Karakter Conan Doyle, Agatha Christie, dan Sidney Sheldon

Date July 7, 2008

Tiga penulis cerita misteri favorit saya. Saya adalah penggemar novel bergenre misteri. Sir Arthur Conan Doyle, tentu saja lewat tokoh legendaris Sherlock Holmes dan dr. Watson. Agatha Christie dengan tokoh detektifnya yang sombong dan penyuka kerapian: Hercule Poirot. Sydney Sheldon dengan tokoh-tokohnya seperti Dana Evans, Jennifer Parker, dan beberapa tokoh lain yang selalu tidak sama di setiap judul. Semua memiliki gaya penulisan yang unik dan berbeda. Apa itu?

Sir Arthur Conan Doyle

Gaya penceritaannya sederhana tapi detail. Holmes dalam menyelesaikan kasusnya bertumpu pada detail-detail fakta yang terlihat di lapangan seperti sidik jari dan jejak kaki di tanah berlumpur. Kesimpulan-kesimpulan yang ia buat bertumpu pada fakta yang sangat lemah — kalau mau jujur. Agak sulit dibayangkan kalau di dunia nyata ada fakta-fakta seperti dalam cerita kasus-kasus Holmes. Terlalu dramatis.

Tapi justru di situlah kekuatannya. Alur cerita menjadi sangat enak diikuti. Apalagi karakter Holmes sangat khas: cerdas, agak meremehkan rekannya Watson, dan kurang bisa berteman. Di cerita ini, dinas kepolisian dibuat bodoh dan memiliki rasa hormat yang sedikit berlebihan terhadap detektif swasta ini. Alur dan fakta yang sederhana terkadang membuat akhir cerita mudah ditebak — misalnya siapa pembunuh utamanya.

Agatha Christie

Hercule Poirot adalah tokoh detektif swasta yang memiliki metode nyaris bertolak belakang dengan Holmes. Sidik jari dan jejak kaki sudah ketinggalan jaman. Baginya, penyelesaian kasus bukan didapat dari mengendus-endus ke sana ke mari seperti anjing pemburu, tetapi cukup duduk diam dan berpikir.

Biarkan sel-sel kecil berwarna kelabu itu bekerja dengan rapi dan metodis

Kutipan yang sangat terkenal dari Poirot. Ia tertarik menyelesaikan sebuah kasus lewat sisi psikologis — motif, siapa yang paling diuntungkan dan dirugikan.

Karena itulah, hampir semua novel Agatha Christie memiliki terlalu banyak tokoh. Terlalu banyak dialog yang membosankan. Di sinilah uniknya Agatha Christie. Ia menyisipkan fakta-fakta yang benar sekaligus fakta penyesatnya di semua bagian novel. Ia memancing pembaca menebak-nebak, siapa sang pembunuh. Dan di akhir cerita, biasanya si pembunuh adalah orang yang sama sekali tidak dicurigai oleh pembaca. Baru setelah membaca puluhan novelnya, kemarin saya bisa menebak dengan tepat si pembunuh dalam novel Death in the Clouds.

Dibandingkan Holmes, Poirot jauh lebih banyak meracuni otak saya. Saya tertarik kepribadiannya yang khas. Sombong, fanatik terhadap simetri dan kerapian. Ia biasa dicela banyak orang karena penampilannya yang aneh (kumis besar, dan melebih-lebihkan sikap asingnya). Namun sejatinya, ia sangat baik hati. Ia beberapa kali membantu orang yang kesulitan dengan tulus, mendonasikan sejumlah besar uang kepada yayasan jompo, dsb. Saya tertarik dengan caranya berbicara — sedikit bertele-tele, namun sangat runut, struktural dan metodis.

Sidney Sheldon

Raja kejutan, itulah Sidney Sheldon. Novel-novelnya beralur pendek-pendek, dan melompat-lompat. Satu kejadian singkat di sini, melompat kejadian singkat di sana, dan begitu terus sampai akhir novel dengan diselingi kejutan-kejutan yang membuat pembaca terpesona. Kalau urusan membuat cerita kejar-kejaran yang menegangkan, ialah ahlinya. Bagaimana tokoh utama berkali-kali beruntung lolos dari jebakan maut penjahat diceritakan dengan sempurna olehnya.

Dari novel Sidney Sheldon pula saya belajar mengapresiasi akhir yang sedih (sad ending). Sebelum itu, saya paling tidak suka kalau suatu cerita berakhir tidak dengan happy ending. Tapi ketika membaca cara Sidney Sheldon mengakhiri jalinan kisah Jennifer Parker di Rage of Angels (Malaikat Keadilan), saya mulai bisa menyukai sebuah akhir yang sedih.

Akhir yang rasional dan masuk akal. Sekarang saya bertanya, mana yang lebih Anda suka:

  • Sebuah cinta segitiga. Sang tokoh utama mencintai orang yang tidak dapat mencintainya. Ia lebih memilih orang ketiga. Sang tokoh utama kecewa. Tapi ia bersikap jantan dengan membiarkan orang yang dicintainya memilih orang yang bukan dirinya. Cerita berakhir.
  • Sebuah cinta segitiga. Sang tokoh utama kecewa. Ia bersikap jantan. Namun di menit terakhir, cintanya kembali sambil berkata, “Aku tak harus kemana-mana. Cinta sejatiku ada di sini.” Sang tokoh utama tersenyum, dan mereka berdua berbahagia. Cerita berakhir.

