Entries from February 2009

Berhadapan dengan Keterbatasan

Date February 24, 2009

FLICKR | Lokasi: Lobi Wisma Mulia, Jakarta Selatan | Nokia N95

Falsafah The Man Behind The Gun mengajarkan Anda bahwa semahal apapun kamera, foto yang bagus tidak bisa didapat jika orang yang mengoperasikannya tidak mengetahui bagaimana menggunakan kamera. Namun demikian, foto yang bagus akan lebih mudah didapat jika kameranya bagus juga. Jika Anda awam fotografi dan diberi kamera Canon 1D Mark III dan sebuah pemandangan Pura Besakih Bali di depan hidung Anda, saya optimis, foto asal jepret Anda akan menjadi foto yang spektakuler.

Sebaliknya, Anda yang sudah menggeluti kamera DSLR bertahun-tahun, diberi kamera handphone Sony Ericsson Walkman series, dan ada model cantik yang tersenyum untuk Anda seorang, saya agak pesimis foto model itu tampil secantik aslinya setelah Anda potret tanpa pencahayaan yang memadai.

Jadi bagaimanapun juga, ada kebutuhan minimal untuk menghasilkan foto yang bagus. Ketika kebutuhan minimal itu telah dipenuhi kamera Anda, barulah falsafah the man behind the gun itu berlaku.

Tentu saja, sebuah syarat cukup selalu berbeda standar bagi setiap orang. Adalah penting untuk mengetahui keterbatasan yang dimiliki oleh sebuah kamera yang sering disepelekan orang. Dengan mengetahui karakteristik kamera, Anda bisa menghindari untuk memotret objek-objek yang jelas-jelas tidak mampu dikerjakan kamera Anda. Apa saja itu?

Keterbatasan Membedakan Intensitas Cahaya

Puji syukur kepada Tuhan, kita dikaruniai alat optik yang memiliki kapasitas luar biasa besar. Kita masih bisa melihat detail perabot dalam rumah yang disinari cahaya matahari dari jendela kaca, dan secara bersamaan kita bisa melihat detail pemandangan yang disajikan oleh jendela kaca itu.

Kamera tidak dapat. Anda harus memilih salah satu. Bagian yang terang atau yang gelap saja. Jika Anda memilih yang gelap, maka pada bagian yang terang detail benda akan dipangkas menjadi satu warna — biasanya putih. Jika Anda memilih yang terang, maka bagian yang gelap akan dipangkas menjadi warna hitam.

Dengan keterbatasan ini, selalu hindari memotret objek yang memiliki perbedaan intensitas cahaya yang terlalu jauh dalam satu frame foto yang Anda buat. Pilih salah satu saja.

Keterbatasan Lebar Diafragma

Kamera non SLR biasanya memiliki lensa yang lebar diafragmanya tidak bisa diubah-ubah. Karena kamera model begini bersifat general purpose, pabrikan akan memilih diafragmanya kecil agar bisa dipakai dalam hampir semua kondisi. Akibatnya, bukaan yang kecil memerlukan kecepatan rana (shutter speed) yang rendah.

Keterbatasan ini membuat kamera Anda tidak bisa membekukan objek yang bergerak. Hasilnya akan terlihat kabur. Kenali kamera Anda hingga sampai batas apa ia bisa membekukan objek bergerak dalam kondisi yang berbeda-beda. Apakah orang berjalan, berlari, sepeda motor, mobil lewat, atau bahkan tidak boleh ada gerakan sama sekali? Kenali keterbatasan kameramu, kawan!

Keterbatasan Shutter Delay

Ketika Anda menekan tombol shutter, Anda pasti merasa ada jeda waktu yang diperlukan kamera untuk menangkap objek dan memprosesnya. Ini dikarenakan kamera harus menampilkan preview dulu di layar LCD dan ini butuh waktu. Ini berbeda dengan kamera SLR yang preview-nya adalah hasil pencerminan dari lensa (that’s why it is called Single-Lens-Reflex), sehingga responnya kontan ketika tombol shutter ditekan.

Dengan mengetahui seberapa lama jeda waktu kamera Anda memproses gambar ketika Anda tekan tombolnya, Anda bisa memperhitungkan kapan waktu Anda harus memencet tombol untuk mendapatkan gambar yang Anda inginkan.

Masih ada banyak lagi sebenarnya, tetapi sisanya bisa Anda ketahui sendiri seiring dengan proses perkenalan dengan kamera Anda. Seawam apapun Anda, saya sarankan untuk sedikit banyak mengetahui karakteristik kamera Anda. Orang tidak perlu menjadi fotografer untuk membuat foto yang bagus, dan ketika Anda yang awam menjadi sering membuat foto yang bagus, ketika itulah Anda layak disebut fotografer.

