Entries from May 2008

Indahnya Gunung Gede Pangrango

Date May 22, 2008

Gunung Gede Pangrango adalah salah satu taman nasional yang dimiliki Indonesia yang berada di Jawa Barat. Gunung ini merupakan gunung tertinggi di Jawa Barat dengan ketinggian 2958 m di atas permukaan laut (dpl) untuk Gunung Gede dan 3019 mdpl untuk Gunung Pangrango. Gunung Gede Pangrango dapat dicapai dari Jakarta melalui tol Jagorawi, dan masuk jalur Puncak dan memakan waktu sekitar dua jam (jika tidak macet).

FLICKR (1 Juni 2007, 06:00 AM)
Gunung Gede Pangrango (tampak dari Villa Ciburial, Puncak)
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55mm at 18mm

Gunung Gede sangat cocok bagi para pemula untuk mencoba melakukan pendakian pertamanya. Treknya cukup moderat, tidak terlalu berat tetapi juga tidak terlalu ringan. Gunung Gede memiliki jalur yang berkarakter berbeda-beda dan lengkap. Kami melakukan pendakian agak memutar melalui Gunung Putri karena treknya jauh lebih ringan dibandingkan dengan melalui jalur Cibodas. Read the rest of this entry »

Komentar untuk Website ITS v4

Date May 15, 2008

Website ITS v4.

Wah, sebenarnya saya menyimpan komentar kalau sudah benar-benar selesai nanti, tapi ternyata pas saya lihat di sana ada untouched link yang bernama “Komentar Anda”. Karena sudah dimintai komentar dan ternyata di sana tidak ada media untuk mencurahkan komentar, ya saya tulis di sini. Yang jelas first of all, congratz untuk tim webmaster ITS.

Secara umum, saya suka konsep layout yang dibawa. Fresh! Segar! Mantaps! Beberapa catatan subjektif sayah:

  1. Header terlalu kosong. Hanya tulisan webmail yang sedikit menemani.
    Yaya… saya tahu, webmaster tak punya pilihan banyak menempatkan logo. :D Dilema yang pernah saya alami berkali-kali dulu. Mungkin bisa dibuat semacam ornamen pemanis warna-warni di sana. Nggak usah ngeblok. Jika dibuat overflow keluar dari batas kotak 800 pixel mungkin lebih manis. Adik saya, Fitri, berkomentar kalau layout itu mirip buku TA. Hmm… masuk akal juga, mungkin memang inspirasinya dari situ? ;)
  2. Bagaimana kalau link webmail dibuat login form-nya sekalian? Untuk accessbility rasanya lebih praktis. Juga untuk mengurangi ruang yang terlalu kosong di sana. Terakhir, saya tahu SquirellMail yang dipakai sudah mendukung untuk tujuan ini kok.
  3. Penonjolan informasi.
    Ini penting. Saya melihat portal ini terlalu flat. Tak ada informasi yang ditonjolkan. Saya ambil contoh: Di bagian Agenda. Mata saya tak bisa langsung di-drive untuk melihat suatu agenda. Kapan? Dimana? Tentang apa? Saya harus cari-cari di tulisan bertypo Trebuchet yang kecil itu.
  4. Kenapa ITS Tour ada di bawah? Kenapa membuat pengunjung baru dan awam men-scroll halaman untuk melihat bagian yang bisa mereka lihat pertama kali. Taruh saja di atas, sebab informasi ini memang ditujukan untuk orang-orang yang belum tahu sama sekali tentang ITS, apalagi struktur website-nya. Key-nya tetap: penonjolan informasi.
  5. Ada bagian cukup besar untuk foto. Komentar saya untuk foto saat ini: Jelek. Olah digital yang kurang rapi untuk seorang desainer DKV ITS. Tapi saya yakin, ini sementara. Saya usul, kalau memang ada content, lebih baik adalah movie flash yang melakukan slide show mengenai informasi yang diperlukan oleh pengunjung baru. Kalau tidak ada, ya foto-foto tentang suasana lingkungan ITS. Tapi jangan diedit habis seperti itu. Kalau ingin foto IR ya yang dari filter IR lah, jangan Photoshop. :D

Sedangkan kritik saya tentang konsep:

  1. Konsep Web 2.0-nya mana? Zaman sudah akan beranjak ke Web 3.0, kok masih tetap bertahan dengan konsep ala tahun 2003?
  2. Back to table layout? Is tableless layout too difficult for you?