Cerita disadur dari sebuah sinetron cinta (FTV) di SCTV yang dibintangi oleh Christian Soegiono. Mana yang lebih Anda suka? Saya lebih suka yang pertama, yang memiliki akhir sedih, hehehe… *curcol dikit.. :P

17 Responses to “Karakter Conan Doyle, Agatha Christie, dan Sidney Sheldon”

  1. Tsuki said:

    saya juga akan lebih milih yang ending pertama ^_^

  2. ndöp said:

    ndak pnah baca satupun novel dari mereka btiga. tapi membaca reviewnya, jadi pengen skali2 baca..

    *clingak-clinguk mencari sasaran pinjaman*

  3. dnial said:

    Agatha Christie yang tokohnya Miss Marple emang belum pernah mbaca?

    Saya pilih ending :
    3. Sang tokoh utama kecewa dengan pilihan sang wanita (asumsinya cinta hetero dengan cowok dan cewek dan tokoh utamanya pria), Cinta itu buta, cinta itu obsesif kompulsif, cinta itu harus memiliki. Sang pria jadi gila dan membunuh wanita itu. “Jika aku tak dapat memilikinya tak seorang pun dapat!”
    Setelah melakukannya dia merasa penyesalan menyesak dada, kekosongan tiba-tiba muncul. Bahwa kebahagiaan tidak muncul karena apa yang dia lakukan.

    Dia sedih dan kosong, lalu mulai membaca buku untuk mencari jawaban kekosongannya. Mulai Conan Doyle, Agatha Christie, dan Sidney Sheldon.

    Dan menuliskan resensi di blog ini.
    .
    .
    .
    Tamat.

  4. dnial said:

    aarrghh!
    kok mesti nggak tampil yo?

  5. Galih Satria said:

    #dnial:
    belum. recommended kah?
    ending yang luar biasa :)

  6. davi said:

    pernah baca yang Rage of Anglenya SS tentang Jennifer Parker, awalnya seru banget … cuma karena aku lebih suka yang happy ending, jadi menyayangkan aja akhir ceritanya.

  7. Hedi said:

    aku seneng Agatha Christie, tapi selama dia nulis Poirot aja. kalo yg miss marple (entah bener atau salah) aku ga pernah baca…kurang asik :D

  8. tiui said:

    hehh mas Daniel iki nulis opo ae tohhh :D

  9. excalibur said:

    Dr sisi cerita emg bagus yg pertamax!!! yg kedua seniterong ( baca : sinetron ) banget wkakaka….tp gmn lg yg kualami yg kedua e :p

  10. dnial said:

    @tiui
    Khayalan tingkat tinggi.
    Mahasiswa Jurusan teknik masak-memasak nggak bakal paham :D

  11. lisa said:

    aku suka ending yang pertama. Dari dulu aku paling sebel kalo nonton ato baca film yang endingnya hepi. Karena di dunia nyata, dalam segala kasus, kemungkinan happy ending itu hanya 50-60 persen aja. itupun butuh perjuangan untuk mencapainya…..
    Ps: kebetulan aku penggemar berat ketiga pengarang tersebut. Dan aku punya semua novel2nya.

  12. RUBETH said:

    saya suka banget agatha christie, belum pernah membaca novel detektif yg lain, krn sudah kadung jatuh cinta sama hercule poirot & miss marple. tapi next mungkin kapan2 akan nyoba utk baca novel detektif yg laen…

  13. Ika said:

    kalo boleh minta tolong….
    bisa gak sebutin semua novel2nya sidney sheldon..
    karena jujur, saya suka sekali cara berceritanya Sidney..
    dan saya hanya baru membaca 3 bukunya

  14. bunda dimas said:

    tau ga… di novelnya SS jg ak blajar jd wanita yg kuat, trus agatha Crs, hmmm skali2 praktekin jurus detektifnya, bwt “mengintai” suami. waakkkakak

  15. donZ said:

    #ika
    datang ke gramedia aja banyak tuch bukunya SS… hehehehehe…

  16. reez_niEya said:

    hUuw…Q seeh sUka am taNte agatha,

    kENapa PoiRot gag pNh ktEMu miSS maPle yah?
    kN meReka b2 bS meRit tuh,,

    oM sheLdon am 0pa Conan jUg uDa baCa sih, taPi 0pa Conan kUrg mnaNtaNg…
    bUt seLain dEteCtive, aD jUg yg kErEnnn…
    John GriShaM.
    am sANdRa bRowN.
    tRz Jk.RowLing.
    jUg DaN bRown.
    banYak dehh

  17. amrie said:

    setelah membaca lebih dari separuh karya alm. sidney sheldon, semakin kagumlah saya akan kekayaan imaginasi seorang sidney. tak berlebihan kiranya di setiap cover belakang novelnya selalu terdapat tagline : jago cerita kelas dunia!
    kereen banget. di suatu novel dia bicara tentang seluk beluk dunia kedokteran, di lain novel dia menceritakan tentang rumitnya masalah hukum. wow, sungguh penulis novel yang tidak main-main.
    someday, i wish, kita punya seorang sidney sheldon dari indonesia. semoga…

Leave a Reply

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>