Entries from October 2008
October 18, 2008

FLICKR
Lokasi: Gereja Katedral Jakarta (dari beranda Istiqlal lantai 2)
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55mm
Gereja Katedral Jakarta terletak persis di depan Masjid Istiqlal Jakarta. Tempat ibadah dua agama yang persis berhadap-hadapan ini seperti mengisyaratkan tentang kerukunan antar umat beragama. Kenapa kerukunan ini kadang sulit sekali diwujudkan yah?
Bicara tentang Gereja Katedral, hal yang paling unik tentu saja menara kembarnya. Beberapa waktu yang lalu, komunitas ID-Photographer mendapatkan akses untuk meliput acara pernikahan di sana. Menyesal sekali tak bisa ikut karena kesibukan
. Semoga, nanti saya bisa memotret arsitektur gereja ini.
Posted in Arsitektur
9 Comments »
October 17, 2008

FLICKR - Kubah Istiqlal. Setiap masjid memiliki hiasan kubah yang unik. Demikian pula Istiqlal. Paduan warna biru, emas, dan pencahayaan yang cerdik membuat hiasan ini berkemilau indah.
Sebuah pengalaman ruhani yang buat saya cukup menggetarkan tatkala saya mengikuti ibadah shalat malam (qiyamul lail) di masjid terbesar se Asia Tenggara, Masjid Istiqlal. Menghayati setiap bacaan shalat, setiap gerakan, mendengarkan lantunan merdu nan fasih ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan imam. Pagi harinya, tatkala setiap orang tidur di lantai ruang utama masjid, saya memilih keluar dan menikmati indahnya matahari terbit dan suasana yang diciptakannya. Rasanya sungguh tak kalah dengan pengalaman semalam. Indah sekali. Lewat kamera dan lensa 18-55, saya ingin bercerita…
(akan ada 9 buah foto. hati-hati bagi Anda yang sedang fakir bandwidth) Read the rest of this entry »
Posted in Anak-Anak, Arsitektur, Human Interest
12 Comments »
October 13, 2008

Salah satu tujuanku “meliburkan” diri lebih lama di kampung adalah untuk memperpanjang Surat Izin Mengemudi (SIM) yang habis masa berlakunya Maret lalu. Sebenarnya waktu pulang di bulan Mei, aku sudah antri di Polres Tulungagung untuk memperpanjang, tetapi sayangnya waktu itu kantor Polres sedang kena pemadaman listrik bergilir, jadi proses pembuatan SIM harus terhenti dan aku dengan kecewanya harus menunda memiliki SIM. Kenapa aku tidak memperpanjang di Metro Jakarta Raya? Karena aku bukanlah penduduk Jakarta. Aku hanyalah kaum urban yang jika tidak memegang badge cap karyawan sebuah perusahaan, aku pasti kena operasi Yustisi.
Jadi alkisah seminggu yang lalu, pagi-pagi aku berangkat menuju kantor Polres Tulungagung yang di sebelah timur perempatan BTA pakai motor Supra merah tahun 2000. Sengaja tidak pakai mobil karena aku tahu ini akan makan waktu yang sangat lama. Lagian, tidak ada tempat yang layak untuk parkir mobil. Jadi beres, pakai baju kemeja baru lebaran, siap antri.
Layar W200i menunjukkan angka setengah sembilan pagi.
Halaman kantor Polres alamak… sudah penuh sesak orang. Nah, tujuanku pertama kali adalah mencari informasi bagaimana cara memperpanjang SIM A. Oke, diagram gede yang dipasang mencolok di beranda kantor bilang pertama kali aku harus menyiapkan dua lembar fotokopi SIM lama dan KTP lokal. Gampang. Beres mah ini, secara ada banyak tempat fotokopi.
Langkah kedua adalah mencari Surat Keterangan Kesehatan. Wha…, lha ini, nggak tau kalau pakai acara beginian. Naah… uniknya, di depan Polres ada klinik kecil yang penuh sesak. Selidik punya selidik, orang-orang ini pada cari surat keterangan kesehatan di sini. Wah, jangan-jangan pihak klinik punya agreement tertentu dengan Polres, secara aku nggak lihat ada alternatif klinik lain di sekitar situ. Hehe…
Akhirnya aku ngikut aja gelombang orang-orang. Numpuk KTP buat nomor antrean. Lima belas menit kemudian aku dipanggil untuk diperiksa. Seharusnya, aku harus diukur berapa tinggiku, berapa berat badanku, lalu diambil sampel darah untuk diketahui golongan darahnya. Tapi yang terjadi malah dialog cepat bin kilat dari petugas klinik,
“Berat badannya berapa?” tanya si petugas tanpa memandangku.
