Tentang Foto Saya di 2008

Posted by: on Dec 31, 2008 | 11 Comments

Postingan akhir tahun nih, sebelum mengeluarkan seri jepretan-jepretan terbaik saya di 2008, saya mau berceloteh dulu tentang apa yang telah dihasilkan di 2008 secara konsep.

Tahun 2008 adalah tahun penuh warna dalam perjalanan hunting fotografi saya. Secara konsep, saya mulai bosan dengan komposisi-komposisi standar dan warna-warna kontras yang eye catching dan menarik untuk dinikmati. Mungkin ini adalah proses pencarian jati diri fotografi yang masih belum menemukan ujungnya. Saya kebanyakan tertarik dengan sesuatu yang aneh dan keluar dari pakem yang seharusnya. Hasilnya, buat bagi saya sendiri maupun orang lain, mungkin tidak terlalu bagus, tapi buat saya, itu sangat menarik (exciting). Mentransformasikan angan-angan ke dalam sebuah foto dan hasilnya sesuai dengan apa yang saya bayangkan: itu sangat menarik!

Maret 2008, saya membeli lensa landscape Sigma 10-20 mm sebagai hadiah ulang tahun untuk saya sendiri. Pembelian itu cukup membuat ikat pinggang kencang, karena empat juta bukanlah uang yang sedikit untuk saya, apalagi uang sebanyak itu *hanya* untuk sebuah lensa yang nota bene untuk hura-hura. Tapi karena sudah pengen banget bisa motret landscape dengan puas, saya beli juga itu lensa dengan proses nyicil pakai kartu kredit.

Paruh terakhir tahun 2008, saya sampai pada titik bosan terhadap fotografi. Sangaaaat bosaaaan, apalagi jika disuruh motret acara kantor: malaaaaaaaaaaas luar biasa. Mungkin karena kesibukan (melarikan 4 proyekan (running 4 projects) di luar kantor bareng-bareng, yang benar saja pak!), tetapi mungkin juga saya memang sudah agak bosan dengan mainan ini (boys never grow up). Diajak hunting model seksi di kafe tengah malam, saya tak mau. Diajak hunting nuddies dipreteli satu-satu, saya tak yakin *imron* saya kuat, jadi saya lagi-lagi tak mau. Lihat DVD-nya Ran Asakawa aja udah keder )

Saat ini shutter count Nikon D40 sudah menyentuh angka 20.000 lebih. Kecepatan rananya sudah sering ngaco. Apakah nanti di 2009 saya akan upgrade ke Nikon D80 atau Nikon D300? Entahlah, kalau ada orong-orong nyunggi gong lewat (binatang kecil yang konon mampu menyunggi alat musik gamelan jawa bernama gong — red), mungkin baru bisa dibeli, he he he…

Yang jelas, saya masih kepengen keluyuran keliling pulau Jawa untuk memotret objek-objek yang bagus. Saya tidak pernah menyediakan waktu khusus untuk hunting — biasanya waktu pulang kampung, pergi kondangan nikah, mendekati calon-bakal-calon isteri (PDKT maksudnya ), tetapi ketika ada kesempatan bepergian, saya selalu sempatkan untuk hunting foto.

Cheriooo, salam jepret!

Selamat Sore Tugu Pahlawan

Posted by: on Dec 30, 2008 | 12 Comments

FLICKR
Lokasi: Kawasan Tugu Pahlawan, Surabaya
Nikon D40 | Sigma 10-20 mm HSM

Empat tahun saya tinggal di Surabaya (kurun waktu Agustus 2002 – November 2006), saya belum pernah sekalipun berkunjung ke Tugu Pahlawan. Waktu itu saya belum terlalu suka keluyuran seperti sekarang ini. Jalan-jalan ke Tunjungan Plaza saja jarang, bahkan mall yang dekat kampus, Galaxy Mall, juga jarang. Hidup saya terlalu monoton dalam rute Perumdos ITS Blok F/2 – Keputih (sakinah, warung bu siti, pasar keputih) – Kampus TC – Pojokan Gebang – Perpustakaan ITS Lantai 6 (itsnet).

Kemarin, kebetulan bus Harapan Jaya yang mengantarkan saya tiba di Bungurasih agak terlalu awal. Tiba di stasiun Pasar Turi juga masih siang, padahal Argobromo Anggrek baru berangkat pukul 20:00. Jadi saya putuskan untuk menyapa Tugu Pahlawan. Merdeka Boeng!!

Keluarga Pemusik

Posted by: on Dec 30, 2008 | 5 Comments

29 Desember 2008, Stasiun Pasar Turi, Surabaya

Saya terpaku melihat keluarga ini. Lebih terpaku lagi melihat penyanyi cilik bersuara luar biasa ini menyanyi. Lagu-lagu dari segala macam genre: pop, dangdut, pop luar negeri, hits populer Indonesia, tembang kenangan, hingga tembang Jawa melantun merdu dari suaranya yang diiringi oleh musik electone Yamaha yang dipencet ayahnya.

