Selamat Pagi, Kampus UI
FLICKR
Lokasi: Dekanat Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM
Pukul 06:10 pagi. Matahari baru saja menyentuhkan hangat sinarnya di tembok gedung itu. Sedikit mengurangi hawa dingin selepas perjalanan Jakarta-Depok. Tak pernah saya melihat kampus seluas dan serindang ini. ITS meskipun luas tetapi masih didominasi rawa dan padang ilalang yang memisahkan antar jurusan. Lagipula, hawanya panas dan lembab, khas udara pantai. Kampus ITB cukup rindang dan sejuk, tetapi kurang luas meskipun aura kecerdasan khas mahasiswa sangat kentara di sana. Nah, kampus UI Lenteng Agung Depok ini lingkungannya adalah gabungan suasana ITS dan ITB: luas, sejuk, dan rindang. Sangat kampus.
Belum banyak orang yang datang sepagi itu. Saya memang sudah siapkan kamera DSLR yang saya sambung dengan Sigma 10-20. Jadi, mumpung masih pagi dan untuk membunuh waktu, saya jeprat jepret dolooo, hehehe…
Simbol UI
FLICKR
Lokasi: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM
Sebuah logo memegang peranan penting dalam sebuah instansi. Dia adalah citra, image. Logo adalah hal utama yang diingat orang sebelum mengingat hal lain yang berhubungan dengan sebuah instansi/brand.
Setiap logo memiliki keunikannya masing-masing. Lihat logo Nike (bukan Nike yang ini lho ) yang begitu sederhana (coretan centang) tetapi ketika orang melihat logo itu, pikirannya langsung ke Nike. Logo ITB dengan patung gajah Ganesha-nya yang gendut. Logo ITS yang setengah mati berteriak bahwa singkatan ITS adalah Institut Teknologi Sepuluh Nopember (pakai pe, bukan ve atau ep) bukan Institut Teknologi 10 November atau bahkan Institut Teknologi Surabaya. Logo yang membuatnya susah ditaruh di tempat lain kecuali di pojok kiri atas.
Atau seperti logo UI ini, pating plungker kluwer-kluwer mirip akar pohon. Saya rasa logo UI adalah logo yang paling susah direpro. Kasihan tukang sablon-nya. Tapi apapun itu, itulah pernak-pernik logo. Saya ambil foto ini sekitar pukul 06:10 pagi, di lingkungan Fakultas Ekonomi UI yang menurut saya adalah kampus yang “sebenar-benarnya”. Hehehehe…
Jakarta yang Angkuh
Jakarta. Kemana hilangnya rasa kemanusiaan kota ini? Kota ini lebih mirip dengan kota yang dihuni oleh robot-robot individualis dengan segala kekacauannya. Sedemikian kejamkah ketimpangan ekonomi mengubah kultur masyarakatnya? Pertanyaan ini timbul kemarin ketika saya berjalan-jalan menyusuri jalanan Jakarta. Dan pada akhirnya, sebagai orang yang ikut mengais rezeki di ibu kota negara ini, saya hanya bisa trenyuh dan sedih melihat kenyataan yang ada.
Lalu lintas yang kacau. Sangat kacau. Super duper crowded. Anda tidak akan menemukannya di tempat lain selain di Jakarta. Semua orang sudah kehilangan akal sehatnya. Aturan lalu lintas dilanggar. Semua orang tidak ada yang mau mengalah dan memberi ruang satu senti saja kepada pengguna jalan yang lain. Semua berdesak-desakan dan hanya memikirkan diri sendiri agar sampai ke tempat tujuan secepat-cepatnya (cepat, dalam artian kecepatan maksimal kendaraan Anda rata-rata 10 km/jam saja).
Akibat dari keegoisan semua orang ini tentu saja menambah kesemrawutan lalu lintas. Di setiap persimpangan yang tidak ada lampu lalu lintas atau pak Polisi, dapat dipastikan macet total. Maju tak bisa, mundur pun tak bisa. Orang menjadi mudah marah dan tidak sabar dalam kondisi seperti ini. Klakson dibunyikan sekencang-kencangnya jika ada pengguna lain yang melakukan sedikit kesalahan seperti pengklakson tidak pernah melakukan kesalahan. Semua orang mati rasa. Semua orang memandang pengguna jalan lain sebagai pengganggu. Orang bermobil benci setengah mati pada pengendara sepeda motor. Pengendara motor sinis kepada orang-orang kaya bermobil.
Sore kemarin, saya salah belok di daerah Senayan City yang kemilau diguyur ribuan megawatt lampu listrik. Saya tersesat masuk kompleks elit di daerah Simprug. Melalui rumah-rumah besar berpagar setinggi lima meter. Meskipun mewah, ada kesuraman yang begitu kentara di sana. Rumah-rumah itu sekilas memiliki garasi yang paling tidak berisi tiga mobil. Dengan pagar setinggi itu, apapun kejadian di rumah itu, tak seorang pun bisa tahu. Kalau ada orang dibunuh, mayatnya pasti ditemukan membusuk seminggu kemudian.
