Tercampakkan
FLICKR
Lokasi: Belakang Rumah, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR | Adobe Photoshop CS3
Di sebuah sudut yang tak mendapat perhatian.
Dedaunan tumbuh liar, siapa peduli?
Sampah berserakan? siapa yang tahu?
Mmm… apakah ini pembuangan sampah? Bukan juga…
Hanya sudut yang tak berguna
tempat apapun yang telah tanpa guna dicampakkan
Tercampakkan.
kategori foto: entahlah…
Masjid Nurul Ikhlas Cilegon
FLICKR
Lokasi: Jl. Sultan Ageng Tirtayasa, Cilegon, Banten
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM
Foto versi berwarna masjid Nurul Ikhlas Cilegon. Cahaya Keikhlasan. Seperti yang telah saya katakan, cuaca memang sedang mendung. Langit mendung tidak fotogenik. Saya motretnya juga bukan pada golden hour. Saya membayangkan kelak pelataran lantai dua ini akan mengkilap oleh sinar matahari yang jatuh di lantai pualam putih. Angin semilir lembut menerpa wajah yang masih basah oleh air wudhu. Allahu Akbar…
Siang di Depan Masjid Nurul Ikhlas
FLICKR
Lokasi: Depan Masjid Nurul Ikhlas, Cilegon, Banten
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM
Saya menyempatkan diri menepikan mobil dan turun tatkala menara masjid megah ini terlihat dari kejauhan. Inilah pemandangan masjid ini tepat di depannya di jalan Sultan Ageng Tirtayasa, Cilegon. Ternyata masjid ini masih dalam proses pembangunan. Nanti saya tunjukkan kemegahannya — meskipun belum selesai dibagun, tapi megahnya sudah sangat terasa. Mungkin akan seperti Dian Al-Mahri Depok, atau bahkan Istiqlal.
Tentang Kata Contreng yang Tidak Baku
Pemilihan Umum 2009 merupakan tonggak awal sistem baru dimana pemilih tidak lagi mencoblos tanda gambar tetapi dengan mencoretkan tanda seperti v atau cawang pada pilihannya. KPU menyebut cara ini sebagai mencontreng. Saya tak yakin pasti bahwa KPU mensosialisasikan cara ini dengan sebutan “contreng”, tapi yang jelas, semua media massa memberitakan cara ini sebagai pen-contreng-an.
Ah, KPU adalah lembaga negara yang formal. Sungguh sedih rasanya melihat sebuah lembaga formal tidak menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Kalau lembaga formal saja tidak memakai bahasa baku, apa iya penduduknya bisa menggunakan bahasanya sendiri dengan baik dan benar?
Kata contreng tidak saya temukan di KBBI Daring Online. Saya menemukan kata “centang” yang baku yang memiliki makna sama. Seharusnya, untuk mendidik masyarakat menggunakan bahasa baku, istilah-istilah yang digunakan dalam kelembagaan negara juga menggunakan bahasa baku pula, sesuai dengan petunjuk penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Sebaiknya, istilah menandai pilihan adalah pen-centang-an, bukan pen-contreng-an.
Memang, Bahasa Indonesia berakar dari lingua franca atau bahasa pergaulan. Namanya bahasa gaul, Bahasa Indonesia sangat mudah menerima adaptasi dan adopsi istilah-istilah dari bahasa lain. Hal ini sesuai dengan karakter Indonesia yang bhinneka tunggal ika. Namun demikian, tetap saja ada pedoman Bahasa Indonesia yang baku itu seperti apa. Penggunaannya tentu bukan di kehidupan sehari-hari, tetapi di tingkat resmi seperti Pemilu dan KPU. Ironisnya, hal ini tidak terjadi, justru di pergelaran yang paling populer bagi bangsa Indonesia.
Salah satu alasan saya menulis di blog dengan gaya bahasa yang formal adalah mempertahankan dan melatih kemampuan berbahasa Indonesia saya. Sudah sulit bisa mendapatkan lingkungan dimana orang saling berbahasa secara baku. Oleh karenanya, meskipun berakibat gaya bahasa saya menjadi kaku dan formal begini, saya sekuat tenaga menghindari penggunaan kata-kata yang tidak baku, kecuali ketika ada satu titik dimana saya harus menggunakan kata tidak baku untuk melenturkan kalimat.
Apakah Anda masih bisa membuat satu paragraf lengkap dengan baik dan benar?
Saya yang Belum Pernah Bisa Dewasa
Tidak ada yang lebih membahagiakan ketika menyadari bahwa saya dikelilingi oleh orang-orang yang begitu baik dan perhatian kepada saya. Mulai tengah malam tadi (bahkan kemarin), saya kedatangan pesan-pesan pendek di ponsel, dan wall di fesbuk dipenuhi tulisan-tulisan yang mengingatkan bahwa jatah umur telah berkurang satu lagi.
Sebuah kehormatan diberi sebuah pesan pendek di tengah malam oleh orang yang pernah sangat khusus bagi saya. Sebuah pesan pendek mungkin tak berarti apa-apa, tapi ternyata saya juga mulai melupakan untuk selalu mengirimi pesan pendek setiap kali ada reminder menjerit dari ponsel saya.
Pagi tadi, dari Google Reader, saya membaca postingan seorang ibu muda pekerja seni masak-memasak sekaligus pengusaha cake yang membuat saya tersenyum simpul. Dengan gaya tulisannya yang jenaka, ia menceritakan hobi bersepeda suaminya yang memiliki spare part yang mahal-mahal. Saya cuma kenal sepeda merk Polygon seharga 800 ribu dari toko Redjo Agung di Pasar Wage Tulungagung, hahaha…
Segera pikiran melayang ke diri sendiri. Men never grow up, hahaha…
Tahun lalu, saya menandai bulan Maret 2008 dengan sebuah lensa lebar Sigma 10-20 mm yang harganya cukup mencekik leher selama beberapa bulan berikutnya. Performa memuaskan, dan untung saya belinya tahun lalu karena sekarang harga lensa itu naik 45% setelah dolar ada di titik 12 ribu.
Semua jarak tembak kamera telah saya dapatkan. Dari 10 mm (Sigma wide) sampai 200 mm (Nikkor tele). Flash/Speedlite juga saya sudah (Nissin Di622). Bermacam filter dari UV, InfraRed, sampai polarizer CPL ada. Tripod ada merk Velbon kokoh yang karena beratnya saya jadi malas pakai . Lalu apa setelah itu? Setelah itu ternyata bosan! =))
Dasar, umpat saya pada diri sendiri. Saya berpikir ketika semua jarak tembak sudah saya dapat, saya sudah bisa menghentikan untuk berhura-hura seperti ini. Sempat muncul wacana untuk lensa sapu jagat/long range Nikkor 18-200 VR2, lalu muncul wacana upgrade ke Nikon D80/D300. Tapi semua wacana tidak memiliki justifikasi yang cukup untuk menjadi sebuah Purchase Order.
Ternyata setan di diri saya cerdik juga memanfaatkan kelemahan yang ada. Sekarang beredar wacana yang sulit untuk dibendung gara-gara saya terkesima melihat permainan piano dan ingin menguasainya. What a… Hanya bikin catatan accounting di Excel saya tiap bulan jadi semakin rumit, instrumen investasi (meminjam istilah Perfect Num8er-nya Charles Bonar), sering menjadi titik yang dikorbankan, hehehe…
Anyway, kembali ke laptop, terima kasih sekali lagi buat ucapannya buat kawan-kawan semua. Ditunggu kadonya… )
Comments