Sebuah Gedung Perkumpulan
FLICKR
Lokasi: Kawasan Kota Tua Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm | Adobe Photoshop CS 3
Pemerintah Batavia kala itu tampaknya benar-benar ingin membawa nuansa Eropa di Batavia. Membuat tiruan Amsterdam di Batavia mungkin menjadi obsesi pejabat kala itu. Dulunya, gedung ini adalah gedung perkumpulan tempat kaum elit berpesta berdansa-dansi melepas penat. Terletak di ujung utara kompleks kawasan “mewah” Batavia, bersebelahan dengan gedung-gedung penting termasuk kantor Gubernur (Museum Fatahillah). Sayang, kondisinya benar-benar memprihatinkan. Saksi bisu sejarah ini sekarang tak berdaya mengatasi gerusan zaman dan tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Namun, Tembok dan ukiran jendela khas arsitektur Eropa tempoe doeloe ini masih menyisakan sisa-sisa kewibawaannya.
The Fire Bender
FLICKR
Lokasi: Museum Fatahillah, Jakarta Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm
Setiap akhir pekan, di halaman Museum Sejarah Jakarta atau yang dikenal dengan Museum Fatahillah selalu ada atraksi-atraksi menarik. Kawasan kota tua Jakarta memang merupakan kawasan wisata budaya yang dimanfaatkan oleh berbagai komunitas. Ada yang melakukan sesi foto pre-wedding, syuting sinetron atau video klip, bermain roller blade, atau hanya sekadar jalan-jalan sore.
Ketika rombongan kami — tur jelajah museum yang bertajuk Jakarta Night Heritage Trail (JNHT) — melintasi halaman kantor gubernuran zaman Gubernur Jenderal Johan Van Hoorn ini, ada “pengendali api” yang sedang melakukan atraksi akrobatik. Menyemburkan minyak tanah yang segera disulut dengan api. Spektakuler.
Memilih Distribusi Linux Sesuai Dengan Kebutuhan Anda
PANDUAN MEMILIH DISTRO MENURUT MAJALAH LINUX FORMAT
Majalah impor yang tampaknya menjadi kiblat majalah INFO Linux edisi Mei 2009 membawa jargon: Get a Better Linux! Hal yang menarik, selain menyertakan satu DVD release distro Debian terbaru, mereka mengangkat topik pemilihan distro yang tepat sebagai fokus utama. Memang, dengan sedemikian banyaknya distro-distro Linux yang beredar, pemilihan distro yang tepat sangat membingungkan, baik bagi para awam maupun yang telah ahli sekalipun.
Majalah Linux Format membahas pemilihan distro sesuai dengan kebutuhan pengguna. Saya sendiri sampai sekarang belum pernah menemukan distro yang pas yang bisa menggantikan Windows XP. Saya pernah pakai Redhat, Mandrake, Debian Sarge, Mandriva, openSUSE, Fedora, lalu sekarang pakai Ubuntu.
Berikut ringkasannya.
