Entries from October 2008
October 29, 2008
Saya pikir, tidak seharusnya dulu para blogger begitu mencela Roy Suryo dengan kutipannya yang terkenal, “Blog adalah tren Sesaat”. Saya masih ingat RS berkata kurang lebih, “Seperti email dan instant messenger, blog akan menjadi tren sesaat yang akan digantikan oleh media komunikasi lain.” Saya rasa karena kecemburuan para blogger terhadap RS karena sedemikian populer dan dipercaya di mata media, blogger bertubi-tubi menyerang dan mencela RS sehingga RS pun balik begitu membenci blogger.
Hanya setahun setelah perhelatan akbar Pesta Blogger 2007, saya berpendapat era blog telah berakhir. Pertama kali tentu adalah matinya Priyadi.net. Siapa sangka blog yang sering disebut-sebut sebagai bapak blog itu bisa mati? Berikutnya adalah matinya agregator terpopuler kedua setelah Planet Terasi: Merdeka.or.id. Siapa sangka agregator yang tengah membuka open submission-nya yang kesekian kali itu juga ikutan mati?
Memang arus pembuatan blog baru semakin banyak. Saat ini nyaris setiap pengguna internet memiliki blog. Fitur baru Wordpress yang berbahasa Indonesia, launching dua media blogging lokal yang hampir bersamaan, Dagdigdug dan Blogdetik, menunjukkan antusiasme yang luar biasa terhadap blog. Tetapi nyatanya, jumlah feed yang terupdate secara periodik di Google Reader saya semakin sedikit. Feed yang saya subscribe hanya bertahan selama sebulan dua bulan saja rajin diupdate oleh pemiliknya.
Secara komunitas, blog memang semakin berkembang. Dimana-mana kini ada komunitas blogger. Beberapa diantaranya sangat aktif melakukan kegiatan. Tetapi di sisi konten anggotanya, inilah, gejala-gejala matinya blog — atau saya terlalu berlebihan — gejala lewatnya era blogging telah terlihat. Bahkan untuk memposting kenarsisan mereka sendiri (katakanlah belanja baju baru, nonton film, atau habis dibelikan mobil baru oleh bokap), itu pun sudah malas.
Sekarang eranya microblogging. Berburu karma. Mengapa media yang seharusnya tidak langsung head to head dengan blogging ini ikut mematikan blog? Karena menulis blog itu berat. Harus ada ide dan lalu proses kompilasi ide menjadi beberapa paragraf tulisan. Itu perlu waktu dan perhatian yang tidak sedikit. Apalagi jika harus menulisnya secara periodik dan terus menerus. Saya sendiri pernah mengalami itu. Oleh karena kehabisan ide, saya belokkan topik mayor ke dunia fotografi. Enak, tinggal upload foto, cuap-cuap sedikit, jadi satu postingan. He he he…
Bandingkan dengan microblogging di Twitter atau Plurk. Hanya satu kalimat dua kalimat. “Hai, aku sedang di WC nih!” Tidak sulit. Tidak perlu ide dan waktu. Apalagi plurk ada reward berupa karma yang jika semakin naiknya, ada hadiah-hadiah tertentu seperti emoticon yang menarik. Ada kawan saya yang mengeluh karena sulit untuk memulai blogging, sekarang sangat aktif di Plurk. Alasannya persis seperti yang saya tulis di awal paragraf ini.
Jadi, masih perlukah Pesta Blogger 2008? Awalnya saya tidak ingin hadir seperti tahun lalu. Siapalah saya. Biar ajang itu menjadi pesta para selebritis blog yang telah membentuk komunitas eksklusifnya sendiri itu. Tapi melihat gejala kematian dan lewatnya euforia blog, saya jadi ingin hadir. Tiba-tiba termotivasi oleh tulisan bapak ini. Siapa tahu, ini adalah pesta blogger yang terakhir? He he he, sampai jumpa di auditorium BPPT! 
Posted in Opini saja kok
21 Comments »
October 28, 2008

FLICKR
Lokasi: Puncak Gunung Gede
Self Portrait - Juru kamera: entah, lupa
Saya akan merindukan Puncak Gunung Gede ini. Saya tak tahu apakah masih kuat naik kesana kalau diajak lagi. Rasanya, kedua tungkai ini ketahanannya menurun sepulang dari Gede. Kapan yah bisa sesantai orang di foto itu… Ingin rasanya berlibur sejenak tanpa harus dibebani oleh deadline dan tanggung jawab yang menunggu di Jakarta…
* Liburan lebaran kemarin saya tetap tak bisa santai. Harus bekerja dari rumah 
Posted in Fotografi, Intermezzzo
12 Comments »
October 27, 2008
Fotografi prei dulu. Ini panggilan jiwa saya yang notabene ada di ilmu Computer Science. Ceileh… 
Search engine, dalam disiplin ilmu komputer (Computer Science), masuk dalam kategori information retrieval. Ini adalah ilmu untuk mendapatkan informasi yang diperlukan dengan cepat di dalam bank data yang sangat besar. Ibaratnya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami. Batasan hasil yang didapatkan haruslah: cepat dan tepat. Seperti sebuah buku teks setebal 1000 halaman yang selalu memiliki indeks di bagian akhir halaman sangat membantu untuk mencari sebuah topik spesifik di dalam buku tersebut.
