Ketika Blog Tidak Lagi Menjadi Tempat Curhat yang Nyaman
September 30, 2008
Dear Diary,
Aku belajar mulai menulis sejak aku membangun situs pribadiku sendiri, enam tahun yang lalu. Waktu itu, blog belumlah kukenal dan belum sepopuler sekarang. Salah satu menu dalam situs yang dibangun berbasis ASP itu adalah sebuah Diary. Mulai saat itu, aku belajar menyusun kalimat paragraf demi paragraf ketika sempat saja.
Kebetulan, waktu itu aku sedang jatuh cinta. Sebenarnya itu bukanlah cinta pertama. Tapi itulah kali pertama aku belajar untuk berkorban. Rasanya aku mau melakukan apa saja untuk orang yang sedang aku puja. Maka dari itulah, aku menempatkannya sebagai cinta pertamaku.
Singkat cerita, suatu minggu pagi di 17 Agustus 2003 adalah mungkin saat yang tidak akan pernah kulupakan. Kata-kata yang lembut dan datar, “Aku udah punya cowok…” telah menjelma menjadi sebuah palu godam yang meremukkan hati. Bukit harapan yang kususun oleh senyuman dan mimpi-mimpi telah runtuh. Hati yang patah mungkin bisa dioperasi dan disambung oleh dokter ahli. Tetapi bagaimana dengan hati yang telah hancur?
Kemana lagi aku harus berlari? Ternyata, setelah aku selesai menumpahkan semua kesedihan dalam kalimat demi kalimat, aku merasa lega. Dengan jujur aku menulis tentang kecemburuan dan sakit hati. Gentleman yang jarang gagal seperti aku harus belajar mengenai kegagalan di titik yang paling dibenci semua orang: gagal karena kasih tak sampai.
Hari ke hari, pembacaku semakin banyak. Lima orang per hari buat aku sudah sangat banyak. Masing-masing memberi komentar yang unik. Tapi semua komentar itu membuatku tiba-tiba merasa malu. Malu karena merasa ditelanjangi oleh tulisan sendiri. Malu karena merasa tidak punya sesuatu lagi yang bisa dirahasiakan. Alangkah enaknya menjadi seorang introvert yang pendiam dan tertutup itu…
Pernah aku berpikir untuk menghapus semua entri tentang tulisan melankolisku. Laki-laki tidak seharusnya secengeng itu di blog. Curhat bukanlah tipikal laki-laki jantan. Hanya seorang gadis kecil bersuara lembut membuat seorang Galih menjadi begitu cengeng dan tak sanggup bangkit untuk ganti mematahkan hati para wanita.
Namun demikian, aku pikir, biarlah tulisan itu ada sebagai saksi perjalananku dalam mencari jati diri. Ketika aku membuka arsip-arsipku yang begitu jujur dan polos, aku bisa tersenyum. Itu semua sudah hampir menjadi masa lalu. Itu adalah awal jalanan yang aku lalui sekarang. Belajar menyikapi cinta yang datang belum waktunya. Bersyukur karena tidak terjebak dalam zina kecil bernama pacaran. Tuhan telah menyelamatkanku dengan sikap childish-ku yang tak pernah sembuh.
Begitulah, makin lama entri posting melankolisku semakin jarang. Kalaupun ada, sudah tidak mungkin sejujur dulu lagi. Bumbu dramatisasinya sudah mewarnai tulisan-tulisanku. Ya, bagaimana mungkin menulis terlalu jujur kalau orang yang sedang aku tulis juga membaca blog-ku? ![]()
Hanya sekali, aku melarikan diri dari blog ini karena tak tahan untuk menumpahkan perasaan dengan jujur. Yeah, aku memang telah kehilangan tempat di blog ini untuk menulis melankolis seperti dulu. Tapi aku tidak mungkin lagi menulis hal-hal yang itu saja sekadar untuk memuaskan hasrat pribadi di sini. Aku menghormati sepuluh pembacaku yang repot-repot untuk berkunjung ke blog ini setiap hari.
Orang berubah. Zaman juga berubah. Namun setidaknya blog ini tidak berubah sebagai tempat berbagi.
* Sebuah sharing, didedikasikan untuk seseorang yang menutup blog melankolisnya karena telah diketahui teman-temannya. Perasaan itu, persis pernah kurasakan.
Posted in 












September 30th, 2008 at 10:08 pm
:mrgreen:
September 30th, 2008 at 10:14 pm
“Hanya seorang gadis kecil bersuara lembut membuat seorang Galih menjadi begitu cengeng dan tak sanggup bangkit untuk ganti mematahkan hati para wanita.”
waduh2…
saya juga lg nutup blog yg lama nih mas…gara2 itu juga…malu…
walw sudah punya yg baru lagi sih…hitnya sih gak ada…soalnya di protect dr search engine…^^…hoho, begitulah…
tapi gk papa, jd lebih nyaman rasanya…suasana baru…
September 30th, 2008 at 11:58 pm
sy jgua pernah seperti itu, makanya sy buat blog lain…
October 1st, 2008 at 1:34 am
Weleh.. Kalo mau yang “begituan” mah di rumah aja….