Kontradiktif dan ironis saya temui ketika saya berhasil keluar portal kompleks mewah itu. Saya memasuki perkampungan sempit, sesak, dan kumuh. Saya bahkan belum ada 500 m meninggalkan kompleks mewah tadi, tapi jurang pembeda yang saya lihat dalam redupnya lampu sepeda motor tua saya begitu lebar. Wajah-wajah muram tanpa senyum memandangi saya mengiringi saya menembus gang tikus yang kecil itu. Keangkuhan sepertinya sudah tidak pandang status ekonomi lagi. Baik kaya ataupun miskin memiliki keangkuhan akut yang sama.
Saya terus berusaha mencari jalan. Pom bensin adalah tujuan saya karena tangki motor saya sudah nyaris habis. Ngeri membayangkan kalau saya harus mendorong motor di tempat saya tersesat seperti ini. ITC Permata Hijau saya lewati. Rasanya semakin jauh saya meninggalkan Senayan. Saya harus berhenti dan bertanya kepada penjual kaki lima di pinggir jalan dimana ada pom bensin terdekat.
Beragam jawaban mereka,
“Lurus terus ke sana, lalu belok di situ, ” bahkan mata penjaja nasi goreng keliling itu tak memandang jalan apalagi memandang saya. Konsentrasi penuh ke nasi yang sedang digorengnya.
“Auk…” kata pejalan kaki setengah baya acuh tak acuh sambil berlalu.
“Lurus, lalu ketemu pertigaan ke kiri, lalu ke kanan, terus saja di kiri jalan ada pom, ” kata tukang ban tanpa membalas senyum sopan yang saya perlihatkan.
Setelah mengucapkan terima kasih, Saya coba ikuti petunjuk itu hingga ketemu papan penunjuk jalan yang bertuliskan Pondok Indah Mall. Hah? Bukan pom bensin yang saya temukan, tetapi malah tambah jauh tersasar hingga nyaris PIM. Navigasi darat yang saya kuasai tak ada artinya kalau malam hari. Akhirnya, saya ganti strategi. Saya belok lagi ke tukang kakilima dan membeli teh botol. Dua botol sekaligus habis dalam sekali tenggak. Sambil membayar, saya bertanya.
Ajaib, detail sekali penjelasan beliau si tukang teh botol. Semoga itu bukan karena saya membeli teh botol. Dan akhirnya saya bisa menemukan pom bensin dan kembali ke Senayan dengan lancar.
Sambil berjalan pelan-pelan, pikiran saya dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Kemana perginya keramahan dan kehangatan khas orang Indonesia? Kenapa semua orang menjadi gila dan egois? Dimana semua yang telah saya pelajari di buku PMP, PPKn, hingga Kewarganegaraan — bahwa Indonesia itu gemah ripah loh jinawi grapyak sumanak? Apakah buku itu hanya menjual mimpi dan inilah kenyataan yang sebenarnya? Kalau begitu, pantas saja Taufik Ismail menggerutu lewat puisinya: Malu Aku Jadi Orang Indonesia.
Sang Juara yang Memprihatinkan
Saya masih di sana ketika lomba website di seantero lingkungan ITS diadakan. Meskipun menjadi penjaga gawang portal utama, saya tidak dilibatkan baik sebagai peserta maupun penilai. Saya tak tahu siapa jurinya, tetapi waktu itu yang menjadi juara salah satunya adalah website ini: FTIF. Website fakultas dimana saya belajar.
Reaksi pertama saya waktu mendengar itu adalah berteriak,
“HAH!! APA?!? GAK SALAH TUH??!”
Memang, website ini membawa konsep baru dalam dunia website pendidikan, yaitu sebagai agregator blog-blog anggota fakultas — saya termasuk yang didaftarkan. Meskipun hal ini kontroversial, tapi saya anggap ini adalah sebuah konsep baru yang patut dihargai lebih.
Menurut saya, website yang baik adalah website yang dirawat dengan baik. Membuat website itu mudah, lima menit juga jadi. Yang jauh lebih sulit adalah merawatnya. Perlu cinta kasih dalam merawat sebuah website. Bagi saya, hal inilah yang seharusnya menjadi faktor penilaian dengan bobot terbesar. Setelah itu adalah isi, baru kemudian tampilan layout dan sitemapping.
Karena menjadi penjaga portal, saya jadi tahu kinerja semua website di lingkungan ITS. Dan saya tahu website yang menjadi juara itu (FTIF) dari dulu kurang dirawat. Kok tiba-tiba waktu lomba menjadi sebegitu bagusnya, saya curiga itu hanyalah tren sesaatTM saja.
Dugaan saya terbukti. Iseng saya membuka website FTIF. Aktivitas ngeblog anggotanya juga tren sesaat. Entri agregator itu seperti saya dominasi sendirian (scharra saya ngeblog tiap hari sekarang) ) Ayo dong! Saya tahu betul, FTIF ITS adalah gudangnya mahasiswa dan dosen jenius luar biasa. Hanya diperlukan sedikit kasih sayang untuk merawat website itu. Ini penting karena citra pertama yang dilihat orang luar adalah kesan website-nya.
