Tentang Pencitraan Para Capres
June 14, 2009
Ada dua pasangan capres yang royal belanja iklan untuk pencitraan diri menjelang Pilpres 2009 ini. SBY-Budiono dan JK-Win. Sementara, pasangan yang awalnya diduga akan jor-joran iklan karena ada faktor Prabowo, malah adem ayem jarang sekali beriklan, sangat berbeda ketika Prabowo masih sendiri.
Siapa yang paling efektif? Menurut saya, Jusuf Kalla. JK berhasil mencitrakan diri sebagai sosok yang cerdas, tegas, berani mengambil tanggung jawab keputusan pada saat yang kritis. Iklannya efektif. Ada faktor kunci iklan yang penting, yaitu adegan JK melepas sepatu JK Collection, dan monolognya tentang pembangunan bandara yang menggunakan tenaga sendiri tanpa bantuan asing. Iklan-iklannya selalu kreatif, menggelitik, dan orisinal.
Pidato-pidatonya paling aplikatif dibanding SBY yang cenderung normatif dan prosedural. Ia bahkan jauh lebih merakyat daripada Mega yang selalu mengklaim pro rakyat. Dan yang terpenting adalah, timnya berhasil meredam citra negatif pada sisi Wiranto, menonjolkan keberhasilan pemerintah sebagai keberhasilan JK dengan tindakannya yang trengginas, dan menyodorkan kegagalan pemerintah sebagai akibat SBY yang lamban.
Pencitraan SBY-Budiono juga bagus, tapi belum cukup bagus. Karena incumbent, mereka menjadi musuh bersama dua pasangan lainnya. Iklan terbaik adalah versi Indomie yang dinyanyikan oleh Mike Idol. Sayangnya keberhasilan di iklan kurang diikuti di penampilan-penampilan mereka. Pidato SBY normatif, prosedural, dan *maaf* bikin ngantuk.
Pukulan terbesar ada di Budiono. Tiba-tiba saja ada yang menggulirkan isu Neolib yang sukses ditempelkan ke beliau. Apa itu ekonomi neolib, kerakyatan, pancasila, tidak penting. Yang penting adalah citra bahwa neolib itu jelek, ekonomi kerakyatan itu bagus. Herannya, tim SBY-Budiono tidak melawan serangan pencitraan ini dengan serius.
Mega-Pro Rakyat? Ini menarik. Awalnya saya duga, ketika Jenderal Prabowo masuk, akan ada proyek pencitraan besar-besaran lewat belanja iklan, karena Prabowo sukses mencitrakan Gerindra di Pemilu Legislatif. Tapi ternyata tidak. Konsep Prabowo bagus, pidatonya cerdas dan tegas. Sayang beliau hanya menjadi Cawapres saja, dan mungkin karena faktor ini, Prabowo tidak bersemangat seperti dulu lagi.
Ibu Megawati? Tidak ada perkembangan berarti sejak zaman dahulu kala. Mungkin sekarang lebih berani tampil di depan umum untuk menyampaikan konsep. Masalah rumit bagi tim pencitraannya karena beliau pernah memimpin negeri ini. Apapun serangan yang dilancarkan ke pemerintah selalu berbalik dengan pertanyaan sederhana, “Kenapa itu tidak terjadi di pemerintahan yang ibu pimpin?” Bandingkan dengan bentuk kritikan JK yang cerdas.
Sebenarnya Megawati Soekarnoputri sudah habis. Jualan ideologi, teriakan merdeka, dan fanatisme Soekarno sudah tidak laku lagi. Sulit mencitrakan Mega di zaman sekarang. Selain faktor pidatonya — saya malu jika mendengarkan ibu Mega berpidato menyampaikan konsep langsung di depan forum — pengalaman pernah menjadi presiden sulit untuk dicitrakan secara baik.
Saya kira, putaran kedua Pilpres nanti antara SBY-Budiono melawan JK-Wiranto adalah final ideal. Seperti final Liga Champion yang mempertemukan juara bertahan Manchester United melawan Barcelona.
Posted in 












June 14th, 2009 at 8:31 pm
Pesan pada iklan JK lebih mengena, didukung oleh sosok Wiranto yang simpatik dan tidak terlalu menyerang pemerintahan SBY. Sementara itu iklan-iklan SBY cenderung tidak ada pesan yang disampaikan, hanya sekedar menonjolkan dan memuja-muja SBY. Hal ini diperparah dengan kasus pembiayaan lembaga survei. Pribadi JK yang santai dan tegas juga nampak lebih menarik dibanding SBY yang kaku.
Mega memang punya pendukung loyal yang cukup banyak, namun lebih banyak orang yang tidak menginginkan beliau menjadi presiden lagi.
June 14th, 2009 at 10:37 pm
hmm… tp sepertinya pencitraan JK tidak cukup “menggoyahkan”-ku tuh. :P
masih lebih percaya dgn SBY. ah, siapa pun yg menjadi presiden nanti semoga ga cuma “manis” di depan doang…
June 14th, 2009 at 11:29 pm
jangan2 ntar kita memilih, memilih presiden yg citranya bagus aja :D hehe
June 15th, 2009 at 7:10 am
pilihlah yang sesuai dengan hati nurani. tidak perlu terpengaruh gosip politik ini itu.
kalo saya tetap, lanjutkan! lebih cepat lebih baik!
[dan itu hanya ada di dalam diri gus dur wakakakakaka...]
June 15th, 2009 at 7:45 am
Loh? Para capres pake citra yah?
*ups, nyebut merk*
June 15th, 2009 at 10:15 am
Pilih yang tidak hanya memikirkan diri sendiri dan kelompoknya .. yang tawadhu dan Istiqomah
June 15th, 2009 at 8:52 pm
sebenernya megpro besar lho,mereka memanfaatkan media online, namun sayang hanya dimanfaatkan prabowo, sementara SBY… maaf fox indonesiapun ide nya nyontek obama, akibatnya yang datang adalah yang memang tergila gila sby bukan menarik unique supporter…
info terbaru adalah Boediono yang setidaknya sudah melangkah ke media online, tinggal menunggu bukti dan aksinya di media internet ini
June 16th, 2009 at 4:16 pm
pencitraan memang penting. Tapi saya kira rakyat sudah bosan dengan jurus macam ini.
June 23rd, 2009 at 6:53 pm
Galih Satria: Tentang Pencitraan Para Capres…
Siapa yang paling efektif? Menurut saya, Jusuf Kalla. JK berhasil mencitrakan diri sebagai sosok yang cerdas, tegas, berani mengambil tanggung jawab keputusan pada saat yang kritis. Iklannya efektif. Ada faktor kunci iklan yang penting, yaitu adegan J…
July 3rd, 2009 at 12:24 pm
vote to JK, perbanyak enterpreneur muda, lapangan kerja bertambah, indonesia sejahtera, gak perlu ekspor TKI, kasian di siksa majikan terus kayak budak aja.
vote JK.