Review: Bismillah, Ini Tentang Cinta

Date October 4, 2008

Judul Buku: Bismillah, Ini Tentang Cinta
Penulis: Ali Imron El Shirazy
Penerbit: Mutiara Media
Jenis: Novel Teenlite Islami

Semua ini berawal dari cinta, dan disebabkan oleh cinta. Maka aku pun juga akah menyelesaikannya dengan cinta…

Novel ini mengambil setting tempat di Semarang, mengambil potret kehidupan seorang anak SMA bernama Haydar Ali Said sebagai tokoh utama. Ia seorang remaja dari keluarga kelas menengah, agak urakan, drummer band yang paling populer di sekolah, anak basket, dan aktivis OSIS, serta memiliki kedekatan dengan agama yang dipeluknya: Islam. Kalau dicermati, sebenarnya inilah sebenarnya segala kesempurnaan profil seorang idola SMA.

Jalinan konflik yang disampaikan tidak jauh-jauh melenceng dari kebanyakan cerita cinta chicklite/teenlite. Adalah gadis bernama Lexa yang menjadi sahabat dekat Haydar. Diam-diam, ia jatuh cinta pada Haydar. Namun ternyata, Haydar jatuh cinta pada seorang gadis bernama Salma. Ia mulai tertarik tatkala tak sengaja mendengarkan lantunan ayat Al-Qur’an yang keluar dari suara merdunya. Dari sinilah konflik terbentuk dan mewarnai jalannya cerita.

Meskipun dasar ceritanya tidak baru, namun cara tokoh-tokoh cerita dalam menyikapi badai cinta yang melanda mereka benar-benar baru. Penulis mencoba memperkenalkan konsep baru dalam menghadapi badai cinta tanpa harus terjebak dalam pacaran. Cinta adalah pengorbanan tanpa kenal tanpa pamrih untuk selalu ada disamping orang yang terkasih ketika ia membutuhkan. Walaupun di sini kesannya adalah merahasiakan perasaannya kepada sang kekasih, tanpa mempedulikan apakah sang kekasih memiliki perasaan yang sama, tetapi coba simaklah pernyataan Haydar yang sangat menarik untuk direnungkan,

Kekuatan cinta amatlah besar. Ia bisa membangkitkan semangat hidup seseorang. Akan tetapi ia juga bisa secepat kilat menghancurkan sebuah ikatan persahabatan yang telah terbentuk dengan sangat kuat. Cinta akan datang kepadamu dengan sejuta wajah. Tidak hanya wajah yang berseri-seri, tetapi juga wajah yang redup, seredup bulan tua yang tertutup mendung. Aku akan lebih bijak menyikapi cinta … Adalah benar bagi seorang muslim untuk tidak menyikapi cinta yang belum saatnya …

Aku jadi kasihan dengan cinta. Ia semakin lama semakin hitam dan menanggung malu atas setiap hal buruk yang mengatasnamakan dirinya. Itulah mengapa bagiku cinta seharusnya adalah sebuah pernikahan …

Ketika saya memulai membaca novel ini, saya merasa ada kemiripan dengan novel-novel Habiburrahman El Shirazy, penulis Ayat-Ayat Cinta dan Ketika Cinta Bertasbih. Penyajian konflik, penokohan, cara penggambaran suasana dan tempat sangat mirip — bahkan sama — dengan gaya Kang Abik. Di pengantarnya, penulis memang mengakui kalau ada kemiripan dengan novel AAC pada bagian plotting. Tapi bagi saya, segala-galanya mirip. Saya tidak menemukan suatu hal yang agak unik yang membuat saya bisa berkata, “Oh, ini novelnya Ali Imron, bukan novelnya Kang Abik.” Mungkin, penulis perlu membuat identitas uniknya sendiri supaya tidak berkembang dalam bayang-bayang nama besar Habiburrahman El Shirazy.

