Entries from February 2009
February 14, 2009
Saya menontonnya tadi malam di studio XXI Plaza EX di Jl. MH. Thamrin. Film yang dibintangi oleh Tom Cruise ini bercerita tentang usaha pembunuhan terhadap pimpinan Nazi Jerman, Adolf Hitler yang didalangi oleh beberapa petinggi angkatan militer Jerman, dengan pemimpin pelaksana Kolonel Claus von Stauffenberg (Tom Cruise). Usaha pembunuhan ini disebut 20 July Plot (karena terjadi pada tanggal 20 Juli 1944).
Film sejarah yang bagus. Sinematografi, efek visual, dan plot ceritanya menarik. Memperluas wawasan saya tentang sejarah Nazi Jerman. Tetapi bukan itu saja yang membuat saya tertarik dan menulis review ini. Ketika mengikuti jalinan cerita plot ini, saya seperti dihajar de ja vu. Sepertinya saya pernah membaca rangkaian plot kudeta seperti ini. Tapi di mana ya…
Saya terhenyak ketika menyadari bahwa Valkyrie sangat mirip dengan Gerakan 30 S PKI. Tentu saja ini hanya analisis usil saya tanpa ikut dalam kontroversi sejarah 1966 itu.
Alat dan Kekuatan
Kudeta 20 Juli 1944 menggunakan Operasi Valkyrie sebagai alat untuk pengambil alih kekuasaan. Operasi ini disetujui oleh Adolf Hitler sebagai bentuk tindakan darurat yang melegitimasi angkatan perang untuk mengambil alih kekuasaan. Ini mirip dengan Supersemar yang ditandatangai PJM PBR Presiden Soekarno bukan?
Tokoh kunci operasi Valkyrie, Kolonel Stauffenberg, memobilisasi pasukan cadangan untuk melaksanakan operasi ini. Ini mengingatkan saya bahwa tokoh kunci militer dalam peristiwa G 30S PKI, Letnan Jenderal Soeharto, adalah seorang Panglima Kostrad. Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat. Pasukan cadangannya TNI. Hehe…
Isu yang Dikembangkan
Usaha Kudeta 20 Juli 1944 mengkambinghitamkan SS telah melakukan kudeta dan membunuh Hitler. Hal ini menjadikan operasi Valkyrie menangkap semua pimpinan yaitu SS, SD, Gestapo, dan Partai Nazi. Seorang pengamat dan fans sejarah Nazi, Mas Puntadi, menjelaskan kepada saya bahwa SS sebenarnya di luar angkatan perang Jerman meskipun ia dipersenjatai lengkap. Ia adalah sebuah organisasi khusus yang melindungi sang pemimpin Nazi, Adolf Hitler.
Gerakan 30S PKI juga memiliki isu angkatan yang khusus ini. Ia adalah Angkatan Kelima di luar TNI yang beranggotakan sipil dan akan dipersenjatai dari Cina.
Namun sayangnya, Gerakan 30S PKI adalah sejarah yang penuh kontroversi. Selain versi resmi yang kita pelajari di buku sejarah di sekolah, berkembang ribuan versi teori konspirasi mengenai persitiwa yang mengakhiri rezim Orde Lama ini. Andai katakanlah saja salah satu teori konspirasi itu benar, bahwa Jenderal Soeharto terlibat dalam kudeta ini, tentu saya bisa berkata bahwa inilah suatu bentuk modifikasi dari Operasi Valkyrie yang berhasil dengan gilang gemilang.
Posted in Review
14 Comments »
February 13, 2009

