Hantu Nonik Belanda?

Posted by: on Sep 17, 2008 | 22 Comments

FLICKR
Lokasi: Museum Prasasti Sejarah, Jakarta
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Tiba-tiba bayangan tinggi semampai berambut pirang itu berkelebat di sudut mata saya. Hari itu meskipun siang, suasana kuburan Belanda itu terasa begitu muram dan suram. Mendung memang sedang menggelayuti langit Tanah Abang I No. 1. Fenomena yang aneh karena tempat ini terasa begitu terpencil dan menyendiri di tengah-tengah hiruk pikuk kawasan Tanah Abang.

Hmm… rasanya kontras sekali dengan si nonik pirang yang tampil segar dan anggun itu. Sambil setengah melamun ia berjalan pelan-pelan melintasi patok-patok prasasti makam meneer-meneer Belanda di zaman keemasan Batavia yang rata-rata berbatu pualam halus bertanda tahun 1700-an. Melangkah bak putri Solo yang mengantuk. Mau kemanakah dia? Siapakah dia gerangan? Kenapa ada wanita pirang secantik dia di tempat yang begitu suram ini?

Puncak Acara Toyota Kijang Blog Writing Competition

Posted by: on Sep 14, 2008 | 31 Comments

Saya diundang oleh Mas Tuhu untuk menghadiri acara puncak Kijang Blog Writing Competition yang diadakan oleh Toyota seiring dengan peluncuran New Kijang dan Fortuner mereka di Pondok Indah Mall 2. Ternyata postingan saya tentang Jalan-Jalan Lebak Banten: Pantai Malingping menjadi finalis untuk memperebutkan hadiah utama ke Disney Land Hongkong. Ah, betapa senangnyah…

Undangan ini sejatinya untuk seluruh anggota keluarga. Lha terus gimana dengan saya yang belum berkeluarga? Kemudian saya ingat kalau saya masih punya utang kopdar dengan Nilla, jadi dia saya ajak ikut serta. Untungnya gadis ceking tinggi kurus ini mau. Ketemuan di Plaza Senayan, lalu naik taksi ke PIM 2.

Pengumuman Finalis

Ada enam finalis yang dipilih juri. Salah satunya postingan saya itu. Masing-masing finalis diperkenalkan pembawa acara satu per satu. Saya kira MC-nya agak berlebihan waktu memperkenalkan saya. Saya dianggap seniman dan fotografer. Halah, ada-ada saja. Celakanya waktu itu saya tak bisa mengelak dari sebutan itu karena saya sudah pegang kamera dan jeprat jepret ke sana ke mari.

Nah, betapa senangnya saya waktu juara diumumkan. Tulisan saya juara kedua! Ayah, bunda, anak manjamu dapat HP baru… hahaha… ) Saya dapat hadiah Nokia N95 seri GPS-built-in. Smartphone yang tak mungkin saya beli karena saya selalu agak sinis dengan pengguna-pengguna ponsel mahal. Alhamdulillah, berkah Ramadhan (kata Nike).

Kebetulan, saya memang sudah merencanakan untuk beli ponsel yang mendukung koneksi HSDPA karena koneksi GPRS yang sekarang tak masuk akal lagi untuk digunakan. Saya sudah mulai mereview beberapa ponsel Sony Ericsson dan Nokia yang mendukung HSDPA. Ah, berarti THR tahun ini bisa ditabung. What about new lens, Lih? ;;) Nope, enough for spending more money in photography!

Selebritis

Sejak awal ikut lomba ini, saya sudah penasaran ingin melihat secara langsung para selebritis blog yang mewarnai blogosphere Indonesia. Yang pertama siapa lagi kalau bukan begawan blog Indonesia: Paman Tyo!

Ah, ternyata itu to Paman Tyo. Sudah lama saya terkesan dengan gaya bahasanya dalam merangkai kata-kata yang santun, renyah, dan runtut sejak di Majalah KomputerAktif. Saya banyak belajar bagaimana menulis dengan baik dari beliau. Salah satunya adalah perubahan kecil di blog ini dalam menyebut diri sendiri. Dari kata “aku” berubah menjadi “saya”. Saya juga yakin sedikit banyak gaya penceritaan saya terpengaruh oleh Paman Tyo meskipun masih jaaaauuuuh di bawah. Mungkin seperti Koes Plus yang terpengaruh The Beatles, Rhoma Irama dengan Queen, atau seperti musisi-musisi tahun 80-an yang terpengaruh Jimmi Hendrix dan Genesis.

