. Dan saya ingat pesan Pak Dimitri Mahayana waktu beliau mengajari saya secara singkat teori-teori piano jazz: bahwa penjarian itu penting agar kita selalu melangkah maju.
Tetapi paling tidak, apa yang saya dambakan waktu tercetus pikiran untuk belajar piano sudah sebagian terwujud. Memainkan lagu-lagu pop slow sederhana, bermain untuk sekedar melepas penat dan mengisi waktu di hari sabtu dan minggu. Saya sering melamun tentang malam yang hening sambil diiringi dentingan piano yang lembut. Seperti lagu yang saya mainkan tadi, medley lagu-lagu lama Koes Plus: Desember dan Maria. Kadang-kadang, juga untuk curhat juga, misalnya lagu Cinta Dalam Hati-nya Ungu yang bisa saya nyanyikan dengan penuh penghayatan. :))
Meskipun suasana malam hari itu buat saya paling cocok diiringi musik jazz yang lembut bernada-nada kromatik dominan 5 dan 9, saya masih jauh dari itu. Kedua tangan saya masih belum terlalu bisa diajak kompromi, utamanya ketika jari kiri memainkan nada 1/8 dan jari kanan memainkan nada 1/16. Dan proyek besar saya juga belum selesai, yaitu menyelesaikan satu partitur lengkap First Love-nya Utada Hikaru. Masih mandek di bagian ref-nya.
So far, piano jauh lebih menyenangkan daripada gitar, he he he…
Posted in Catatan Harian, Musik
9 Comments »
July 24, 2009

FLICKR
Lokasi: Jl. Pandanaran, Semarang, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm | Velbon CX-440
Kebahagiaan yang paling hakiki adalah saat kita bisa berbagi kasih sayang dengan orang yang paling kita sayangi
– May Irianti [aku link ke facebook karena udah jarang ngeblog lagi]
Saya selalu yakin bahwa setiap orang diciptakan untuk seseorang agar bisa saling berbagi kebahagiaan dan diberi kesempatan seluas-luasnya untuk mencari dan menemukan orang itu di setiap tikungan perjalanan hidupnya. Pertanyaannya adalah seberapa sering orang melihat bahwa ada yang menunggunya di sisi tikungan yang tidak pernah ia duga? Seberapa berkeloknya tikungan-tikungan perjalanan itu? Seberapa peka ia melihat sebuah kerlap-kerlip yang berbeda dengan yang biasa ia lihat?
Setiap pertemuan selalu membawa pesan. Setiap yang datang dan pergi akan membawa kesan. Setiap luka akan menumbuhkan kuncup harapan yang baru. Hingga suatu saat nanti, seorang yang tepat itu akan muncul dalam gemerlap kilauan cahaya yang indah untuk melanjutkan perjalanan di atas kerlap-kerlip untaian asa dan harapan bersama-sama.
Posted in Fotografi
8 Comments »
July 21, 2009

FLICKR
Lokasi: Masjid Agung Semarang, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM
Ketika saya berada di tengah-tengah pelataran masjid dan disuguhi suasana yang luar biasa ini, saya didera perasaan yang aneh. Ini pagi yang amat indah. Seindah apa, tergantung setiap orang memaknainya.
Sayup-sayup, terdengar doa barokah dari dalam masjid. Ah, ini pasti akan menjadi pagi yang paling membahagiakan untuk mereka. Pagi yang paling sakral. Kelelahan berbulan-bulan menyiapkan untuk pagi ini serasa sirna karena akad telah diucapkan dengan lancar. Tiada lagi yang mampu menghalangi gita cinta mereka berdua. Mentari kuning keemasan di ufuk timur itu tersenyum menyambut mereka.
Mungkin juga, suasana ini adalah suasana paling hampa. Hening, sepi, hampa, dan kosong. Mungkin tidak ada rasa sakit lagi, tidak akan ada rasa sedih lagi. Awan seperti melukiskan untaian-untaian sepi. Rangkaian asa sebesar titik api lilin telah ia tiup padam. Dia tak akan tahu, kapan ia akan berani menyalakan api itu lagi.
Perlahan, ia jatuh berlutut. Ia menunduk. Setipis embun, matanya berkaca-kaca…
Posted in Cermin (Cerita Mini), Landscape
5 Comments »
July 16, 2009

FLICKR
Lokasi: Lereng Gunung Gede, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Mengapa saya menyukai fotografi? Karena saya tidak bisa menggambar dan melukis. Karena media foto adalah media yang paling mudah dijadikan sarana untuk mengungkapkan ekspresi dan suasana hati — apa yang saya lihat dan rasa waktu itu. Karena peran fotografer adalah peran sebagai penonton yang melihat berbagai layar kehidupan tanpa harus ikut terlibat di dalamnya. Lewat foto, saya ingin bercerita, mengeluh, bersyukur, bergembira, dsb.
Sayangnya, saya bukanlah fotografer yang baik, saya tidak mampu membuat foto yang benar-benar bercerita seperti yang saya lihat pada foto-foto yang hanya cukup berjudul “Untitled”. Jadi saya memerlukan beberapa baris kata-kata untuk menyertai foto yang saya ambil.
Posted in Fotografi, Landscape
6 Comments »
July 14, 2009
Via Pak Firman Firdaus, agregator bikinan Pak Vavai ini mencoba meneruskan tradisi Planet Terasi yang sejak 1 Juli 2009 yang lalu tidak beroperasi. Menyusul Merdeka yang lebih dulu almarhum. Saya cukup sedih karena dua agregator itulah yang menggerakkan saya dulu mengubah gaya penulisan saya dari diary (yaa… betol… diary… yang biasa ditulis cewek-cewek itu), menjadi sebuah blog. Tidak beroperasinya Planet Terasi semakin menguatkan saya bahwa era blog telah lewat.
Terima kasih untuk Pak Vavai, bapak blog Indonesia ke-3 setelah Enda dan Priyadi. Hehehe…
Oh iya, agregator baru berjudul Blogger Planetarium ini ada di alamat ini.
Posted in Catatan Harian
4 Comments »