Harapan untuk Adobe Dreamweaver

Posted by: on Apr 11, 2008 | 4 Comments

Waktu awal-awal saya memakai Macromedia Dreamweaver versi 8 yang merupakan generasi penerus Macromedia MX 2004, saya merasa bahwa software ini telah sampai pada titik state of the art-nya. Begitu mudah mendevelop sebuah website. Begitu cepat memindahkan desain tampilan ke dalam bentuk tag-tag HTML. Apalagi yang lebih saya perlukan selain alat sehebat ini?

Ternyata saya salah. Titik kesempuranaan masih jauh. Masih ada CSS Tableless Layout. Saya memimpikan Dreamweaver kelak bisa melakukan pembuatan web berbasis CSS semudah sekarang melakukan layouting dengan tabel. Saat ini, Dreamweaver telah mampu membaca dan menerjemahkan layout CSS dengan baik pada lembar kerja WYSYWG (What You See is What You Get)-nya. Tetapi untuk membuatnya, kita masih harus berkotor-kotor terjun ke editor teks dan mengetik baris demi baris kode. Memang telah ada template berbasis CSS yang telah disediakan oleh Dreamweaver, tetapi untuk pembuatan dari nol, ia belum mampu menyediakan. Saya membayangkan bisa membuat layout CSS dengan drag and drop seperti pembuatan layout tabel sekarang.

Ketika Macromedia diakuisisi Adobe, saya berpikir betapa hebatnya nanti gabungan dua software mainstream web ini: Adobe Photoshop dan Adobe Dreamweaver. Adobe Photoshop menyediakan fasilitas save-for-web dalam bentuk tableless layout. Hehe.. bukan tidak mungkin ini benar-benar akan dilakukan dalam versi-versi mendatang.

Versi pertama Dreamweaver setelah diakuisisi Adobe adalah Adobe Dreamweaver CS3 (CS merupakan kependekan dari Creative Suite). Dibundel dalam satu paket raksasa Adobe CS3 Design Premium yang terdiri dari:

  •  Adobe Flash CS3 (Macromedia Flash)
  • Adobe Dreamweaver CS3 (Macromedia Dreamweaver)
  • Adobe Illustrator CS3
  • Adobe InDesign CS3
  • Adobe Photoshop CS3

Waktu melakukan instalasi, saya tidak yakin ada perubahan signifikan di Dreamweaver CS3. Dugaan saya benar. Secara fungsionalitas, nyaris tidak ada yang berubah. Hanya beberapa template web yang ditambah. Ini merupakan produk lama yang dibungkus dengan brand baru di bawah bendera Adobe.

Semoga Dreamweaver bisa melakukan apa yang jadi impian saya ini di versi berikutnya. Dan tentu saja, semoga muncul software yang free yang bisa menyamai Dreamweaver. Hehehe…

Artikel terkait: Adobe Design Premium CS3 Quick Review

Lorong

Posted by: on Apr 9, 2008 | 7 Comments

FLICKR
Lokasi: Lantai 2 Kampus FK UI, Salemba, Jakarta
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Inilah salah satu sudut kampus yang terkenal itu: kampus Pendidikan Dokter Universitas Indonesia atau yang lebih dikenal dengan kampus FK UI. Bangunan Belanda yang anggun dan menarik untuk difoto. Bukan hanya arsitekturnya yang khas, tetapi juga auranya yang menawan. Beberapa kali bulu kuduk saya merinding ketika melihat sudut-sudut yang agak gelap. Bahkan saya beberapa kali berkata, “Ya ampun, singup-nya (singup: kesan berhantu) kampus ini…”

Petugas Dinas Kebersihan

Posted by: on Apr 9, 2008 | 3 Comments

FLICKR
Lokasi: Depan kampus FK UI, Salemba, Jakarta Pusat
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR

Apa jadinya ya kalau tidak ada beliau-beliau ini di jalanan Jakarta? Merekalah pahlawan jalanan. Bekerja dengan taruhan nyawa. Bayangkan kalau ada satu pengendara yang sedikit ngantuk, atau sedang melirik cewek yang sedang berjalan di pinggir trotoar, bapak ini bisa jadi tertubruk dan nyawa bisa melayang karenanya.

