Entries from January 2009

Senyum Kiara

Date January 11, 2009

Saya pada dasarnya suka anak kecil. Jadi ketika iklan AXIS yang terbaru ini muncul, saya langsung menyukainya. Kiara, 7 tahun, Denpasar. Begitu sedikit tagline yang memulai TV Commercial sepanjang 1:02 menit ini. Ramah, suka menolong, dan mungkin cerewet. Ethes kalau kata orang Jawa. Mukanya yang polos khas anak-anak yang selalu siap dan peka terhadap lingkungan sekitar.”Pak.. pak… pak! Bebeknya ketinggalan… dadah bebek…

Bisa aja tim kreatifnya bikin kalimat yang sangat anak-anak ini. Bagian terbaik dari iklan ini menurut saya ada di kata: dadah bebek. Saya harus tersenyum melihat iklan ini. Sangat emosional.

Iklan AXIS ini salah satu dari sedikit iklan yang memilih strategi beriklan secara halus dengan melibatkan pesan emosional daripada memilih model kasar: ayo beli beli murah murah! Iklan model halus seperti ini secara jangka pendek memang tidak bisa langsung mempengaruhi konsumen, tetapi sangat baik untuk menanamkan citra/image merek/brand dalam otak konsumen. Seiring dengan citra yang ingin disampaikan AXIS sebagai GSM Yang Baik, jelas iklan ini eksekusinya berhasil.

Dibandingkan dengan iklan dua operator tersisa yang masih beriklan: 3 (three) dan XL, iklan AXIS ini yang paling menyentuh saya. XL dari dulu selalu melakukan blunder dengan iklan yang aneh: mulai kawin dengan kambing (meskipun cukup sukses), hingga blunder Luna Maya diganti monyet lalu balik Luna lagi. Sementara 3 (three), tampaknya menyasar target kawula muda kalangan atas dengan iklannya yan: Jojing jojing jojing, Mau Mau mau? AXIS menarik perhatian dengan membuat sesuatu yang berbeda: iklan emosional yang menyentuh kalangan keluarga.

Bravo tim kreatif iklan Senyum Kiara AXIS!

@Via: Fenty @Plurk dan Devie

Menelusuri Jalan Raya Pos dalam Ekspedisi Anjer – Panaroekan

Date January 10, 2009

Judul Buku: Ekspedisi Anjer – Panaroekan: Laporan Jurnalistik Kompas – 200 Tahun Anjer Panaroekan, Jalan (Untuk) Perubahan.
Penerbit: Kompas.
Tebal: 445 halaman.

Buku setebal 445 halaman ini sungguh buku sejarah yang dikemas dengan begitu menarik. Buku tentang kisah pembangunan infrastruktur penting di pulau Jawa: Jalan Raya Pos atau lebih dikenal dengan Jalan Raya Daendels yang membentang mulai Anyer di ujung barat hingga Panarukan di ujung timur. Jalan ini dibangun oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels sebagai upaya percepatan arus komunikasi di pulau Jawa, sebagai jalur kereta-kereta yang membawa kiriman pos. Oleh karena itulah jalan ini bernama Jalan Raya Pos (Grote Postweg).

Apa yang paling mengesankan saya adalah bahwa buku ini tidak hanya menceritakan kondisi ketika jalan itu dibangun, namun juga menyertakan potret kehidupannya di masa sekarang, seperti nasib stasiun kereta api Anjer Kidul yang nyaris roboh, kisah topi Tangerang yang pernah merajai pasar fashion di Paris, dan kondisi jalan di Rajamandala yang kian lapuk dimakan usia karena sudah jarang digunakan lagi (ada jalan yang lebih lebar di sebelahnya).

Buku ini mungkin bisa juga menjadi inspirasi buku-buku pelajaran Sejarah di sekolah. Saya bukan penggemar sejarah sejak sekolah karena buku-buku pelajaran yang ada sangat membosankan. Siswa dijejali hapalan berupa angka-angka tahun. Tapi dengan narasi yang resmi namun mengalir enak dibaca, foto-foto masa lalu dan masa sekarang — ini lebih dari sekadar menghapalkan angka-angka!

Herman Willem Daendels

Daendels adalah seorang Gubernur Jenderal Hindia Timur (Indonesia) yang saat itu diperintahkan Kaisar Napoleon untuk mempertahankan Jawa dari serbuan Inggris. Hanya tiga tahun ia memerintah Jawa. Terlepas dari kekejamannya sebagai penjajah, saya rasa Daendels adalah sosok yang luar biasa sebagai pemimpin. Pada tahun 1808, ia berhasil melaksanakan sebuah mission impossible hanya dalam tiga tahun. Ia harus menghadapi banyak hal: ancaman serangan Inggris, kondisi kas negara yang tidak mungkin membangun jalan sepanjang itu, dan pemberontakan warga pribumi.

Sebagai seorang pemimpin, ia sendiri turun tangan ke lapangan untuk mensurvey kondisi. Melintasi Batavia hingga Surabaya dalam tiga minggu. Bayangkan… tiga minggu perjalanan. Ini seorang pucuk pimpinan tertinggi di kawasan Jawa lho. Langsung turun dari singgasana yang nyaman, menembus hutan, menyeberangi sungai, dan mendaki gunung yang berbahaya. Dengan kondisi kas negara yang tipis, ia tentu memutar otak untuk memanfaatkan semua resource yang terbatas. Dengan posisi sebagai penguasa, dari kacamata seorang pimpinan, untuk melaksanakan programnya, wajar kalau Daendels menggunakan kerja rodi sebagai sarana pembangunan itu.

Sultan Agung dan Jalan Raya Pos

Ada uraian menarik yang dibahas di buku ini mengenai kisan penyerbuan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Mataram, ke Batavia yang tidak pernah diungkap di buku sejarah di sekolah. Sebuah teori mengenai mengapa kerajaan Banten tidak ikut membantu Sultan Agung menyerbu Batavia. Ternyata, pada awalnya Sultan Agung tidak menganggap Belanda di Batavia sebagai musuh, tetapi sebagai mitra. Karena tawarannya ditolak, ia lalu berniat menyerang Batavia dulu, kemudian setelah itu menguasai Banten.

Hubungannya dengan Jalan Raya Pos, Daendels banyak memanfaatkan jalan yang dipakai Sultan Agung untuk dilebarkan dan menjadi satu rangkaian jalan raya Pos. Ada catatan mengenai kawasan Matraman di Jakarta yang menyebutkan bahwa kawasan tersebut dahulu dipakai sebagai tempat bermarkas laskar Mataram (dari akar kata Mataraman menjadi Matraman).

Penutup

Buku ini benar-benar sarat pengetahuan. Isinya sangat padat tapi tetap enak dan tidak membosankan untuk dibaca sambil makan. Saya berharap akan ada buku sejarah seperti ini yang membahas tentang tempat-tempat bersejarah di Indonesia. Sebuah penelitian mendalam dan liputan yang menarik membuat sebuah sejarah bisa dikemas tanpa harus memaksa untuk menghapalkan nama-nama tempat dan tanggal-tanggal.

Kalau setiap detail tempat dibukukan menjadi 500-an halaman, anak-anak sekolah tentu memiliki banyak sekali literatur mengenai sejarah dengan detail. Tidak seperti sekarang, sejarah mulai kedatangan VOC di Indonesia hingga zaman revolusi 1965 (total kurun waktu sekitar 4 abad) dikemas hanya dalam buku tipis setebal 50-an halaman. Isinya membosankan lagi. Kalau mau ujian harus menghapalkan kata demi kata di buku itu, hehehehe…

Pasar Klewer

Date January 9, 2009

FLICKR
Lokasi: Pasar Klewer, Surakarta, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm

Pasar Klewer, dari sudut yang sangat aneh. Jangan ikut-ikutan, jangan pernah menelepon dan ber-SMS ketika mengemudi, apalagi mengambil gambar dengan kamera DSLR! Tapi kalau ingin ikut mencoba, saya menset kamera di mode Auto, memutar jarak fokal lensa di sekitar 35 mm (jarak moderat), kemudian saya taruh kamera setinggi dada, tanpa membidik lewat viewfinder, jari menekan tombol shutter. Sementara tangan kiri tetap memegang setir. Hehehe…

*lagi males bikin postingan serius*

Budaya Membaca, Kenapa Menjadi Sebuah Gaya Hidup Mewah?

