Entries from April 2008

Lentera

Date April 15, 2008

FLICKR
Lokasi: Lantai Dasar, Kampus FK UI Salemba, Jakarta Pusat
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Lentera yang unik ini saya temukan menghiasi sudut-sudut lobi utama lantai dasar kampus FK UI. Kesan saya ketika pertama kali masuk gedung ini bukanlah gedung kampus kedokteran, tetapi museum! Gelap dan remang-remang. Sangat artistik, apalagi setelah mengetahui kalau lampu ini menghiasi pintu utama dengan ornamen kaca hablur. Khas zaman dahulu kala. Hehe… Saya suka gedung ini, sangat fotogenik untuk difoto.

Layanan Pencucian Sepeda Motor

Date April 14, 2008

FLICKR
Lokasi: Tepi tol Jagorawi, Cililitan, Jakarta Timur
Canon Powershot A400 | Canon EF 3.2x zoom Built-in Lens

Jumlah sepeda motor di Jakarta kini sangat mengerikan. Jalanan telah didominasi oleh ribuan pengendara sepeda motor. Melihat karakteristik penduduk Jakarta yang mayoritas sibuk, tak punya waktu, individualis, serta memiliki rumah yang sempit, maka layanan pencucian sepeda motor seperti ini menjamur di Jakarta. Hanya dengan Rp. 6000, sepeda motor kesayangan Anda bisa bersih kembali dalam hitungan beberapa menit saja.

Sepeda Motor di Tulungagung

Date April 12, 2008

FLICKR
Lokasi: Pasar Ngemplak, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55mm

Selain becak, sepeda motor adalah sarana transportasi favorit di Tulungagung. Transportasi terfavorit tentu saja adalah mobil. Semua orang ingin punya mobil sebagai bukti tingkat strata sosial. Tetapi bagi kebanyakan orang di Tulungagung, sepeda motor kini sudah sangat terjangkau. Sebagai pembantu urusan bisnis perdagangan, mengangkut hasil kebun untuk dijual ke pasar, atau sekedar berjalan-jalan santai di pagi hari bersama putra tercinta. :)

Proses Pemblokiran, Penjelasan Secara Awam

Date April 12, 2008

Dunia internet Indonesia sedang ribut-ribut gonjang-ganjing mengenai rencana pemblokiran beberapa situs yang dianggap kurang baik oleh pemerintah. Sebenarnya bagaimana sih proses pemblokiran tersebut? Saya akan mencoba menjelaskannya dalam kacamata awam se-awam mungkin yang saya bisa.

Untuk memahami jaringan internet yang rumit, mari kita bayangkan sebagai kompleks perumahan saja. Kita bayangkan komputer-komputer kita adalah rumah yang ada di dalam kompleks. Setiap rumah memiliki nomor rumah. Nah, untuk keluar dari kompleks, kita harus melalui gerbang utama yang dijaga oleh pak satpam.

Kegiatan mengakses sebuah situs di internet, kita seperti keluar dari kompleks, melalui gerbang utama, kemudian minta izin ke pak satpam dulu. Pak Satpam akan bertanya kita akan kemana. Kita jawab ke suatu rumah di kompleks lain dengan alamat ini. Pak Satpam akan mencocokkan dengan peraturan apakah kita memang diperbolehkan berkunjung ke sana. Jika tidak boleh, kita sama sekali tidak bisa keluar dari kompleks dan berkunjung ke rumah yang akan kita tuju, meskipun rumah itu adalah saudara kita sekalipun.

Hanya Menghambat, Tidak bisa Mencegah

Apakah kita memang tidak bisa berkunjung ke rumah itu kalau sudah dilarang pak satpam? Selama pak satpam membolehkan kita keluar, kita tetap bisa. Biasanya, pak satpam hanya membolehkan kita keluar jika kita akan menuju ke:

  • Perpustakaan (80, HTTP)
  • Kantor polisi  (443, HTTPS)
  • Pasar (21, FTP)
  • Kantor Pos (25, SMTP)

Pak Satpam biasanya akan melarang jika tujuan kita adalah:

  • Agen Pengiriman Paket (3128, 8080, Proxy Server)
  • Gedung Pertemuan (5050, Yahoo Messenger)
  • Rumah-rumah yang bernomor selain nomor tersebut di atas.

Pak Satpam yang lebih teliti akan melihat lebih detail lagi. Pak satpam akan melarang kita berkunjung ke perpustakaan tertentu seperti Youtube dan Multiply misalnya, karena mereka memiliki koleksi pornografi. Atau bahkan lebih detail lagi, kita boleh berkunjung ke perpustakaan Youtube tetapi tidak boleh masuk ke lantai 2 gedung tersebut karena di sana ada koleksi pornografi.

Pak Satpam juga manusia yang memiliki keterbatasan. Kita tetap bisa mengunjungi rumah-rumah yang dilarang pak satpam tanpa harus menyakitinya. Cukup yakinkan pak satpam bahwa kita akan berkunjung ke tempat yang menurutnya boleh.

