Mengunjungi Sisa Kejayaan Kraton Surakarta Hadiningrat
FLICKR
Lokasi: Keraton Surakarta, Solo, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM
Bangunan bersejarah itu berdiri megah di tepi lapangan Alun-Alun Utara kota Solo. Disebelahnya berdiri pusat ekonomi Pasar Klewer, berdampingan dengannya adalah Masjid Agung Surakarta. Ketiganya menghadap tanah lapang yang luas. Simbol kebesaran kerajaan Mataram Islam.
Mataram Islam? Iya, sepeninggal Sultan Agung Hanyakrakusuma, pergolakan terjadi pada tubuh pemerintahan kerajaan Mataram. Adalah sebuah perjanjian bernama Perjanjian Giyanti yang memecah kerajaan ini menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat dan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Kraton Surakarta Hadiningrat diperintah oleh Sunan Pakubuwana (karena itu kraton ini disebut juga Kraton Kasunanan), sedangkan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat diperintah oleh Pangeran Mangkubumi yang bergelar Sultan Hamengkubuwana I.
Berikut laporannya.
Antara Belajar Piano dan Ikal di Maryamah Karpov
Bagi kawan-kawan yang telah membaca baik isi maupun resensi buku Maryamah Karpov-nya Andrea, tentu telah mahfum bahwa Ikal tertarik dengan alat musik biola yang sering diperdengarkan Nurmi di warung kopi Usah Kau Kenang Lagi. Bagi dia, hal yang paling spesial dari biola adalah dua gerak mekanis yang berbeda. Tangan kiri memencet senar, sementara tangan kanan melakukan gerakan menggesek. Hal yang membuat biola jauh lebih hebat dari gitar adalah karena biola tidak memiliki fret penanda nada, sehingga diperlukan ketajaman perasaan yang kuat untuk memainkan biola.
Saya ternyata memiliki ketertarikan yang mirip dengan Ikal, namun bukan terhadap biola, yaitu piano.
Kalau ditarik kembali jalinan waktu ke sekitar tahun 1995, perkenalan pertama saya dengan tuts piano (keyboard) adalah dengan Casio Song Bank. Dengan hanya memiliki panjang nada dua setengah oktaf, tuts yang tidak standar (disesuaikan dengan jari anak-anak), saya dikenalkan pada tangga nada dan akord-akord mayor C natural (C-F-G). Pengetahuan instan karena kebutuhan waktu itu “hanya” untuk membekali saya mewakili kabupaten Tulungagung dalam lomba Siswa Teladan tingkat Provinsi Jawa Timur.
Saya tidak mungkin melanjutkan belajar piano ke jenjang yang lebih serius, karena harga piano serius itu mahal dan tidak mungkin terbeli. Sebagai gantinya, Paman saya mewariskan gitar akustik tuanya bermerk Osmond. Gitar itu saya pakai bereksplorasi, bergenjrang genjreng, memainkan akord-akord utama C-F-G, A-D-E, E-A-B, dan variasi akord minornya. Saya mendapatkan gitar pertama dari uang hasil keringat sendiri waktu kuliah, Yamaha C370. Satu-satunya hiburan bermusik kalau lagi stres sekarang ini ya gitar.
Impian dan obsesi yang tertunda di masa SD itu terletup kembali ketika saya melihat kawan baik saya, Stenly C Takarendehang, menarikan jemarinya di atas tuts keyboard Roland milik kantor waktu ia mewakili Vico Indonesia dalam BP Migas Gita Vaganza 2008.
Saya paling kagum dengan permainan piano murni tanpa iringan style yang bisa mengiringi orang baca puisi patah hati atau jatuh cinta sampai rela meneteskan air mata. Jari kiri memainkan nada bas, sementara jari kanan memainkan nada melodi, sesekali keduanya bergabung membentuk akord. Selengkapnya menjadi untaian nada-nada yang mengagumkan.
