Tips Memotret untuk Pemula

Maafkan saya kalau sok ahli dalam urusan memotret sehingga memilih judul yang lancang ini. Saya juga pemula. Beginner. Belajaran. Amatiran, bukan profesional.

Jepret, Jepret, dan Jepret


Masjid Al-Akbar Surabaya – Canon Powershot A400

Pertanyaannya adalah ketika Anda mendapatkan kamera digital pertama dan menyukainya. Apa yang perlu dilakukan untuk mengasah kemampuan fotografi? Bart Pagoda di Flickr Blog mengatakan, bagi mereka yang baru saja memiliki kamera, ambil foto SEBANYAK-BANYAKNYA. Tak peduli apa saja yang ada di depan Anda, potretlah. Set kamera di mode auto, dan mulailah keluyuran ke sana ke mari. Kita ada di era digital. Storage bukanlah masalah, demikian pula biaya untuk cuci dan cetak film.

Apa tujuannya? Pertama adalah untuk mengenal karakter kamera Anda. Setiap kamera memiliki karakter yang berbeda bahkan untuk jenis yang sama.

Kedua adalah untuk melatih teknik komposisi. Apa itu komposisi? Begini, pada dasarnya memotret tidak ada bedanya dengan melukis. Bedanya, memotret adalah melukis dengan cahaya. Merekam apa yang ada di hadapan kita untuk disimpan dalam frame kamera. Komposisi adalah bagaimana kita meletakkan setiap objek-objek yang ada di depan kita dalam kotak frame foto. Dimana letak orang sebaiknya? Dimana letak bunga? Seperti itulah…

Komposisi tentu saja terserah Anda. Fotografi adalah seni, bukan matematika. Memang ada sih teknik komposisi klasik yang selalu diajarkan kelas-kelas fotografi. Teknik klasik itu bernama the rule of the third. Prinsipnya adalah membagi area foto menjadi tiga bagian. Foreground adalah daerah bagian depan, Point of Interest (POI) adalah objek yang menjadi titik cerita, dan Background adalah daerah yang ada di bagian belakang POI. The rule of the third juga membagi kotak frame menjadi tiga bagian. Kiri, tengah, dan kanan. Atas, tengah, dan kanan. Nah, kunci sakti dari teori ini adalah: tempatkanlah POI pada garis perpotongan tiga bagian itu. Kapan-kapan saya akan menjelaskan lebih detail teknik komposisi ini. Tapi pada dasarnya, komposisi adalah bebas sesuka hati fotografer.

Bagaimana dengan settingan kamera? Berapa setting untuk landscape, portrait, night view, atau sunrise? Saya bisa jawab, tidak ada settingan baku, semuanya tergantung kondisi di lapangan waktu kita memotret. Jangan dipusingkan oleh kombinasi Apperture, Shutter Speed, dan ISO. Sudahlah, set dulu di Auto. Jepret sebanyak-banyaknya.

Eksplorasi Objek, Sudut yang Berbeda


Pantai Kenjeran, Surabaya – Canon Powershot A400

Kalau Anda sudah cukup mengenal kamera Anda, saatnya melangkah ke step selanjutnya. Eksplorasi Objek. Set kamera di mode manual (M), apperture priority (A/Av), atau shutter priority (S/Tv). Saya pernah membaca, untuk melatih pengeksplorasian objek, bisa dilakukan dengan cara memotreti benda-benda yang ada di kamar Anda. Syaratnya, tiap hari benda yang sama itu harus berbeda sudut dari kemarin dan begitu seterusnya.

Urusan bagus atau tidak bagus itu urusan personal. Sekali lagi, foto itu bukan matematika. Karena itulah bagi saya foto itu tidak bisa dilombakan mana yang terbaik mana yang terjelek. Tidak. Karena rasa seni itu subjektif. Foto itu urusan hati fotografernya. Kalau ia puas dengan foto yang kata orang jelek, itulah foto yang bagus.

Salam jepret!

Published by

Galih Satria

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

47 thoughts on “Tips Memotret untuk Pemula”

  1. koreksi, kiri tengah kanan, atas tengah kanan, bawahnya mana lih? hehehe…

    btw tipsnya maknyus, tentang komposisi bolehlah suatu saat ditulis aturan-aturan yg ada pada the rule of the third. dengan ringkas dan sederhana sehingga para amatir seperti saya berasa masuk kelas fotografi. wahaha..

    memang fotografi adalah bagian dari seni, seni yg amat subjektif. baik dan bagusnya foto tergantung dari sudut pandang si pemotret dan berbeda dengan penikmat.. karena indah dan baik itu relatif dan amatlah subyektif.

    sama halnya dengan pornografi pada karya seni foto ini. amat absurd dan relatif sekali, disini dari banyak sudut pandang mereka akhirnya harus bersefaham agar tidak ada masalah berikutnya. nah sekarang menurut mas galih bgmn?

  2. sebenarnya kemampuan dan kepekaan itu bisa diasah. tapi jangan terlalu terpaku oleh petunjuk2 para master. temukan cara sendiri biar hasilnya lebih yahud..