Cara pertama

Kita bilang ke pak satpam, “Pak, saya akan ke kantor polisi mengurus SKKB.” Siapa yang akan melarang dengan niat mulia tersebut? Pak satpam tentu akan mengizinkan. Tetapi pak satpam tidak tahu kalau ternyata kita tidak berkunjung ke kantor polisi, tetapi ke agen pengiriman paket yang memiliki nomor pintu sama dengan kantor polisi, yaitu 443. Pak Satpam hanya bisa mengenali tujuan kita dengan nomor pintu yang kita tuju. Pak Satpam tidak bisa mengikuti kita dan ikut memeriksa apakah benar yang ada di balik pintu 443 benar-benar kantor polisi. Lha, karena kita telah berhasil keluar dari pak satpam dengan cara yang sah dan tiba ke agen pengiriman paket, kita bisa minta agen tersebut mengantarkan kita kemana saja yang kita mau, termasuk ke gedung pertemuan Yahoo Messenger yang bernomor 5050. Inilah yang dinamakan HTTP Tunneling. Contohnya adalah yang dilakukan Pak Harry Sufehmi ini. Semoga Allah memberikan amal jariyah buat bapak dengan layanan ini. Amin.

Cara kedua

Cara ini lebih mudah. Kita bilang ke pak satpam, “Pak, saya akan ke perpustakaan dengan alamat ini.” Karena alamat ini tidak masuk dalam daftar alamat “hitam” milik pak satpam, kita akan diizinkan keluar. Tetapi ternyata perpustakaan tersebut sama sekali tidak memiliki koleksi buku. Istimewanya, kita bisa minta ke petugas bahwa kita ingin koleksi dari perpustakaan lain yang bisa jadi dilarang oleh pak satpam. Perpustakaan macam begini jumlahnya sangat banyak. Inilah yang dinamakan Web Proxy. Contohnya, misalnya http://56st.com

Begitulah, pak satpam tetap memiliki keterbatasan. Untuk cara pertama, kalau mau, pak satpam bisa saja mengikuti kemana kita pergi dan memeriksa apakah kita benar-benar pergi ke tempat yang kita bilang ke pak satpam. Tetapi bayangkan berapa tenaga yang harus dikeluarkan pak satpam untuk mengurusi sekian banyak penghuni kompleks yang sama-sama sibuk.

Untuk cara kedua, pak satpam harus memiliki catatan perpustakaan mana saja yang tidak memiliki koleksi. Jumlahnya sangat banyak. Catatan pak satpam bisa membengkak menjadi beribu-ribu halaman. Dan tentunya memerlukan waktu yang lama untuk mencocokkan tujuan kita dengan ribuan halaman itu. Tenaga yang dibutuhkan tidak sebanding dengan hasil.

Solusi

Itulah kenapa, pengurus kompleks (Pak Menteri Kominfo) berkali-kali berkata bahwa pemblokiran hanyalah satu layer dari tiga layer yang direncanakan. Saat ini sedang disiapkan satpam yang bisa ditempatkan di masing-masing rumah. Satpam ini tidak memblokir, tetapi memberi tahu. “Ibu, situs ini kurang baik karena mengandung pornografi. Berbahaya bagi anak-anak Anda yang masih remaja.” Sehingga peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.

Harapan untuk Adobe Dreamweaver

Date April 11, 2008

Waktu awal-awal saya memakai Macromedia Dreamweaver versi 8 yang merupakan generasi penerus Macromedia MX 2004, saya merasa bahwa software ini telah sampai pada titik state of the art-nya. Begitu mudah mendevelop sebuah website. Begitu cepat memindahkan desain tampilan ke dalam bentuk tag-tag HTML. Apalagi yang lebih saya perlukan selain alat sehebat ini?

Ternyata saya salah. Titik kesempuranaan masih jauh. Masih ada CSS Tableless Layout. Saya memimpikan Dreamweaver kelak bisa melakukan pembuatan web berbasis CSS semudah sekarang melakukan layouting dengan tabel. Saat ini, Dreamweaver telah mampu membaca dan menerjemahkan layout CSS dengan baik pada lembar kerja WYSYWG (What You See is What You Get)-nya. Tetapi untuk membuatnya, kita masih harus berkotor-kotor terjun ke editor teks dan mengetik baris demi baris kode. Memang telah ada template berbasis CSS yang telah disediakan oleh Dreamweaver, tetapi untuk pembuatan dari nol, ia belum mampu menyediakan. Saya membayangkan bisa membuat layout CSS dengan drag and drop seperti pembuatan layout tabel sekarang.

Ketika Macromedia diakuisisi Adobe, saya berpikir betapa hebatnya nanti gabungan dua software mainstream web ini: Adobe Photoshop dan Adobe Dreamweaver. Adobe Photoshop menyediakan fasilitas save-for-web dalam bentuk tableless layout. Hehe.. bukan tidak mungkin ini benar-benar akan dilakukan dalam versi-versi mendatang.

Versi pertama Dreamweaver setelah diakuisisi Adobe adalah Adobe Dreamweaver CS3 (CS merupakan kependekan dari Creative Suite). Dibundel dalam satu paket raksasa Adobe CS3 Design Premium yang terdiri dari:

  •  Adobe Flash CS3 (Macromedia Flash)
  • Adobe Dreamweaver CS3 (Macromedia Dreamweaver)
  • Adobe Illustrator CS3
  • Adobe InDesign CS3
  • Adobe Photoshop CS3

Waktu melakukan instalasi, saya tidak yakin ada perubahan signifikan di Dreamweaver CS3. Dugaan saya benar. Secara fungsionalitas, nyaris tidak ada yang berubah. Hanya beberapa template web yang ditambah. Ini merupakan produk lama yang dibungkus dengan brand baru di bawah bendera Adobe.

Semoga Dreamweaver bisa melakukan apa yang jadi impian saya ini di versi berikutnya. Dan tentu saja, semoga muncul software yang free yang bisa menyamai Dreamweaver. Hehehe…

Artikel terkait: Adobe Design Premium CS3 Quick Review