Sebuah Kegelisahan

Malam itu, langit tidak menampakkan keramahan sedikit pun di atas kota Kyoto. Mendung hitam berarak rendah, mungkin sebentar lagi akan menjelma menjadi badai siklon pasifik yang ganas. Bulan seharusnya hadir penuh, tapi tak secuilpun menampakkan dirinya. Mengintip malu-malu pun tidak, sembunyi sepenuhnya di balik awan hitam berat mengerikan. Angin mendesau mengiris telinga, mendobrak ranting-ranting pohon bunga Sakura yang setiap musim semi selalu menghadirkan orkestra alam yang indah di sepanjang sungai Shirakawa.

Mungkin suasana yang sama ada di dalam dada Rikyu. Bergemuruh, berdentang-dentang tak karuan di balik lipatan kimononya yang berlapis-lapis. Ia padahal tidak pernah merasa segelisah itu, bahkan ketika harus menghadapi pendekar samurai paling berbahaya sekalipun. Padahal apa yang ia hadapi kali itu jauh tidak berbahaya. Apalah arti semangkuk matcha1 yang dihidangkan kepadanya dengan tata cara chashitsu2 yang sempurna? Bukan… bukan itu yang membuatnya gelisah…

Tapi tangan lembut yang disembunyikan di balik lengan kimono merah muda itu…
Tapi tatapan mata teduh yang menunduk itu…
Dan akhirnya, wanita cantik yang sedang duduk malu-malu di hadapannya itu yang membuatnya gelisah…

“Aku lebih baik dihimpit Gunung Fuji daripada harus terjebak pada situasi runyam seperti ini… ” keluh Rikyu dalam hati. Setitik keringat muncul dari dahinya dan bersiap meluncur turun. Tapi ia tahu, ini kesempatan terakhir untuk menyatakan perasaan cintanya kepada perempuan hebat yang sedang tersenyum manis di hadapannya. Otsu.

Otsu adalah gadis yang mungkin paling diharapkan setiap lelaki di dunia untuk dijadikan isteri. Cantik, kalem, sekaligus lembut hatinya. Pada umur dua puluh awal itu, ia sudah menguasai tata cara upacara minum teh ala Jepang yang rumit. Hafal naskah drama Kabuki dan detail karakter masing-masing pemainnya. Maklum, ia merupakan putri Daimyo terpandang di kota ini sehingga aksesnya terhadap ilmu dan pengetahuan membuatnya berwawasan seluas samudera.

Segala kualitasnya itu membuat tidak banyak laki-laki yang berani meminangnya. Beberapa anak daimyo kaya raya di segala penjuru telah mencoba meminang, namun tak satu pun diterima. Otsu benar-benar bagaikan sebuah bunga cantik dari jenis yang jarang, sehingga ia harus disimpan dan dirawat dalam rumah kaca dan tidak sembarang orang bisa melihat jenis bunga itu. Ada semacam sesuatu yang keras di balik pribadi yang lemah lembut.

Dan Rikyu… akan segera mengetahuinya!

* Bersambung *

1: Jenis teh khusus yang digiling halus yang biasa digunakan dalam tradisi upacara minum teh Jepang
2: Tradisi upacara minum teh Jepang

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

8 thoughts

  1. terus ceritanya gini.,.

    Lalu, Rikyu mencoba menghilangkan rasa yang sedang bergunjang-ganjing dihatinya, layaknya menghilangkan total salju di gunung Fuji. dan akhirnya dia mencoba dengan selarik perkataan GOMEN NASAI…NIHON GO WAKARANAI, padahal mau berkata “Boku no ichiban taisetsu na hito wa kimi da” dan “Aishiteru… hontou ni aishiteru” karena saking somewhat afraidnya jadi salting. Tapi, memang girls in number one, Otsu memulai dengan kata halus yang membuat hati Rikyu kian mengladak…

    Otsu : “Rikyu, aku mau.,.,”

    Rikyu : ” ma ma mauu.. apa Kyu” (tersendat-sendat)

    Otsu : ” mau.,.,.,.,.,MAKAN DULU, keburu dingin nasinya”
    Rikyu : ” he.???

    bersambung

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *