Entries from March 2009
March 29, 2009
Harus saya akui, di belantara lalu lintas Jakarta, saya bukanlah pengendara motor yang baik. Saya sama saja dengan biker-biker lain yang menyebalkan. Suka zig-zag di sela-sela mobil yang berbaris rapi karena macet, menyalip dari kanan dan kiri, menyerobot lampu merah (walaupun tidak sering). Prestasi “terbaik” saya adalah menghantam spion mobil karena salah memperkirakan lebar celah yang cukup untuk badan Jupiter bisa menyusup. Dosa satu-satunya yang belum pernah saya lakukan adalah memakai jalur busway.
Seperti yang pernah saya katakan, jalanan Jakarta yang semrawut adalah pelajaran sosial yang sangat berharga. Ternyata arus kuat bisa menyeret kerikil-kerikil kecil dan menghanyutkannya. Maksud saya, dulu saya adalah pengendara motor yang baik. Ternyata pelan-pelan, saya tergilas mengikuti sistem yang telah menjadi kewajaran. Adalah aneh jika biker tidak berjalan zig-zag dan menunggu lampu hijau menyala. Anda akan diserang klakson. Ini memberikan pelajaran penting: jangan anggap remeh sistem yang kacau dengan menganggap Anda bisa memperbaiki sistem, salah-salah Anda yang terseret di dalamnya.
Semua hal itu membuat saya semakin sabar menghadapi lalu lintas Jakarta. Jika diserobot atau dirugikan, saya tersenyum dan tak membuat klakson saya menyalak kencang. Saya tak pernah lagi mengumpati pengendara lain. Karena mungkin saja besok saya yang ada di pihak pengendara itu.
Jumat pagi kemarin, di perempatan lampu merah fly over Pramuka arah ke Salemba, lalu lintas begitu sibuk. Seperti biasa, motor berjejal-jejal saling berebut celah yang ada untuk menuju ke paling depan. Beberapa gerombol motor menyikat jalur kiri untuk menuju ke depan, termasuk saya. Kalau sudah di depan, biasanya selalu ada celah untuk menyusup balik ke jalur tengah. Sial bagi saya, celah itu sudah habis terisi. Saya tetap di jalur kiri, sambil berjalan pelan-pelan mengulur waktu berharap lampu hijau segera menyala.
Saya berhenti akhirnya. Tetap di jalur kiri di sisi paling kanan. Saya lirik ruang sebelah kiri saya masih muat untuk sebuah mobil meskipun sangat ngepas. Tak sampai sepuluh detik, sebuah Avanza cokelat meraung-raung di belakang saya. Rupanya ia tak bisa lewat. Lampunya dikedip-kedipkan. Saya tahu maksudnya, mengintimidasi saya agar segera memberi jalan. Saya cuek. Telinga ini sudah terlalu tebal. Percuma orang ganti klakson yang paling kencang sekalipun. Telinga biker itu sudah tuli dengan isyarat klakson.
Semenit kemudian, lampu hijau menyala. Saya menyingkir ke jalur tengah. Saya mendengar ada orang berteriak. Saya menoleh. Ternyata sopir Avanza itu telah menurunkan kaca mobilnya. Bapak-bapak umur 40 tahunan. Astaga, betapa marahnya dia. Wajahnya merah padam, “Hoee!!! Lu punya otak gak sih?!?” teriaknya sambil mengacungkan jari tengah ke saya. Saya buka kaca helm dan tersenyum sambil melambaikan tangan. Meminta maaf maksudnya. Tapi saya tahu, senyum saya diterjemahkan sebagai senyum yang paling menyebalkan oleh bapak itu.
Wah, saya jadi bertanya-tanya. Apa yang menyebabkan kita begitu mudah naik darah di jalan? Kesalahan pengendara lain seakan sangat merugikan kita sehingga kalau perlu ia dicegat, diberi makian sampai puas, dan ditampar kalau perlu. Di jalanan, berbagai orang dengan bermacam ragam latar belakang, temperamen, pendidikan, dan tingkat kesabaran bercampur menggunakan jalan yang sama. Sayangnya, sebagian besar adalah orang-orang pemarah. Mengacu pada paragraf 1, sebaiknya kita belajar dan tetap berusaha untuk tidak terseret arus. Tetap berusaha menjadi pengendara yang baik dan santun.
