Jenis-Jenis Piano

Posted by: on Feb 9, 2009 | 28 Comments

Aha, semakin gado-gado aja blog ini, apa saja dicampur di sini. Kalau makanan jadinya kayak gimana ya? )

Well…, pada dasarnya, saya menyukai riset, pengetahuan baru, dan menikmati sensasi perasaan khusus yang ditimbulkan olehnya. Termasuk piano ini, karena mempelajarinya perlu langkah-langkah khusus, maka saya menganggapnya sebagai riset bermusik. Lagipula, saya ingin membuktikan kalau belajar piano bisa dimulai pada umur berapapun. Scaling tidak harus dimulai dari anak-anak, I wish i was 7 years old, but it’s OK to start scaling in any age.

Grand Piano

Inilah piano yang sebenar-benarnya. Berasal dari konstruksi kayu mengkilap, dengan tuts berjumlah 88. Piano ini memiliki kotak akustik yang ditidurkan, dengan deretan senar-senar yang diketuk hammer piano ditidurkan. Merk yang paling eksklusif dari jenis ini adalah Steinway, sedangkan yang biasa kita temui di Indonesia adalah Yamaha Grand Piano. Harganya sama dengan satu unit mobil mewah, 400 jutaan ke atas.

Upright Piano

Masih di jajaran kategori piano akustik, upright piano juga berkonstruksi kayu, 88 tuts, kotak akustik serta senar-senarnya. Tetapi yang membedakan dengan grand piano adalah posisi kotak akustiknya yang berdiri. Dengan konstruksi seperti ini, piano model ini menghemat tempat. Jadi jika Anda tidak terlalu punya tempat untuk meletakkan Grand Piano dan masih ingin menikmati suara dentingan piano akustik asli, upright piano bisa Anda pilih.

Digital Piano

Piano akustik, untuk mendapatkan kualitas yang prima memerlukan perawatan yang sangat merepotkan. Selain suhu tertentu diperlukan untuk menjaga ketegangan senar-senar nada piano, setiap kali piano model ini dipindahkan, nada-nadanya harus di tune ulang. Kawan saya yang memiliki sebuah piano upright, setiap kali pianonya nadanya mulai ngaco, ia harus mendatangkan tukang stem piano khusus dari Semarang.

Adalah sebuah terobosan Kawai dan Yamaha yang memperkenalkan synthetizer pada tahun 80-an. Sebuah sampling suara piano memungkinkan bunyi piano dihasilkan dari alat-alat elektronik yang dialiri listrik. Teknologi synthetizer berkembang sehingga digital piano sendiri memiliki kategorisasi tersendiri: digital piano, keyboard, dan synthetizer.

Digital piano ditandai dengan rentang nadanya yang sama dengan piano akustik biasa, yaitu sepanjang 88 nada. Model tuts-nya masih menggunakan tipe gradded-hammer, atau efek yang Anda rasakan ketika menekan tuts piano. Berat, dan seperti mengetukkan palu ke senar-senar nada. Model yang paling populer di panggung contohnya adalah Roland RD-700 atau RD-300,  sedangkan untuk pengguna rumahan, Yamaha seri Clavinova adalah contoh yang paling populer.

Keyboard

Apa beda keyboard dengan digital piano? Hal pertama yang paling mencolok adalah model tuts-nya. Keyboard tidak menggunakan gradded hammer, melainkan model touch response. Ini artinya efek seperti mengetukkan palu tidak bisa Anda rasakan, karena itu tuts keyboard jauh lebih ringan untuk ditekan, dan rasanya seperti menekan plastik tanpa sensasi menekan tuts piano akustik. Rentang nada yang dimiliki juga lebih sedikit, hanya sepanjang 61 nada. Memotong nada atas dan nada bawah piano, dan menyisakan nada tengahnya saja.

Tetapi kelebihan keyboard adalah kemampuannya menghasilkan suara bermacam-macam alat musik. Ia juga memiliki kemampuan untuk memainkan irama dengan variasi yang banyak, sehingga kita bisa bermain diiringi sebuah band lengkap dengan bantuan hanya satu unit keyboard saja.