Date January 4, 2009

Tentang Sebuah Keprihatinan Bahwa Hobi Membaca itu Mahal

Sore itu, malam minggu di awal tahun 2009, Jakarta sungguh cerah. Usai mencuci si Jupie hitam di bilangan Cililitan, saya melarikannya ke Gramedia Matraman, tempat favorit saya belanja belanji buku. Setiap kali ke toko buku ini, saya merasa menjadi bagian dari gaya hidup orang-orang kaya raya. Padahal, Gramedia tak lebih dari sebuah toko buku. Tetapi lihat tempatnya yang begitu berkilau, mewah, pencahayaan sempurna, pelataran parkir yang luas penuh sesak dengan mobil, dan pengunjung dengan air muka yang mengesankan: kecerdasan, wawasan luas, serta — jika meminjam istilah gaul — kebebasan finansial.

Saya tak heran. Untuk bisa membawa sebuah buku pulang, nyaris tidak ada buku bermutu yang berada di bawah harga Rp. 30.000. Buku yang agak bagus dengan sampul yang aduhai mengkilap dengan desain yang luar biasa harganya sekitar Rp. 55.000. Agak bagus, karena kebanyakan buku-buku itu misleading: berjudul menarik bersampul menggoda, padahal jika ditelusuri isinya sekilas saja, tidak ada sesuatu yang bagus. Nah, buku-buku yang benar-benar bagus biasanya bersampul tebal (hardcover) dan ini harganya amit-amit, di atas Rp. 70.000. Praktis, Anda harus minimal mengeluarkan lembaran uang berwarna biru dari dompet Anda. Jadi wajar kalau kebanyakan yang berkunjung ke sini adalah orang-orang dengan kebebasan finansial.

Padahal, buku adalah sumber ilmu pengetahuan dan wawasan tanpa batas. Lalu jika begini, kapan kita bisa maju? Impian budaya membaca untuk bangsa ini rasanya jauh sekali. Padahal, ayat Al-Qur’an yang pertama kali turun berbunyi: Iqro. Bacalah! Bagaimana bisa membaca kalau harga bacaan saja selangit?

Satu-satunya media yang paling dekat dengan masyarakat luas adalah TV terestrial. Tapi astaga, tayangan yang ada hanyalah arus pembodohan massal. Itu bukan sumber wawasan, hanya industri saja. Benar-benar mengerikan menyadari apa yang tersaji di televisi dan tahu tidak ada siapapun yang bisa menghentikannya: sinetron perusak moral, dan berita yang isinya tentang mutilasi melulu. Televisi dengan isi yang bagus sekarang malah TVRI, tapi penyajiannya tidak pernah berkembang sehingga terkesan norak dan ketinggalan jaman. Oh, come on… :(

Bagaimana dengan perpustakaan? Aih, dengan minat baca yang rendah, perpustakaan menjadi sebuah artifak kuno penuh dengan rak-rak berdebu yang suram temaram. Setiap sore di hari Jumat Kliwon dan Selasa Pahing, anak-anak hantu genderuwo menampakkan diri dan dengan riang gembira meloncati rak-rak buku itu, membuat penjaga perpustakaan kabur tunggang langgang. Satu-satunya perpustakaan yang saya tahu selalu penuh dengan atmosfer dan aura yang meletup-letup haus akan ilmu pengetahuan adalah perpustakaan kampus universitas. Tapi hei… sekarang mau masuk universitas juga mahal. Glek…

Kalau begini, kapan kita bisa maju?

Disclaimer: Ke Gramedia, bukan berarti saya juga ikut-ikutan bebas secara finansial, tapi memang karena saya suka membaca, jadi saya sekuat tenaga selalu menyisihkan anggaran untuk membeli buku.