Di sana saya lihat juga ada banyak selebritis blog lain seperti bos Virtual Consulting, Pak Nukman Luthfie. Kalau lihat dari email Mas Tuhu yang virtual.co.id, sepertinya VC menjadi EO acara ini. Ada juga Ratu Blogger Indonesia, Ibu Venus, yang kata Nilla jauh-jauh datang dari Bogor. Di akhir acara, saya juga melihat ada Raditya Dika, si penulis buku gokil yang menjadi best seller itu.

Sebenarnya saya ingin bincang-bincang sepatah dua patah kata dengan Paman Tyo, idola saya itu. Sayangnya, waktu begitu sempit. Acara selesai pukul 18:45 dan saya harus segera mencari mushola kalau tak ingin ketinggalan shalat Maghrib. Tak mengapa, semoga bisa ngobrol lebih banyak di kesempatan lain.

Bravo buat pengelola PIM yang menempatkan mushola sebagai bagian utama Mall. Tak seperti mall-mall lain yang sering menempatkan musholla di pojok ruang sempit nan pengap di basement atau parkiran, mushola PIM ada di dalam dan sangat bersih.

Ucapan Terima Kasih

  • Tentu saja, Allah SWT.
    Hari ini saya mendapat pembuktian nyata tentang teori Ustadz Yusuf Mansyur dimana harta yang kita sedekahkan akan selalu kembali berlipat-lipat. Ayo berinfaq dan bersedekah lebih banyak lageee…
  • Tentu saja, buat Toyota Indonesia yang telah menyelenggarakan lomba blog yang bagus ini (ya iyalah, karena saya kan dikasih hadiah ).
  • Bunda Ratih dan keluarga dan tentu teman-teman yang berlibur ke Pantai Malingping kemarin.
    Tanpa mereka, tentu posting ini tak akan pernah terjadi. Foto-foto cantik Pantai Badegur dan Pasirbereum tak akan pernah terekam di kamera saya, dan N95 cakep ini tentu tak jadi ada di tangan saya, hehehehe… Thanks ya Bun!
  • Nilla, yang udah mau menemani menghadiri acara.
  • Kameraku Nikon D40, the incredible lensa Sigma 10-20mm HSM, the superb Nikkor AF-S 55-200mm VR, dan tentu si Virginia, laptopku yang buat nulis postingan itu, hehehe…

Terima kasih.

Serunya Menjadi Pemuja Rahasia

Posted by: on Sep 12, 2008 | 17 Comments

Syahdan, waktu itu sepeda motor saya yang termasuk penyumbang terbesar polutan Jakarta sedang mogok. Saya harus naik metromini untuk berangkat ke kantor. 640 Pasar Minggu – Tanah Abang. Saya berdiri. Saya melihat ada seorang wanita berjilbab duduk dengan tenangnya di arah jam 2 saya.

Perdatam, Patung Pancoran, Surveyor Indonesia, Perempatan Kuningan. Saya tahu Metromini tak pernah berjalan lambat di depan Wisma Mulia, jadi saya turun di halte YTKI. Waktu itu hari masih pagi dan saya dengan riang gembiranya menyusuri trotoar seperti anak SD yang akan mengalami tahun ajaran baru-nya.

Saya agak tertegun menyadari kalau wanita yang saya sempat saya lirik ujung lipatan jilbabnya tadi turun tepat di depan Wisma Mulia. Oh anak Telkomsel kali, pikir saya waktu masuk lift.

Siapa sangka kalau ternyata ia sekantor dengan saya. Beda departemen, beda “kasta”. Wah-wah-wah… ini penyakit lama pemuja rahasia bisa kambuh lagi. Saya mulai diam-diam suka perhatikan ujung lipatan jilbabnya yang terlipat manis dan pas sekali. Saya menyebutnya anggun. Tak akan lebih dari itu, saya tersenyum dalam diam.