Keyboard model begini paling sering muncul di hajatan seperti pesta pernikahan. Orang awam sering menyebutnya musik electone. Dengan memainkan suatu style (iringan nada-nada berbagai alat musik dalam satu band yang disimpan dalam format MIDI) pada keyboard, pemain keyboard cukup memainkan melodinya saja dengan bunyi-bunyi tertentu, sambil menekan chord-chord yang bersesuaian. Jauh lebih murah dan praktis daripada harus mendatangkan satu band lengkap.

Contoh yang populer adalah Yamaha seri PSR, atau Roland seri E.

Synthetizer

Seperti namanya, alat ini adalah pembuat suara buatan yang handal. Hal yang paling kelihatan mencolok adalah rentang nadanya yang mungkin hanya dua oktaf saja, memiliki banyak panel-panel instrumen seperti equalizer, mixer, bender, dll pada papan keyboardnya. Alat ini memang ditujukan untuk membuat style, dan mengaransemen sebuah lagu. Sebuah aransemen dibuat dengan alat ini satu demi satu — atau istilahnya layer demi layer. Pola-pola instrumen drum, gitar, bass, dan variasinya ketika masuk chorus, bridge, atau coda dibuat satu per satu. Ketika sudah jadi, semua layer digabungkan menjadi satu menjadi sebuah aransemen musik yang bisa dimainkan oleh keyboard.

Anda bisa melihat synthetizer ini di atas keyboard milik Run-D, keyboardis band Nidji ketika mereka tampil live. Contoh merk yang populer misalnya Roland seri Fantom atau Yamaha seri M.

Menantang Adrenalin

Posted by: on Feb 5, 2009 | 19 Comments

FLICKR
Lokasi: Wahana Halilintar, Dunia Fantasi Ancol, Jakarta
Nikon D4o | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Tiket seharga Rp. 120.000 untuk Dufan rasanya terlalu mahal untuk seorang Galih Satria. Betapa tidak, nyaris semua wahana berbau ketinggian. Saya yakin, standar keamanan semua wahana di Dufan telah memenuhi standar ISO, tapi bagi saya yang cukup kolot untuk menaiki mainan modern begini, tetap saja ada pikiran, “Nanti kalo pengamannya lepas gimana? Kan lumayan tuh minimal bisa patah tulang….” :-S

Saya hanya naik wahana Turangga-rangga, Istabon (istana boneka), dan Perang Bintang yang tidak ada bau-bau ketinggian. Biar adrenalin tetap pada level normalnya saja, tidak digenjot keluar hehe.

Daftar Facebook (Akhirnya)

Posted by: on Feb 2, 2009 | 269 Comments

Hare genee?!?

Yeah, siapa bisa menghentikan godaan Web 2.0 — yang haus bandwidth itu — sekarang ini? Saya pada akhirnya tertarik setelah bosan dengan situs jejaring sosial Friendster. Saya tertarik karena kedatangan Facebook cukup fenomenal dan sukses menggilas situs yang lebih dulu populer bernama Friendster.

Kedatangan facebook menggotong web 2.0 berhasil mendorong dan memposisikan diri. Friendster digeser citranya sehingga menjadi situs untuk kalangan ABG, sementara facebook ternyata lebih diterima banyak kalangan, termasuk di sini kalangan orang-orang tua yang bisa ber-facebook-an ria dengan anaknya. Bahkan sekarang ada ungkapan baru, “Friendster?!? Haree genee?!?” Facebook telah menendang friendster menjadi aplikasi yang jadul dan kuno, padahal belum genap satu dekade friendster berjaya.

Memang facebook membawa banyak hal yang baru lebih dari sekedar jejaring sosial — menyambung-nyambungkan teman, saling berkomentar. Ada hal-hal baru yang mengasyikkan: aplikasinya, kemudahan saling berkomentar dan berkomunikasi, update-update yang bermacam-macam, algoritma “Friends you may know” yang cerdas dan misterius, dan terakhir tentu saja adalah privasi. Tidak setiap orang bisa melihat profil kita.

Jadi, tanpa gantalan wektu — tanpa membuang waktu lagi, mari silakan dilihat halaman facebook sayah….

Switch to our mobile site