Adalah suatu kenyataan bahwa belajar piano secara otodidak tidak bisa terlepas dari belajar teori-teori dasar musik dan tangga nada (not balok/score sheet) membuat piano lebih sulit dikuasai daripada gitar. Dengan gitar, dengan tahu posisi kunci-kunci akord, tanpa mengetahui teori nada, kita sudah bisa memainkan sebuah lagu. Genjrang-genjreng menurut feeling sudah bisa. Tapi ternyata tidak untuk piano.
Jadi karena itulah saya memutuskan untuk kembali menseriusi piano sebagai rangkaian perjalanan riset bermusik yang menantang dan menarik. Saya meminta Stenly untuk menjadi guru les piano saya. Sekarang, kami sedang seru-serunya membahas teknik penjarian (scaling) dengan piano virtual (kertas karton yang digambari tuts-tuts piano) dan meriset piano pertama yang cocok untuk saya. Sensei, teach me!
Gong Xi Fa Cai
FLICKR
Lokasi: Kampung Cina, Kota Wisata Cibubur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Sedih sekali tak bisa hunting ke Klenteng Petak Sembilan, kawasan pecinan Glodok, Jakarta Utara karena berbagai macam pertimbangan. Tapi semoga nanti pas Cap Go Meh bisa hunting. Sebagai gantinya, foto lama ini saja untuk mengiringi ucapan selamat tahun baru untuk kawan-kawan yang merayakan event bagi-bagi ampau ini. Gong xi fa cai!
PS:
- Sebenarnya keduluan Fifi tentang foto kampung Cina ini, tapi ndak apa-apa lah.
- Artinya gong xi fa cai itu apaan sih?
Masjid Agung Surakarta
FLICKR
Lokasi: Alun-Alun Utara Solo, Jawa Tengah
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM
Lepas dari Pasar Klewer, tepat di sebelah pusat aktivitas ekonomi di Alun-Alun Surakarta itu, berdiri megah Masjid Agung Surakarta. Memasuki masjid ini, kenangan akan masa kejayaan salah satu pecahan Kerajaan Mataram ini segera terasa. Arsitektur Jawa-Belanda yang didominasi oleh kayu ini menghiasi sayap depan masjid ini.
Masjid ini selain menyimpan nilai sejarah yang tinggi juga sangat fungsional — saya menyebutnya begitu karena beberapa masjid sekarang ini lebih berperan sebagai gedung berarsitektur indah daripada digunakan sebagai tempat sholat dan tempat berkumpul. Setiap kali masuk waktu sholat, para penggiat ekonomi di Pasar Klewer segera bergegas menunaikan ibadah sholat di masjid ini melalui pintu butulan samping kecil, langsung berbatasan dengan jalan utama Pasar Klewer yang sibuk.
Berikut tangkapan kamera saya ketika berkunjung di masjid ini dan sholat ashar di dalamnya.
Satu Bulan Bersama Jupiter MX
Saya banyak cerita tentang si legendaris Suzuki Tornado GS 110 cc, rasanya saya tak adil jika tidak cerita tentang penggantinya, Yamaha Jupiter MX 135 cc Auto Clutch. Hehe…
Saya memakai Tornado sejak tahun 1999, jadi sudah hampir sepuluh tahun saya bersamanya. Sudah banyak kenangan — kejadian nabrak yang nyaris mematahkan lutut kanan saya di kelas 2 SMA, kuliah di ITS, magang di ITSnet, hingga sampai saya bekerja sebagai karyawan di Jakarta ini.
Sebenarnya saya malas ganti motor. Selama masih bisa dipakai, ya akan saya terus pakai itu motor. Saya cuek saja kalau ada cemooh, celaan, caci maki yang mengarah ke Tornado yang memang mengepulkan asap terlalu banyak dari knalpotnya sehingga bagi yang dibonceng, pakaiannya akan jadi bau asap, bagi yang mengekor di belakang akan batuk-batuk karena disembur asap tebal putih penuh karbon monoksida.
