Dalam dunia marketing, ada pihak yang disebut market leader dan competitor. Market leader adalah pihak yang menguasai sebagian besar pangsa pasar dan competitor adalah saingannya yang berusaha merebut kue pasar si market leader dan selalu berusaha menggeser posisi market leadernya. Pertempuran di dunia ini sangat keras. Jenderal-nya adalah para ahli strategi pemasar produk, senjatanya adalah kampanye marketing dan branding lewat iklan-iklan dan komunikasi marketing, dan medan perangnya adalah media.
Contohnya banyak. Honda yang mati-matian menahan gempuran Yamaha. Telkomsel yang terengah-engah menahan laju para pesaingnya. Dan di dunia maya Indonesia, Friendster yang telah mengibarkan bendera putih untuk Facebook.
Kembali ke sekitar tahun 2003 ketika saya pertama kali mengenal situs jejaring sosial bernama Friendster. Waktu itu fs begitu terkenal di kampus mengalahkan situs-situs social networking yang telah lama ada: MySpace dan Multiply. Ada satu kunci faktor kemenangan fs menurut saya, yaitu adanya testimonial yang ditulis di profil setiap orang. Semua orang mengharapkan testimonial yang baik untuk citra yang baik pula dengan menuliskan testimoni kepada orang lain yang kebanyakan adalah pujian-pujian berlebihan setinggi langit. Setiap orang berbagi testimoni, tersenyum sendiri ketika dipuja-puja temannya.
Saya menandai fs telah menguasai pasar Indonesia ketika kawan-kawan saya yang tidak berkecimpung di dunia IT telah mempunyai account-nya. Ada semacam pemeo tak resmi yang terkenal saat itu, ketika orang berseru pendek, “Add aku di friendster yah!”
Kegagalan Friendster
Sebelum datangnya era Facebook pun, sebenarnya Friendster telah gagal untuk terus berinovasi agar tetap bertahan sebagai leader. Jualan utamanya itu-itu saja: bertukar testimoni, ketersambungan teman, foto, dan blog. Friendster melakukan blunder dengan mengubah istilah pentingnya dari testimoni menjadi comment. Jualan fotonya tidak istimewa, dan blog yang awalnya mengunakan engine Movable Type jelas kalah populer dengan WordPress.
Friendster melakukan kegagalan dalam membendung spam dan fake user. Berapa banyak pesan yang tiba di mailbox yang hanya berisi pesan berantai saja. Berapa banyak pesan yang berasal dari account yang palsu yang digunakan untuk mengirim spam. Berapa persen dari daftar teman Anda yang benar-benar teman yang pernah Anda kenal?
Kegagalan berikutnya adalah tentang halaman profil pengguna. Kebebasan membentuk wajah halaman profil pada awalnya adalah sebuah kekuatan Friendster. Sayangnya, fs terlalu membebaskan penggunanya untuk melakukan customization sehingga mayoritas halaman profil para pengguna diwarnai oleh desain yang sama sekali jauh dari nyaman. Ditambah penempatan iklan yang kurang cerdas membuat navigasi dan keseluruhan halaman friendster menjadi begitu menjengkelkan.
Tren Sesaat
Ketika gelombang kebosanan semakin memuncak, datanglah era Facebook yang menghantam habis. Petinggi Friendster mungkin masih bisa berkelit dengan mengatakan trafik Friendster masih di atas Facebook, namun tren penggunanya tidak dapat dibohongi. Facebook menawarkan segala hal yang baru dan segar untuk dunia jejaring sosial dan segera merebut perhatian pengguna.
Seperti kata pakar telematika kita, Roy Suryo, bahwa hampir semua layanan di internet adalah tren sesaat. Email, blog, dan situs jejaring sosial hanyalah tren sesaat saja. Secara positif dapat saya tafsirkan pendapat beliau bahwa setiap layanan di internet membutuhkan usaha untuk terus berinovasi secepat kilat karena tren market dunia internet terlalu cepat berubah.
Friendster, telah mengibarkan bendera putih kepada Facebook. Ini saya tandai dengan langkah-langkah antisipatif Friendster yang merupakan ciri dari follower, bukan tren setter lagi. Fitur application dan notification yang dipaksakan meniru Facebook adalah tanda bahwa Friendster bukanlah market leader lagi. Sudah terlampau sulit bagi Friendster untuk mengembalikan tahtanya karena konsep awal yang berbeda. Apa yang dipaksakan Friendster tentunya bukan lagi sesuatu yang segar karena mereka hanya mengekor Facebook.
Sekarang angin tren berada pada Facebook. Pemeo yang ada sekarang adalah, “Tenang, nanti gw tag pas di jidat lu”. Namun seperti halnya blog yang telah lewat eranya, jika Facebook tidak terus berinovasi, dalam waktu setahun dua tahun lagi, akan ada layanan yang membawa ide segar menendang Facebook dari tahta market leader.
April 7, 2009
Posted in













