Salam Metal!

Posted by: on Jun 12, 2009 | 10 Comments

FLICKR
Lokasi: SD Negeri Samangraya 01, Cilegon, Banten
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Harusnya saya upload foto ini di hari anak nasional, tapi saya suka ekspresi mereka yang benar-benar alami. Ceria, polos, dan spontan. Waktu itu bus kami terjebak kemacetan di jalan raya Anyer, dan untuk menghilangkan rasa bosan, saya jeprat-jepret kemana saja. Anak-anak ini rupanya peka lensa juga, waktu saya memotret ke arah mereka dari jendela bus, mereka segera berebut memanjat pagar dan berpose dengan pose terbaiknya. “Salam metal kak!” mungkin begitu maksud isyarat jari jempol, telunjuk, dan jari kelingking itu.

Tempat Download Partitur Lagu

Posted by: on Jun 9, 2009 | 52 Comments

Sejak mengenal piano, aku sadar bahwa ada hal yang sangat membedakannya dengan gitar, yaitu kebutuhan untuk memainkan akord secara detail dan akurat. Ketika bermain gitar, aku bisa melewatkan detail seperti kunci-kunci antara. Tidak terlalu terasa diantara genjrengan jari. Namun aku tidak bisa memperlakukan hal yang sama di piano. Kunci Dm/C (baca: d-minor-on-c) akan terasa sangat berbeda rasa dengan kunci Dm saja. Bahkan Am7 berbeda dengan Am. Karena itulah, di transkripsi lagu Vidi Aldiano, aku menyertakan detail akord-akord on (thanks to sensei Stenly).

Sayangnya, telingaku tidak terlalu peka dengan akord detail seperti ini. Dan perjalananku belajar piano akan jalan di tempat kalau aku memaksakan diri mengabaikan detail akord. Oleh karena itu, aku harus bisa baca partitur, atau bahasa inggrisnya disebut score/sheet music, atau bahasa gaulnya disebut teks kecambah nggak jelas.

Nah, mayoritas, jika teman-teman mencari sheet music di Google, yang muncul adalah partitur-partitur berbayar yang kita harus membayar sekitar 3-5 dollar per download. Meskipun banyak sekali tersebar partitur yang gratis, situs-situs ini sangat tersebar dan susah mencarinya karena pagerank di mata Google rendah.

Ada situs dahsyat yang mengumpulkan situs-situs yang menyediakan layanan download partitur gratis, mengindeks-nya, dan menyediakan kotak pencari. Namanya www.piano-sheets.net. Nyaris semua lagu populer ada di sini. Barusan aku mendownload sheet-nya Aerosmith – I Don’t Wanna Miss A Thing buat dimainkan sama teman-teman besok di studio di Tebet.

Lalu bagaimana cara aku membaca partitur? Well, aku memang sangat terlambat buat memulai belajar piano, harusnya orang memulainya di umur 10 tahun, aku memulainya baru dua bulan yang lalu. Jadi aku melewati beberapa tahapan yang biasa dilalui anak-anak kelas piano klasik, dan sedikit curang dengan memanfaatkan teknologi. Caranya? Nanti aku ceritakan

Manchester United vs Indonesia. Mau?

Posted by: on Jun 8, 2009 | 17 Comments

Akhir-akhir ini, ada satu operator telepon selular yang gencar beriklan dengan bintang pemain-pemain Manchester United. Menampilkan Wayne Rooney, Edwin van der Sar, Ryan Giggs, dan bintang-bintangnya. Dengan merayu pengguna mengetikkan kata sakti REG, mereka mengiming-imingi tiket gratis di Senayan, menonton langsung pertandingan persahabatan antara Manchester United dengan Indonesia All Star.

Apakah iklan ini adalah iklan yang berhasil?

Secara subjektif, saya menganggap tidak. Iklan ini tidak membuat saya terkesan, malah bikin saya benci. Ini ternyata salah satu biang kerok yang bikin tiket susah dibeli di loket.

Di masa Piala Asia 2007 dulu, saya susah payah mendapatkan selembar tiket. Melalui seorang oknum “orang dalam”, kami mendapatkan tiket Indonesia melawan Korea Selatan. Itupun berada di tribun C, tempat para suporter Korsel mendukung timnya. Dan tentu saja, kalau Anda kenal tipikal suporter Indonesia, tempat ini rawan dilempari botol air mineral sampai batu.

Waktu mengetahui bahwa pertandingan eksibisi MU ini juga kacau urusan pertiketannya, saya menyerah. Lebih baik tidak melihat langsung. Toh, paling-paling pemain kelas Rooney, CR7, Teves, dan Berbatov tidak dimainkan. Melawan cadangannya cadangan pemain MU saja, Bengbeng Pamungkas dkk. sudah akan keteteran.

Jadi, ketika iklan itu bertanya: Mau?

Saya menggeleng kuat-kuat. Tidak! Tidak! dan sekali lagi Tidak!

