Entries from April 2009

Puisi Pendek

Date April 29, 2009

Wajah yang lembut, seperti ada tirai kabut salju di raut mukanya.
Rambut hitam sehalus sutera tergerai.
Satu dua helai meluncur ke depan dahi
Menghalangi sepasang bola mata yang berbinar-binar
Kilau mata yang bening bagai berlian terkena sinar mentari pagi
Berkilau ramah senada senyuman malaikat
Anggun, tak tercela
Senyum yang menawan hati
Amat menawan…

Puisi pendek dari saya yang selalu terpesona akan keindahan ciptaan-Nya yang berupa seraut wajah perempuan. Hari ini saya menemukan seraut wajah yang bisa membangkitkan inspirasi puitis spontan. Saya menyebutnya — cantik jelita.

Tentang Lagu Andai Aku Besar Nanti

Date April 24, 2009

Andai, aku telah dewasa
Apa yang kan kukatakan untukmu idolaku tersayang
Ayah…

Oh, andai usiaku berubah
Kubalas cintamu bunda…
Pelitaku, penerang jiwaku dalam setiap waktu

Oh, ku tahu kau berharap dalam doamu
Ku tahu kau berjaga dalam langkahmu
Ku tahu selalu mencinta dalam senyummu
Oh Tuhan, Kau kupinta
Bahagiakan mereka sepertiku

Andai, aku telah dewasa
Ingin aku persembahkan semurni cintamu
Setulus kasih sayangmu, kau selalu kucinta…

Ini adalah lirik lagunya Sherina waktu masih anak-anak. Lirik yang bermakna dalam sekali, membuat saya selalu merindukan ayah dan bunda kalau sedang memainkan lagu ini. Kekaguman saya dengan lagu-lagu Sherina semakin menjadi ketika tadi malam mencoba memainkannya di piano.

Pertama adalah chord yang terlalu sulit untuk pemula seperti saya. Sejak dulu telinga saya tidak peka terhadap progresi chord. Tanpa partitur, saya mencoba memainkan versi sederhana dari intro lagu ini. Sampai sini masih bisa terkejar. Jika kita memulai di do = C, maka larinya akan ke F, Fm, C/Fm, lalu lari ke Dm, sebelum kembali lagi ke C.

Tapi ketika Sherina sudah mulai masuk ke Verse 1, sampai kata-kata kubalas cintamu bunda… pelitaku… dengan suara falset-nya yang sempurna, saya mulai nggak bisa mengejar nadanya.

Sampai di sini, saya menyerah ketika ia menyanyikan nada-nada di Chorus yang saya tahu chord-nya sudah berprogresi tidak di nada dasar C lagi, tapi lari entah kemana, naik sekian nada waktu masuk chorus, naik lagi di kalimat kutahu kau berjaga dalam langkahmu, lalu dengan cara yang ajaib, entah lewat mana bridging-nya, dengan manis progresinya kembali ke C.

Yang jelas lagu ini bukanlah lagu yang memiliki chord-chord sederhana. Interlude-nya yang orkestra lebih gila lagi progresinya. Lari ke sana ke mari sebelum dengan cantik kembali ke C tepat sebelum Sherina memulai bait terakhirnya.

Kalau ada di antara pembaca yang punya partitur lengkap lagu ini — ada treble clof dan bass clof-nya, boleh dong saya diberi tahu.

*

Dalam postingan saya tentang tiadanya lagu anak-anak di Idola Cilik, Adi berpendapat bahwa lagu anak-anak terlalu mudah bagi para peserta. Hm? Siapa bilang? Lagu Sherina ini bahkan mungkin terlalu sulit bagi mereka, padahal ini termasuk kategori lagu anak-anak.

Saya akan sangat merindukan lagu anak-anak semacam ini. Bercerita tentang sekolah, cinta kepada Ayah dan Bunda, persahabatan, dsb. Sama sekali jauh dari cinta-cintaan ala anak muda. Selain memiliki lirik yang sangat dalam, nada-nadanya juga sangat rumit dan suara yang sempurna.

Sebenarnya saya berharap banyak dengan Gita Guttawa, tapi tampaknya, positioning-nya ada di pasar pra-remaja, bukan anak-anak — terlihat bahwa kebanyakan lagunya bercerita tentang cinta pertama dan jatuh cinta khas ABG. Menyesuaikan selera pasar mungkin. Selain itu, kemampuan Gita sendiri bukanlah tandingannya Sherina. Gita Guttawa lebih sering bernyanyi lip sync — tentu saja — Untuk menyanyikan nada-nada falset tinggi khas Gita bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan secara live.