Pake NoteBook…
October 1st, 2008 at 4:32 pm
tidak ada salahnya kalo kita curhat, terkadang itu memang perlu.
kan sekalian bisa bagi2 pengalaman, biar kita tidak mengulang kesalahan yang sama
October 1st, 2008 at 4:51 pm
ga nyangka cowok bisa segitu mellow-nya
susah siy emang misahin curhat yang sangat personal ama curhat biasa di blog. self-control aja deh
October 1st, 2008 at 9:05 pm
Kalo curhat merupakan jalan keluar masalah kamu, terusin aja menulis di blog. Tapi kalo curhat jangan langsung di-publish, Lih. Biarin di dalam draft dulu sampai beberapa waktu sampai kira2 perasaan menggebu2 ato masalah yang membuat kamu curhat hilang. Baru kemudian dibaca lagi dengan pikiran fresh, diedit lagi sehingga porsi hal yang ter-ekspose bisa dikontrol.
Selamat Idul Fitri Mohon Maaf Lahir Batin, Lih. Semoga sukses terus ya.
October 2nd, 2008 at 2:33 pm
setuju dgn arul, untuk curhatan.. saya pakai blog lain di multiply, isinya org2 terdekat saya dan bisa disetting visibilitynya pada user2 tertentu.. so far masih nyaman curhat di blog itu..
Btw, mohon maaf lahir batin ya mas..
October 2nd, 2008 at 6:01 pm
Curhat bukan tipikal laki2 jantan?
Hal ini yang bikin orang bunuh diri sementara psikiater sepi.
Hmm…..
Kalau dia mau mbaca, masalahnya apa?
Setelah dilihat, blog ini kalo tambah mature dan berkurang “sensitif touch”-nya sayang juga. Kan ada banyak hal yang membuat Galih menjadi Galih.
Membahasakan ulang tips ngeblog Paman Tyo :
Kalau gua asik2 aja, masalah lo apa?
*kayaknya masih aneh ngomong gitu*
Direvisi dalam bahasa SBY :
Lha terus, c*k? Opo peduliku karo masalahmu?
Hehehehe…….
October 2nd, 2008 at 9:08 pm
Ga masalah. Bukankah blog itu jurnal pribadi? Kalo ndak mau di publish ya tinggal di set private atau di draft.
Percayalah semua respon baik itu positif ataupun negatif itu semua karena mereka peduli sama kita. Ya gak Lih?
*saya tetap setia mampir ke blogmu, entah itu posting melankolis maupun posting foto hasil gambarmu*
October 2nd, 2008 at 11:07 pm
malah sebagai sumber duit
October 3rd, 2008 at 5:14 am
hehehehehe, Plurk lebih parah bukan, Lih ??
October 3rd, 2008 at 6:36 am
Laki laki Memang lebih lemah dari wanita … kata caknun tuh…
heheheheheee
October 3rd, 2008 at 7:03 am
Waduh, kenapa malu mas? gak harus cewk kok yang boleh curhat. Bukankah cowk tu juga ada sisi lembutnya juga..!Keep styling aja deh mas. Q suka kok blog ini. Kata2ne dewasa banget!
October 3rd, 2008 at 9:22 am
jadi ingat lagunya dewa.. “menangislah bila harus menangis…”
October 4th, 2008 at 9:48 am
#all:
terima kasih semua atas dukungannya. mohon maaf belum bisa berkunjung balik. lagi fakir bandwidth di kampung he he he
October 4th, 2008 at 2:44 pm
huwaaaaa… aku jg merasakan hal yg sama.
tadinya blog cm jd tempat “menyendiri”.
eh, setelah blog ku jd rame, aku bener2 “ngumpetin” curhat2ku di sebuah blog yg ga ketahui oleh 1 org pun, digembok pula. hehehe…
skrg blog lebih sering jd media sharing, seh…
sharing apa aja, bukan hanya sekedar curhat.
October 7th, 2008 at 3:31 pm
Sebelumnya “Minal Aidin Wal Fa Idzin” ya mas Galih.
Saya ini termasuk pemuja rahasia anda lho. tulisan-2nya bagus banget(juga foto-2nya). Apalagi kalau sudah bikin tulisan yang temanya soal cinta, kadang jadi inspirasi saya buat kirim email ke temen. Tetapi menurut saya, kalau nantinya mas Galih sudah ketemu sama yang cocog dan menikah, apa ga bikin kasian istri mas…?gimana njelasin ke dia ya
October 8th, 2008 at 11:28 pm
#Prabowo:
Minal aidin wal fa izin juga mas prabowo. terima kasih perhatiannya. hmm… kalau ketemu jodoh? mmm… gimana ya? belum kepikiran nih… hehehehe *terkekeh…*
October 27th, 2008 at 5:48 pm
Menarik… Tapi curhat bagi aku kadang ada batasnya… Makanya kadang kalo menulis liat2 dulu apa yang udah aq tulis… Kali aja ada yang bisa bikin orang mikir kita cowo yang gimanaaaa getu…
November 12th, 2008 at 9:45 pm
nimbrung mas, curhat bs sehat n juga bs tidak.. welcome www.amanbae007.blogspot.com
November 14th, 2008 at 12:13 pm
whew!….