FLICKR
Lokasi: Dunia Fantasi Ancol, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR
Anna Althafunnisa yang menjanda, dalam Ketika Cinta Bertasbih 2, menyerahkan kepada ayahnya mengenai urusan jodohnya setelah kegagalan pernikahannya dengan Furqan. Demikian pula Azzam, setelah pertunangannya dengan seorang dokter yang manis di Kudus gagal, ia pun menyerahkan kepada Kiai Luthfi yang tak lain adalah ayah Anna. Kedua orang ini benar-benar pasrah dan percaya sepenuhnya, orang buta pun asal akhlak agamanya bagus menurut Kiai Luthfie akan diterima. Ketika Azzam ditawari, pertanyaan pertamanya adalah, “Apakah ia shalehah, Kiai?” Dan tanpa menanyakan siapa orangnya, ia mengiyakan ketika Kiai Luthfie mengkonfirmasi bahwa calon tersebut shalehah.
KCB, lewat tokoh-tokohnya, berusaha menyampaikan pesan bahwa cinta tak harus diawali dari perasaan suka dan elemen-elemen visual. Saya kira, justru di sinilah segala atribut ditanggalkan, mencintai apa adanya. Segala embel-embel pangkat, jabatan, kemapanan, kekayaan materi, bahkan sikap, sifat dikesampingkan. Tidak peduli jika pasangan kurang mapan secara materi, atau berasal dari keluarga kaya raya, jika akhlak dan agamanya baik, insya Allah akan baik pula.
Saya sendiri yakin, jatuh cinta itu sendiri bisa dibangkitkan, dibuat, dan bahkan direkayasa seiring berjalannya waktu. Setiap manusia memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dengan niat yang baik nan mulia (menggenapkan setengah dien, atau pernikahan), cinta akan terbentuk dalam proses perjalanan yang panjang. Dan suatu saat, ada satu titik di diri pasangan yang tiba-tiba bersinar dan membuat Anda tidak bisa lepas lagi darinya pancaran cahayanya. Anda boleh menyebut itu, cinta sejati.
Salam kasih sayang saya untuk Anda semua, pembaca blog ini.
Terima kasih atas segala cinta kasih untuk menyisihkan sedikit bandwidth berkunjung ke sini.
-Galih Satriaji-
Posted in Melankolis
10 Comments »
February 9, 2009
Aha, semakin gado-gado aja blog ini, apa saja dicampur di sini. Kalau makanan jadinya kayak gimana ya? ;))
Well…, pada dasarnya, saya menyukai riset, pengetahuan baru, dan menikmati sensasi perasaan khusus yang ditimbulkan olehnya. Termasuk piano ini, karena mempelajarinya perlu langkah-langkah khusus, maka saya menganggapnya sebagai riset bermusik. Lagipula, saya ingin membuktikan kalau belajar piano bisa dimulai pada umur berapapun. Scaling tidak harus dimulai dari anak-anak, I wish i was 7 years old, but it’s OK to start scaling in any age. :)
Grand Piano

Inilah piano yang sebenar-benarnya. Berasal dari konstruksi kayu mengkilap, dengan tuts berjumlah 88. Piano ini memiliki kotak akustik yang ditidurkan, dengan deretan senar-senar yang diketuk hammer piano ditidurkan. Merk yang paling eksklusif dari jenis ini adalah Steinway, sedangkan yang biasa kita temui di Indonesia adalah Yamaha Grand Piano. Harganya sama dengan satu unit mobil mewah, 400 jutaan ke atas.
Upright Piano

Masih di jajaran kategori piano akustik, upright piano juga berkonstruksi kayu, 88 tuts, kotak akustik serta senar-senarnya. Tetapi yang membedakan dengan grand piano adalah posisi kotak akustiknya yang berdiri. Dengan konstruksi seperti ini, piano model ini menghemat tempat. Jadi jika Anda tidak terlalu punya tempat untuk meletakkan Grand Piano dan masih ingin menikmati suara dentingan piano akustik asli, upright piano bisa Anda pilih. :P
Digital Piano
Piano akustik, untuk mendapatkan kualitas yang prima memerlukan perawatan yang sangat merepotkan. Selain suhu tertentu diperlukan untuk menjaga ketegangan senar-senar nada piano, setiap kali piano model ini dipindahkan, nada-nadanya harus di tune ulang. Kawan saya yang memiliki sebuah piano upright, setiap kali pianonya nadanya mulai ngaco, ia harus mendatangkan tukang stem piano khusus dari Semarang.
Adalah sebuah terobosan Kawai dan Yamaha yang memperkenalkan synthetizer pada tahun 80-an. Sebuah sampling suara piano memungkinkan bunyi piano dihasilkan dari alat-alat elektronik yang dialiri listrik. Teknologi synthetizer berkembang sehingga digital piano sendiri memiliki kategorisasi tersendiri: digital piano, keyboard, dan synthetizer.
Digital piano ditandai dengan rentang nadanya yang sama dengan piano akustik biasa, yaitu sepanjang 88 nada. Model tuts-nya masih menggunakan tipe gradded-hammer, atau efek yang Anda rasakan ketika menekan tuts piano. Berat, dan seperti mengetukkan palu ke senar-senar nada. Model yang paling populer di panggung contohnya adalah Roland RD-700 atau RD-300, sedangkan untuk pengguna rumahan, Yamaha seri Clavinova adalah contoh yang paling populer.