Saya terpaku dan terharu. Keluarga ini tampil menghibur penumpang Argobromo Anggrek dengan penuh keceriaan. Jauh dari kesan sedih. Si penyanyi cilik tunanetra itu sambil tersenyum-senyum membisiki ibunya jika lupa lirik yang akan dinyanyikan dan si ibu mengambil alih bait yang terlupa itu. Alamak, sang ibu juga memiliki suara yang tak kalah merdunya. Sekali-sekali ucapan terima kasih meluncur dari bibirnya.

Saya terharu karena saya jadi merasa kurang bersyukur. Tetapi bukan karena kasihan saya mengeluarkan sedikit uang dari dompet untuk saya masukkan ke kotaknya. Itu adalah apresiasi. Apresiasi atas karya seni yang mereka suguhkan saat menunggu keberangkatan Argobromo Anggrek yang malam itu terlambat setengah jam.

Eclipse BIRT Ganymede: Loncatan Lebar BIRT

Posted by: on Dec 26, 2008 | 3 Comments

Saya pernah membahas tentang beberapa mesin pembuat laporan berbasis Java (Java reporting engine) dan menahbiskan Actuate sebagai tool reporting yang paling hebat. Tapi sayangnya, lisensi Actuate tidak free alias harus membayar sejumlah uang tertentu agar bisa memakainya. Di sisi open source, saya menganggap Jasper Report dan Eclipse BIRT sebagai tool reporting terbaik yang free.

Fleksibilitas

Bussiness Intelligence Reporting Tool (BIRT) merupakan buah manis kerjasama yang cantik antara Actuate dan Eclipse. Menurut saya, ini adalah terobosan bagaimana sebuah report designer. Tidak memiliki batasan slot-slot (Actuate) atau band-band (Jasper), BIRT menawarkan fleksibilitas tanpa batas. Anda bisa menempatkan record-record berulang dimana saja (tidak harus di band detail — misalnya), cukup memasang pallete List atau Table. Sebaliknya, untuk record-record yang tidak berulang, selama Anda tidak memasukkannya pada pallete List atau Table, ia hanya ditampilkan sekali saja. Fitur ini akan sangat menyederhanakan SQL query statement ke database.

Multiple Data Set

Data Set adalah sebuah himpunan data yang akan ditampilkan dalam report. Sumber data set biasanya adalah melalui SQL query. Nah, di BIRT, kita bisa memakai banyak data set yang bisa ditempatkan di pallete mana saja dan bisa menjadi sub data set dari data set yang lain. Ini sangat memudahkan bagi mereka yang tidak bisa membuat SQL query seperti saya. SQL Query yang kompleks (crosstab segala macem) bisa dipecah menjadi beberapa query sederhana dalam beberapa data set. Menakjubkan sekaligus menyenangkan!

State of the Art: Eclipse Birt Ganymede

Versi ini sangat banyak perbaikan yang besar, utamanya di masalah performance, baik di sisi Report Designer-nya maupun runtime-nya.  Waktu masih memakai Eclipse Birt Europa, saya mengeluh tentang lambatnya respon desainer dan runtime ketika sudah dipasang di production server. Di sini, Eclipse Birt Ganymede, semua sudah diperbaiki. Respon desainer yang tanggap menjadikan lingkungan yang menyenangkan untuk pembuatan report. Ketika dipasang di production server, proses kompilasi dan hasil tampilan jadinya juga tidak terlalu lama.

Bagaimana tentang kualitas hasilnya? Format PDF tetap rapi seperti pendahulunya, dan ada perbaikan besar di format Microsoft Excel (XLS). Salah satu hal yang paling dikeluhkan para programmer adalah tidak adanya report engine yang bagus untuk hasil berformat xls. Bahkan Jasper yang paling terkenal itu pun tidak bisa menampilkan hasil report excel dengan rapi jali. Namun, Eclipse Birt Ganymede menampilkan fitur yang paling menggiurkan dengan hasil format excel yang sangat rapi. Pembuatan dan pembagian cell gridnya masih rapi seperti buatan tangan (biasanya kalau buatan report engine kacau balau) dan yang paling menarik: garis-garis bantu cell-nya masih terlihat. Sangat dekat dengan hasil buatan manual.

Sebagai penutup, saya kira saat inilah Birt telah *benar-benar* bisa digunakan sebagai reporting engine. Kalau Jasper tidak ada perbaikan berarti, bisa dikatakan inilah tool reporting berbasis Java yang terbaik sekarang. Bahkan konon kabarnya, Actuate versi yang terbaru juga menggunakan engine yang sama persis dengan BIRT sebagai basis mesinnya. Maklum, BIRT kan juga bayi-nya Actuate.