- Newbiee: Ubuntu
Yep, saya setuju. Saya terkesan dengan kemudahan Ubuntu. Tidak adanya user root tentunya ditujukan untuk menyederhanakan Linux. Saya yang masih newbiee di Linux cukup nyaman bertahan dengan Ubuntu sekarang. - Migrasi dari Windows ke Linux: LinuxMint
Saya belum pernah mencoba. Tapi saya baru tahu kalau Debian sudah punya cucu. LinuxMint ini anaknya Ubuntu. Sedangkan Ubuntu sendiri adalah anaknya Debian. - Family Friendly: Qimo
Mantranya: keep kids safe on the web. - Everyday Desktop: Fedora 10
- Bussiness: OpenSUSE 11.1
Tampaknya, kedekatannya dengan OpenOffice.org membuat redaksi Linux Format memilihnya sebagai distro yang ditujukan untuk keperluan pekerjaan kantor - Light: Puppy Linux 4.1.2
Katanya distro ini bisa dimasukkan ke dalam sebuah flashdisk dan bisa di-boot dimana saja. - Sysadmin: Arch Linux
Tidak punya antar muka grafis. Semua serba command line. Hmm… tampaknya hanya untuk orang-orang aneh saja ini. Saya sendiri lebih suka Debian sebagai basis untuk server. - Coder: Mandriva 2009
Salah satu distro yang konsisten dengan KDE dimana mayoritas distro sudah memakai Gnome sebagai window manager default. Kata redaksi Linux Format, karena KDE, maka lingkungan ini sangat sempurna untuk pengembangan aplikasi berbasis Qt. - Server: CentOS
Kenapa CentOS, redaksi Linux Format beralasan karena distro ini membawa banyak tools berbasis GUI untuk hampir semua tugas-tugas administratif server. Saya sih tetaplebih suka Debian. - Music Production: 64 Studio
Ada aplikasi Ardour yang dibawa distro ini secara default. Hampir semua aplikasi yang berhubungan dengan audio terinstall secara default. - Gamers: Live.linux-gamers
Sesuai namanya, tampaknya distro ini didesain untuk sedikit melawan opini umum bahwa Linux bukanlah pilihan yang tepat untuk sebuah komputer game. - Multimedia: Mythbuntu
Aplikasi yang terbundel adalah MythTV, aplikasi yang memang ditujukan untuk multimedia.
Sebenarnya, kalau mau jujur, Linux sudah cukup untuk kebutuhan kita. Masalahnya tinggal kultur. Tak dapat dipungkiri, Windows XP, dan apa lagi yang akan datang ini Windows 7 sangat menarik. Apalagi, dua sistem operasi tersebut juga “gratis”. Apalagi yang kita butuhkan?
Kunci Waktu
FLICKR
Lokasi: Museum Bank Mandiri, Jakarta Utara
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm | Nissin Digital Di622 Speedlight
Zaman dahulu kala waktu Daendels dan J.P Coen berkuasa di Batavia, ruang penyimpanan brankas di ruang bawah tanah sudah memiliki mekanisme autentikasi dan autorisasi yang canggih, meskipun semuanya dikendalikan secara mekanis. Kunci seperti ini adalah metode kunci waktu, hanya bisa dibuka dengan kunci yang rumit pada hari, jam, dan menit yang sudah ditentukan. Daun pintunya sangat tebal, terbuat dari besi baja, menghiasi ruangan berterali besi dengan rak-rak dari kayu.
Dari acara Jakarta Night Heritage Trail, 09 Mei 2009.
Sudut Jendela
FLICKR
Lokasi: Museum Bank Mandiri, Jakarta Utara
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm
Saya membayangkan beratus tahun lalu, saat kaca jendela itu masih berkilau putih menyilaukan, pejabat-pejabat keuangan Batavia hilir mudik melalui tangga itu. Setiap malam, ikatan uang-uang gulden diangkut dengan troli ke ruang brankas berterali besi di lantai bawah tanah. Inilah salah satu sudut dalam bangunan Nederlandsche Handel-Maatschappij, yang sekarang menjadi Museum Bank Mandiri. Satu foto mengawali oleh-oleh saya dari Jakarta Night Heritage Trail, 9 Mei 2009.
Memperkenalkan: IR Shell
MEMBACA EBOOK DI ATAS PLAYSTATION PORTABLE
Meskipun belum bisa dikategorikan sebagai kutu buku, tapi pada dasarnya saya suka membaca. Tiga kotak rak buku kecil merk Olympic dari Carrefour itu sudah penuh. Mayoritas dipenuhi oleh novel, sedikit diwarnai oleh non-fiksi, dan tanpa textbook. Ini yang buat saya sedikit ironis, artinya saya sudah agak malas meng-update ilmu — sementara perkembangan teknologi informasi terus berlari. Padahal, rak buku waktu kuliah dulu fifty-fifty, fiksi dan textbook saling berbagi tempat sama rata.