“Ngg…. 85 kg pak!” ya udah aku jawab agak ngasal aja. Ini adalah berat badan rata-rataku dari siklus kurus ke paling gemuk yang di kisaran 82 - 87 kg.
“Tinggi?”
“166 cm!”
“Golongan darah?”
“Oooo…” harusnya “nol” tapi biarlah, orang sudah salah kaprah yang parah.
“Mau cari SIM apa?”
“A!”
Lalu si petugas mencorat-coret sedikit kertas yang lebih mirip catatan bon utang warteg daripada surat keterangan. “Biaya Periksa” dipatok lima belas ribu rupiah. Tak mengapa. Yang penting cepat dan tak perlu menderita karena jari ditusuk jarum. Hehehe…
Layar W200i menunjukkan angka 09:01 pagi.
Langkah berikutnya adalah meminta formulir perpanjangan. Di sana SIM lama dan KTP-ku diperiksa sekilas saja. Aku bahkan nggak yakin Pak Polisi tahu kalau sebenarnya KTP-ku tidak ada tanda tangannya. Terlanjur dilaminating sebelum ditandatangani. Pokoknya cepat kilat! Aku ikut-ikutan bergegas dalam mengisi formulir itu di bangku-bangku yang telah disediakan.
Selesai mengisi maju ke loket III. Loket pembayaran. Di sana Pak Polisi juga bergerak cepat. Coret sana coret sini, sobek sana sobek sini, lalu bergumam tak jelas. Karena ini loket pembayaran, asumsiku ya menyetorkan uang. Biaya di sini enam puluh ribu rupiah. Selembar uang kertas merah gambar Pak Karno ditukar dua lembar uang kertas warna hijau yang kumal. Sayang bener, padahal kan baru ambil di ATM…
Layar W200i menunjukkan angka 09:14 pagi.
Next. Maju ke loket IV. Sempat bingung di kantor yang luas ini tidak ada pintu atau jendela yang berbunyi loket IV. Selidik punya selidik, ternyata tempatnya ada di balik pintu yang ditempeli kertas-kertas. Di sana ada loket IV yang di bawahnya dengan penuh percaya diri berbunyi, “STANDAR PELAYANAN LOKET INI ADALAH MAKSIMAL 15 MENIT”. Wah boleh juga nih, ngapain aja sih loket ini?
Aku antri untuk diambil sidik jari jempol kiri dan kanan, lalu foto di depan lensa kecil mirip punya Canon Ixus. Aku bahkan tak sempat merapikan rambut atau merapikan make up (ceileh…) Ya sutra lah… toh aslinya juga jelek begini apa yang bisa dirapikan, hehehe…
SIM lama kita diambil pihak kepolisian. Sepuluh menit kemudian, bapak-bapak polisi setengah baya yang wajahnya agak seram memanggil dan menyodorkan buku tulis tebal nan lebar yang lazim dipakai ibu-ibu buat arisan. Tanpa banyak bicara telunjuknya menunjuk suatu titik. Aku tahu maksudnya, aku disuruh tanda tangan. Nggak pakai lama, sebuah kartu kecil kaku diserahkan padaku. Ada fotoku yang tersenyum di sana. Aseeek. SIM-ku udah jadi!
Layar W200i menunjukkan angka 09:38 pagi.
Gile… cepet bener. Bravo bapak-bapak polisi untuk layanan super cepat dan kilatnya. Ini baru pelayanan masyarakat. Tanpa calo, tanpa banyak cing cong, tanpa birokrasi yang berbelit-belit, dan yang paling penting: tanpa pungli. Terima kasih Polri!
Posted in Catatan Harian
15 Comments »
October 12, 2008

Wawa/Kamas - Surabaya
Fotografi pre-wedding, entah siapa yang memulainya, tetapi sekarang sepertinya menjadi sebuah tren wajib bagi pasangan-pasangan yang akan menikah. Sepertinya ada yang kurang kalau pernikahan mereka tanpa dihiasi oleh foto-foto pra menikah atau lazim dikenal sebagai pre-wedding atau prewedd saja.
Apa Itu Foto Pre-Wedding
Sejatinya, foto pre-wedd tidak berbeda dengan foto-foto lain. Hanya saja apa yang menjadi fokus adalah pasangan calon mempelai. Kesan yang ditampilkan di foto tersebut adalah aura cinta kasih yang terpancar dari pasangan kekasih sehingga menampakkan bahwa pasangan yang akan menikah ini adalah pasangan yang paling bahagia sedunia.
