Sebuah Persimpangan
 FLICKR
Lokasi: Stasiun Solo Balapan, Surakarta, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR
Saya jadi ingat kawan SMA saya yang cantik dan mata yang selalu berbinar memancarkan kecerdasan di balik kacamata minusnya: si Merangkai Lonceng (entah bagaimana tulisan aslinya di aksara Cina), yang menginspirasi saya dengan mottonya:
Life is a matter of choices, the best you choose the best you have.
Well, dalam hidup, kita memang dihadapkan oleh pilihan-pilihan. Pilihan itu seringkali tidak semudah kita memilih telur atau ayam, tetapi sering batas antara dua pilihan itu tidak jelas dan bahkan abu-abu. Alangkah mudah hidup ini jika pilihan-pilihan itu setegas bilangan biner 0 dan 1. True and False. Ya dan tidak. On dan Off.
Atau mungkin sesederhana rel kereta api ini? Kalau tuas diputar, ia bergeser ke kiri, maka lokomotif akan lurus mengarah ke Yogyakarta. Jika ke kanan, lokomotif berarti akan istirahat, karena kanan adalah arah menuju depo tempat lokomotif disimpan, he he he…
PS: Salamku untuk engkau, wahai sahabatku si Merangkai Lonceng, hopefully you’re still remember me.
Di Balik Cerita Pendek Itu
Tiba-tiba saya membuat dua cerita pendek bersambung: Sebuah Kegelisahan dan Sebuah Pernyataan Cinta. Cerita itu saya gantungkan dan mungkin tidak akan saya sambung lagi. Ada apakah gerangan kok tiba-tiba saya bikin cerita itu?
Cerita yang aneh, karena tiba-tiba saya mengambil latar Jepang di zaman sekitar rezim Tokugawa, dimana Samurai dan Shogun berjaya. Saya sama sekali tidak tahu menahu soal budaya Jepang, apalagi budaya Jepang zaman itu. Sigit benar, saya sebagian besar mengambil referensi dari novel Musashi, bahkan nama pemeran wanita utama yang saya kagumi, Otsu, saya pakai dalam cerita ini. Tentang upacara minum teh dan segala hal tentang Sungai Shirakawa, saya ambil dari novel Memoar Seorang Geisha. Sedangkan pernyataan cinta dan segala hal tentang kegelisahan itu, tentu saja pengalaman pribadi, dengan bumbu dramatisasi sekuat daya imajinasi saya ha ha ha…
Alasan pertama saya bikin cerita itu adalah sekadar percobaan. Ingin merasakan menjadi penulis cerita. Membuat sebuah karakter, berusaha menghidupkan suasana, dan menyiapkan kejutan dalam alur cerita, meramu alur maju dan alur mundur (flashback beberapa menit ke belakang sudah termasuk alur mundur kan?). Ini sulit karena daya khayal kita belum tentu sejalan dengan dengan daya penulisan kita. Tetapi saya rasakan kemarin, ketika cerita sudah mengalir dan tangan sudah menari-nari mengikuti khayalan, itu sangat menarik. It’s fun!
Mengenai ide ceritanya sendiri, juga tidak orisinil. Tentang Rikyu yang tiba-tiba diserang senjata rahasia oleh kekasih hatinya, Otsu. Justru karena inilah yang menggelitik saya menuliskan ceritanya. Dari mana ide tersebut?
Google Mail!Â
Saya pikir para developer GMail di Stanford sana memiliki selera humor yang bagus. Tak sengaja saya menemukan rangkaian gambar lucu yang berbeda-beda waktu saya set theme GMail di tema Ninja. Tiga diantaranya saya jadikan cerita mini bersambung kemarin. Ada yang mau melanjutkan cerita saya?
Komentator ke-5000
Bukan bermaksud lancang kepada para selebritis blog, Mas ini dan Daeng satu ini, yang menghitung sekian juta pengunjung dan sekian puluh ribu komentator, saya hanya meneruskan tradisi yang sudah terlanjur menggelinding ini dengan menghitung komentator ke-5000.