Moonlite Sonata

Date April 21, 2009

FLICKR
Lokasi: Beranda Rumah Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | Velbon CX-440

Kawanku,
Malam ini kamu kulihat indah sekali
Hitamnya langit begitu pekat,
Satu-satunya yang menerangi cuma merahnya sinarmu

Kamu tetap sama seperti bulan-bulan yang silam
Dan kamu akan tetap sama esok, lusa, dan tahun depan
Kadang sekali-sekali kamu tersenyum mengejek melihat berjuta mata di bumi
Kadang pula, kamu tersenyum manis juga kok…

Sebab sobat, dalam suasana seperti ini, penontonmu cuma ada dua model
Ada yang menonton sambil berdendang,
Bulan indah berkilauan, namun lebih indah wajahmu…
Ada yang diam sambil mengeluh dalam hati,
Diriku kini sendiri…. menghitung hari… detik demi detik…

Aku tak tahu, sekarang ini aku di posisi yang mana
Yang aku tahu, aku sedang memandangimu
Ditemani angin bergerisik yang seharusnya dingin menusuk tapi kenyataannya kok gerah
Ditemani tiga kaki dari karbon hitam terkunci baut plastik bernama tripod…

Aku cuma sedang berpikir sobat,
Dulu, aku bisa memandangimu dengan perasaan paling melankolis yang aku bisa
Bisa paling hancur, tersayat, patah, pecah, atau entah apa pun kata yang bisa menggambarkan perasaan

Tapi sekarang aku bertanya, kemana perginya?
Kosong nggak, tapi isi juga nggak.
Padahal aku sedang ingin bersedih-sedih ria, berpatah-patah ria

Aku cuma kuatir, sobat, batang ranting kuncup daun itu telah patah
Sehingga tak akan ada lagi kuncup-kuncup daun berikutnya
yang berharap akan muncul mahkota mawar atau harum melati di sana

Semoga tidak.
Semoga batang itu tetap ada dan masih bisa berharap,
Seperti aku yang berharap bisa menontonmu besok, lusa, bulan depan, tahun depan.

Pemilu, Dari Pengabdian Hingga Pemborosan

Date April 19, 2009

Catatan Perjalanan Mudik Pemilu (2 - Habis)

Saya geleng-geleng ketika menyaksikan bagaimana para Panitia Pemungutan Suara (PPS) di setiap Tempat Pemungutan Suara (TPS) bekerja. Setiap TPS memiliki sekitar 300-an pemilih yang akan menggunakan hak pilihnya di tempat itu. Paling tidak ada empat surat suara. DPR Pusat, DPRD I, DPRD II, dan DPD. Setiap surat suara yang sah harus ada minimal satu tanda tangan ketua KPPS. Belum lagi berkas-berkas berita acara dan sebagainya yang ribet.

Ini jelas pekerjaan pengabdian yang besar. Honornya sungguh tidak sebanding dengan beban pekerjaan dan besar risiko yang harus ditanggung para panitia pemungutan suara. Risiko?

Pemungutan suara adalah masalah yang sangat sensitif. Hal-hal teknis begitu mudah dibelokkan ke politis. Jadi sudah jelas, para ksatria-ksatria berseragam putih itu sangat berisiko dijebloskan dalam penjara dengan tuduhan memanipulasi suara — padahal mungkin itu hanya kesalahan sepele karena kesalahan administrasi saja.

Kebetulan ibu saya adalah ketua KPPS dari TPS 04 sehingga saya bisa menyaksikan jalannya pemungutan suara dan sedikit jeprat jepret dengan agak bebas. Sebelum acara pemungutan suara dimulai pun, ibu sudah sibuk menandatangani bermacam-macam berkas administratif. Pagi hari, sampai mimiren beliau menjelaskan tata cara pencontrengan yang sangat rumit untuk ukuran peserta TPS 04 yang mayoritas berlatar belakang buruh tani.

Menjelang siang hari, setelah menyambut kedatangan saya yang baru tiba dengan satu pelukan hangat, ibu mengumpulkan tim pemungutan suara menyiapkan proses penghitungan. Kemudian kotak suara dibuka, kertas suara dibuka satu per satu, memelototi kotak-kotak yang ada goresan contrengan. Ternyata proses “mencari contrengan” ini tidak mudah. Sementara, daftar para Caleg ditempel memenuhi dinding dengan paku. Panitia juga lagi-lagi harus mencari posisi Caleg yang mendapat suara untuk diberi tanda. Ibu baru pulang ke rumah pukul 23:00 malam.

Pemilu yang Tidak Go Green

Dunia sudah nyaris kiamat karena kehabisan pohon-pohon yang ditebang untuk kertas. Dan coba lihat berapa juta hektar hutan yang dibabat sia-sia untuk kebutuhan kertas Pemilu ini? Setiap surat suara berukuran sekitar A3, dan ini “hanya” dipakai untuk menulis coretan kecil yang disebut contreng. Setelah itu, mungkin berjuta-juta lembar kertas ini teronggok tak berguna di ruang arsip kantor kecamatan. Tak boleh didaur ulang atau dibuang, haram menurut Undang-Undang resmi kearsipan negara kita.

Seharusnya, sistem IT yang paperless bisa diaplikasikan untuk mendukung gerakan Go Green. Sayangnya, untuk ukuran negara kita, hal ini masih mustahil. Sistem contreng saja sudah membingungkan orang, apalagi kalau disuruh memegang mouse dan meng-klik pilihannya. Sementara, sistem IT untuk rekapitulasi penghitungan suara saja kacau balau.