Pembuatan Indeks
Fase pertama dalam information retrieval adalah pembuatan indeks. Indeks, seperti namanya, adalah sebuah kumpulan kata-kata kunci yang disusun sedemikian rupa yang mudah dicari. Bayangkan kalau setumpuk tebal data tidak memiliki indeks. Pencarian informasi akan memakan waktu yang sangat lama karena setiap data harus dilihat satu per satu. Dengan adanya indeks, pencarian akan jauh lebih cepat karena setiap indeks langsung merujuk pada asal sumber.
Ada banyak macam algoritma yang digunakan untuk menyusun indeks dalam sebuah information retrieval. Salah satu contohnya adalah Stop Words untuk text retrieval. Atau jika merujuk Tugas Akhir saya ketika mendapatkan gelar S1, saya menggunakan algoritma histogram parameter fraktal sebuah citra (Lihat kategori Tugas Akhir-ku). Yap, riset saya waktu itu bukan pada ruang lingkup text retrieval, tetapi image retrieval. Pencarian gambar menggunakan gambar contoh. Gambar yang paling mirip dengan gambar contoh dikeluarkan. Kedengaran cerdas bukan? 
Apa itu Stop Words? Google, dalam bagian kecil sistem search engine-nya yang kompleks menggunakan algoritma Stop Words. Algoritma ini menganalisis suatu data teks, menyingkirkan kata-kata yang dianggap tidak penting dan menyisakan kata-kata penting untuk dijadikan indeks. Kata-kata tidak penting ini adalah kata-kata yang paling sering muncul dalam suatu tulisan. Contohnya seperti “di”, “ke”, “dari”, “yang”, “satu”, “dua”, dan seterusnya. Daftar kata-kata yang tidak penting inilah yang dinamakan Stop Words.
Pencarian Data dan Peringkat
Proses selanjutnya tentu saja adalah pencarian informasi terhadap sekian besar data. Karena telah dibuatkan indeks, maka sistem akan melakukan analisis terhadap indeks. Mencari kata-kata yang sesuai dengan apa yang dicari pengguna. Kemudian setiap data yang memiliki indeks yang sesuai ditampilkan kepada pengguna. Tampilan itu lengkap dengan rujukan ke tempat data aslinya untuk memudahkan jika pengguna ingin menampilkan data tersebut secara utuh.
Bagaimana urutan penampilannya? Sistem search engine wajib memiliki fasilitas pengurutan berdasarkan relevansinya. Data yang paling relevan dengan apa yang dicari harus ditampilkan di paling atas. Kemudian berturut-turut ditampilkan secara peringkat dari yang paling relevan hingga yang paling melenceng dari yang dicari.
Algoritma relevansi sendiri bisa sangat rumit. Yang paling sederhana adalah menghitung jumlah kemunculan indeks terhadap kata kunci pencarian. Semakin banyak sebuah indeks data mengandung kata kunci pencarian, semakin relevan dia.
Google memiliki algoritma relevansi yang sangat kompleks bernama Google Page Rank. Banyak faktor yang dipertimbangkan Google agar sebuah halaman muncul dalam halaman pertama pencarian, seperti misalnya jumlah link, kesesuaian dengan kata kunci, kesesuaian isi, dan masih banyak lagi bahkan termasuk kelakuan pengguna. Anda dan saya, meskipun mencari dengan kata kunci yang sama — katakanlah “gadis berjilbab” — akan mendapatkan hasil yang berbeda, tergantung kebiasaan kita dalam melakukan pencarian.
Saya sendiri dalam Tugas Akhir S1 saya menghitung relevansi ini dengan algoritma pengukuran jarak. Bukan hanya jarak tempuh saja yang memiliki perhitungan matematis, tetapi juga jarak kemiripan. Ada jarak kartesian (cartesian distance) dan jarak manhattan (manhattan distance). Keduanya memiliki rumus matematika yang cukup membuat kepala pusing ketika coba dituliskan dalam kode program.
Implementasi Pustaka
Secara praktis, implementasi algoritma information retrieval sudah banyak dikembangkan. Spesifik untuk text retrieval, Apache Lucene adalah pustaka (library) yang secara praktis menyediakan fasilitas untuk membuat sistem information retrieval berbasis teks. Disini telah disediakan berbagai Analyzer untuk mengolah tumpukan data menjadi indeks. Salah satunya adalah algoritma Stop Words yang sederhana. Hanya diperlukan daftar Stop Words dalam bahasa tertentu dan dimasukkan dalam Lucene, sebuah sistem information retrieval yang cukup canggih sudah bisa dibuat. Terima kasih Lucene!
Posted in Developer
10 Comments »
October 24, 2008
Maafkan saya kalau sok ahli dalam urusan memotret sehingga memilih judul yang lancang ini. Saya juga pemula. Beginner. Belajaran. Amatiran, bukan profesional.
