Selamat Petang, Boyolali

Posted by: on Dec 8, 2008 | 10 Comments

FLICKR
Lokasi: Depan Pasar Boyolali, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm

Boyolali adalah sebuah kota kecil di lereng gunung Merbabu, sekitar 25 km dari jantung kota Surakarta. Dari jalan Slamet Riyadi (jalan “Sudirman-nya” Solo), Anda bisa mengambil jalur tersebut lurus menusuk ke arah barat tanpa berbelok-belok lagi, Anda akan bertemu dengan landmark kecil dan satu-satunya yang ada di Boyolali ini. Tugu Entah Apa Namanya. Hehe…

Boyolali mengingatkan saya pada Trenggalek. Relatif sangaat sepi, memiliki jalanan beraspal yang mulus, bersih, dan cocok untuk menghabiskan hari-hari pensiun. Boyolali dan Trenggalek sama-sama merupakan kota kecil yang terdesak lereng gunung. Perkembangan ekonomi dan perdagangannya juga nanggung karena kalah pamor dengan kota sebelahnya. Jika Trenggalek kalah pamor dengan Tulungagung, maka Boyolali jelas kalah pamor dengan Surakarta. Ia hanya berfungsi sebagai kota antara jalur besar Solo – Semarang, dan orang bakalan lebih suka belanja ke Solo daripada di Boyolali.

Dengan hawa sejuk dan suasana sepinya, saya serasa terpencil dan terlempar dari dunia nyata. Aneh, karena jika saya memencilkan diri ke tempat-tempat terpencil macam Ujung Kulon, saya tak mendapat feel ini. Tetapi di Boyolali, saya seperti merasa terlempar ke… negeri-negeri yang ada di cerita Alice in Wonderland…

Sampai ketemu lagi, Boyolali

Sebuah Kegelisahan

Posted by: on Dec 5, 2008 | 8 Comments

Malam itu, langit tidak menampakkan keramahan sedikit pun di atas kota Kyoto. Mendung hitam berarak rendah, mungkin sebentar lagi akan menjelma menjadi badai siklon pasifik yang ganas. Bulan seharusnya hadir penuh, tapi tak secuilpun menampakkan dirinya. Mengintip malu-malu pun tidak, sembunyi sepenuhnya di balik awan hitam berat mengerikan. Angin mendesau mengiris telinga, mendobrak ranting-ranting pohon bunga Sakura yang setiap musim semi selalu menghadirkan orkestra alam yang indah di sepanjang sungai Shirakawa.

Mungkin suasana yang sama ada di dalam dada Rikyu. Bergemuruh, berdentang-dentang tak karuan di balik lipatan kimononya yang berlapis-lapis. Ia padahal tidak pernah merasa segelisah itu, bahkan ketika harus menghadapi pendekar samurai paling berbahaya sekalipun. Padahal apa yang ia hadapi kali itu jauh tidak berbahaya. Apalah arti semangkuk matcha1 yang dihidangkan kepadanya dengan tata cara chashitsu2 yang sempurna? Bukan… bukan itu yang membuatnya gelisah…

Tapi tangan lembut yang disembunyikan di balik lengan kimono merah muda itu…
Tapi tatapan mata teduh yang menunduk itu…
Dan akhirnya, wanita cantik yang sedang duduk malu-malu di hadapannya itu yang membuatnya gelisah…

“Aku lebih baik dihimpit Gunung Fuji daripada harus terjebak pada situasi runyam seperti ini… ” keluh Rikyu dalam hati. Setitik keringat muncul dari dahinya dan bersiap meluncur turun. Tapi ia tahu, ini kesempatan terakhir untuk menyatakan perasaan cintanya kepada perempuan hebat yang sedang tersenyum manis di hadapannya. Otsu.

Otsu adalah gadis yang mungkin paling diharapkan setiap lelaki di dunia untuk dijadikan isteri. Cantik, kalem, sekaligus lembut hatinya. Pada umur dua puluh awal itu, ia sudah menguasai tata cara upacara minum teh ala Jepang yang rumit. Hafal naskah drama Kabuki dan detail karakter masing-masing pemainnya. Maklum, ia merupakan putri Daimyo terpandang di kota ini sehingga aksesnya terhadap ilmu dan pengetahuan membuatnya berwawasan seluas samudera.

Segala kualitasnya itu membuat tidak banyak laki-laki yang berani meminangnya. Beberapa anak daimyo kaya raya di segala penjuru telah mencoba meminang, namun tak satu pun diterima. Otsu benar-benar bagaikan sebuah bunga cantik dari jenis yang jarang, sehingga ia harus disimpan dan dirawat dalam rumah kaca dan tidak sembarang orang bisa melihat jenis bunga itu. Ada semacam sesuatu yang keras di balik pribadi yang lemah lembut.

Dan Rikyu… akan segera mengetahuinya!