Menampakkan aura cinta kasih dalam foto lah yang menjadi keunikan dan seni dari fotografi prewedd. Tantangan yang menarik bagi setiap fotografer karena urusan Anda adalah memotret objek yang hidup. Memotret landscape mudah karena kalau pemandangannya bagus, dari sudut mana pun hasilnya akan bagus. Tetapi lain halnya dengan memotret orang. Dan tidak hanya satu, tapi dua! Dan tugas Anda adalah membuat dua itu menjadi selaras, kompak, dan tidak kaku. Sungguh bukan hanya pekerjaan mengatur komposisi, diafragma, dan kecepatan rana saja.
Dalam mengekspresikan cinta kasih dalam sebuah foto, masing-masing fotografer dan pasangan berbeda. Saya amati, kebanyakan ekspresi tersebut dilukiskan dalam peluk, cium, dan senyum yang posesif. Kemudian suasana matahari tenggelam yang romantis, pantai, pemandangan alam yang cantik, atau gedung yang megah adalah background fotonya.
Kok Jadi Mahal?

Lisa/Imam - Bekasi
Faktor pertama: karena fotografi ini memang mahal. Fotografi prewedd pada dasarnya adalah fotografi model. Dan sejak dulu fotografi ini mahal kalau dibandingkan dengan fotografi landscape. Yang membuat mahal adalah urusan make up. Tentunya calon mempelai menginginkan tampil secantik dan setampan mungkin bukan? Dan setahu saya, make up yang dipakai juga khusus untuk fotografi agar berpendar dengan manis ketika dijatuhi pencahayaan dari mana saja.
Pencahayaan. Astaga, lighting equipment yang dinamakan softbox itu mahal. Apakah pencahayaan artifisial seperti ini perlu? Bagaimana kalau memanfaatkan cahaya alami? Masalahnya, seringkali kita tidak puas dengan cahaya alami. Membuat efek pencahayaan samping itu sulit kalau pakai cahaya alami.
Faktor kedua: Karena tren. Biasa, hukum ekonomi, dimana ada permintaan, penawaran, dan harga. Hukum kuno dari Adam Smith. Celakanya, makin banyak orang yang memanfaatkan tren ini, termasuk satpam! Cobalah bikin sesi prewedd ke suatu tempat yang bagus, maka sebentar kemudian ada satpam yang menarik pungli. Bahkan lokasi terkenal seperti Kebun Raya Bogor atau Pantai Indah Kapuk sudah menetapkan tarifnya kalau lokasinya dipakai untuk sesi foto prewedd.
Membuat Konsep Anda Sendiri

Lisa/Imam - Bekasi
Setiap pasangan tentu menginginkan foto prewedd-nya lain daripada yang lain. Tetapi biasanya, fotografer profesional sudah memiliki beberapa template konsep yang juga dipakai pasangan lain. Jadi, kenapa tidak mencoba konsep Anda sendiri?
Konsep yang perlu ditentukan pertama kali adalah tema besar. Glamor, gothic, simpel, minimalis, sederhana adalah beberapa pilihan yang bisa dipilih. Kemudian setelah itu tentukan lokasinya. Tak harus tempat-tempat yang sudah lazim. Kalau Anda berdua ketemu dan kenalan di kereta api, bagaimana kalau coba melakukan prewedd di kereta? Seru dan mengesankan to? hehe.. Lalu yang terakhir yang agak sulit adalah menentukan bagaimana ekspresi cinta kasih Anda berdua ditampilkan dalam foto. Cinta kasih tidak harus ditunjukkan dengan cara memeluk dan mencium bukan? Kalau Anda memiliki bahasa cinta sendiri yang hanya dimengerti oleh Anda berdua, tentu akan sangat menarik hasilnya.
Selamat mencoba.
Posted in Fotografi
21 Comments »
October 8, 2008
“Iya… Si X lagi jomblo. Aku tawarin aja sama si Y. Kali aja dia mau!”
“Yak amppuuun… gitu ya… yang dicariin mantan mlulu. Ini ada temen baikmu yang nggak laku-laku nggak pernah dicariin?”
“Lho, mau to sama dia?!?”
