Pasar Klewer
FLICKR
Lokasi: Pasar Klewer, Surakarta, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm
Pasar Klewer, dari sudut yang sangat aneh. Jangan ikut-ikutan, jangan pernah menelepon dan ber-SMS ketika mengemudi, apalagi mengambil gambar dengan kamera DSLR! Tapi kalau ingin ikut mencoba, saya menset kamera di mode Auto, memutar jarak fokal lensa di sekitar 35 mm (jarak moderat), kemudian saya taruh kamera setinggi dada, tanpa membidik lewat viewfinder, jari menekan tombol shutter. Sementara tangan kiri tetap memegang setir. Hehehe…
*lagi males bikin postingan serius*
Budaya Membaca, Kenapa Menjadi Sebuah Gaya Hidup Mewah?
Tentang Sebuah Keprihatinan Bahwa Hobi Membaca itu Mahal
Sore itu, malam minggu di awal tahun 2009, Jakarta sungguh cerah. Usai mencuci si Jupie hitam di bilangan Cililitan, saya melarikannya ke Gramedia Matraman, tempat favorit saya belanja belanji buku. Setiap kali ke toko buku ini, saya merasa menjadi bagian dari gaya hidup orang-orang kaya raya. Padahal, Gramedia tak lebih dari sebuah toko buku. Tetapi lihat tempatnya yang begitu berkilau, mewah, pencahayaan sempurna, pelataran parkir yang luas penuh sesak dengan mobil, dan pengunjung dengan air muka yang mengesankan: kecerdasan, wawasan luas, serta — jika meminjam istilah gaul — kebebasan finansial.
Saya tak heran. Untuk bisa membawa sebuah buku pulang, nyaris tidak ada buku bermutu yang berada di bawah harga Rp. 30.000. Buku yang agak bagus dengan sampul yang aduhai mengkilap dengan desain yang luar biasa harganya sekitar Rp. 55.000. Agak bagus, karena kebanyakan buku-buku itu misleading: berjudul menarik bersampul menggoda, padahal jika ditelusuri isinya sekilas saja, tidak ada sesuatu yang bagus. Nah, buku-buku yang benar-benar bagus biasanya bersampul tebal (hardcover) dan ini harganya amit-amit, di atas Rp. 70.000. Praktis, Anda harus minimal mengeluarkan lembaran uang berwarna biru dari dompet Anda. Jadi wajar kalau kebanyakan yang berkunjung ke sini adalah orang-orang dengan kebebasan finansial.
Padahal, buku adalah sumber ilmu pengetahuan dan wawasan tanpa batas. Lalu jika begini, kapan kita bisa maju? Impian budaya membaca untuk bangsa ini rasanya jauh sekali. Padahal, ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun berbunyi: Iqro. Bacalah! Bagaimana bisa membaca kalau harga bacaan saja selangit?
Satu-satunya media yang paling dekat dengan masyarakat luas adalah TV terestrial. Tapi astaga, tayangan yang ada hanyalah arus pembodohan massal. Itu bukan sumber wawasan, hanya industri saja. Benar-benar mengerikan menyadari apa yang tersaji di televisi dan tahu tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya: sinetron perusak moral, dan berita yang isinya tentang mutilasi melulu. Televisi dengan isi yang bagus sekarang malah TVRI, tapi penyajiannya tidak pernah berkembang sehingga terkesan norak dan ketinggalan jaman. Oh, come on…
Bagaimana dengan perpustakaan? Aih, dengan minat baca yang rendah, perpustakaan menjadi sebuah artifak kuno penuh dengan rak-rak berdebu yang suram temaram. Setiap sore di hari Jumat Kliwon dan Selasa Pahing, anak-anak hantu genderuwo menampakkan diri dan dengan riang gembira meloncati rak-rak buku itu, membuat penjaga perpustakaan kabur tunggang langgang. Satu-satunya perpustakaan yang saya tahu selalu penuh dengan atmosfer dan aura yang meletup-letup haus akan ilmu pengetahuan adalah perpustakaan kampus universitas. Tapi hei… sekarang mau masuk universitas juga mahal. Glek…
Kalau begini, kapan kita bisa maju?
Disclaimer: Ke Gramedia, bukan berarti saya juga ikut-ikutan bebas secara finansial, tapi memang karena saya suka membaca, jadi saya sekuat tenaga selalu menyisihkan anggaran untuk membeli buku.
Dua Belas Foto Terbaik Saya di 2008
Lentera, Kampus FK Universitas Indonesia
|
|
Selamat Pagi Kampus UI
|
|
Bersama dalam Cinta(h), Waru Sidoarjo
|
|
Puncak Gede, Gunung Gede Jawa Barat
|
|
Menikmati Pagi, Puncak Gede, Jawa Barat
|
|
Laguna, Pantai Brumbun, Tulungagung
|
|
Becak, Pasar Ngemplak Tulungagung
|
|
Jembatan Mangunsari, Tulungagung
|
|
The Beach, Pantai Pasir Putih Prigi, Trenggalek
|
|
Sudut Lain Jakarta, Wisma Mulia Gatot Subroto
|
|
The Icon, FK UI Salemba
|
|
Dari Puncak Bukit, Pantai Brumbun, Tulungagung
|
Dua belas foto terbaik saya di tahun 2008 telah saya susun. Kebanyakan landscape karena tahun ini saya tergila-gila dengan lensa landscaper Sigma 10-20 mm HSM. My best of the best tentu saja adalah foto pendakian Puncak Gede di bulan Mei 2008 dan hunting foto di Pantai Brumbun dan Pantai Prigi di bulan Maret 2008. Tahun 2009, saya berangan-angan bisa keluyuran lebih banyak lagi di sekitar Jabodetabek seperti dulu waktu pagi-pagi di Sunda Kelapa. Terima kasih untuk kawan-kawan saya yang telah memberi apresiasi, komentar, kritik, dan saran untuk foto-foto saya sehingga bisa terus belajar mengeksplorasi seni dan sains fotografi. Astalavista.. babeh…
Terkait: Sepuluh Foto Terbaik Tahun 2006/2007
Comments