Hingga suatu malam di awal November 2008. Selepas menyelesaikan pekerjaan kantor pukul 16:00, saya tidak segera pulang karena harus menyelesaikan hal-hal lain. Sore lepas Maghrib, saya diserang sakit kelapa migrain yang sudah rutin sejak SMP kelas 1. Cenut-cenut cekot-cekot lah pokoknya, memaksa laptop harus ditutup dan segera pulang. Pikiran sudah dipenuhi bayangan kasur di kamar yang empuk dan hembusan angin AC yang nyaman. Tapi betapa jengkelnya saya ketika saya sampai parkiran mendapati ban belakang Tornado bocor. Sekilometer saya harus mendorong ke tempat tambal ban. (Cerita selengkapnya).
Di tempat bersejarah itu — tambal ban dan cuci motor dekat perempatan Kuningan, saya memutuskan untuk mengirim balik si Tornado ke kampung halamannya di Tulungagung dan menggantikannya dengan yang baru. Ada beberapa kandidat yang saya pertimbangkan:
- Honda Revo; karena murah dan tampilannya sporty. Coret dari daftar sesuai dengan saran kawan-kawan di Plurk (@Via Efahmi).
- Honda Supra: Coret dari daftar karena di rumah Tulungagung sudah ada Supra merah tahun 2000.
- Honda Tiger: Coret dari daftar karena terlalu mahal dan tidak sesuai dengan kondisi lalu lintas Jakarta yang macet. Ruang parkir yang tidak terlalu luas di kos-kosan Jakarta juga tidak memungkinkan memarkir motor segede Tiger.
- Yamaha Jupiter Z: Paling tertarik dengan motor ini sebenarnya. Sangat pas dengan kebutuhan. Tapi waktu datang ke dealer Yamaha di Jl. A Yani Timur Tulungagung, motor ini tidak bisa dibeli secara cash, harus kredit. Kalaupun bisa, harus indent minimal sebulan lebih. Aturan yang aneh…
- Akhirnya pilihan jatuh ke Jupiter MX 135 cc Auto Clutch alias kopling otomatis. Saya memilih warna favorit: hitam dengan motif stripping berwarna silver. Ini lebih mudah dibeli, sore hari langsung dikirim sama dealernya.
Setelah melalui masa running-in (inreyen) sejauh 500 km oleh Babe di rumah, dua minggu yang lalu MX dikirim ke Jakarta memakai jasa pengiriman Herona Express (sangat profesional dalam urusan kirim mengirim motor pakai kereta api). Saya mengambilnya di stasiun Jakarta Kota pakai Tornado. Itu kali terakhir si Tornado menyentuh aspal Jakarta yang berdebu. Jupiter MX turun, Tornado naik kereta api Gajayana jurusan Malang, langsung sore itu. Bensin di tangki Tornado dikosongkan dan ditukar untuk mengisi tangki MX. MX segera melesat membelah kemacetan Jakarta dengan riang gembira…
Hal yang paling mengesankan tentang motor ini adalah akselerasinya. Jauh lebih cepat daripada Tornado waktu masih baru sepuluh tahun yang lalu. Maklum, 135 cc dibandingkan dengan 110 cc. Bodinya aerodinamis, ringan dan lincah melenggak-lenggok zig-zag di antara mobil-mobil di tengah kemacetan. Monoshock belakang dan shock absorber depan setelannya keras, sehingga sangat stabil di tikungan. Tapi kalau kena lubang, alamak sakitnya pergelangan tangan. Secara performa, tiada banding tiada banding deh pokoknya! *kecap kecaap*
Secara ergonomi, ah inilah nggak enaknya Jupiter MX. Tak ada cantolan yang bisa dipakai untuk menggantungkan kresek belanjaan atau makanan. Tempat gantungan helm di bawah jok juga terkesan apa adanya. Mungkin konstruksi bodi membuat tidak mungkin untuk menggantungkan sesuatu sambil jalan. Padahal, saya selalu menggantungkan sesuatu di cantolannya Tornado. Pegangan stang motor tempat telapak tangan juga tidak nyaman. Ada bintik-bintik plastik yang tajam yang menyakiti tangan ketika perjalanan jauh dan kondisi jalan tidak bagus. Telapak tangan bisa merah-merah karenanya.