Senja di Carita

Posted by: on Jun 7, 2009 | 8 Comments

FLICKR
Lokasi: Pantai Carita, Banten
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm

Apa bayangan Anda jika membaca judul tentang senja di pantai? Pemandangan matahari tenggelam yang cantik? Kemudian ada siluet dua orang kekasih berdua menikmati senja meredup, kemudian pemandangan sang pria mencium kening sang wanita. Ciuman sayang penuh cinta kasih.

Percayalah, saya juga berharap begitu. Saya memang sedang menunggu pemandangan sunset dari Pantai Carita yang terkenal itu. Dan spot di depan Desiana Cottage tempat kami menginap ini benar-benar sempurna secara komposisi fotografis. Sudah sejak pukul 16:30 saya gelisah menunggu. Tripod siap. Lensa Sigma 10-20 siap. Tapi apa mau dikata, awan hitam dengan cepat bergulung dan berubah menjadi hujan deras sore itu. Kesempatan satu-satunya (karena keesokannya kami harus sudah kembali ke Jakarta) lenyap.

Jadi, apa yang diperlukan oleh seorang fotografer agar bisa membuat foto yang bagus? Teknik, kamera, dan tentu saja: keberuntungan! Makanya, berdoa dulu jika akan berangkat memotret. Salam!

Yuk Berkhayal

Posted by: on Jun 5, 2009 | 8 Comments

Kalau pikiran lagi bosan begini, ngapain ya enaknya? Saya tadi kok tiba-tiba berkhayal bagaimana bentuk rumah yang ideal buat saya. Andai punya uang banyak, bisa beli apaaa saja, dan bisa merancang sendiri rumah semau kepala, hehe… Jadi bayangan saya, rumah yang ideal itu adalah:

  1. Langit-langitnya tinggi, udara segar dan sejuk.
  2. Rumahnya kecil saja, tapi bersih, cahaya matahari bisa masuk dengan leluasa.
  3. Ada warna hijau rimbun di halaman depan dan belakang. Yang di depan adalah taman kecil dengan rumput hijau, yang di belakang rimbun dan sejuk, ada saung kecil untuk bersantai setelah berkebun di hari sabtu atau minggu.
  4. Lalu di kamar tidur, kasurnya harus yang ekstra besar karena saya suka glundang-glundeng ke sana ke mari kalau lagi tidur.
  5. Di sudut ruang keluarga, ada Yamaha Clavinova untuk bermain lagu-lagu klasik Sebastian Bach, Ludwig Van Beethoven, dan Johan Pachelbell. Kemudian di sore hari saya mengajari putri perempuan saya yang masih kelas 2 SD membaca not balok.
  6. Ada satu ruangan lagi, tak terlalu luas, sempit saja. Di situ ada drum — tak perlu lengkap, cukup snare, bass, tom-tom, dan beberapa simbal, lalu ada gitar dari Fender atau Gibson, dan Roland RD-700 di sudut sana. Sound system secukupnya. Buat apa? Ini untuk bapak-bapak yang membentuk group band satu RT di kompleks situ. Warna musiknya, oldies, lagu andalannya: Easy dari Lionel Ritchie. )

Hmm… itu saja dulu. It’s all about imagination. Karena tidak semua orang punya imajinasi dan daya khayal yang bagus. Sekarang sholat Jumat dulu, he he he…. Okeh…

Gouverneurs Kantoor

Posted by: on Jun 4, 2009 | 7 Comments

Dua tahun yang lalu saya memulai hunting landscape pertama saya di Jakarta. Pagi-pagi, meluncur dengan Suzuki Tornado ke pelabuhan Sunda Kelapa mengejar sunrise. Sempat jatuh tersungkur gara-gara ada lubang di depan Mangga Dua Square. Setelah matahari sepenggalah, saya melanjutkan ke kawasan kota tua Jakarta, dengan ikon utama Museum Fatahillah ini.

Nikon D40 di tangan saya masih hitam mengkilap. Inilah kamera DSLR saya yang pertama. Lensa satu-satunya adalah lensa kit jarak menengah 18-55 mm. Agak aneh rasanya mendengar suara autofokus yang unik — saya terbiasa memfokus dengan cermin belah di Nikon FM-10. Lalu suara klik shutter dijepret, sungguh suatu sensasi tersendiri. Warna-warni khas Nikon yang hangat di layar LCD yang lebar — D40 adalah pelopor LCD terlebar saat itu — membawa efek yang menyenangkan. Itulah salah satu kesenangan hobi fotografi.

Dua tahun kemudian, saya kembali mendatangi lokasi ini. Tidak ada yang berubah. Museum Fatahillah selalu fotogenik untuk difoto. Pagi atau sore, langitnya selalu biru cantik, tidak seperti langit Jakarta yang umumnya berwarna abu-abu kusam tercampur kabut smog kemerah-merahan. Nikon D40 di tangan saya tidak lagi mengkilap, tetapi temannya sudah banyak. Beberapa lensa dan beberapa filter. Hmm… kapan ya dia punya adik D300 ha ha ha… )

Foto dua tahun yang lalu:

 

Switch to our mobile site