Selamat untuk
- Ratu plurk yang tak pernah sekalipun turun karma, dedengkot Wong Kito yang doyan banget kopdar: Mbak Nike
- Hacker kita yang handal, pembobolan bukanlah hal yang sulit buatnya: Mas Yudha TJ
- Chef, fotografer, ilustrator, komikus, sekaligus ibu yang baik untuk seorang putri kecil yang cantik dan sederet talenta lain yang belum ketahuan: Mbak Mae
Berturut-turut sebagai komentator ke 4999, 5000, dan 5001.
Ngemeng-ngemeng, menanggapi request di komentator 4000, maka di 5000 ini, saya ada bingkisan kecil tanda terima kasih telah menyisihkan bandwidth untuk blog sederhana-nan-kacau ini. Kalaulah boleh, saya minta alamat pos Mbak Nike, Mas Yudha, dan Mbak Mae via japri di galihsatria [at] gmail.com agar saya bisa mempaketkan bingkisan kecil dari www.galihsatria.com melalui Pos Indonesia atau Tiki JNE (tergantung mana yang buka duluan ).
Thanks!
Sebuah Pernyataan Cinta
“Rikyu-chan, apa maksudmu?” desis Otsu lirih.
Reaksi pertanda buruk, pikir Rikyu. Tetapi paling tidak, beban seberat kerbau yang menghimpit dadanya telah sedikit berkurang. Ia malah bisa sedikit bernapas lega sekarang. Hampir tak sadar ia menghapus bulir-bulir keringat di kening dengan ujung kimononya. Tatami yang ia rasakan setajam rumput berduri telah mulai kembali nyaman. Ia masih heran dengan kata-kata yang ia ucapkan barusan.
“Otsu, aku tahu waktuku tidak banyak lagi untuk menahan gempuran perasaan yang tengah bergemuruh di dalam dadaku. Aku telah sampai di persimpangan hidupku, antara memperturutkan perasaan cinta dan ambisi pribadiku. Telah lama aku memikirkan ini dan ini pilihan yang berat bagi samurai seperti aku.
Tetapi aku telah memilih, Otsu. Malam ini aku memohon kepadamu sekali ini saja dan tak akan pernah kuulangi lagi. Izinkan aku untuk menemanimu menikmati pagi setiap hari hanya bersamamu, mendengarkan kecipak sungai Shirakawa di bawah gugurnya bunga-bunga Sakura. Sampai kapan pun hingga kamu bosan, aku berjanji tak akan pernah bosan.
Aku tahu aku bukan siapa-siapa dan seharusnya tak berhak aku memohon kepadamu seperti ini. Aku hanyalah seorang pria kasar yang setiap hari bergulat dengan pedang dan tak pernah mendapatkan kelembutan seperti sinar matamu yang begitu teduh menyejukkanku. Tapi kali ini saja, izinkan aku jujur kepadamu dan memohon. Supaya aku terlepas dari himpitan perasaan yang menyiksa ini.
Kalaulah jawabanmu adalah tidak, biarlah aku melanjutkan jalan hidupku di jalan pedang, Otsu. Karena aku tahu, cintaku hanya untukmu dan tidak akan ada lagi yang akan mengisi hatiku.”
Hening segera menyeruak memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu. Hingga keheningan mencekam itu dipecahkan oleh sebuah suara,
Whesss… Trang!!
Hanya gerak reflek yang menyelamatkan Rikyu dari serbuan benda-benda kecil yang tiba-tiba meluncur ke wajahnya. Ia memutar sarung samurainya untuk menangkis benda aneh tajam. Gerakan benda tajam itu membelok dan nyasar menembus dinding washi.
Terkejut alang kepalang, Rikyu meloncat mundur dan menyentuh samurainya. Kilatan sinar putih menyilaukan muncul mengintip dari balik sarung samurai panjangnya. Sikap waspada seorang Samurai. Lalat pun akan terbelah jika berani mengusik seorang samurai dalam posisi siaga begini. Mata tajamnya berputar mencari penyerangnya.
