
FLICKR
Lokasi: Puncak Gede, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR
Selalu ada aura mistis ketika kita mengunjungi tempat-tempat yang masih perawan. Seperti selalu ada yang mengawasi kita. Saya merasakan hal yang sama ketika mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon, Jawa Barat. Alam yang masih belum terkontaminasi sangat sensitif, mereka bisa memperingatkan kita kalau kita berlaku kurang baik ketika bergaul dengannya.
Posted in Fotografi
9 Comments »
Entahlah, Saya nggak tahu. Dulu, kalau sedang mellow yellow, saya selalu curhat dan menulis di sini. Puisi, tulisan kesedihan, patah hati, pemujaan terhadap perempuan, harapan, cita-cita… Sekarang kok ewuh pakewuh nulis di sini. Lha? Kok nggak enak sama blog sendiri? Ya sudahlah, sekarang biarlah saya menulis yang mellow-mellow lagi.
Kapan lagi kutulis untukmu,
Tulisan-tulisan indahku yang dulu
Pernah warnai dunia
Puisi terindahku hanya untukmu
– Puisi (Jikustik)
Mungkin juga sinkron dengan saya yang sedang capek. Ada joke kecil ketika saya telah mendapatkan “jawaban sakti” dari perempuan. Apaan tu? Jawaban yang hanya ada dua: ya, atau tidak. Dan saya mendapatkan — lagi-lagi — jawaban “tidak”. Joke kecil yang terlintas di pikiran saya adalah: “Gagal maning gagal maning Son…” Sebuah ungkapan terkenal dari tuyul Pampam kepada tuyul Samson/Sontol di sinetron Tuyul dan Mbak Yul ketika gagal menangkap si Ucil untuk kesekian ribu kalinya.
Waktu itu, semangat masih menyala-nyala. Pantang menyerah. Tapi, entah kenapa kok tiba-tiba semangat itu padam. Capek rasanya kalau harus mengulangi dari awal lagi. Perjalanan memperkenalkan diri yang sangat memakan waktu, pikiran. Yang paling sulit adalah ketika kita telah memutuskan untuk jatuh cinta, lawan terbesar yang harus dihadapi adalah diri sendiri. Hal yang paling melelahkan adalah mengendalikan gejolak perasaan ketika dipermainkan oleh orang yang kepadanya kita sedang jatuh cinta.
Setelah beberapa kali mencoba dengan hasil yang sama, saya tiba pada kesimpulan yang aneh. Skill saya tidak mencukupi. Saya tidak bisa membuat sebuah chemistry yang membuat seorang perempuan merasa nyaman dan aman ketika bersama saya. Yang malah mungkin timbul adalah rasa segan — sebuah perasaan yang kontraproduktif. Biarlah. Ya bagaimana lagi, aura adalah sesuatu yang tidak bisa dibuat-buat. Kalau saya mencoba menghilangkan aura yang muncul dari pribadi saya, artinya saya telah membohongi diri sendiri. Saat itulah saya kadang berandai-andai, andai setiap orang bisa sejenak saja melepaskan segala atribut dari pribadi mereka baik ketika menilai atau dinilai orang lain…
Desperate? Mmm… bukan, istilahnya bukan itu. Tapi realistis. Orang mesti tahu kapan dia harus berhenti sejenak. Saya bukannya tidak mau mencoba lagi. Tapi kalau sekarang buat apa? What for? Toh saya tidak mengubah apa-apa. Artinya saya akan menyusuri jalan yang sama untuk kesekian kalinya lagi. Dan ujung jalannya telah ketahuan. Untuk sementara, berhenti dulu sebelum memulai lagi. Doh, If-then-else sekali ya jalan pikiran ini? hehehe… :D
Dulu, tempat mengadu dan melampiaskan adalah bahasa pemrograman. Haha, untunglah bukan narkoba atau sejenisnya :D . Saya masih ingat ketika saya bisa menguasai Visual Basic dalam suasana belum bisa menerima kenyataan setelah menerima kata-kata pendek yang mengiris tajam, “… aku udah punya cowok…” :)) Sejak itulah saya menyukai bahasa pemrograman.