Bonus: Secret Admirer, Pemuja Rahasia

Wakaf Uang dan Sertifikat Wakaf

Posted by: on Sep 12, 2008 | 12 Comments

Tadi saya shalat Jumat di Wisma Mulia lantai 52 yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Telkomsel. Kemudian saya mendapatkan amplop dan brosur. Biasanya memang banyak badan dan yayasan yang memberikan brosur di event seperti shalat Jumat ini. Bahasa vulgarnya sih, minta sumbangan.

Tapi brosur yang satu ini menarik perhatian saya. Ini adalah brosur dari Forum Silaturahmi Masjid Perkantoran Jakarta. Amplopnya tebal, dan desain brosurnya bagus. Di sana tertulis,


Kini Era Wakaf Uang.
Mudah, praktis siapapun bisa. Tidak usah menunggu kaya, mempunyai sebidang tanah atau bangunan. Dengan minimal Rp. 100.000 Anda sudah bisa menjadi WAKIF (Orang yang berwakaf) dan mendapatkan SERTIFIKAT WAKAF UANG.

Wakaf Uang?

Saya baru mendengar ada wakaf uang. Sependek yang saya pelajari, objek wakaf biasanya adalah tanah. Apakah ini adalah ijtihad yang dilakukan ulama kita? Selepas shalat, saya mencari di google dan sampai pada website Badan Wakaf Indonesia. Dalam file PDF itu, memang ada perbedaan pendapat mengenai pengertian Wakaf di antara ahli fikih. Berikut ringkasannya.

Hanafiyah (Mazhab Hanafi — Imam Abu Hanifah) menekankan bahwa kepemilikan harta wakaf masih ada pada pemiliknya, tetapi pemanfaatannya untuk tujuan kebajikan. Di sini objek yang disedekahkan adalah manfaat benda.

Malikiyah (Mazhab Maliki — Imam Malik bin Anas) menyebutkan bahwa wakaf adalah menjadikan manfaat suatu harta yang dimiliki (meskipun kepemilikannya adalah sewa) untuk diberikan kepada orang yang berhak dengan suatu akad/ikrar dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan keinginan wakif (orang yang berwakaf).

Syafi’iyah (Mazhab Syafi’i — Imam Muhammad bin Idris as-Syafi’i) menekankan pada sifat harta/benda adalah kekal. Kekal dalam artian tidak mudah rusak dan dapat diambil manfaatnya secara berterusan. Tata caranya adalah memutuskan hak pengelolaan dan diserahkan kepada wakif.

Hanabilah (Mazhab Hambali – Imam Ahmad bin Hanbal) memiliki pengertian yang lebih sederhana. Wakaf adalah menahan asal harta (tanah) dan menyedekahkan manfaat yang dihasilkan.

Sedangkan menurut hukum formal di Indonesia, yang dibahas mendetail adalah tata cara pewakafan tanah milik (PP No. 28 tahun 1977) [referensi].

Riset ini tentunya terlalu cepat dan belum bisa dibuat untuk menyimpulkan sesuatu. Tetapi kesimpulan kilat saya pribadi adalah bahwa sebenarnya uang tidak bisa dijadikan objek wakaf. Apa yang dimaksudkan oleh brosur tersebut menurut saya lebih dekat ke arah infaq dan shadaqah daripada wakaf meskipun memang penggunaan pengumpulan uang tersebut adalah untuk pengadaan Gedung Sosial dan Dakwah Perkantoran.

Sertifikat Wakaf Uang

Pertanyaan saya spontan terhadap hal ini, “Sertifikat?” Apakah setiap perbuatan baik harus ada”kuitansi”-nya? Bukankah ketika tangan kanan kita melakukan infaq/shadaqah sebaiknya tangan kiri kita tidak tahu? Kenapa harus disertifikasi? Saya hanya takut hal ini akan mengurangi pahala dan menimbulkan sikap riya’.