Dalam prolognya, Dwi Anggara Asianti, seorang pemerhati sastra dari UNS, mengkritik bahwa tidak seharusnya Haydar dan Firman yang memiliki kedekatan dengan Allah bersikap tidak jujur di hadapan Salma. Haydar harus menyamar sebagai tukang becak untuk melindungi Salma, sedangkan Firman berbohong ketika Valentine untuk mendapatkan simpati Salma. Tetapi bagi saya, hal ini justru menjadi kekuatan novel ini. Ini realistis, mengingat mereka yang masih remaja berumur belasan tahun. Sehebat apapun pemahaman mereka tentang Agama, saya kira gejolak remaja mereka masih sulit dikendalikan. No body’s perfect. Malah saya kira, hal ini justru menjadi keunggulan tokoh Haydar jika dibandingkan dengan Fahri di Ayat-Ayat Cinta yang terlalu sempurna.

Terakhir sebagai penutup review ini, saya berandai-andai… Andai saja sinetron remaja kita lebih banyak diwarnai oleh cerita yang mendidik semacam ini. Remaja-remaja diperkenalkan kepada konsep yang baik tentang bagaimana sebuah pergaulan masa SMA. Bagaimana sebuah jalinan kasih sayang dan gejolak cinta tidak perlu disikapi dengan pacaran. Atau setidaknya, mereka memiliki alternatif gaya pergaulan selain pacaran. Pasti keadaaan remaja Indonesia menjadi jauh lebih baik daripada sekarang…

9 Responses to “Review: Bismillah, Ini Tentang Cinta”

  1. andy said:

    bagus, pengen kita seeprti itu, tapi kebanyakan produser sineton sudah terlanjur suka dengan tema2 cinta pergaulan sekarang, tapi jarang juga yang bisa buat sinetron, nyari karakternya kayaknya susah, kalo ala jaman sekarang kan gampang kayaknya..he..he..

  2. Nike said:

    Skrinsut cover ga ada Lih?
    Eh, apa hubungannya nih pengarang sama Kang Abik? :)

    *tumben Galih ada novel kayak gini sebelom saya :D*

  3. aRuL said:

    wah rekomendasi bagus nih diangkat jadi sinetron atau film…
    btw kayaknya sampean sudah pantas melangkah ke jenjang cinta seharusnya (seperti haydar bilang)

  4. ryht said:

    … Andai saja sinetron remaja kita lebih banyak diwarnai oleh cerita yang mendidik semacam ini. Remaja-remaja diperkenalkan kepada konsep yang baik tentang bagaimana sebuah pergaulan masa SMA. Bagaimana sebuah jalinan kasih sayang dan gejolak cinta tidak perlu disikapi dengan pacaran. …

    Weleh… Jadi pemerhati remaja ya kang?

    Emang kalo pengalaman pribadi gimana?
    Apakah ini hanya sebagai pengalih perhatian bahwa Anda selama ini hanya bisa sebagai ‘pemuja rahasia’?
    ;-)

    * Kalo malu mengungkapkan via japri juga boleh :-D

  5. Fenty said:

    Kalau disinetronkan sih mungkin aja, tapi berhubung sinetron Indonesia … jadi pasti ada sesuatu yang dilebih-lebihkan deh, Lih …
    Eh setuju tuh kata Arul, ayooo cari pendamping hidup … :-P … Cayooo …

  6. septy said:

    hemmm….jadi penasaran nie… thanks infonya :)

  7. det said:

    dan kalo gak simulai dari sekarang, maka generasi yang akan datang lebih bejat lagi dari yang sekarang ini..

    ibda’ binafsik ;)

  8. Masenchipz said:

    klo ngemengin cinta2an emang selalu seru… bahkan temen gw ada yg abis baca2 beberapa buku2 tentang cinta (menurut agama) eh..eh… beberapa bulan nikah langsung… wooow…. dahsyat juga ya…. he..he…

  9. gita said:

    knp gejolak cinta harus disikapi dengan pacaran ? dan knp pcaran itu menjadi sangat penting dalam membina hubungan ? bagaimana jika tidak usah pacaran aja ? hehe

    lagi nyasar neh, ga tau ni dmn, lam kenal dari gita anak tulungagung juga.

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>