Centhini, 40 Malam Mengintip Sang Pengantin

Posted by: on Jun 27, 2009 | 4 Comments

Judul: Centhini. 40 Malam Mengintip Sang Pengantin
Penulis: Sunardian Wirodono
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 510 halaman

Serat Centhini digagas dan ditulis oleh Sri Susuhunan Pakubuwana V, raja keraton Surakarta Hadiningrat pada masa 1820-1823. Kitab ini membahas banyak hal, tidak hanya sastra dan seni, namun juga tentang adat istiadat, obat-obatan, kuliner, tanaman, hewan, agama, sejarah, hingga tentang seks. Sedemikian luasnya cakupan bahasan kitab ini, sehingga seringkali disebut sebagai ensiklopedia budaya Jawa pada masa itu.

Sesuai dengan gaya sastra Jawa pada saat itu, Serat Centhini ditulis dengan model puisi atau tembang. Menurut buku ini, Serat Centhini ditulis dalam dua belas jilid, 722 pupuh tembang (puisi). Satu puisi terdiri dari ratusan bait, dan masing-masing bait terdiri dari enam hingga dua belas baris. Masing-masing bait diikat oleh aturan yang ketat, misalnya jumlah suku kata tiap baris (guru wilangan), huruf vokal yang mengakiri tiap baris (guru lagu), yang dikenal dengan tembang-tembang Jawa.

Menyelamatkan Literatur Jawa Kuno

Nah, bisa dibayangkan, Serat Centhini tidak mungkin lagi dibaca oleh kita-kita para generasi muda — bahkan para sarjana sastra Jawa kuno. Selain bahasanya yang sudah tidak digunakan lagi dalam percakapan sehari-hari, model puisinya yang sangat terikat oleh aturan membuat kitab ini bukan bahan bacaan yang ringan. Ambil contoh saya yang orang Jawa asli ini, dari sekitar delapan hingga sepuluh tembang Jawa, saya hanya bisa membaca beberapa saja yang populer: Dhandhanggula, Pangkur, Pocung, Sinom, Asmarandhana, dan Mijil saja. Tembang gedhe macam Megatruh tidak saya kuasai lagi.

Hadirnya novel Centhini sebagai tafsir bebas kitab Serat Centhini ini bagi saya adalah sebuah penyelamatan terhadap naskah Jawa kuno dan memberi kesempatan bagi para awam mempelajari bagaimana corak budaya pada masa-masa Serat Centhini ditulis. Suatu hal yang agak ironis karena ternyata Serat Centhini diterjemahkan dalam Bahasa Perancis dulu sebelum berproses ke dalam Bahasa Indonesia.

Secara garis besar, Serat Centhini memberikan deskripsi pada kita bahwa masyarakat Jawa pada masa itu sudah memiliki ciri khas kebudayaan yang tinggi. Hal ini terlihat dari begitu detailnya aturan-aturan dalam melakukan berbagai hal, seperti upacara pernikahan, bahkan kamasutra versi Jawa pun sudah ada. Suatu hal yang menyedihkan bahwa pada perjalanan waktu di era milenium, masyarakat Jawa telah begitu bodoh meninggalkan budaya dan ciri khas mereka sendiri.

Bagaimana alur cerita dan aksi Sunardian Wirodono menafsirkan Serat Centhini dalam alam imajinasi sastra modern berbentuk novel? Tunggu, saya baru saja baca pendahuluannya, nanti saya ceritakan kalau sudah habis baca buku ini. He he he…

4 Comments

  1. bloub
    July 11, 2009

    sekedar mengantarkan titipan..

    ————————
    Puisi saduran nan sederhana ini sendiri ditulis dalam bahasa Javascript dengan bantuan framework Sciptaculous. Mohon maklum bahwa puisi ini baru bisa dilihat dgn maksimal dengan menggunakan Internet Explorer. Tekan F5 atau refresh halaman web kamu dan pastikan juga koneksi internetnya lancar.

    Klik link di bawah dan selamat menikmati sajian sederhana ini.
    Monggo dianggo.

    http://h1.ripway.com/siberprousttera/tembangraras.html

    Reply
  2. seno
    November 20, 2009

    gubahan-gubahan seperti ini harus dilestarikan…selain sebagai apresiasi terhadap karya sastra lama…penggubahan ini berguna untuk menyampaikan ide, gagasan, dan segala kebaikan dalam karya sastra lama

    Reply
  3. Setya
    August 22, 2010

    Inilah jawaban tantangan Al Quran untuk mengumpulkan Jin dan Manusia membuat satu surat saja yangmeyamai Qur’an. Serat Centhini adalah jawabannya.

    This is the answer to the challenge of el Koran to assemble all human kinds and genie in writing a chapter that is equal to el Koran. Serat Centhini is the answer.

    Iki jawaban kanggo tantangane Kur’an sing ngongkon ngumpulke Jin lan menungso kabeh nggo nulis mung sak surah sing madhani Kur’an. Serar Centhini iki jawabane.

    Sasis

    Reply
  4. Galih Satria
    August 22, 2010

    @Setya:
    Astaghfirullahal’adzim…

    Reply

Leave a Reply

Switch to our mobile site