Sekarang, mayoritas buku teks saya adalah berbentuk ebook dalam format PDF atau CHM. Saya download dari flazx, entah legal atau tidak, saya kira sih itu ilegal hehehe, tapi ya bagaimana lagi, harga buku teks impor rata-rata di atas Rp. 500.000 (belum beserta ongkos kirim FedEx dari Amazon), sedangkan buku teks karya anak bangsa bukan jadi tambah pinter, malah jadi ter-indoktrinasi.
Masalahnya, saya agak kesulitan membaca teks-teks panjang di layar monitor komputer. Selain cahayanya yang melelahkan, saya tidak bisa membaca dalam posisi paling favorit: sembari tengkurap atau telentang di atas kasur. Cara baca yang tidak baik buat mata ha? Tapi begitulah keadaannya. Kalau begini, masak laptop harus dipegang di atas kepala sambil tiduran? Berat bo’.
Mungkin saya belum cerita, bahwa beberapa waktu yang lalu saya beli PSP 2000 (Playstation Portable) sekadar untuk memenuhi keinginan masa kanak-kanak. Flashback ke sekitar tahun 1997, saya merengek, merajuk, melakukan segala daya upaya untuk membujuk Ibu membelikan saya Play Station. Kokoh bagai gunung Arjuna, Ibu tetap berkata pendek,
“Tidak. Tidak, dan sekali lagi Tidak! Kamu akan cepat bosan. Daripada buang-buang uang buat beli PS, mendingan kamu minta makanan apa saja Ibu akan belikan.”
Ya sudah, gagal.
Damn! She was damn right! Maafkan aku Ibu, lagi-lagi beliau benar. Setelah saya menyelesaikan beberapa seri Need for Speed, kotak merah itu hanya menjadi teman sempurna di perjalanan mudik. Selebihnya, teronggok berdebu di sudut meja tulis. Ibu benar, main game memang membuat cepat bosan.
*
IR Shell yang menyelamatkan PSP merah itu menjadi barang penghias meja. IR Shell adalah semacam operating system yang berjalan di atas arsitektur mesin PSP. Ia menghadirkan sebuah shell komputer yang menjadi pondasi aplikasi lain untuk berjalan di atasnya. Seperti Windows, Linux, dan Mac di PC, IR Shell berjalan di atas PSP.
Mendukung fitur multitasking, IR Shell menghadirkan sebuah komputer mini di genggaman kita. Lebih praktis dari laptop mini berlayar 7 inchi favorit para gadgeter pemburu hotspot di kafe-kafe karena PSP sudah mendukung Wifi alias Wireless Network sehingga bisa untuk browsing Facebook di hotspot di kafe-kafe.
Tapi fitur yang paling saya sukai adalah kemampuannya menghadirkan ebook reader. Ini benar-benar mengakomodasi gaya membaca saya yang sambil tiduran. Jadi saya bisa telentang sambil mengangkat PSP di depan muka sambil menggerakkan joystick-nya. Scroll ke bawah, serong kiri, serong kanan, hahaha…
Tentu saja, kalau bosan membaca dalam sepi, tinggal mainkan MP3 player yang juga secara default didukung oleh IR Shell sambil meneruskan membaca. Atau kalau sudah benar-benar capek baca, alihkan perhatian dan tonton film favorit Anda. Film? Yep, ini PSP bung, asal format videomu adalah MP4, Anda sudah bisa menikmati di layar lebar 16:9-nya yang luar biasa.
PS: Thanks to Pak Poen, pelopor PSP sebagai ebook reader di dunia komunitas kantor… @_@
Biru
FLICKR
Lokasi: Pantai Carita, Banten
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Pagi baru saja merayap. Matahari masih sepenggalah. Belum mampu menembus pekatnya kabut pagi. Dingin masih belum sepenuhnya terangkat dari permukaan tanah. Pantai masih sepi, namun geliatnya mulai terlihat. Tukang perahu, tukang ban, menyiapkan untuk menyambut rezeki hari ini yang dikais dari pengunjung. Langit biru. Laut biru. Syahdu.
Comments