Keyboard
Apa beda keyboard dengan digital piano? Hal pertama yang paling mencolok adalah model tuts-nya. Keyboard tidak menggunakan gradded hammer, melainkan model touch response. Ini artinya efek seperti mengetukkan palu tidak bisa Anda rasakan, karena itu tuts keyboard jauh lebih ringan untuk ditekan, dan rasanya seperti menekan plastik tanpa sensasi menekan tuts piano akustik. Rentang nada yang dimiliki juga lebih sedikit, hanya sepanjang 61 nada. Memotong nada atas dan nada bawah piano, dan menyisakan nada tengahnya saja.
Tetapi kelebihan keyboard adalah kemampuannya menghasilkan suara bermacam-macam alat musik. Ia juga memiliki kemampuan untuk memainkan irama dengan variasi yang banyak, sehingga kita bisa bermain diiringi sebuah band lengkap dengan bantuan hanya satu unit keyboard saja.

Keyboard model begini paling sering muncul di hajatan seperti pesta pernikahan. Orang awam sering menyebutnya musik electone. Dengan memainkan suatu style (iringan nada-nada berbagai alat musik dalam satu band yang disimpan dalam format MIDI) pada keyboard, pemain keyboard cukup memainkan melodinya saja dengan bunyi-bunyi tertentu, sambil menekan chord-chord yang bersesuaian. Jauh lebih murah dan praktis daripada harus mendatangkan satu band lengkap.
Contoh yang populer adalah Yamaha seri PSR, atau Roland seri E.
Synthetizer
Seperti namanya, alat ini adalah pembuat suara buatan yang handal. Hal yang paling kelihatan mencolok adalah rentang nadanya yang mungkin hanya dua oktaf saja, memiliki banyak panel-panel instrumen seperti equalizer, mixer, bender, dll pada papan keyboardnya. Alat ini memang ditujukan untuk membuat style, dan mengaransemen sebuah lagu. Sebuah aransemen dibuat dengan alat ini satu demi satu — atau istilahnya layer demi layer. Pola-pola instrumen drum, gitar, bass, dan variasinya ketika masuk chorus, bridge, atau coda dibuat satu per satu. Ketika sudah jadi, semua layer digabungkan menjadi satu menjadi sebuah aransemen musik yang bisa dimainkan oleh keyboard.
Anda bisa melihat synthetizer ini di atas keyboard milik Run-D, keyboardis band Nidji ketika mereka tampil live. Contoh merk yang populer misalnya Roland seri Fantom atau Yamaha seri M.
Posted in Musik
24 Comments »
February 5, 2009

FLICKR
Lokasi: Wahana Halilintar, Dunia Fantasi Ancol, Jakarta
Nikon D4o | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Tiket seharga Rp. 120.000 untuk Dufan rasanya terlalu mahal untuk seorang Galih Satria. Betapa tidak, nyaris semua wahana berbau ketinggian. Saya yakin, standar keamanan semua wahana di Dufan telah memenuhi standar ISO, tapi bagi saya yang cukup kolot untuk menaiki mainan modern begini, tetap saja ada pikiran, “Nanti kalo pengamannya lepas gimana? Kan lumayan tuh minimal bisa patah tulang….” :-S
Saya hanya naik wahana Turangga-rangga, Istabon (istana boneka), dan Perang Bintang yang tidak ada bau-bau ketinggian. Biar adrenalin tetap pada level normalnya saja, tidak digenjot keluar hehe.
Posted in Catatan Harian, Fotografi
19 Comments »
February 2, 2009
Hare genee?!?
Yeah, siapa bisa menghentikan godaan Web 2.0 — yang haus bandwidth itu — sekarang ini? Saya pada akhirnya tertarik setelah bosan dengan situs jejaring sosial Friendster. Saya tertarik karena kedatangan Facebook cukup fenomenal dan sukses menggilas situs yang lebih dulu populer bernama Friendster.
Kedatangan facebook menggotong web 2.0 berhasil mendorong dan memposisikan diri. Friendster digeser citranya sehingga menjadi situs untuk kalangan ABG, sementara facebook ternyata lebih diterima banyak kalangan, termasuk di sini kalangan orang-orang tua yang bisa ber-facebook-an ria dengan anaknya. Bahkan sekarang ada ungkapan baru, “Friendster?!? Haree genee?!?” Facebook telah menendang friendster menjadi aplikasi yang jadul dan kuno, padahal belum genap satu dekade friendster berjaya.
Memang facebook membawa banyak hal yang baru lebih dari sekedar jejaring sosial — menyambung-nyambungkan teman, saling berkomentar. Ada hal-hal baru yang mengasyikkan: aplikasinya, kemudahan saling berkomentar dan berkomunikasi, update-update yang bermacam-macam, algoritma “Friends you may know” yang cerdas dan misterius, dan terakhir tentu saja adalah privasi. Tidak setiap orang bisa melihat profil kita.
Jadi, tanpa gantalan wektu — tanpa membuang waktu lagi, mari silakan dilihat halaman facebook sayah…. :P

Posted in Catatan Harian
208 Comments »