Saya terkesiap. Pertanyaan tonjokan terakhirnya itu mau tak mau mengantarkan saya kepada kenangan dua belas tahun lalu…
Anak berbadan gendut itu baru saja memulai masa depannya. Memutuskan untuk bersekolah di SLTPN 02 Tulungagung. Bukan yang paling favorit memang, tetapi inilah sekolah terfavorit yang masuk akal untuk dicapai dengan angkutan pedesaan setelah SMP 1. Maklum anak mama, belum bisa lepas benar dari pelukan kasih sayang ibu, apalagi harus tinggal di rumah kos-kosan. Jarak 20 km dari rumah ia tekadi akan ditempuh setiap hari.
Untunglah, sang kakak duduk di bangku SMA 2 Tulungagung. SMA paling elit saat itu. Jadi kalau pagi, adik bisa ikut nebeng di belakang motor kakak. Sehingga ia hanya perlu naik angdes sekali setiap hari. Tidak ada yang lebih menyebalkan daripada naik angdes warna cokelat jurusan Pakel-Bandung itu. Jarang lewat. Siklusnya 20 menit paling cepat. Sejam lebih bisa jadi kalau sopirnya lagi malas narik.
Di sebuah perempatan yang tak akan pernah dilupakannya itulah ia melihat seraut wajah. Wajah itu putih bersih. Bening seperti embun pagi yang baru saja menetes dari daun kembang melati. Sejuk dipandang. Garis-garis wajahnya seperti wajah Cina, tapi matanya lebar berbinar. Rambutnya lurus terurai jatuh hingga nyaris menyentuh pundak. Raut mukanya teduh.
Ah, tau apa anak kelas 1 SMP tentang cinta??
Tetapi entah kenapa, mulai hari itu, anak itu memandang sisi yang sama ketika lewat perempatan itu. Mata bulatnya mencari-cari setiap sudut dan sedikit bersinar ketika menemukan apa yang ia cari. Wajah Putri Salju itu. Padahal waktunya sangat sempit. Kalau kakak lewat perempatan itu di kecepatan 60 km/jam, adik hanya punya waktu tak lebih dari setengah detik untuk mencari. Sekilas saja, tapi tak mengapa.
Tau apalah anak kelas 1 SMP tentang cinta??
Hingga suatu siang sepulang sekolah, angdes yang ia tumpangi ngetem di pemberhentiannya yang kedua setelah terminal Tulungagung. Perempatan Jethakan. Tepat saat anak-anak SLTPN 01 Kauman pulang sekolah. Anak itu tiba-tiba merasa hatinya berdegup tak teratur, berdesir-desir waktu menyadari Putri Saljunya naik angdes itu pula.
“Tumben, biasanya ia naik sepeda atau dibonceng temennya, ” pikirnya…
Itulah kali pertama ia duduk di posisi terdekatnya. Sejurus kemudian, putri salju turun. Ia amati hingga sang putri menghilang di balik pintu hijau rumah di seberang perempatan tempat ia kalau pagi mencari-carinya. Apakah rumahnya di situ? Entahlah.
Selama tiga tahun berikutnya, bisa dihitung jari ia bisa beruntung satu angdes dengannya. Mungkin tak lebih dari lima. Tapi di antara lima itu, sang putri sempat tersenyum menyapa. Senyum yang siapa sangka akan tetap diingatnya hingga tahun-tahun berikutnya?
Saya tersenyum mengingat saat itu. Ya, siapa sangka? Bagian potongan kecil masa lalu. Masa kanak-kanak pra-remaja yang mulai mengenal getar-getar cinta. Saya tersenyum menerima pertanyaan kawan baik yang baru saja meminta saya untuk memotret di acara walimatul ursy-nya kelak. Saya membalasnya dengan jawaban setengah bercanda.
Biarlah waktu yang menjawabnya, kata saya dalam hati. Kalau memang jodoh, Insya Allah cerita itu akan berlanjut seperti potongan-potongan mozaik yang tersusun kembali tanpa cela. Kalaulah tidak, biarlah itu akan jadi kenangan kecil di masa lalu, yang akan menemani kita dalam meniti waktu.
“Assalamu’alaikum…” saya minta diri dan segera menggeber Honda Supra tahun 2000 itu.
“Wa’alaikumsalam.” lamat-lamat saya masih bisa mendengar suaranya di sela jilbab lebarnya yang mengayun ditiup angin sawah dengan lembut.
PS: Salamku untukmu wahai sahabatku (yang kutahu sering membaca celotehanku di sini). Mohon maaf untuk potongan dialog yang tanpa izin kupublish di sini, hehehehe….
Posted in Catatan Harian, Melankolis
23 Comments »