Selebihnya Oke. Saya tak bisa berkomentar tentang sitemapping dan kemudahan navigasi karena belum jadi. Sebenarnya saya lebih setuju kalau tidak usah ada preview dan meminta sedekah komentar (meminjam istilah Bu Velisa) seperti ini. Langsung saja hajar jadi website utama. Karena kalau meminta kritik terlebih dahulu, web baru ini kehilangan kesempatan untuk membuat surprise. Padahal surprise itu penting. Orang cuma bisa mengkritik, dan orang tak bisa memuaskan semua pihak. Jadi, apa gunanya menerima kritik yang kebanyakan sifatnya subjektif dan selera saja?

Congratz Ridho’ and the team. Keep on hard work guys.

Selamat Pagi, Kampus UI

Date May 15, 2008

FLICKR
Lokasi: Dekanat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Pukul 06:10 pagi. Matahari baru saja menyentuhkan hangat sinarnya di tembok gedung itu. Sedikit mengurangi hawa dingin selepas perjalanan Jakarta-Depok. Tak pernah saya melihat kampus seluas dan serindang ini. ITS meskipun luas tetapi masih didominasi rawa dan padang ilalang yang memisahkan antar jurusan. Lagipula, hawanya panas dan lembab, khas udara pantai. Kampus ITB cukup rindang dan sejuk, tetapi kurang luas meskipun aura kecerdasan khas mahasiswa sangat kentara di sana. Nah, kampus UI Lenteng Agung Depok ini lingkungannya adalah gabungan suasana ITS dan ITB: luas, sejuk, dan rindang. Sangat kampus.

Belum banyak orang yang datang sepagi itu. Saya memang sudah siapkan kamera DSLR yang saya sambung dengan Sigma 10-20. Jadi, mumpung masih pagi dan untuk membunuh waktu, saya jeprat jepret dolooo, hehehe…

Simbol UI

Date May 13, 2008

FLICKR
Lokasi: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Sebuah logo memegang peranan penting dalam sebuah instansi. Dia adalah citra, image. Logo adalah hal utama yang diingat orang sebelum mengingat hal lain yang berhubungan dengan sebuah instansi/brand.

Setiap logo memiliki keunikannya masing-masing. Lihat logo Nike (bukan Nike yang ini lho :D ) yang begitu sederhana (coretan centang) tetapi ketika orang melihat logo itu, pikirannya langsung ke Nike. Logo ITB dengan patung gajah Ganesha-nya yang gendut. Logo ITS yang setengah mati berteriak bahwa singkatan ITS adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember (pakai pe, bukan ve atau ep) bukan Institut Teknologi 10 November atau bahkan Institut Teknologi Surabaya. Logo yang membuatnya susah ditaruh di tempat lain kecuali di pojok kiri atas.

Atau seperti logo UI ini, pating plungker kluwer-kluwer mirip akar pohon. Saya rasa logo UI adalah logo yang paling susah direpro. Kasihan tukang sablon-nya. Tapi apapun itu, itulah pernak-pernik logo. Saya ambil foto ini sekitar pukul 06:10 pagi, di lingkungan Fakultas Ekonomi UI yang menurut saya adalah kampus yang “sebenar-benarnya”. Hehehehe…

Jakarta yang Angkuh

Date May 11, 2008

Jakarta. Kemana hilangnya rasa kemanusiaan kota ini? Kota ini lebih mirip dengan kota yang dihuni oleh robot-robot individualis dengan segala kekacauannya. Sedemikian kejamkah ketimpangan ekonomi mengubah kultur masyarakatnya? Pertanyaan ini timbul kemarin ketika saya berjalan-jalan menyusuri jalanan Jakarta. Dan pada akhirnya, sebagai orang yang ikut mengais rezeki di ibu kota negara ini, saya hanya bisa trenyuh dan sedih melihat kenyataan yang ada.

Lalu lintas yang kacau. Sangat kacau. Super duper crowded. Anda tidak akan menemukannya di tempat lain selain di Jakarta. Semua orang sudah kehilangan akal sehatnya. Aturan lalu lintas dilanggar. Semua orang tidak ada yang mau mengalah dan memberi ruang satu senti saja kepada pengguna jalan yang lain. Semua berdesak-desakan dan hanya memikirkan diri sendiri agar sampai ke tempat tujuan secepat-cepatnya (cepat, dalam artian kecepatan maksimal kendaraan Anda rata-rata 10 km/jam saja).