Posted in Catatan Harian
9 Comments »
March 28, 2009
Hari ini, Paton dan Debo tampil untuk kali terakhir untuk membuktikan siapa di antara mereka berdua yang pantas menjadi Raja Idola Cilik 2. Dan sekali lagi penampilan spektakuler para finalis ini membersitkan pemikiran di benak saya dengan judul Punahnya Lagu Anak-Anak.
Praktis, semua peserta Idola Cilik melantunkan lagu-lagu hits yang sebenarnya target marketnya adalah remaja ke atas. Mereka menyanyikan lagu-lagu Seventeen, ST 12 dan Peterpan dengan sangat baik nyaris tanpa cacat cela. Tapi apa nggak kasihan kalau mereka disuruh menghayati, menjiwai, dan mengekspresikan apa yang belum pernah mereka ketahui rasanya?
Apa yang harus aku tunjukkan
untuk membuat kau menyayangiku?
Inilah aku yang memilih kau untukku…
Untuk Mencintaimu – Seventeen
Saya sempat berpikir tadi, apa faktor yang membuat lagu anak-anak itu punah. Dan pikiran saya lagi-lagi mengkambinghitamkan sinetron sebagai biang keroknya. Entah mulai kapan, sinetron hampir selalu menggunakan nama tokoh utama sebagai judul dan mencomot single yang sedang hits sebagai sound track. Tidak ada lagi karya-karya “apik” ala Chossy Pratama di Tersanjung — sinetron terakhir yang mewakili era sinetron klasik bernama Tersanjung dan Noktah Merah Perkawinan.
Lha, sinetron kan selalu ditayangkan di jam prime time di mana seluruh keluarga sedang berkumpul dan menonton televisi. Tampaknya sinetron sudah terlalu menyihir ibu-ibu untuk tidak bisa lepas darinya. Sebut saja Alisa, Muslimah, Abi, pasti mereka akrab dengan nama-nama ini.
Efeknya? Berapa banyak keluarga yang mematikan televisi di jam tersebut untuk memberikan kesempatan anaknya untuk belajar? Akhirnya si anak belajarnya tidak fokus dan ikut menonton sinetron. Tanpa disadari, lagu-lagu soundtrack sinetron tersebut juga diakrabi anak-anak.
Dengan industri musik anak-anak yang semakin lesu — karena pembajakan dan kualitas yang semakin tidak jelas, mau tidak mau segala kondisi itu membuat musik dewasa juga merangsek masuk ke pasar musi anak-anak yang kosong. Karena musik dewasa sekarang juga sederhana — mengikuti tren gaya Peterpan dan Ungu, musik itu mudah diterima di telinga anak-anak. Lain kalau karya musik dewasa masih serumit karya-karya Fariz RM, Ebiet G Ade, God Bless, Chrisye, atau Emerald di jalur jazz, mungkin agak lebih susah dicerna anak-anak.
Tapi kesimpulannya tetap saja: lagu anak-anak telah punah dari gemerlap blantika musik Indonesia.
Posted in Musik
14 Comments »
March 24, 2009

Mercusuar Anyer, hanya sejauh selemparan batu saja dari kota Cilegon, kota yang dipenuhi pabrik-pabrik kimia yang menyemut mengelilingi industri utama kota ini: Krakatau Steel. Saya kemari karena diundang kawan lama saya, Je-Es, untuk menghadiri acara walimatul ursy-nya. Aries Setiawan, (dulu) computer geek yang siapa sangka bisa menaklukkan hati seorang mojang geulis untuk menjadi isterinya. Tanpa banyak cingcong, tanpa tanda sebelumnya, he’s got the girl.
Berhubung saya ini suka keluyuran, rasanya sayang kalau sudah sampai Cilegon tak diteruskan ke Anyer. Ditemani para konco plek: Antie, Daniel, Santi, dan Farida, saya larikan mobil ke sana. Kawasan pesisir barat pulau Jawa ini dipenuhi oleh deretan cottage-cottage yang dikelola perusahaan partikelir yang anehnya sepi pengunjung. Seperti kawasan yang pernah jaya di masa yang belum lama berlalu. Saya menduga keadaan ini berlanjut terus sampai pantai Carita dan akhirnya Ujung Kulon.