    [pemula banget, bajet D80 dialihkan ke VAIO]

  3. #dnial:
    Tidak boleh. Beli sendiri. Malu-maluin Medco Energi aja kalo nggak kuat beli kamera digital :P

    #Anang:
    Tentang pornografi, saya memilih untuk tidak berpendapat. Sudah terlalu banyak orang angkat bicara.

    #Fenty:
    S2 IS dong ;))

    #mae:
    sama-sama mbak mae

    #ryht:
    belom :D

    #fahmi!:
    teach me! teach me!

    #det:
    Untuk menemukan cara sendiri itu kita memerlukan petunjuk dari para master :) Setiap orang selalu menjalani fase pemula dan belajar dari guru.

    #fifiani:
    kalau bahasa kerennya sih: the man behind the gun, eh, kalau buat fifi jadinya the girl behind the gun ;))

  4. #rika:
    Seharusnya lebih bagus A470 karena A470 adalah generasi penerus A400. A400 itu sudah jadul banget he he he

    #ndop:
    nah, berarti level mas ndop itu sudah makrifat, sudah jauh lebih hebat daripada saya yang masih dalam tataran syariat. Masih setting setting, masih baca aturan-aturan.

  5. #fifiani:
    Nggak punya.
    Lomo itu sebenarnya nama merk kamera buatan Rusia. Tapi kamera ini unik karena menghasilkan gambar yang aneh-aneh, beda dengan kamera biasa. Bisa jadi warna normal menjadi merah kuning hijau. Dan tiap-tiap lomo hasilnya berbeda-beda. Keanehan ini membuat satu genre lagi dalam fotografi yaitu Lomografi.

  6. Lih, mau donk diajarin prakteknya. Kameraku Casio tipenya lupa wekekeke
    Eh kalo aku minta tolong dipotoin bwt prewed/postwed boleh ya? ;)

    Komentarnya Dnial mesti gak bondo!!

  7. Salam kenal mas galih …. Terus terang saya banyak dapat inspirasi dari tulisan2 di blog mas galih ini, terutama karena saya juga pake D40.
    Sukses selalu buat mas galih …. dalam semua hal !
    GBU

  8. whehe… ini nih yang namanya guru :)
    * hormat pada guru

    hanya membuatnya menjadi lebih sederhana “set it automatic and shoot till you finger bleeding” :D *mengutip kata temen sebelah

    @ dnial : iyo …. gak bondo, wkakaka

  9. Mas..saya pemula bangets n sudah beli Canon EOS 1000 lensa nya canon 75-300 dan wide tamron 17-50.
    Saban hari jeprat jepret tapi koq gitu2 aja ya….pertanyaan ku, bagi donk teknik jeprat jepret nya…cahaya spt apa diperlukan apperture berapa n iso berapa dll, aku masih belon engeh neh…
    kalo ada down load dimana ya cara belajar tsb….
    makasih yaaa….salam sukses

  10. Salam jepret juga,,,,,
    saya punya SONY @200 / dapat kado dari om, th juga mash pake lensa yang standard bawa_an’x.sebener’x law boleh milih saya pengn punya yg pake merek cannon / nikkon yah kata temn yang ikut paguyuban mah merek itu yang biasa dipake….

    dan saya selalu merasa jenuh n’ merasa kurang puas law lagi ng’frame object.
    maklum biasa niru2 hasil jepretan orang2….
    kasih masukan dung biar saya merasa puas dengan alat seadanya…….

  11. Camera Digital saya adalah Canon G 11, sewaktu saya beli di Jakarta Panduannya tidak ada Bahasa Inggeris atau Bahasa Indonesia yang ada hanya tulisan Jepang atau mungkin tulisan Cina, tolong rekan rekan bagaimana Panduan Penggunaannya.

  12. newbie nih mas, saya pake eos 1000D..buat foto outdoor, dlm cuaca cerah ato mendung settingannya gmn yaa..lensa msh bawaan 18″-55″ ama sigma 4 canon 70′-300′..(itupun hadiah ultah)
    trus gmn supaya image yg lg bergerak, ngga terlihat blur..gmn cara setting ISnya..??
    klo mlm pengennya manual tp suka goyang gbrnya..klo pk tripod ga bebas..

    msh bnyk pertanyaan lainnya..tp cukup sekian dl..
    aq berharap dibalas loh via email..thank uuuu….;)

  13. Sarannya saya masukkan dalam kantong, dan diingat!
    Saya baru belajar menggunakan kamera digital pertama saya, Kodak C190. Akan saya explore lebih jauh.
    Kasi saran juga di blog saya ya mas tentang jepretan saya.
    Matur Suksma
    (youknowyuwono.blogspot.com)

  14. misi ka,.
    tolong d perjelas mengenai the rule of the third kalo bisa d kasi contahnya,.yg mana yg foreground dst.,
    terus apakah teknik tersebut bisa d gunakan untuk semua jenis kamera termasuk kamera low fi/lomo?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>