Mungkin Anda bertanya juga, yang lebih penting adalah keihklasan kita dalam menyumbang. Kesannya kok berbelit-belit dan tidak ikhlas. Berlomba-lombalah dalam kebaikan. Well, bagi saya, kejelasan hukum itu juga penting. Seperti waktu saya mencari dasar hukum untuk zakat profesi. Untuk apa? Agar tahu bahwa kita telah melakukan sesuai dengan maksud hati. Apakah itu wakaf, infaq, ataupun shadaqah. Bagi saya, ilmu adalah penting. Spesifik untuk zakat yang sifatnya wajib, agar jangan sampai zakat kita kurang sehingga kewajiban menjadi belum terpenuhi.

Lebih jauh lagi, ternyata pula wakaf secara tunai ini telah mendapatkan fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Demikain pula dengan tata cara sertifikasinya. Dari penjelasan ini, saya mulai dapat memahami arti di balik istilah wakaf tunai ini. Namun demikian, hal ini tentu perlu dikaji lebih jauh lagi.

Demikian.

Referensi:

Jatuh Cinta Padamu

Posted by: on Sep 11, 2008 | 15 Comments

 FLICKR
Lokasi: Museum Prasasti Sejarah, Jakarta
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Izinkan aku jatuh cinta padamu
Menikmati getar-getar aneh ketika bersamamu
Merasakan sakitnya merindukan senyumanmu

Izinkan aku melindungimu
Meskipun di depanmu,
aku bahkan tak sanggup melindungi diriku sendiri
Dan ketika lututku bergetar hingga jatuh berlutut
Aman dan damai terasa tatkala auramu melingkupi jiwaku

Bukanlah bunga candu yang membuatku limbung
Bukanlah harum sedap malam
Bukan pula pesona mahkota mawar
Namun tidak pula kesederhanaan violet

Entahlah, aku tak tahu
Yang aku tahu adalah…
bahwa aku cinta padamu.

Inspirasi entah datang darimana. Saya juga heran kenapa tiba-tiba begitu ingin membuat puisi tentang jatuh cinta padahal faktanya saya sedang tidak mengalaminya. Sayang sekali kalau puisi-puisi yang tak seberapa puitis ini tak pernah sampai kepada orang yang sedang dikagumi dan dicinta. Jadi saya tulis saja di sini.

Berunding

Posted by: on Sep 8, 2008 | 18 Comments

FLICKR
Lokasi: Gunung Geulis Camping Ground, Bogor, Jawa Barat
Nikon D80 | Nikkor AF-S 18-200mm VR-II

Di sebuah bale-bale, kami panitia Family Day 2008 sedang melihat-lihat lokasi yang akan dijadikan pusat acara. Lokasinya sejuk, banyak pohon. Saya, yang kebetulan didapuk jadi koordinator seksi dokumentasi, mencoba memetakan daerah ini lewat viewfinder saya. Sekaligus berkenalan dengan si besar dan berat Nikon D80 yang dipasangkan dengan lensa long-range terbaik di kelasnya: Nikkor AF-S 18-200mm VR-II.

Bicara tentang lensa ini, kinerjanya sangat bagus jika dibandingkan dengan Sigma 18-200mm HSM atau Tamron 18-250mm. Tajam dari ujung ke ujung. Tapi harus diakui kalau saya masih lebih suka dengan tele saya Nikkor AF-S 55-200mm VR.

Anda lihat garis melengkung bengkok di sepanjang tepi balai-balai dan atapnya? Itu namanya distorsi. Ini wajar ditemui di lensa yang jangkauan fokalnya luar biasa panjang. Dibandingkan dengan Sigma dan Tamron, Nikkor tetap terbaik.

Tentu, keuntungan yang tak terbantahkan dari lensa berfokal panjang ini adalah bahwa kita tidak perlu gonta ganti lensa dalam kondisi apapun. Wide bisa, tele juga bisa. Sangat cocok digunakan untuk meliput event yang memang kualitas tidak terlalu perfeksionis, tapi sangat mementingkan ketepatan momen.

Ramadhan Kedua di Jakarta

Posted by: on Sep 6, 2008 | 17 Comments

Tentang kondisi Jakarta:
Jika melihat kondisi jalanan, saya melihat Jakarta semakin padat tahun ini. Di jalan protokol mungkin masih terlihat lancar, tetapi di jalanan perumahan di balik gedung-gedung itu, nyaris setiap simpul perempatan terjadi kemacetan lalu lintas. Penyebabnya kalau bukan mobil parkir yang memakan sedikiiiiit saja dari jalan, atau pengguna jalan yang tidak mau saling mengalah dan akhirnya stuck di tengah-tengah. Mau mundur tak bisa, maju tak bisa. Sementara celah-celah antar mobil dipenuhi pengendara sepeda motor yang jumlahnya fantastis yang tak akan ditemui di selain Jakarta.