Artikel terkait: Web ITS, Ganti Layout dong!
Screenshot dokumentasi:
Iklan Ponds versi Sempurna
Janganlah kau tinggalkan diriku
Takkan mampu menghadapi semua
Hanya bersamamu ku akan bisa…
Kau adalah darahku
Kau adalah jantungku
Kau adalah hidupku
Lengkapi hidupku
Oh sayangku, kau begitu… sempurna…
Syair milik Andra & the Backbone ini rasanya begitu pas mengiringi iklan Ponds ini. Konsep yang sebenarnya sangat sederhana: kompilasi beberapa iklan Ponds yang pernah ada. Mulai dari suami yang kembali perhatian, gadis yang menikah, hingga Miracle Age versi keluarga Ferdy Hasan. Tapi iklan ini dengan cerdiknya mengambil sisi-sisi yang menurut saya adalah kekuatan masing-masing iklan. Senyum kemenangan isteri yang melihat suami kembali perhatian. Senyum bahagia Safina saat dipeluk Ferdy, dan yang paling membuat saya tersenyum adalah: Senyum aneh dan unik yang ceria oleh pengantin wanita yang telah berhasil mendapatkan cinta sang pria tampan.
Inilah cara sang market leader melakukan komunikasi visual. Sejak dulu, Ponds sangat sabar melakukan brand building. Ia tidak langsung menghajar secara kasar dengan menjual produk Ponds. Ia memilih dengan pendekatan emosional yang sangat menyentuh. Perlahan selama sekian tahun, lewat iklan-iklannya Ponds berusaha membuat citra kecantikan. Definisi kecantikan menurut Ponds adalah langsing dan berkulit putih. Dan pendekatan melalui iklan dengan lagu saya temukan mulai iklan Ponds versi Ada Band. Ingat nggak? Rasa cinta… yang dulu telah hilang kini berseri kembali…. (adegan cewek lagi marahan dengan cowok di mobil BMW)
Kalau pengarahan definisi ini berhasil, pasar Ponds terbuka luas. Mayoritas, perempuan Indonesia berkulit sawo matang hingga hitam manis. Mungkin hanya beberapa suku saja yang memiliki kulit yang putih. Dan saya kira, riset Ponds berhasil. Pendekatan emosional yang sangat menyentuh ini bahkan tak hanya mempengaruhi wanita, tetapi juga pria! Salah satu definisi cantik menurut saya sendiri adalah putih. Berkulit putih dan imut-imut. Hahaha… )
Jalan-Jalan Tulungagung: Pantai Brumbun
FLICKR
Dari Puncak Bukit | Lokasi: Pantai Brumbun, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM (lensa wajib buat landscaper!)
Pantai Brumbun terletak di wewengkon Kabupaten Tulungagung yang berbatasan langsung dengan pantai selatan. Pantai kecil ini sejatinya merupakan teluk yang masih sangat alami. Berbeda dengan Pantai Popoh yang oleh Pemda Kabupaten telah resmi diekspos sebagai tempat kunjungan wisata, Pantai Brumbun seperti anak tiri yang tidak diperhatikan. Tetapi justru karena itulah, pantai ini masih sangat alami dan begitu cantik.
Terletak sekitar 35 km dari pusat kota, Pantai Brumbun bisa ditempuh melalui jalur yang sama dengan Pantai Indah Popoh. Anda bisa mengambil jalur Tulungagung – Boyolangu – Campurdarat – Ngentrong. Pertigaan SMAN 01 Campurdarat (SMA Ngentrong) belok ke kiri menuju kecamatan Pucanglaban. Sebelum sampai ibukota Pucanglaban, ada jalan kecil ke kanan beraspal jelek yang menuju pantai Brumbun. Jalan ini berbukit-bukit, jadi perhatikan kendaraan Anda harus benar-benar fit. Di perjalanan Anda akan melihat bukit-bukit yang dulu adalah hutan kecil yang rimbun yang sekarang telah gundul dan berubah menjadi ladang jagung.
Berikut adalah foto-fotonya. Saya akan ekspos banyak foto di sini. Jadi bagi yang sedang fakir bandwidth, disarankan tidak membukanya.
Artikel Terkait:
- Sekilas Tentang Waduk Wonorejo
Bersantai
FLICKR
Lokasi: Pantai Prigi, Trenggalek, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR
Saya suka senyuman mereka. Rasanya begitu lepas dan tanpa beban. Piknik berdua dan menghabiskan waktu bersama di pantai. Waktu terasa begitu cepat berlari. Dan setiap detail kejadian saat itu terekam begitu membekas di kenangan. Cara tersenyum, cara bicara, cara bercanda… sebuah bom waktu yang siap meledak dan menyergap di saat sedang sendiri.
Comments