Karena tidak menemukan kawasan yang agak ramai pengunjung, saya akhirnya mengikuti insting untuk berbelok karena melihat ada dua mobil diparkir — saya tak menemukan satu mobil pun ditempat sebelum ini. Siapa sangka kalau insting saya mengantarkan pada titik nol kilometer jalan Anyer Panarukan? Hehe, nice instinct buddy, gumam saya sambil terkekeh-kekeh.
So, what are you guys waiting for? Let’s take some picture, and climb up the lighthouse! Here we are… Read the rest of this entry »
Posted in Arsitektur, Catatan Harian, Landscape
7 Comments »
March 23, 2009

FLICKR
Lokasi: Pantai Anyer, Banten
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM
Deru Sang Ombak bersilih ke pantai
Disambut ayunan nyiur melambai
Rembulan megah di atas mahligai
Tersenyum melihat kita berdua…
Angin membawa lagu cinta
Sejuta bintang bermain mata
Seakan lena dua insan
Di dalam skenarionya…
Inilah bibir pantai barat pulau Jawa yang berbatasan langsung dengan selat Sunda yang berombak tenang. Kalau di atas ketinggian seperti ini, kita sadar betapa indah negeri kita Indonesia. Cantik, menghijau warna nyiur dihembus angin laut, bercampur warna cokelat tanah perbukitan yang subur, bertemu dengan biru laut berbuih putih bersih. Ombak asyik bercengkerama memukul-mukul batu karang dengan mesranya. Lembut memecah menjadi buih sehalus kapas.
Yeah, inilah pantai Anyer, dimana Sheila Madjid begitu terkesima dengannya sehingga lantunan tembang Antara Anyer dan Jakarta mengalun dari suaranya yang merdu. Atau dentingan piano menyayat hati dari Slank yang memiliki kenangan masa lalu dengan kekasihnya di sini, yang diabadikan di lagu Anyer 10 Maret.
Posted in Landscape
6 Comments »
March 20, 2009
Teman-teman ngerasa juga nggak, bahwa rasanya waktu semakin cepat berlari? Aku rasa iya. Sehari itu rasanya seperti sekejap saja. Pagi berangkat, duduk ngetik sebaris dua baris, membalas satu dua email, satu dua telepon, lalu makan siang. Sholat Dzuhur. Duduk lagi, dapat tiga baris, udah teng jam empat. Eeh… tiba-tiba udah weekend lagi. Sabtu ketemu Sabtu, Minggu ketemu Minggu. Lalu Senin lagi.
Ibuku bilang, itu hanya dialami oleh orang yang punya kesibukan saja. Karena terlalu asyik dengan kegiatannya sehingga rasanya waktu menjadi cepat berlalu tanpa terasa. Orang yang tak punya kesibukan akan merasa waktu berjalan sangat lambat. Apa iya begitu?
Kemarin waktu ada long weekend, aku diam di rumah. Ngga ngapa-ngapain. Membebaskan diri dari pekerjaan rutin sehari-hari. Diam saja sambil mondar-mandir ke sekeliling rumah. Kadang maen gitar di teras depan sampai bosen, lalu jalan ke kebun belakang liat ikan lele berenang riang di kolam ditemani gemerisik daun-daun Randu sebagai pagar hidup kebun. Kalau lapar, tinggal ambil piring, menciduk nasi dua enthong, lauk ikan lele goreng tiga ekor, meraup sayur kacang panjang, dan mencolek sambal terasi se-lemper. Nikmat.
Eh, tapi ternyata meskipun nganggur begitu waktu tetep aja berlari. Seberapa waktu pagi sepenggalah matahari, turun dari Gajayana di stasiun Tulungagung dengan riangnya, membeli tas baru buat ibu dan frame kacamata baru buat kado ulang tahun ibu dan bapak yang hampir bersamaan — ee lhakok sudah Senin sore lagi mencegat Gajayana buat balik Jakarta lagi.
Kalau dicek secara ilmiah, kalau seandainya jalannya rotasi bumi lebih cepat, mestinya putaran jam dinding dimana-mana jadi ketinggalan. Tapi yang terjadi sama saja tuh, matahari terbit jam 06:00 di ufuk Jakarta dan tenggelam pukul 18:00 di cakrawala barat.
Tanda hari akhir segera tiba? Berarti matahari akan segera terbit dari barat kalau begitu.
Demi Waktu,
Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian
Kecuali orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal saleh
dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran
dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran
Al-’Ashr (QS. 103:1-3)
Posted in Catatan Harian
12 Comments »