Suasana Ramadhan:
Beruntunglah saya hidup di negeri yang mayoritas penduduknya muslim. Suasana begitu meriah. Ketika sahur, masjid-masjid saling bersahut-sahutan membangunkan orang yang masih lelap lewat corong pengeras suaranya. Sore hari menjelang buka puasa, jajanan yang hanya muncul selama bulan puasa dijajakan di pinggir jalan. Kolak pisang, es buah, manisan, gorengan, kerak telor, dan semacamnya. Lengkap tinggal pilih. Ketika isya menjelang, masjid-masjid dipenuhi jamaah yang akan sholat tarawih.

Ungkapan semua ada di Jakarta juga berlaku di sini. Semua sistem sholat tarawih ada di sini. Ada yang mengikuti cara Rasulullah dengan delapan rakaat tarawih + tiga rakaat witir, ada juga yang ala khalifah Umar bin Khattab, dua puluh rakaat tarawih + tiga rakaat witir. Ada yang pelan-pelan mendayu-dayu menghabiskan satu juz, ada yang moderat, ada pula yang cepat seperti olahraga.

Sampai saat ini (hari keenam), saya tarawih di dua masjid yang berbeda. Masjid Al-Munawar di jalan raya Pasar Minggu, Pancoran, menjalankan tarawih dua puluh rakaat, dengan istirahat sejenak di rakaat kesepuluh. Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, tempat saya iktikaf sebentar kemarin lusa menjalankan tarawih delapan rakaat. Sementara yang menghabiskan 1 juz tiap harinya adalah Masjid Al-Hikam, Bangka Jakarta Selatan. Belum berhasil tarawih ke sana.

Suasana Sahur:
Saya bangun pukul 03:30. Di samping tempat tidur adalah peralatan sahur saya: Magicom kecil merk Sanken, termos kecil berisi air hangat, gelas raksasa isi air dingin, jam weker plastik kecil, sekotak tisu kertas merk Paseo. Televisi saya pasang di SCTV, sinetron Para Pencari Tuhan jilid 2. Dibandingkan seluruh stasiun TV, Metro TV dan SCTV adalah stasiun televisi yang acaranya bagus. Di Metro ada pembahasan Tafsir Al-Misbah oleh Quraish Shihab, dan SCTV ada sinetron bagus punya Deddy Mizwar. Selebihnya adalah acara lawak yang tidak jelas. O iya, jangan lupa buku bacaan. Yang sedang terserak di situ adalah Ketika Cinta Bertasbih 1 dan 2, Jangan Pernah Lalaikan Shalatmu, 50 Nasihat Nurani untuk yang Lalai Menunaikan Shalat, dan Biografi Khalifah Umar bin Khattab karya Dr. Muhammad Husein Haekal.

Dua hari pertama, persediaan lauk instan dari Giant Hypermarket Kalibata masih ada. Jadi saya makan pakai nasi. Tapi makan nasi waktu sahur mengakibatkan rasa yang nggak enak di pagi hari. Mbesesek kalau istilah Jawa. Jadi, tiga hari terakhir ini saya hanya minum air dingin. Ada pisang ambon satu tandan (isi sekitar 12 buah pisang) yang saya beli kemarin, jadi saya sahur pakai itu. Murah lho, satu tandan besar hanya Rp. 18.000. Kalau di Carrefour, itu bisa berharga Rp. 25.000. Yaa jangan bandingkan dengan kota lain. Ini Jakarta bung! Lumayan, masih bisa sehat sampai sore.

Cita-Cita:
Masjid Sunda Kelapa belum saya potret. Tidak ada keinginan dan motif kuat untuk memotret Masjid Dian Al-Mahri Depok (reminds me to her ). Bacaan sampai Surat An-Nissa’ — masih sesuai target. Semoga tetap istiqomah. Amin.

Switch to our mobile site