Salam Jepret!

Blog, Plurk, Facebook, dan Produktivitas

Date February 23, 2009

Datangnya Plurk dan Facebook mau tidak mau membuat kegiatan blogging menurun. Paling tidak itu terjadi di saya. Semakin lama, blog ini tidak jelas arahnya mau kemana. Pokoknya asal gado-gado terisi. Semakin jarang tulisan-tulisan yang bermutu, baik di bidang IT sebagai background resmi saya, dan fotografi sebagai hobi. Ke depan, bidang musik, khususnya piano mungkin akan mewarnai sedikit menggeser fotografi yang saya agak kehilangan mood dengannya.

Memang harus saya akui, menulis di blog berarti menyisihkan waktu dan konsentrasi barang satu dua jam untuk membuat sebuah posting. Untuk posting yang lebih berat seperti tutorial dan review, waktu yang diperlukan lebih panjang lagi. Maksud saya konsentrasi. Padahal, waktu untuk facebook dan plurk bisa dihabiskan berjam-jam lebih lama tanpa harus konsentrasi. Benar-benar benda penghancur produktivitas, seharian penuh bisa berlalu tanpa terasa sehingga terkejut belum benar-benar melakukan sesuatu ketika sadar bahwa saya terlalu asyik dengannya.

Apakah dengan ke-tidakproduktif-an itu membuat saya menjauhi mereka? Tidak, selain efek adiktifnya yang susah dibendung, penting bagi saya untuk terus mengikuti perkembangan teknologi web. Sumber mata pencaharian saya ada di situ. Dengan tetap selalu update terhadap perkembangan teknologi web pada khususnya dan IT pada umumnya, saya tetap bisa memberikan saran dan konsep dan implementasi teknologi yang masih segar pula.

Dalam facebook, ada ilmu berlimpah mengenai cara mereka menggunakan teknologi Javascript yang asinkron dan manajemen history web yang luar biasa. Saya bisa mencari-cari jawaban tentang algoritma “People May You Know” yang misterius. Bagaimana mereka menempatkan diri pada posisi pasar yang lebih dewasa. Dan tentu saja, filosofi jejaring sosial mereka yang sukses menghajar situs pertemanan yang lebih senior.

Asal bijaksana menyikapinya, setiap hal yang tidak produktif itu tetap bisa menjadi gudang ilmu bagi kita semua. Salam zuper! *halah.. mario teguh banget ;)) *

Mission Accomplished!

Date February 21, 2009

Chase berkhianat! Tak kuduga ia mengkhianati kami setelah aku membebaskannya dari tawanan dengan tebusan Porsche 911 GT2. Kaki indahnya masih kulihat berlari ke arah Porsche itu sambil membawa koper barang bukti dan segera melesat ke jalanan Palm Harbor yang sibuk.

Aku tak boleh membiarkannya lolos begitu saja. Hasil penyamaran enam bulan bisa sia-sia kalau barang bukti itu lolos. Aku segera menyambar kunci mobil dan mengejarnya. Sial, Lamborghini Gallardo yang sedang kupakai ini bukan mobil terbaikku untuk mengejar Porsche full modifikasi itu. Top speed-nya tidak setinggi Pagani Zonda F milikku, tapi aku agak lega karena hentakan akselerasi Gallardo termasuk yang terbaik di kelasnya.

Porsche cokelat metalik itu masih terlihat di ujung tikungan jalan. Nitrous Oxide kuaktifkan. Kecepatan melonjak ke 230 km/h dalam sekejap. Di sudut sebelum ia masuk highway, kuhajar ekornya dengan telak! Satu pukulan lagi, Chase habis. Asap hitam mulai mengepul dari mesinnya. Mungkin girboksnya kena. Sialnya, sirene polisi meraung-raung mendekat. Tiga mobil SUV terkuat polisi mengejarku.

Ah, bukan situasi yang menguntungkan untuk mengejar buruan. Aku mesti disibukkan oleh SUV yang berusaha menghentikanku. Sementara Chase masih leluasa melesat di jalan raya Palm Harbor yang luas. Aku putuskan tetap jaga jarak sambil sesekali menghindar dari serempetan mobil polisi. Aku menunggu sistem NOS terisi kembali. Kulirik speedometer, 316 km/h. Tinggal tunggu waktu Chase, cepat atau lambat kau kuhabisi…

Kedipan Global Positioning System (GPS) di sebelah kiri tongkat persneling memberitahu setengah kilo lagi ada exit highway dan masuk kota kembali. Aku berhitung. Chase kemungkinan besar akan memilih masuk kota dan tetap bertahan di Palm Harbor daripada lurus menuju kota Port Crescent. Jalanan Port Crescent yang sempit dan berliku adalah makanan empuk Gallardo. Porsche sama sekali bukan tandingan Gallardo di jalan berkelok-kelok yang butuh torsi besar di RPM rendah itu.