* Bersambung *

1: Jenis teh khusus yang digiling halus yang biasa digunakan dalam tradisi upacara minum teh Jepang
2: Tradisi upacara minum teh Jepang

Antara Dunia Maya dan Dunia Nyata

Posted by: on Dec 2, 2008 | 19 Comments

Saya percaya sebuah teori kalau aktivis internet itu berkepribadian ganda. Paling tidak, itu terjadi pada saya . Sejak saya mengenal internet pertama kali di pertengahan musim hujan tahun 1999, saya dikenalkan dengan mIRC dan segera saya menyimpulkan bahwa dunia IRC adalah dunia penuh kebohongan. Novel yang paling meracuni saya, karangan Agatha Christie, juga menyatakan begitu  dalam kisah Tragedi Tiga Babak (Three Act Tragedy), bahwa orang bisa menciptakan sebuah tokoh sebebas-bebasnya di dunia tulisan.

Dunia maya internet memfasilitasi setiap orang untuk membalas dendam apa yang ia benci dan ia tidak dapatkan di dunia nyata. Beberapa komponen penting dalam komunikasi untuk mengetahui pribadi seseorang adalah nada bicara, mimik ekspresi wajah, dan bahasa tubuh. Hal tersebut bisa menunjukkan tingkat kedalaman dan kematangan psikis seseorang, meskipun tidak sepenuhnya. Titik penting dalam komunikasi, yang celakanya malah tidak ada di internet.

Hal itu membuat setiap orang bisa bersembunyi di balik karakter yang ia ciptakan dan ia perankan di setiap tulisan-tulisannya. Contoh kecil katakanlah, penggunaan kata sapaan. Hanya dengan menyebut diri sendiri dengan “saya”, rasa yang didapat berbeda jauh dengan jika memakai “aku”, apalagi “gw”. Kata ganti “saya” akan membuat tulisan menjadi terkesan santun dan sopan, tetapi sisi negatifnya, jauh dari kesan akrab. Kayak baca buku sekolahan aja. Saya pergi ke pasar, saya pergi ke sekolah bersama teman-teman.

Andrea Hirata, berkali-kali mengatakan bahwa tetralogi Laskar Pelangi adalah sebuah memoar yang dihiasi oleh sastra yang telah mengalami dramatisasi. Artinya, karya itu tidaklah seratus persen benar, sebagian daripadanya adalah fiksi. Bahkan, besar kemungkinan bahwa karya itu hanya mengambil porsi sekian persen fakta, selebihnya adalah fiksi sefiksi-fiksinya. Tapi ada saja orang yang mencoba merusak efek positif yang telah ditimbulkan Laskar Pelangi.

Begitulah, tidak selalu tulisan — apalagi di internet — yang mencerminkan keadaan sesungguhnya seseorang di dunia nyata. Saya mungkin memang pernah patah hati, pernah kecewa berkali-kali, tetapi apakah suasananya sedramatis apa yang saya tuliskan di sini? Mungkin iya, mungkin pula tidak. Tetapi kalau bolehlah sekali saya jujur tentang tulisan saya sendiri, keadaannya tidak separah itu. Saya masih tersenyum riang gembira seperti anak kecil yang baru saja diberi Play Station dan Need for Speed pertamanya. Saya hanya memerlukan sebuah tempat untuk berkeluh kesah ketika gelombang kekecewaan menyergap saya. Dan energi melankolis itu saya salurkan di sini sambil melatih untuk menulis. Mumpung ada kekuatan untuk menulis puisi romantis menyayat hati, karena kalau sedang datar-datar begini, saya nggak bisa nulis puisi tentang cinta dan patah hati. Apalagi puisi tentang keberhasilan cinta? Hahaha… Cintah? Makan tuh cintah!

Melepas Kerinduan Suara Emas Dewi Lestari

Posted by: on Dec 1, 2008 | 16 Comments

Dikala kusadari
Diri ini mencari satu tambatan hati
Kala lelah menjadi
Dan kini kumengerti yang kurasa di hati
Apa yang terjadi bila semua hanya mimpi
Uuu…

Lantunan vokal lagu Kusadari milik RSD — Rida Sita Dewi ini masih saya putar di Winamp saya. Lagu terakhir yang ngehit dari trio wanita bersuara merdu yang sempat diduga mengekor AB Three namun nyatanya memiliki ciri khas tersendiri. Saya paling suka dengan lantunan lirik terakhir di atas. Ada sesuatu yang menyentuh dibalik lirik tersebut.

Namun pada perjalanannya akhirnya group itu bubar ketika setiap personnelnya mengambil jalan sendiri-sendiri. Rida dan Sita sepertinya memilih untuk mengurus keluarga, sementara Dewi sukses dengan profesinya sebagai penulis. Supernova, tulisannya yang seperti menjadi bacaan wajib penikmat buku Indonesia meledak.

Karena kau tak lihat
Terkadang malaikat
tak bersayap, tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini silakan kau adu
Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya

Sekarang, setelah sekian lama vakum dari dunia tarik suara, Dewi Lestari muncul dengan hit Malaikat Juga Tahu. Mendengarkannya, saya seperti terlempar ke beberapa tahun silam, di masa-masa keemasan RSD. Suara alto Dewi Lestari begitu empuk. Seperti permen cokelat yang meleleh di telinga (meminjam istilah Dan Brown – The Da Vinci Code). Musiknya tak jauh berbeda dengan RSD, tapi liriknya jauh lebih matang, mungkin mengiringi kematangan Dewi Lestari sendiri.

Welcome back Dee…

Switch to our mobile site