Entries from June 2009
June 30, 2009

FLICKR
Lokasi: Jl. Lombok, Bandung, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm
Saya tidak tahu bagaimana perkembangan sepakbola Indonesia, jadi jika ada yang salah, saya mohon pembaca yang fans Maung Bandung mau memaafkan dan mengkoreksi.
Sejak Persib berpindah kandang dari Stadion Siliwangi ke Stadion Jalak Harupat yang lebih besar, tampaknya stadion bersejarah ini makin terpinggirkan nasibnya. Ketika kami lewat, kawasan ini menjelma menjadi arena jual beli mobil bekas yang riuh rendah. Kata bapak yang memandu kami keliling kota Bandung dalam kunjungan singkat itu, setiap akhir pekan, memang beginilah suasana stadion ini. Jadi mau cari apa? Daihatsu Hijet tahun 1988 seharga 15 juta? Ada! :D
Posted in Arsitektur
5 Comments »
June 29, 2009

FLICKR
Lokasi: Parkiran City Plaza, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Kira-kira kalau mereka bisa bicara, apa ya yang mereka bicarakan saat parkir rapi seperti itu? Bergunjing tentang majikannya yang tidak merawat mereka dengan baik? Berkeluh kesah tentang makin semrawutnya lalu lintas Jakarta? Atau mungkin juga, ada yang tampil dan nyerocos, “Eh jeung…, tau nggak sih, pantat eike tadi pagi dicium moncong truk… Iiiih… sadisss!! nangis bombay deh eike!!”
Posted in Fotografi
12 Comments »
June 27, 2009

Judul: Centhini. 40 Malam Mengintip Sang Pengantin
Penulis: Sunardian Wirodono
Penerbit: DIVA Press
Tebal: 510 halaman
Serat Centhini digagas dan ditulis oleh Sri Susuhunan Pakubuwana V, raja keraton Surakarta Hadiningrat pada masa 1820-1823. Kitab ini membahas banyak hal, tidak hanya sastra dan seni, namun juga tentang adat istiadat, obat-obatan, kuliner, tanaman, hewan, agama, sejarah, hingga tentang seks. Sedemikian luasnya cakupan bahasan kitab ini, sehingga seringkali disebut sebagai ensiklopedia budaya Jawa pada masa itu.
Sesuai dengan gaya sastra Jawa pada saat itu, Serat Centhini ditulis dengan model puisi atau tembang. Menurut buku ini, Serat Centhini ditulis dalam dua belas jilid, 722 pupuh tembang (puisi). Satu puisi terdiri dari ratusan bait, dan masing-masing bait terdiri dari enam hingga dua belas baris. Masing-masing bait diikat oleh aturan yang ketat, misalnya jumlah suku kata tiap baris (guru wilangan), huruf vokal yang mengakiri tiap baris (guru lagu), yang dikenal dengan tembang-tembang Jawa.
Menyelamatkan Literatur Jawa Kuno
Nah, bisa dibayangkan, Serat Centhini tidak mungkin lagi dibaca oleh kita-kita para generasi muda — bahkan para sarjana sastra Jawa kuno. Selain bahasanya yang sudah tidak digunakan lagi dalam percakapan sehari-hari, model puisinya yang sangat terikat oleh aturan membuat kitab ini bukan bahan bacaan yang ringan. Ambil contoh saya yang orang Jawa asli ini, dari sekitar delapan hingga sepuluh tembang Jawa, saya hanya bisa membaca beberapa saja yang populer: Dhandhanggula, Pangkur, Pocung, Sinom, Asmarandhana, dan Mijil saja. Tembang gedhe macam Megatruh tidak saya kuasai lagi.
Hadirnya novel Centhini sebagai tafsir bebas kitab Serat Centhini ini bagi saya adalah sebuah penyelamatan terhadap naskah Jawa kuno dan memberi kesempatan bagi para awam mempelajari bagaimana corak budaya pada masa-masa Serat Centhini ditulis. Suatu hal yang agak ironis karena ternyata Serat Centhini diterjemahkan dalam Bahasa Perancis dulu sebelum berproses ke dalam Bahasa Indonesia.
Secara garis besar, Serat Centhini memberikan deskripsi pada kita bahwa masyarakat Jawa pada masa itu sudah memiliki ciri khas kebudayaan yang tinggi. Hal ini terlihat dari begitu detailnya aturan-aturan dalam melakukan berbagai hal, seperti upacara pernikahan, bahkan kamasutra versi Jawa pun sudah ada. Suatu hal yang menyedihkan bahwa pada perjalanan waktu di era milenium, masyarakat Jawa telah begitu bodoh meninggalkan budaya dan ciri khas mereka sendiri.