Akibat dari keegoisan semua orang ini tentu saja menambah kesemrawutan lalu lintas. Di setiap persimpangan yang tidak ada lampu lalu lintas atau pak Polisi, dapat dipastikan macet total. Maju tak bisa, mundur pun tak bisa. Orang menjadi mudah marah dan tidak sabar dalam kondisi seperti ini. Klakson dibunyikan sekencang-kencangnya jika ada pengguna lain yang melakukan sedikit kesalahan seperti pengklakson tidak pernah melakukan kesalahan. Semua orang mati rasa. Semua orang memandang pengguna jalan lain sebagai pengganggu. Orang bermobil benci setengah mati pada pengendara sepeda motor. Pengendara motor sinis kepada orang-orang kaya bermobil.

Sore kemarin, saya salah belok di daerah Senayan City yang kemilau diguyur ribuan megawatt lampu listrik. Saya tersesat masuk kompleks elit di daerah Simprug. Melalui rumah-rumah besar berpagar setinggi lima meter. Meskipun mewah, ada kesuraman yang begitu kentara di sana. Rumah-rumah itu sekilas memiliki garasi yang paling tidak berisi tiga mobil. Dengan pagar setinggi itu, apapun kejadian di rumah itu, tak seorang pun bisa tahu. Kalau ada orang dibunuh, mayatnya pasti ditemukan membusuk seminggu kemudian.

Kontradiktif dan ironis saya temui ketika saya berhasil keluar portal kompleks mewah itu. Saya memasuki perkampungan sempit, sesak, dan kumuh. Saya bahkan belum ada 500 m meninggalkan kompleks mewah tadi, tapi jurang pembeda yang saya lihat dalam redupnya lampu sepeda motor tua saya begitu lebar. Wajah-wajah muram tanpa senyum memandangi saya mengiringi saya menembus gang tikus yang kecil itu. Keangkuhan sepertinya sudah tidak pandang status ekonomi lagi. Baik kaya ataupun miskin memiliki keangkuhan akut yang sama.

Saya terus berusaha mencari jalan. Pom bensin adalah tujuan saya karena tangki motor saya sudah nyaris habis. Ngeri membayangkan kalau saya harus mendorong motor di tempat saya tersesat seperti ini. ITC Permata Hijau saya lewati. Rasanya semakin jauh saya meninggalkan Senayan. Saya harus berhenti dan bertanya kepada penjual kaki lima di pinggir jalan dimana ada pom bensin terdekat.

Beragam jawaban mereka,

“Lurus terus ke sana, lalu belok di situ, ” bahkan mata penjaja nasi goreng keliling itu tak memandang jalan apalagi memandang saya. Konsentrasi penuh ke nasi yang sedang digorengnya.

“Auk…” kata pejalan kaki setengah baya acuh tak acuh sambil berlalu.

“Lurus, lalu ketemu pertigaan ke kiri, lalu ke kanan, terus saja di kiri jalan ada pom, ” kata tukang ban tanpa membalas senyum sopan yang saya perlihatkan.

Setelah mengucapkan terima kasih, Saya coba ikuti petunjuk itu hingga ketemu papan penunjuk jalan yang bertuliskan Pondok Indah Mall. Hah? Bukan pom bensin yang saya temukan, tetapi malah tambah jauh tersasar hingga nyaris PIM. Navigasi darat yang saya kuasai tak ada artinya kalau malam hari. Akhirnya, saya ganti strategi. Saya belok lagi ke tukang kakilima dan membeli teh botol. Dua botol sekaligus habis dalam sekali tenggak. Sambil membayar, saya bertanya.

Ajaib, detail sekali penjelasan beliau si tukang teh botol. Semoga itu bukan karena saya membeli teh botol. Dan akhirnya saya bisa menemukan pom bensin dan kembali ke Senayan dengan lancar.

Sambil berjalan pelan-pelan, pikiran saya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Kemana perginya keramahan dan kehangatan khas orang Indonesia? Kenapa semua orang menjadi gila dan egois? Dimana semua yang telah saya pelajari di buku PMP, PPKn, hingga Kewarganegaraan — bahwa Indonesia itu gemah ripah loh jinawi grapyak sumanak? Apakah buku itu hanya menjual mimpi dan inilah kenyataan yang sebenarnya? Kalau begitu, pantas saja Taufik Ismail menggerutu lewat puisinya: Malu Aku Jadi Orang Indonesia.