Secara ekonomi, konsumsi bensin sangat irit. Apalagi saya yang sebelumnya pakai Tornado 2 tak. Konsumsi bahan bakar Tornado sebulan sekitar Rp. 80.000 + Rp. 30.000 untuk oli samping (Mesran 2T super). Sedangkan MX untuk pemakaian yang sama hanya memakan bensin premium Rp. 40.000 per bulan tanpa oli samping. Saya belum tahu kalau ditandingkan dengan Sang Raja Irit: Honda. Tapi buat saya, pemangkasan biaya hingga setengah lebih itu sangat-sangat berarti.
Selamat beristirahat Tornado GS. Selamat datang di Jakarta, Jupiter MX. Mari buat cerita baru di Jakarta!
Senyum Kiara
Saya pada dasarnya suka anak kecil. Jadi ketika iklan AXIS yang terbaru ini muncul, saya langsung menyukainya. Kiara, 7 tahun, Denpasar. Begitu sedikit tagline yang memulai TV Commercial sepanjang 1:02 menit ini. Ramah, suka menolong, dan mungkin cerewet. Ethes kalau kata orang Jawa. Mukanya yang polos khas anak-anak yang selalu siap dan peka terhadap lingkungan sekitar.”Pak.. pak… pak! Bebeknya ketinggalan… dadah bebek…”
Bisa aja tim kreatifnya bikin kalimat yang sangat anak-anak ini. Bagian terbaik dari iklan ini menurut saya ada di kata: dadah bebek. Saya harus tersenyum melihat iklan ini. Sangat emosional.
Iklan AXIS ini salah satu dari sedikit iklan yang memilih strategi beriklan secara halus dengan melibatkan pesan emosional daripada memilih model kasar: ayo beli beli murah murah! Iklan model halus seperti ini secara jangka pendek memang tidak bisa langsung mempengaruhi konsumen, tetapi sangat baik untuk menanamkan citra/image merek/brand dalam otak konsumen. Seiring dengan citra yang ingin disampaikan AXIS sebagai GSM Yang Baik, jelas iklan ini eksekusinya berhasil.
Dibandingkan dengan iklan dua operator tersisa yang masih beriklan: 3 (three) dan XL, iklan AXIS ini yang paling menyentuh saya. XL dari dulu selalu melakukan blunder dengan iklan yang aneh: mulai kawin dengan kambing (meskipun cukup sukses), hingga blunder Luna Maya diganti monyet lalu balik Luna lagi. Sementara 3 (three), tampaknya menyasar target kawula muda kalangan atas dengan iklannya yan: Jojing jojing jojing, Mau Mau mau? AXIS menarik perhatian dengan membuat sesuatu yang berbeda: iklan emosional yang menyentuh kalangan keluarga.
Bravo tim kreatif iklan Senyum Kiara AXIS!
@Via: Fenty @Plurk dan Devie
Menelusuri Jalan Raya Pos dalam Ekspedisi Anjer – Panaroekan
Judul Buku: Ekspedisi Anjer – Panaroekan: Laporan Jurnalistik Kompas – 200 Tahun Anjer Panaroekan, Jalan (Untuk) Perubahan.
Penerbit: Kompas.
Tebal: 445 halaman.
Buku setebal 445 halaman ini sungguh buku sejarah yang dikemas dengan begitu menarik. Buku tentang kisah pembangunan infrastruktur penting di pulau Jawa: Jalan Raya Pos atau lebih dikenal dengan Jalan Raya Daendels yang membentang mulai Anyer di ujung barat hingga Panarukan di ujung timur. Jalan ini dibangun oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels sebagai upaya percepatan arus komunikasi di pulau Jawa, sebagai jalur kereta-kereta yang membawa kiriman pos. Oleh karena itulah jalan ini bernama Jalan Raya Pos (Grote Postweg).
Apa yang paling mengesankan saya adalah bahwa buku ini tidak hanya menceritakan kondisi ketika jalan itu dibangun, namun juga menyertakan potret kehidupannya di masa sekarang, seperti nasib stasiun kereta api Anjer Kidul yang nyaris roboh, kisah topi Tangerang yang pernah merajai pasar fashion di Paris, dan kondisi jalan di Rajamandala yang kian lapuk dimakan usia karena sudah jarang digunakan lagi (ada jalan yang lebih lebar di sebelahnya).