Jepret, Jepret, dan Jepret

Masjid Al-Akbar Surabaya - Canon Powershot A400
Pertanyaannya adalah ketika Anda mendapatkan kamera digital pertama dan menyukainya. Apa yang perlu dilakukan untuk mengasah kemampuan fotografi? Bart Pagoda di Flickr Blog mengatakan, bagi mereka yang baru saja memiliki kamera, ambil foto SEBANYAK-BANYAKNYA. Tak peduli apa saja yang ada di depan Anda, potretlah. Set kamera di mode auto, dan mulailah keluyuran ke sana ke mari. Kita ada di era digital. Storage bukanlah masalah, demikian pula biaya untuk cuci dan cetak film.
Apa tujuannya? Pertama adalah untuk mengenal karakter kamera Anda. Setiap kamera memiliki karakter yang berbeda bahkan untuk jenis yang sama.
Kedua adalah untuk melatih teknik komposisi. Apa itu komposisi? Begini, pada dasarnya memotret tidak ada bedanya dengan melukis. Bedanya, memotret adalah melukis dengan cahaya. Merekam apa yang ada di hadapan kita untuk disimpan dalam frame kamera. Komposisi adalah bagaimana kita meletakkan setiap objek-objek yang ada di depan kita dalam kotak frame foto. Dimana letak orang sebaiknya? Dimana letak bunga? Seperti itulah…
Komposisi tentu saja terserah Anda. Fotografi adalah seni, bukan matematika. Memang ada sih teknik komposisi klasik yang selalu diajarkan kelas-kelas fotografi. Teknik klasik itu bernama the rule of the third. Prinsipnya adalah membagi area foto menjadi tiga bagian. Foreground adalah daerah bagian depan, Point of Interest (POI) adalah objek yang menjadi titik cerita, dan Background adalah daerah yang ada di bagian belakang POI. The rule of the third juga membagi kotak frame menjadi tiga bagian. Kiri, tengah, dan kanan. Atas, tengah, dan kanan. Nah, kunci sakti dari teori ini adalah: tempatkanlah POI pada garis perpotongan tiga bagian itu. Kapan-kapan saya akan menjelaskan lebih detail teknik komposisi ini. Tapi pada dasarnya, komposisi adalah bebas sesuka hati fotografer.
Bagaimana dengan settingan kamera? Berapa setting untuk landscape, portrait, night view, atau sunrise? Saya bisa jawab, tidak ada settingan baku, semuanya tergantung kondisi di lapangan waktu kita memotret. Jangan dipusingkan oleh kombinasi Apperture, Shutter Speed, dan ISO. Sudahlah, set dulu di Auto. Jepret sebanyak-banyaknya.
Eksplorasi Objek, Sudut yang Berbeda

Pantai Kenjeran, Surabaya - Canon Powershot A400
Kalau Anda sudah cukup mengenal kamera Anda, saatnya melangkah ke step selanjutnya. Eksplorasi Objek. Set kamera di mode manual (M), apperture priority (A/Av), atau shutter priority (S/Tv). Saya pernah membaca, untuk melatih pengeksplorasian objek, bisa dilakukan dengan cara memotreti benda-benda yang ada di kamar Anda. Syaratnya, tiap hari benda yang sama itu harus berbeda sudut dari kemarin dan begitu seterusnya.
Urusan bagus atau tidak bagus itu urusan personal. Sekali lagi, foto itu bukan matematika. Karena itulah bagi saya foto itu tidak bisa dilombakan mana yang terbaik mana yang terjelek. Tidak. Karena rasa seni itu subjektif. Foto itu urusan hati fotografernya. Kalau ia puas dengan foto yang kata orang jelek, itulah foto yang bagus.
Salam jepret!
Posted in Fotografi
27 Comments »
October 20, 2008

FLICKR
Lokasi: Tepi Jembatan Lembu Peteng, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | 1/1000 s | F/5.6
Yes! Akhirnya sampai waktunya buat upload foto-foto dari kampung halaman Tulungagung, Jawa Timur. Hehehe…
Suatu siang yang cukup terik, saya menyusuri tanggul sebelah barat kali Lembu Peteng dari arah selatan dan tertarik pada bunga ungu bermekaran dari tumbuhan Ganggang yang tumbuh subur di tepi sungai ini. Musim kemarau memang sedang meranggas. Bukan bunga Lotus yang saya temukan, tapi Ganggang.
Ketika saya sampai persis di seberang studio Radio Kembang Sore FM yang ada di sisi timur sungai, saya melihat beberapa bapak-bapak sedang asyik kungkum (Jawa: berendam) sambil mengepulkan asap rokoknya. Senjatanya adalah galah bambu panjang dan semacam jaring untuk wadah di sisinya. Saya tak tahu mereka mencari apa, mungkin cacing. Apapun yang mereka cari, saya telah siap dengan kamera tersambung lensa tele dari atas tanggul.
Saya tersenyum puas. Selamat bekerja, Sang Pemburu Ganggang… (saya namakan saja begitu biar lebih dramatis kesannya ^_^)
Posted in Human Interest
15 Comments »