Bagaimana alur cerita dan aksi Sunardian Wirodono menafsirkan Serat Centhini dalam alam imajinasi sastra modern berbentuk novel? Tunggu, saya baru saja baca pendahuluannya, nanti saya ceritakan kalau sudah habis baca buku ini. He he he…
Posted in Review
4 Comments »
June 26, 2009
Ada kesalahan fatal yang dilakukan oleh sesepuh Open Source Indonesia, yaitu dengan memperkenalkan solusi Open Source sebagai solusi yang gratis. Padahal free sama sekali tidak sama dengan gratis. Karena gratis sama dengan murahan. Karena murahan sama dengan tidak berkualitas alias jelek. Padahal sama sekali tidak demikian.
Di sini saya ingin menyampaikan, bahwa solusi open source menjanjikan solusi alternatif untuk sistem-sistem propietary yang harga lisensinya hanya bisa dibeli oleh perusahaan-perusahaan besar. Ambil contoh sebuah sistem ERP propietary terkenal. Harga lisensi tiap usernya adalah USD 4000. Jika sistem ini digunakan oleh sepuluh user saja, maka uang yang harus digelontorkan adalah USD 40.000 atau sekitar Rp. 400.000.000. Bagi perusahaan berskala besar, uang segini kecil saja. Tapi buat perusahaan kecil hingga menengah, uang 40 juta saja bisa jadi sangat berarti. Padahal, kebutuhan backoffice perusahaan rata-rata sama.
Sistem Database
Di jajaran open source, ada MySQL dan PostgreSQL. MySQL sejatinya adalah kumpulan dari beberapa database engine. Yang terkenal adalah MyISAM dan InnoDB. MyISAM tidak memiliki konsep relasi yang kuat, tetapi performanya sangat cepat. Jika menginginkan struktur database yang relasinya kuat, bisa memakai PostgreSQL.
E-File Repository, Document Management, dan Document Collaboration
Produk yang sangat terkenal di bidang ini adalah Microsoft Office Sharepoint Server. Menurut saya, produk ini memang belum ada yang bisa menyamainya. Integrasinya dengan Microsoft Office adalah satu kekuatan yang sukar disamai.
Tetapi jika Anda hanya memerlukan sebuah sistem untuk:
- Menyimpan dan membagi dokumen dalam satu sistem online dengan hak-hak akses tertentu
- Berbagi dokumen dengan saling memberikan review, update, tugas, komentar, atau yang lazim disebut dengan Collaboration
Anda bisa menggunakan Alfresco yang jauh lebih murah daripada Sharepoint. Tentu saja, banyak keterbatasan-keterbatasan Alfresco jika dibandingkan secara langsung dengan Sharepoint, namun kebutuhan dasar Anda sudah sangat tercukupi tanpa harus menggelontorkan biaya percuma untuk investasi di Sharepoint.
Bussiness Inteligence Analysis, Monitoring, ReportingĂ‚Â
Ah, sistem ini, produk propietary-nya juga berharga selangit. Memang masuk akal, karena sistem seperti ini sangat dibutuhkan sebagai sistem Decision Support System (DSS) yang menentukan pengambilan keputusan dari pada petinggi manajemen perusahaan. Anda bisa membeli lisensi Oracle BI atau Microsoft BI untuk itu.
Namun demikian, dengan harga yang sepersekian lebih hemat daripada dua produk itu, Pentaho menawarkan sesuatu yang bisa dipakai untuk mendukung pengambilan keputusan. Dashboard monitoring, bussiness analytical report, dan laporan-laporan per periode yang diperlukan. Pentaho bisa menawarkan harga yang murah karena basis engine mereka adalah engine Open Source juga.
Portal
Ada banyak sekali pilihan portal yang Open Source. Untuk kebutuhan enterprise, saya rasa Joomla atau Liferay sudah sangat mencukupi. Bahkan jauh lebih unggul daripada portal Sharepoint.
Support/Dukungan Resmi
Memang inilah yang menyebabkan perusahaan besar tidak mau mengadopsi sistem open source dan memilih mengeluarkan biaya yang besar. Keunggulan produk propietary selalu menyediakan dukungan penuh 24 jam. Tiap kali ada masalah, mereka siap dipanggil.
Terlebih lagi, selain kosmetika produk yang menyulap produk-produk propietary menjadi secantik bidadari, fitur integrasi yang saling kait mengait antara produk satu dengan produk yang lain juga fitur yang sangat menarik. Tadi saya ambil contoh betapa mesranya hubungan MS Office dengan Sharepoint. Tinggal satu dua klik, dokumen bisa saling tersinkronisasi.