Dua Belas Foto Terbaik Saya di 2008

Date January 1, 2009

Lentera Lentera, Kampus FK Universitas Indonesia

6 April 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Still Life

Kesederhanaan komposisinya membuat saya memilihnya menjadi foto tahun ini

Selamat Pagi, Kampus UI Selamat Pagi Kampus UI

12 April 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Kunjungan pertama saya ke kampus UI Depok, disambut dengan cuaca begitu cerah di lingkungan fakultas Ekonomi. Jadi pengen sekolah lagi (hiks..)

Bersama dalam Cintah Bersama dalam Cinta(h), Waru Sidoarjo

23 Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Prewedding

Prewedding Mas Kamas dan Mbak Wawa ini foto prewedd terbaik saya di 2008. Dibandingkan dengan prewedd milih Mas Choirul dan Mbak Lisa, ini lebih kaya konsep dan khayalan.

Puncak Gede (2) Puncak Gede, Gunung Gede Jawa Barat

18 Mei 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Pendakian gunung pertama saya bersama VICO Challenge Adventure Team (VCAT)

Menikmati Pagi Menikmati Pagi, Puncak Gede, Jawa Barat

18 Mei 2008 | Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR | Landscape

Seperti kata mbak mae, Gunung Salak nun jauh di sana menjadi tampak seperti pulau di atas awan, dan rombongan orang gunung yang sejenak menikmati pagi yang hening, syahdu, dan sepi…

Pantai Brumbun (6) Laguna, Pantai Brumbun, Tulungagung

22 Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Cuaca terbaik yang begitu cerah, itu yang membuat saya suka sekali dengan foto ini, Pantai Brumbun, pantai kecil yang begitu cantik.

Becak (1) Becak, Pasar Ngemplak Tulungagung

0 Maret 2008 | Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm | Human Interest

Di sebuah liburan long weekend, mengantarkan ibu membeli bahan lauk pauk di Pasar Ngemplak.

Jembatan Mangunsari Jembatan Mangunsari, Tulungagung

07 Oktober 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Arsitektur

Bukan di golden momment, sehingga saya surprise hasil jembatan Mangunsari yang biasa-biasa saja kok jadi begini he he he…

The Prigi Beach The Beach, Pantai Pasir Putih Prigi, Trenggalek

22 Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Saya tak pernah lagi menjumpai suasana Prigi seperti ini: tak terlalu banyak pengunjung, dan cuaca yang begitu cerah.

Sudut Lain Jakarta Sudut Lain Jakarta, Wisma Mulia Gatot Subroto

Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Bird view yang ekstrim, karena diambil dari lantai 48 gedung Wisma Mulia Jakarta

The Icon The Icon, FK UI Salemba

8 Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Saya suka pencerminan gedung di genangan air dan warna kuning kontras khas mahasiswa UI

Pantai Brumbun (1) Dari Puncak Bukit, Pantai Brumbun, Tulungagung

22 Maret 2008 | Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM | Landscape

Boleh percaya boleh tidak, ini obsesi saya untuk memotret sudut yang saya tahu dari kalender tahun 90-an waktu saya masih jadi anak kecil.

Dua belas foto terbaik saya di tahun 2008 telah saya susun. Kebanyakan landscape karena tahun ini saya tergila-gila dengan lensa landscaper Sigma 10-20 mm HSM. My best of the best tentu saja adalah foto pendakian Puncak Gede di bulan Mei 2008 dan hunting foto di Pantai Brumbun dan Pantai Prigi di bulan Maret 2008. Tahun 2009, saya berangan-angan bisa keluyuran lebih banyak lagi di sekitar Jabodetabek seperti dulu waktu pagi-pagi di Sunda Kelapa. Terima kasih untuk kawan-kawan saya yang telah memberi apresiasi, komentar, kritik, dan saran untuk foto-foto saya sehingga bisa terus belajar mengeksplorasi seni dan sains fotografi. Astalavista.. babeh…

Terkait: Sepuluh Foto Terbaik Tahun 2006/2007