Sekarang? Ada kamera. Kalau jeli mengamati, mayoritas foto-foto saya berjiwa sepi. Berkomposisi sederhana, tak banyak warna yang tercampur, tak banyak subjek yang menjadi fokus. Karena perasaan itulah yang saya bawa dalam viewfinder. Agar setelah melepas shutter, rasa sepi, sedih, dan kecewa (dan entah apa lagi) segera lepas dari benak. Karena berlarut-larut dalam perasaan tersebut tidak baik. Kayak orang susah aja, hahaha… :))
Mellow itu tetap perlu, saya kira. Kita tidak bisa membohongi diri sendiri bahwa di satu sisi kita sedang begitu sepi. Sakit karena cinta itu seperti sakit gigi. Dia hanya muncul ketika orang sedang tak punya kesibukan yang memerlukan konsentrasi. Waktu itulah dia menyerang. Dan Sret! Hati berdesir tanpa diminta dan akhirnya… ya… pedih.
Ada yang datang, dan setelah itu ada pula yang pergi. Yang telah pergi biarlah menjadi kenangan dan setiap daripadanya akan menjadi pelajaran yang berharga. Bagi saya, yang penting adalah proses, bukan hasil. Sebagai cowok, kita tidak memiliki kekuasaan untuk menentukan hasil. Cuma ada dua hasil: berhasil dan gagal. Berhasil tidak akan ada kalau tidak ada gagal. Dan di dalam proseslah ada sesuatu yang menjanjikan keberhasilan. Bagi saya, kalau saya telah berproses dengan baik, tidak melakukan banyak blunder, dan sebisa mungkin membawakan diri apa adanya, tak akan ada yang perlu saya kecewa. Bahkan kalaupun hasilnya adalah gagal. Karena kita tidak akan pernah berhasil kalau takut terhadap kegagalan.
Wokeh, cukup melankolisnya. Welcome back melankolis. Hehehe… :D
Posted in Melankolis
13 Comments »

FLICKR
Lokasi: Alun-Alun Surya Kencana, Puncak Gede, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR
Bunga Edelweiss yang tumbuh di Indonesia ternyata adalah Edelweiss yang endemik. Hal ini bisa dilihat dari nama latinnya: Anaphalis javanica. Bunga yang sering disebut Bunga Abadi (eternal flower) ini sangat dilindungi di Taman Nasional Gunung Gede. Kalau ketahuan memetik bunga, Anda harus mengembalikannya lagi ke tempat semula. Berbeda dengan yang di Bromo, bunga edelweiss malah dikeringkan dan dijual menjadi suvenir.
Posted in Fotografi
1 Comment »
Untuk mewujudkan keinginanku atas Majapahit yang besar, aku bersumpah akan menjauhi hamukti wiwaha sebelum cita-citaku dan cita-cita kita bersama itu terwujud. Aku tidak akan bersenang-senang dahulu. Aku akan tetap berprihatin dalam puasa tanpa ujung semata-mata demi kebesaran Majapahit. Aku bersumpah untuk tidak beristirahat. Lamun huwus kalah Nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tanjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasek, sama ingsun amukti palapa.
Mengerikan betul sumpah yang diucapkan Gajah Mada di depan Bale Manguntur ketika dilakukan pelantikannya menjadi Sang Mahapatih Majapahit mendampingi Sri Gitarja Tribhuanatunggadewi Jayawisnuwardhani dan Dyah Wiyat Rajadewi Maharajasa. Sumpah ini kemudian terkenal dengan Sumpah Palapa. Bagaimana tidak, negarawan sejati ini bersumpah tidak akan bersenang-senang dalam puasa tanpa ujung sebelum seluruh Nusantara berada di bawah kebesaran Majapahit.
Membaca biografinya yang ditulis dalam bentuk novel sejarah oleh Langit Kresna Hadi (Gajah Mada: Hamukti Palapa, Solo: Tiga Serangkai), terbayang di benak saya figur seorang Gajah Mada yang baginya kepentingan negara ditempatkan diatas kepentingan pribadi dan kelompok. Ia rela membunuh bibit-bibit yang bisa mengacaukan langgengnya pemerintahan kelak. Bahkan kalau perlu, ia bisa mencabut nyawanya sendiri demi kepentingan negara. Saya menduga, kasus Perang Bubat diujung kejayaan Majapahit yang merenggangkan hubungannya dengan Prabu Brawijaya juga didasari oleh kepentingan negara tersebut.
