Sebuah Pernyataan Cinta

“Rikyu-chan, apa maksudmu?” desis Otsu lirih.

Reaksi pertanda buruk, pikir Rikyu. Tetapi paling tidak, beban seberat kerbau yang menghimpit dadanya telah sedikit berkurang. Ia malah bisa sedikit bernapas lega sekarang. Hampir tak sadar ia menghapus bulir-bulir keringat di kening dengan ujung kimononya. Tatami yang ia rasakan setajam rumput berduri telah mulai kembali nyaman. Ia masih heran dengan kata-kata yang ia ucapkan barusan.

“Otsu, aku tahu waktuku tidak banyak lagi untuk menahan gempuran perasaan yang tengah bergemuruh di dalam dadaku. Aku telah sampai di persimpangan hidupku, antara memperturutkan perasaan cinta dan ambisi pribadiku. Telah lama aku memikirkan ini dan ini pilihan yang berat bagi samurai seperti aku.

Tetapi aku telah memilih, Otsu. Malam ini aku memohon kepadamu sekali ini saja dan tak akan pernah kuulangi lagi. Izinkan aku untuk menemanimu menikmati pagi setiap hari hanya bersamamu, mendengarkan kecipak sungai Shirakawa di bawah gugurnya bunga-bunga Sakura. Sampai kapan pun hingga kamu bosan, aku berjanji tak akan pernah bosan.

Aku tahu aku bukan siapa-siapa dan seharusnya tak berhak aku memohon kepadamu seperti ini. Aku hanyalah seorang pria kasar yang setiap hari bergulat dengan pedang dan tak pernah mendapatkan kelembutan seperti sinar matamu yang begitu teduh menyejukkanku. Tapi kali ini saja, izinkan aku jujur kepadamu dan memohon. Supaya aku terlepas dari himpitan perasaan yang menyiksa ini.

Kalaulah jawabanmu adalah tidak, biarlah aku melanjutkan jalan hidupku di jalan pedang, Otsu. Karena aku tahu, cintaku hanya untukmu dan tidak akan ada lagi yang akan mengisi hatiku.”

Hening segera menyeruak memenuhi ruangan yang tak terlalu luas itu. Hingga keheningan mencekam itu dipecahkan oleh sebuah suara,

Whesss… Trang!!

Hanya gerak reflek yang menyelamatkan Rikyu dari serbuan benda-benda kecil yang tiba-tiba meluncur ke wajahnya. Ia memutar sarung samurainya untuk menangkis benda aneh tajam. Gerakan benda tajam itu membelok dan nyasar menembus dinding washi.

Terkejut alang kepalang, Rikyu meloncat mundur dan menyentuh samurainya. Kilatan sinar putih menyilaukan muncul mengintip dari balik sarung samurai panjangnya. Sikap waspada seorang Samurai. Lalat pun akan terbelah jika berani mengusik seorang samurai dalam posisi siaga begini. Mata tajamnya berputar mencari penyerangnya.

Di depannya, Otsu telah berdiri. Kipas kertas yang sedari tadi ia sembunyikan di balik obi-nya telah terkembang. Ujung-ujungnya berisi benda kecil tajam yang siap dilesatkan lagi. Posisi kuda-kudanya sempurna. Siap menerkam mangsa.

“Otsu?!?”

* Bersambung *

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

13 thoughts

  1. *baca reader* … Sebuah Pernyataan Cinta …
    *dalam hati* … akhirnya….
    *meluncur* …. oh ternyata…

    imajinasi mas Galih sangat menakutkan !

  2. #Nike:
    Nanti saya beritahu background dibalik cerita ini 😀

    #ryht:
    masak aku jadi samurai yud?

    #mae:
    Eh, setelah diresapi bener juga yah, siapapun cewek bakalan takut dengan pernyataan cinta yang mengerikan seperti ini. Ada ego dan cinta yang sangat posesif tersirat di balik pernyataan itu.

    Hehehe, bedah cerita karangan sendiri 😀

    Hmm… jadi mikir, pantes saya kemarin ditolak… looohhh?!??! apa hubungannya :))

  3. #pak-git:
    you’ve got it! memang rohnya dari Musashi. Cuma novel itu yang menyajikan setting dan latar belakang Jepang masa Samurai dengan begitu detail. Tambahan lagi dari pengaruh novel Memoar Seorang Geisha. Maklum kawan, aku belum pernah hidup di Jepang dan maksa bikin cerita Jepang. Kenapa kok begitu? Setelah ini aku beberin kenapa aku nulis cerita ini he he he

    #denologis:
    Ini kan Prison Break 😛

    #puji aswari:
    belum pernah baca novel itu…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *