Knight in A Shinning Armor

Posted by: on May 4, 2008 | 3 Comments

FLICKR
Lokasi: Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR

Just like a knight in a shinning armor
From a long time ago
Just like in time I will save the day
Take you to my castle far away…

Potongan syair di atas adalah potongan lagu Glory of Love yang dinyanyikan oleh Peter Cetera (vokalis Chicago) di bagian bridge. Apakah seperti itu yang dirasakan oleh cowok ini? Hehe, hanya dia sendiri yang tahu.

Terima kasih kepada: Nafik, Denny, dan Tako yang telah menemani saya jalan-jalan ke pantai Prigi, long weekend Maret kemarin.

Panduan Dasar Membuat Template pada Joomla

Posted by: on May 4, 2008 | 7 Comments

Joomla, suksesor Mamboo, merupakan salah satu CMS (Content Management System) yang paling terkenal. Ia cepat populer karena instalasinya yang sangat mudah dan cepat. Meskipun mudah, struktur Joomla tidak sekompleks Mamboo sehingga mudah dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan.

Nah, kali ini saya tidak berbicara mengenai bagaimana melakukan instalasi Joomla. Panduan instalasinya bisa dicari langsung di blog developer Joomla yang juga mentor Google Summer of Code: Mbak Iin, di http://ai23.wordpress.com. Di sini saya akan membahas sesuatu yang agak lanjut sedikit, yaitu mengenai membuat layout template Joomla kita sendiri. Bahasa gampangannya sih: membuat tampilan Joomla berdasarkan desain kita sendiri.

Ternyata membuat template Joomla sangat mudah. Semudah membuat template-nya WordPress. Kita bisa atur Joomla sedemikian rupa sehingga sebenarnya kita bisa memperlakukan Joomla sebagai semacam framework atau bingkai kerja kita untuk membuat situs berbasis isi seperti misalnya portal. Tak perlu membuat dari awal. Hampir semuanya sudah disediakan oleh Joomla.

Panduannya, dalam bentuk PDF, silakan download di sini. Sedangkan file-file praktiknya, menyusul. (ketinggalan di laptop. saya di warnet. indosat m3 gprs lagi ngga bisa diarepin)

Untuk Seorang Kawan

Posted by: on May 2, 2008 | 8 Comments

Kawan baikku,

Inilah nggak enaknya menjadi laki-laki. Perempuan ada di pihak yang memutuskan. Apalah artinya sebuah status pacaran? Tak lebih dari sebuah kata yang sering membutakan banyak orang. Orang bilang sebuah komitmen dan ikatan. Ikatan apa? Komitmen apa? Atas dasar apa?

Orang tidak akan bisa hidup dari kekuatan cinta. Apa? Cintah? Makan itu cintah! Bukankah kamu sering mendengar aku mengumpat seperti itu? Apalagi orang tua. Semua orang tua menginginkan anak perempuannya hidup bahagia dengan orang yang lebih mapan. Jujur saja, definisi orang tua terhadap kebahagiaan adalah cukup secara materi. Kalau ada orang yang telah mapan secara finansial datang melamar, ia pastilah diterima dengan baik. Dan memang ada tipe-tipe perempuan yang tak sanggup menolak rekomendasi orang tuanya.

Memang… mendengarkan suara lembut di ujung telepon sana sungguh menyenangkan. Serasa menjadi knight in the shining armor bagi seorang Snow White ya? Merasa dibutuhkan, ditemani, dan rasanya suasana menjadi meriah karena hadirnya. Dan itu tak akan kau alami lagi bukan? Apakah rasa hampa telah menyergapmu kawan? Apakah kau merasa bahwa hari esokmu akan panjang dan hampa?

Tak usahlah lama bersedih hati. Marilah kembali duduk di dekatku. Memandangi matahari merah yang sedang tenggelam, menapaki jalanan basah yang baru saja diguyur hujan di sore hari, melihat betapa warna hijau dan kelabu bisa pula bersatu, menikmati kedamaian yang diciptakan alam kepada kita. Bukankah rasa sepi dan hampa itu juga bisa dinikmati?

Aku yakin, setelah ini, kamu akan menjadi jauh lebih kuat dan tegar. Aku percaya itu. Selamat menikmati sakitnya patah hati. Akuilah dia bukan jodohmu. Tuhan punya rencana yang lebih indah bagimu. Tapi paling tidak, kamu pernah mempunyai pacar kawan. Hahaha… lihat, bukankah keadaanmu jauh lebih baik daripada aku? Aku, di sini masih bisa tertawa riang gembira. Kenapa engkau tidak bisa tertawa dan malah terduduk lemas di sana? Wake up boy, cinta deritanya memang tiada pernah berakhir.

–Untuk kawan baikku yang sedang bersedih, nun jauh di sana–

Gambaran dan Konsep tentang Perempuan Ideal

Posted by: on May 1, 2008 | 11 Comments

Saya baru saja menyelesaikan bagian pertama dari buku roman Jepang karangan Eiji Yoshikawa, Musashi, yang menceritakan kelahiran Takezo menjadi seorang yang memilih Jalan Samurai sebagai jalan hidupnya. Takezo berganti nama menjadi Miyamoto Musashi.

Ada gambaran kecil yang menyentuh saya. Otsu. Otsu, menurut imajinasi saya adalah gadis dengan perawakan mungil, cantik, lembut dan setia. Ia setia pada janjinya untuk menunggu Takezo setiap hari di jembatan Hanada dan tiga tahun ia habiskan untuk menunggu cintanya. Kasihan Otsu, sebelumnya ia menunggu tunangannya Matahachi pulang dari perang. Akan tetapi tunangannya malah lari dan menikahi seorang janda yang menyelamatkannya dari perang. Singkat cerita, ia jatuh cinta pada Takezo alias Musashi yang masih menjadi penjahat. Dalam sebuah pelarian, sebelum berpisah ia dan Takezo mengucapkan janji setia bahwa ia akan menunggu setiap hari di jembatan Hanada. Menanti Takezo kembali.

*

Saya percaya bahwa konsep setiap orang mengenai prinsip hidupnya dipengaruhi oleh lingkungannya. Saya sendiri yakin kalau saya telah diracuni oleh buku-buku yang telah saya baca. Otak saya habis dicuci oleh buku-buku yang kebanyakan adalah novel. Saya sudah membaca habis hampir semua karya Agatha Christie, Sidney Sheldon, dan Sir Arthur Conan Doyle. Tak heran kalau saya jadi begitu melankolis seperti ini. Tanpa sadar saya kagum pada sosok Sir Charles Cartwright (Three Act Tragedy – Agatha Christie) yang mendramatisir kehidupannya. Dan masih banyak tokoh-tokoh novel yang saya kagumi yang begitu mempengaruhi saya: Jupiter Jones (Trio Detektif) dan Hercule Poirot yang sering dicela karena penampilan luarnya yang tidak menarik tapi memiliki otak yang sangat cerdas. Tokoh seperti Robert  Langdon (The Da Vinci Code, Angels and Demons – Dan Brown) meskipun juga cerdas agak kurang meracuni saya… mungkin karena Robert Langdon tampan dan menarik. Hahaha…

Mungkin hal yang sama juga terjadi pada konsep saya mengenai gambaran perempuan yang ideal dambaan itu. Saya menilai gambaran saya terlalu artistik dan tidak nyata. Kurang lebih seperti Otsu. Lemah lembut, bermata teduh, kecil mungil, dan setia. Atau kalau seperti yang digambarkan Agatha Christie dalam kisah Hercule Poirot di Tugas-Tugas Hercules (The Labors of Hercules), gadis seperti Otsu adalah tipe-tipe yang tanpa berusaha sedikitpun bisa membuat seorang pria melankolis berusaha menjadi seorang pahlawan baginya. Gambaran yang terlalu romantis. Tidak nyata.

Itulah mungkin salah satu sebab saya pernah mengalami patah hati begitu lama. Sekitar empat tahun. Saya menyadari ternyata saya jatuh cinta pada orang yang nyaris-nyaris memenuhi tokoh perempuan dalam novel-novel yang saya baca. Suaranya yang lemah lembut yang sering saya dengar via telepon menyihir saya. Waktu saya ditolak, saya begitu menikmati sakitnya patah hati. Ada kesempatan untuk melakukan seperti Sir Charles: mendramatisir diri sendiri. Puluhan posting dan puisi dibuat khusus untuk memujanya. Saya baru sadar kalau sebenarnya saya tidak jatuh cinta padanya, tetapi jatuh cinta pada kegilaan diri sendiri untuk melakukan dramatisasi dan menjadi tokoh cerita pada novel yang saya buat sendiri. Peran yang sangat menyenangkan: pria yang sakit karena patah hati.

Masih belum beberapa lama saya kembali ke dunia nyata. Mencoba benar-benar jatuh cinta pada orang saya cintai, bukan karena saya ingin mendramatisir kehidupan lagi. Akan masih sangat panjang perjalanan saya. Saya belajar untuk tidak terlalu kecewa dan patah hati ketika kegagalan demi kegagalan tiba. Kalau saya patah hati, artinya saya kembali melangkah mundur. Ada yang datang, ada pula yang pergi. Saya akan terus belajar untuk tidak mencari figur seorang Otsu, tetapi sesuatu yang jauh lebih nyata dan konkret.

Begitulah.

Switch to our mobile site