Satu pertanyaan penting di benak saya ketika menyusuri figur Gajah Mada. Apa yang menyebabkan Gajah Mada mampu mengemban sumpahnya? Konsep dan prinsip hidup seperti apa yang mendasari Gajah Mada bersumpah seperti itu? Mungkin salah satu sebabnya bisa dipetik dari konsep anehnya mengenai Wanita. Berikut kutipan dialog antara Gajah Mada dengan Mahapatih Arya Tadah tentang isteri. Meskipun ini hanya rekaan fiksi, tetapi tentunya Pak Langit telah melakukan riset sehingga konsep Gajah Mada tentang wanita sangat masuk akal dengan sumpah palapa-nya.
“Perempuan adalah sumber kelemahan bagiku, Paman! Yang jika aku layani, akan menjadi penghambat semua gerak langkahku. Ke depan, aku tak ingin terganggu oleh hal sekecil apapun. Padahal, ke depan, Majapahit membutuhkan para lelaki perkasa, membutuhkan laki-laki yang tangguh, tidak takut darah tumpah dari tubuhnya, dibutuhkan laki-laki pilih tanding yang berani berkorban dan tidak terikat oleh waktu”. Bagaimana seorang laki-laki bisa bebas dan berani meluaskan wilayah Majapahit, yang untuk keperluan itu mungkin harus dengan pergi bertahun-tahun jika ia terikat oleh seorang isteri, terikat oleh anak atau keluarga. “Bagaimana aku bisa mewujudkan semua impianku itu jika aku terganggu makhluk perempuan bernama isteri, yang merengek merajuk. Isteri atau perempuan bagiku tidak ubahnya rasa lapar dan haus yang harus dilawan.”
Waktu saya membaca paragraf ini saya terhenyak. Saya sangat terkesan dengan prinsip Gajah Mada itu. Dan ketika saya lupa untuk mereview buku ini, kesan ini perlahan mengendap dan diganti oleh lembar-lembar buku yang saya baca berikutnya, sampai saya membaca buku Musashi karangan Eiji Yoshikawa. Musashi, dalam menempuh Jalan Pedang, ternyata memiliki prinsip tentang perempuan yang mirip dengan Gajah Mada. Dan itu membuat saya kembali membuka buku Gajah Mada dan menulis apa yang dulu ingin saya tulis di sini. Tentang konsep Musashi, saya akan menulisnya terpisah, setelah ini. :)
Posted in Review
62 Comments »

FLICKR
Lokasi: Puncak Gunung Gede, Jawa Barat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR
Rombongan itu sama sekali tidak memperdulikan saya yang nyaris kehabisan napas di puncak. Seperti telah melakukannya sebelumnya, mereka bergegas menuju ke sisi tebing bagian barat dan kemudian duduk membelakangi matahari. Lama sekali… duduk berdiam menikmati keindahan yang diciptakan alam kepada penghuninya. Memang pagi yang luar biasa. Hening, sepi, damai…
Mungkin itulah kebahagiaan menurut definisi mereka. Bahagia bisa mensyukuri nikmat sang pencipta yang menghadirkan pagi yang begitu luar biasa yang bisa mereka nikmati hampir setiap hari. Sekadar melepaskan penat setelah bekerja di ladang atau kebun sayur di lereng gunung.
Saya kira… orang kota seharusnya iri terhadap mereka. Mereka benar-benar memiliki konsep kebahagiaan yang sederhana. Bukan seperti yang didefinisikan oleh orang kota yang semakin absurd. Orang kota mengejar kebahagiaan dengan menjalani rutinitas tiap hari yang mirip robot dalam pengapnya udara polusi, saling sodok dalam lalu-lintas yang kacau, saling mengumpat dan marah tanpa alasan yang jelas. Dan kebanyakan mereka bermuara dalam kebahagiaan semu dalam temaram lampu kafe dan klub dugem yang seringkali berujung pada perselingkuhan. Absurd!
Bukankah menyenangkan sekali kalau hidup kita sesederhana orang gunung itu? :)
Posted in Human Interest, Landscape
14 Comments »