Buku ini mungkin bisa juga menjadi inspirasi buku-buku pelajaran Sejarah di sekolah. Saya bukan penggemar sejarah sejak sekolah karena buku-buku pelajaran yang ada sangat membosankan. Siswa dijejali hapalan berupa angka-angka tahun. Tapi dengan narasi yang resmi namun mengalir enak dibaca, foto-foto masa lalu dan masa sekarang — ini lebih dari sekadar menghapalkan angka-angka!
Herman Willem Daendels
Daendels adalah seorang Gubernur Jenderal Hindia Timur (Indonesia) yang saat itu diperintahkan Kaisar Napoleon untuk mempertahankan Jawa dari serbuan Inggris. Hanya tiga tahun ia memerintah Jawa. Terlepas dari kekejamannya sebagai penjajah, saya rasa Daendels adalah sosok yang luar biasa sebagai pemimpin. Pada tahun 1808, ia berhasil melaksanakan sebuah mission impossible hanya dalam tiga tahun. Ia harus menghadapi banyak hal: ancaman serangan Inggris, kondisi kas negara yang tidak mungkin membangun jalan sepanjang itu, dan pemberontakan warga pribumi.
Sebagai seorang pemimpin, ia sendiri turun tangan ke lapangan untuk mensurvey kondisi. Melintasi Batavia hingga Surabaya dalam tiga minggu. Bayangkan… tiga minggu perjalanan. Ini seorang pucuk pimpinan tertinggi di kawasan Jawa lho. Langsung turun dari singgasana yang nyaman, menembus hutan, menyeberangi sungai, dan mendaki gunung yang berbahaya. Dengan kondisi kas negara yang tipis, ia tentu memutar otak untuk memanfaatkan semua resource yang terbatas. Dengan posisi sebagai penguasa, dari kacamata seorang pimpinan, untuk melaksanakan programnya, wajar kalau Daendels menggunakan kerja rodi sebagai sarana pembangunan itu.
Sultan Agung dan Jalan Raya Pos
Ada uraian menarik yang dibahas di buku ini mengenai kisan penyerbuan Sultan Agung Hanyakrakusuma, Raja Mataram, ke Batavia yang tidak pernah diungkap di buku sejarah di sekolah. Sebuah teori mengenai mengapa kerajaan Banten tidak ikut membantu Sultan Agung menyerbu Batavia. Ternyata, pada awalnya Sultan Agung tidak menganggap Belanda di Batavia sebagai musuh, tetapi sebagai mitra. Karena tawarannya ditolak, ia lalu berniat menyerang Batavia dulu, kemudian setelah itu menguasai Banten.
Hubungannya dengan Jalan Raya Pos, Daendels banyak memanfaatkan jalan yang dipakai Sultan Agung untuk dilebarkan dan menjadi satu rangkaian jalan raya Pos. Ada catatan mengenai kawasan Matraman di Jakarta yang menyebutkan bahwa kawasan tersebut dahulu dipakai sebagai tempat bermarkas laskar Mataram (dari akar kata Mataraman menjadi Matraman).
Penutup
Buku ini benar-benar sarat pengetahuan. Isinya sangat padat tapi tetap enak dan tidak membosankan untuk dibaca sambil makan. Saya berharap akan ada buku sejarah seperti ini yang membahas tentang tempat-tempat bersejarah di Indonesia. Sebuah penelitian mendalam dan liputan yang menarik membuat sebuah sejarah bisa dikemas tanpa harus memaksa untuk menghapalkan nama-nama tempat dan tanggal-tanggal.
Kalau setiap detail tempat dibukukan menjadi 500-an halaman, anak-anak sekolah tentu memiliki banyak sekali literatur mengenai sejarah dengan detail. Tidak seperti sekarang, sejarah mulai kedatangan VOC di Indonesia hingga zaman revolusi 1965 (total kurun waktu sekitar 4 abad) dikemas hanya dalam buku tipis setebal 50-an halaman. Isinya membosankan lagi. Kalau mau ujian harus menghapalkan kata demi kata di buku itu, hehehehe…
Comments