Silakan langsung menuju TKP! *ijo-ijonya gan… :beers:

Teronggok di Sudut Pramex

Posted by: on Dec 21, 2008 | 15 Comments

FLICKR
Lokasi: KRDE Prambanan Express, Stasiun Solo Balapan, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR | -eksperimen komposisi-

Seorang penumpang komuter Pramex duduk dengan bosan di sudut pintu kereta rel diesel elektrik (KRDE) terbaru yang diluncurkan awal tahun 2008 ini. Dengan adanya KRD berwarna kuning ini, praktis warga sekitar Kutoarjo-Yogyakarta-Solo memiliki alternatif transportasi yang lebih banyak.

Kenapa Saya Tidak Terlalu Menyukai Fotografi Model

Posted by: on Dec 20, 2008 | 23 Comments

– update: foto deleted –

Selalu ada decakan dan sorot mata heran dari kawan-kawan saya yang cowok, baik sesama penghobi fotografi maupun bukan, ketika saya bilang bahwa saya tidak terlalu menyukai memotret model perempuan. Padahal genre ini adalah salah satu favorit para penghobi fotografi. Lihat saja, setiap pergelaran acara hunting bareng yang diadakan komunitas-komunitas fotografi, hunting model selalu sukses mendatangkan banyak fotografer. Semakin seksi modelnya, semakin ramai semutnya.

Mungkin saya termasuk orang snob juga. Tetapi saya memang tidak terlalu suka kalau kegiatan memotret menjadi kedok untuk kegiatan mengintip tubuh-tubuh seksi. Memotret ya memotret, boleh memotret sambil menikmati keindahan lekuk tubuh makhluk ciptaan Tuhan ini, tapi jangan jadi ngintip sambil motret ha ha ha…

Ilmu fotografi saya masih terlalu rendah untuk menguasai fotografi model. Banyak foto model yang saya tak bisa menilai itu bagus atau tidak. Tapi paling tidak, saya menilainya dari kepiawaian fotografer memilih sudut terbaik.

O iya, cewek itu punya sudut yang berbeda-beda lho hasilnya kalau difoto. Sisi kanan hampir selalu berbeda dengan sisi kiri. Dan biasanya, cewek yang aware dengan penampilannya, bakalan mati-matian menutupi dan menyamarkan kelemahannya dari sudut itu.  Terlalu banyak trik perempuan dalam hal ini, entah make up, entah penataan rambut, permainan warna, cara melipat kerudung (bagi yang berkerudung/berjilbab), dan segala macam untuk membuat mata cowok tetap melirik ke arahnya.

Adalah tugas fotografer untuk menemukan sudut terbaik model. Berangkat dari situ, ia bisa memperkirakan komposisi yang tepat dan pengukuran cahaya yang pas, kapan ia harus fill-in, bouncing, side-lighting, dsb. Kemudian berusaha mendapatkan kontak mata dan ekspresi model, barulah shutter bisa dijepret. Benar-benar sulit!

Saya jadi ingat ada yang meledek saya waktu diskusi masalah flash dan light meter. Katanya, “Kalau cuma buat motret benda mati mah, buat apa perlu light meter?” Hahaha… tepat sekali pak, Sigma 10-20, sudah lebih cukup bagi landscaper seperti saya.

Foto: Seorang wanita tenant Wisma Mulia
Dicandid dengan
Nikon D80 | Nikkor AF-S 70-300 mm VR
Mohon kiranya saya diberitahu jika keberatan dengan tampilnya foto ini.
Update: yang bersangkutan ternyata keberatan he he he…

Pagar Rumah Kita

Posted by: on Dec 18, 2008 | 13 Comments

FLICKR
Lokasi: Kelurahan Pulisen, Boyolali, Jawa Tengah
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR

Hanya alang-alang, pagar rumah kita
Tanpa anyelir, tanpa melati…

Itulah yang ada di benak saya. Hari begini sudah langka sekali ditemukan pagar bambu. Dihiasi warna hijau rerumputan dan warna warni bunga liar. Disinari matahari sepenggalah yang hangat. Embun pagi masih terlihat menetes di ujung sana. Rumah mungil di tepi sawah. Terpencil dari mana-mana. Cari sinyal GSM susah, apalagi 3G. Terpenjara dalam keheningan pagi dan kesyahduan alam.

Dan alangkah indahnya jika suasana itu dilengkapi dengan… panggilan lembut seorang wanita dari dalam rumah — atau malah berteriak, “AYO MANDI!!!”

 * once again, imajinasi

Switch to our mobile site