Yeah… semoga biaya yang sangat besar ini membawa manfaat. Meskipun saya agak pesimis Pemilu ini bisa mendapatkan senator-senator parlemen yang berkualitas. Kualitas seperti apa kalau Calegnya diwarnai dari orang-orang nggak jelas dan artis jadi suara mayoritas? Entahlah. Semoga saya salah.

Lokasi Foto: TPS 04 Ds. Sanan, Kec. Pakel, Kab. Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM 

Inikah Wajah Demokrasi Kita?

Date April 14, 2009

Catatan Perjalanan Mudik Pemilu (1)

Ada banyak hal yang terlintas saat saya mudik libur panjang Pemilu 2009 ini. Tiba-tiba saya merasa menjadi seorang yang peduli terhadap kondisi sosial masyarakat Indonesia yang sebelumnya sama sekali tidak.

Saya yang kehabisan tiket Gajayana terpaksa naik kereta Sembrani ke Surabaya dulu. Astaga keadaan Gambir sore itu nyaris menyamai suasana mudik lebaran. Dan para penumpang berdiri di gerbong tua tapi katanya kelas eksekutif itu penuh sesak. Setiba di stasiun Pasar Turi Surabaya, saya melanjutkan perjalanan ke terminal Bungurasih dengan taksi Blue Bird. Merasakan nikmatnya menjadi orang kaya yang berhak mendapatkan privilege khusus karena bebas finansial.

Sampai Bungurasih saya terhenyak. Penumpang terlantar karena pagi itu bus sedikit sekali yang beroperasi. Ketika sepotong bus Harapan Jaya tiba di terminal kedatangan, orang berhamburan menyerbu bus itu, berebutan pintu masuk yang sempit, berebutan mendapatkan tempat duduk.

Sampai di sini saya dihadapkan pada sebuah dilema. Kalau saya tak ikut berebut, tak mungkin saya mendapatkan bus sampai sore. Tidak ada yang mau antri. Tidak ada yang mau memperhatikan seorang ibu muda yang sedang menggendong bayi delapan bulan yang terhimpit di belakang. Bahkan ini masih di terminal kedatangan, bukan di terminal keberangkatan di mana orang seharusnya naik.

“Maaf… maaf…,” desis saya sambil merangsek mendesak masuk bus. Saya tak punya pilihan lain. Sampai di dalam bus saya lebih menjerit lagi karena banyak ibu-ibu menggendong bayi sambil berdiri, sementara tidak ada seorang pun mengalah untuk memberikan tempat duduk kepada mereka yang lebih lemah.

Saya memilih untuk tidak duduk dan mencari ruang yang sedikit longgar di belakang. Ah, saya menemukan tempat yang nyaman. Di tangga pintu belakang, di pojok depan toilet bus. Saya bisa duduk di situ, sementara hembusan AC di atas mengurangi udara pengap bus yang penuh sesak. Jarak Surabaya - Tulungagung sejauh 100 km yang masih harus ditempuh saya habiskan meringkuk di sudut itu sambil menghabiskan majalah Marketing edisi Maret 2009. Ternyata definisi kenyamanan tergantung sudut pandangnya. Nyaman adalah saat saya duduk di dalam taksi Blue Bird setengah jam lalu. Nyaman adalah saat saya meringkuk di sudut bus yang penuh sesak.

Demokrasi?

Beginikah wajah bangsa kita yang katanya adalah negara demokrasi terbesar di dunia setelah Amerika dan India? Kenyataannya, orang tidak lagi memikirkan orang lain. Hanya kepentingan diri sendiri yang menjadi landasan perbuatan di atas segala landasan. Jadi jangan heran dan jangan protes kalau anggota dewan korupsi. Mereka punya kesempatan kok. Saya dan Anda pun akan berbuat sama jika mendapat kesempatan itu.

Saya jadi ingat kata-kata Anthony Cade alias Pangeran Nicholas Obolovitch, raja Herzoslovakia yang didukung Inggris dalam novel The Secret of Chimneys-nya Agatha Christie. Konsep setiap orang adalah saudara dalam demokrasi adalah sesuatu yang baik. Tetapi masih agak sulit memahaminya ketika tidak ada orang yang mau memberi jalan untuk seorang ibu di terminal Bungurasih.

Mungkin demokrasi belum saatnya diterapkan di Indonesia. Mungkin sistem monarki justru lebih cocok. Raja Hayam Wuruk buktinya bisa mengantarkan Majapahit dalam masa kejayaannya di seluruh Nusantara. Atau yang lebih dekat, saya jadi merindukan sosok diktator kuat semacam Presiden Soeharto. Tidak mengapa saya jadi tidak bisa ngeblog secara bebas lagi, asal membawa keadaan masyarakat yang lebih baik, lebih bisa saling toleransi, dan menghormati satu sama lain.