Jadi aku setengah berjudi berencana akan menghentikan Chase di exit itu. Kalau ternyata perhitunganku salah, aku akan kehilangan banyak jarak dengannya. Nitro Oxide kuaktifkan. Polisi segera tertinggal jauh di belakang. Tikungan sudah terlihat. Gallardo abu-abu ber-vynil bunga teratai ungu itu hanya berjarak 5 meter di belakang Porsche.

Di titik yang menentukan itu, dengan sigap aku memotong ke kiri. Porsche hanya terlambat sepersepuluh detik untuk menyadari kalau gerakannya telah ditebak. Terlalu terlambat untuk banting stir ke kanan kembali masuk ke highway. Ia akan terpojok di sisi kanan tikungan. Aku menoleh, kulihat wanita pemilik mata cantik itu pucat pasi. Panik. Saatnya mengakhiri. Kutarik handbrake, dan Gallardo menghajar sisi depan Porsche! Brak!! Chase habis. Misi undercover selesai.

*

Read the rest of this entry »

Selamat Pagi

Date February 20, 2009

Lokasi: Jl. Kuningan Barat, Jakarta Selatan | Nokia N95

Saya selalu de ja vu dengan suasana pagi seperti ini. Sinar mentari kuning keemasan berkilau hangat. Kabut pagi masih belum semuanya terangkat. Udara dingin masih terasa bercampur dengan kehangatan matahari pagi yang belum menyengat. Genangan air hujan sisa tadi malam di cerukan-cerukan di ujung jalan masih terlihat. Orang memulai aktivitas mereka, membuka hari ini yang penuh harapan dan cita-cita dengan penuh semangat….

Suasana yang masih sama. Sinar yang masih seperti ketika hari pertama kali sekolah saya di TK Dharmawanita Sanan. Sama seperti di tepi lapangan kecamatan Pakel, ketika saya grogi menunggu giliran tampil lomba baca puisi kelas empat SD. Persis ketika saya masuk gerbang SMUN 01 Boyolangu untuk pertama kalinya. Mirip seperti ketika saya menikmati guyuran sinar mentari seperti ini di tepi lapangan Perpustakaan ITS.

Dunia yang berbeda-beda, tapi suasananya tetap sama.

Tedak Siti Keponakan Saya

Date February 16, 2009

FLICKR
Lokasi: Rumah Tulungagung, Jawa Timur
Gaizka, Ibunya Gaizka, Kakeknya Gaizka

Sebenarnya ini sudah lama beberapa bulan yang lalu, tapi saya baru mood buat menceritakannya sekarang.

Sesuai tradisi kami sebagai orang Jawa, keponakan saya, Gaizka Florean Deyananta, tepat di umurnya genap tujuh bulan, ia harus melalui ritual Tedak Siti sebagai tanda ia memasuki kehidupan masa depan yang cerah. Meskipun kami adalah keluarga Jawa yang modern, dimana tidak lagi tinggal di rumah Joglo, memakai lampu petromax, mandi di pancuran sebelah sungai… tetapi tradisi yang sarat makna ini tetap kami lestarikan.

Tradisi ini sarat makna akan pengharapan dan doa kehidupan yang cerah di masa depan untuk si kecil. Pertama-tama, Gaizka dimandikan. Setelah dipakaikan baju baru dan sepatu baru, ia dimasukkan ke dalam kurungan ayam Jago bersama saudara sepupunya. Yang beruntung menemaninya adalah si Zein Bahar Azhari dan si Zulham Yahya Aribuni, dua jagoan paling bungsu paman saya. Kurungan ayam Jago yang kokoh bermakna dalam menjalani kehidupannya, ia mesti dijaga oleh hal-hal yang kokoh juga.

Kemudian, kaki Gaizka diinjakkan pada jadah, sebuah jenis jajanan tradisional dari ketan putih. Maknanya adalah kelak agar ia bisa melewati rintangan apapun yang ada. Kemudian setelah itu Gaizka dinaikkan pada tangga yang terbuat dari Tebu jenis Agung. Jenis tebu ini adalah tebu yang besar. Maknanya sama, agar kelak ia bisa meniti kehidupannya dengan penuh percaya diri. Dan sebuah jenis makanan yang selalu hadir dalam setiap selamatan Jawa adalah, jenang sengkala, yang bermakna melindungi badan si kecil dari marabahaya.

Cepat besar Gaizka, doa Om menyertaimu! ^^ *gak sabar denger Gaizka bisa panggil saya Om Galih*Â