Di depannya, Otsu telah berdiri. Kipas kertas yang sedari tadi ia sembunyikan di balik obi-nya telah terkembang. Ujung-ujungnya berisi benda kecil tajam yang siap dilesatkan lagi. Posisi kuda-kudanya sempurna. Siap menerkam mangsa.
“Otsu?!?”
* Bersambung *
Pagi Solo Balapan
FLICKR
Lokasi: Stasiun Solo Balapan, Surakarta, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm
Rem rangkaian gerbong kereta eksekutif malam Argo Lawu berdecit kencang ketika menyentuh stasiun terakhirnya, Solo Balapan. Agak bergegas saya membereskan tetek bengek yang selalu menemani saya kalau bepergian dengan kereta: dua buah buku — novel Maryamah Karpov dan Yakuza Moon, sebotol medium air mineral, serta sebuah mainan baru ikut saya matikan. Saya lirik sekilas, saya telah berada di Black List 8, dengan “mobil” Mustang GT dan Audi TT. Iya, Need for Speed: Most Wanted .
Sambil meloncat girang saya menghirup udara Solo yang masih dingin. Masih setengah jam sebelum terang tanah. Mata saya segera menemukan musholla dan segera melesat ke sana. Matahari mengintip di balik menara utama stasiun Solo Balapan ketika saya selesai. Sambil tersenyum aneh sendirian di tengah kabut pagi yang remang-remang, saya segera mengawali perjalanan tiga hari ini dengan mengeluarkan D40 dari tas.
Selamat pagi, Solo.
Menunggu Kereta
FLICKR
Lokasi: Stasiun Solo Balapan, Surakarta, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm
Mari kita bicara teknis kali ini, aku sedang tidak ingin membumbui foto ini dengan rongsokan kata-kata kosong yang menghanyutkan. Yang paling membuatku tertarik dengan sudut ini adalah background Gunung Merapi yang sedang mengepulkan asap dan sedikit disinari matahari pagi yang baru saja terbit. Lalu aku ingin menempatkan lampu sinyal kereta pada foreground. Aku tinggal menunggu rangkaian gerbong Argo Lawu didorong masuk ke hangar hingga masuk frame di viewfinder yang telah kusiapkan. Dan hasilnya seperti di atas ini.
Secara teknis, seleret kabel listrik yang ada di posisi atas frame sangat mengganggu. Melanggar kaidah fotografi. Tapi apa yang kusuka dari foto ini adalah proses mendapatkan foto ini. Gunung Merapi, lampu persinyalan, dan menunggu gerbong Argo Lawu lewat. Jadi kawan-kawanku, janganlah selalu terpancang pada kaidah fotografi, jika kalian suka foto yang kalian ambil sendiri, itulah foto yang bagus.
Chayo!
Sebuah Pertemuan
Pertemuan kami sebenarnya singkat saja. Tak lebih dari sejam. Sebenarnya saya ingin meminta ditemani untuk keliling Surakarta, melihat-lihat alun-alun utara Kraton Kasunanan dan mengunjungi Mangkunegaran, wisata kuliner macem-macem, tetapi entah kenapa lidah kok jadi kelu. Saya ingat hari ini adalah hari Arafah, dan saya menghormati puasanya sehingga rencana itu saya batalkan. Tapi ia tahu saya baru saja menempuh jarak 40-an km, ia bertanya puasa apa tidak, saya jawab tidak, dan ia segera membuatkan saya segelas air jeruk dingin.
Ia menjemput saya di bundaran Carrefour Solo Baru, setelah mulai dari Kartasura hingga Pasar Klewer memandu saya lewat telepon. Tak banyak bicara. Duduk di samping saya sambil memangku keponakannya, sambil sesekali memberitahu arah ketika waktunya berbelok.
Di tepi sawah berangin lembut itu, kami lagi-lagi lebih banyak diam daripada saling berbicara. Ia memang pendiam, sedangkan saya tidak punya bahan untuk bicara. Saya bukanlah seorang yang ahli menghidupkan pembicaraan. Tapi pertemuan singkat itu membuat saya mengeluh,
“Kemana saja aku dua tahun ini… ”
Semoga saya belum terlalu terlambat.
Comments