Produk-produk open source yang saya bahas tadi masih terpisah satu sama lain. Saya pikir ini adalah peluang yang sangat bagus bagi para enterpreneour. Jika ada yang bisa membundel paket Portal, Document Management, sekaligus Bussiness Intelligence-nya dalam satu paket yang saling terintegrasi, lalu layanan kepada perusahaan apa saja yang bisa mereka dapat dengan produk-produk tadi, sekaligus dengan layanan support, saya rasa akan banyak perusahaan skala kecil menengah yang ikut bisa menikmati sistem backoffice layaknya perusahaan besar tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar.
Perlu tenaga ahli buat menggabungkan mereka? Hubungi saya, kekekekeke =)) *promosi mode: on*
Posted in Developer
5 Comments »
June 23, 2009
SPOILER ALERT!
Saya memiliki kenangan yang membekas tentang novel Ketika Cinta Bertasbih, sehingga saya menyempatkan diri untuk menontonnya. Saya pernah menggunakan kata-kata di penutup sebuah pernyataan cinta yang berbunyi, … ketika cinta bertasbih di hatiku. Aih… aih.. cooo cweeeet…
Tentang Alur Cerita
Agak aneh rasanya ketika orang datang ke bioskop dan disuguhi cerita yang bersambung. Artinya, keseluruhan jalannya alur cerita film tanpa dihiasi oleh klimaks dan antiklimaks/penyelesaian! Ketika cerita sudah akan memasuki konflik cerita utama — di mana Anna menikah dengan Furqan dan Azzam memulai kehidupannya sebagai pengusaha di Indonesia, cerita malah dihabisi dengan tulisan To be Continued! Dua jam cerita mengalir, sama persis dengan yang ada di buku. Cukup membosankan.
Sebelum menonton, saya sudah menebak-nebak kira-kira bagian mana dari novel yang akan dilewati. Saya menebak bagian kisah cinta Tiara-Fadhil yang tragis akan dilewati, lalu detail-detail kecil Azzam dengan Eliana. Ternyata saya salah. Alur cerita bergerak sangat lambat, semua yang ada di buku dicopy-kan ke film. Yeah, kalau memang jadi dua seri, pembuat film tidak perlu bingung meringkas ceritanya.
Tapi bukan berarti secara keseluruhan filmnya jelek. Karena didukung cerita novelnya yang kuat, versi filmnya menambah visualisasi pesan yang dibawa novel KCB dengan baik. Karakter sentral film ini, Khairul Azzam, digambarkan dengan lebih baik di film. Karakter Azzam yang di novel cenderung serius, pemurung, angkuh terhadap prinsip, di film menjadi Azzam yang ceria, namun tetap tidak meninggalkan prinsip-prinsipnya yang adiluhung sebagai pemuda muslim yang jempolan.
Bagian yang paling inspiratif mungkin adalah ketika Tiara menikah dengan pria yang tidak — atau belum — dicintainya. Kisah cinta yang tragis karena dua orang yang saling jatuh cinta tidak bisa bersatu lewat pernikahan karena kesalahan melangkah dan mengambil keputusan. Yang patut dicermati adalah bahwa Fadhil — lewat nasihat Azzam — berani untuk ikhlas dan tidak mau mengambil langkah yang gegabah untuk merebut kembali Tiara. Ini adalah jalinan cerita cinta yang lebih realistis ketimbang model cerita cinta ala Snow White dimana ada seorang Knight in the Shining Armor melarikannya ke istana nun jauh di sana.
Tentang Anna Althafunnisa
Oki Setiana Dewi memerankan Anna Althafunnisa — saya lebih suka melafalkan tha dengan a bulat daripada tho –dengan sangat baik. Cantik, pandai, berwawasan luas, pintar berorganisasi, ramah, santun dan lembut hati. Saya yakin akan ada banyak pria langsung mendambakan punya isteri seperti Anna, dan tiba-tiba saja ada banyak wanita yang ingin seperti Anna. Model jilbab Anna saya kira akan segera menjadi tren. :D
Bagi saya, Anna di film kurang charming dibandingkan dengan imajinasi saya. Anna di imajinasi saya justru lebih mirip Cut Mala atau Ayatul Husna. Kalau keduanya disuruh memakai jilbab lipatan, lalu disuruh bersikap lebih lembut daripada karakter yang dibawakannya, itulah Anna di imajinasi saya. Seperti adegan Husna di acara bedah bukunya yang memakai jilbab kain lipatan. He he he… si Lia adiknya Husna juga manis :D *halah
Penutup
Saya akan lebih menyukai film ini jika semua konflik diselesaikan dalam satu seri saja. Rasanya aneh jika menonton film tanpa ada klimaks dan ketika emosi penonton sudah dibentuk, cerita malah dipotong seenaknya oleh pembuat film. Mungkin akan lebih baik jika alurnya meniru model film Angels and Demons saja. Alur ceritanya sedikit diubah tanpa menghilangkan pesan utama.
Cineplex 21, Setiabudi Building, Jakarta
Posted in Review
15 Comments »