Canon seri Ixus

Posted by: on Apr 7, 2008 | 8 Comments

FLICKR
Lokasi: Pameran Fotografi Focus, JCC, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR

Ini bukan iklan Canon lho

Canon seri Ixus adalah kamera saku keluaran Canon yang benar-benar bisa dimasukkan ke dalam saku. Berbeda dengan seri Powershot A, Canon Ixus jauh lebih kecil. Jemari Nikita Willy yang lentik saja bisa memegang Ixus dengan leluasa.

Akhir-akhir ini, aku ingin memotret lingkungan sekitar dengan kamera saku lagi. Terinspirasi oleh blog Jakarta Daily Photo. Makanya aku bikin kategori baru bernama Daily Photos. Memotret keadaan kehidupan sehari-hari terlalu ribet jika memakai DSLR dengan segala lensa-lensanya yang berat. Sempat pikiran setan masuk ke kepalaku untuk membeli Ixus karena Powershot A400 agak terlalu besar untuk ukuran kamera saku. Tapi tidak ah. Aku harus bisa mengendalikan diri. A400 masih cukup tangguh untuk kebutuhan ini, heheheh…

Baliho Perspektif Wimar

Posted by: on Apr 7, 2008 | 5 Comments

FLICKR
Lokasi: Depan kampus FK UI, Salemba, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR

Perspektif Wimar Witoelar hadir lagi di Antv. Karena target audience-nya adalah mayoritas kaum kantoran, maka pemilihan waktunya adalah pagi-pagi. Head-to-head dengan acara Sport7 di Trans7 dan laporan berita di stasiun televisi lain.

Seperti halnya Seleb Dance dan Topik dulu, Antv memanfaatkan baliho raksasa ini untuk iklan acaranya. Baliho ini saya lihat ada di Salemba, tepat di depan kampus Fakultas Kedokteran UI.

Tentang UU ITE

Posted by: on Apr 6, 2008 | 10 Comments

Waktu mengetahui pemerintah telah melakukan pemblokiran situs-situs dewasa via Indonesia Internet Exchange (IIX), saya tidak terlalu peduli dengan berita dan segala reaksi kehebohan yang terjadi. Apakah saya pembenci situs porno? Ah, kalau saya menjawab “iya”, berarti saya munafik dan mencitrakan diri saya sebagai orang baik di sini. ) Sebaliknya, saya adalah salah satu fans berat dari Maria Ozawa dkk yang tergabung dalam MFC. Microsoft Foundation Class? Oh, bukan… tetapi Miyabi Fans Club (thanks to crew lab AJK yang menelurkan istilah ini).

Kabar hot terbaru adalah beredarnya film Fitna yang isinya (lagi-lagi) merupakan penghinaan terhadap Islam. Film ini beredar di Youtube. Dengan payung hukum UU ITE yang baru, Depkominfo secara tegas (dan emosional?) membreidel Youtube dari Indonesia. Masyarakat Indonesia dilarang mengakses situs Youtube. Beredar kabar bahwa film ini juga ada di Google Video. Apakah Google akan dibreidel juga?

Saya bertanya-tanya. Youtube adalah situs web 2.0 yang basisnya adalah publik. Kalau ada content yang melanggar terms and condition, publik juga bisa mengirim protes. Salah satu contohnya adalah video-video liputan pertandingan Liga Inggris. Saya sering mendapati pemberitahuan dari pihak Youtube bahwa isi telah tidak ada lagi karena melanggar copyright. Biasanya karena ada laporan dari pihak pemegang copyright. Nah, pertanyaan saya, kenapa pemerintah via Depkominfo tidak melakukan hal yang sama? Youtube adalah situs yang sangat terbuka. Daripada melakukan boikot terhadap Youtube, kan rasanya lebih elegan dan bijaksana melaporkan isi tersebut kepada Youtube.

Kalau sudah begini, siapa berikutnya? Multiply, Friendster, Facebook, Myspace, Flickr, Yahoo!, WordPress, Blogger, dan akhirnya, Google. Tapi mungkin juga ada hikmah positif kalau semua layanan itu menghilang dari bumi Indonesia. Kita akan dituntut lebih kreatif lagi membuat content-content lokal yang bermanfaat sehingga menghemat biaya bandwidth luar negeri kita.

Internet, masih merupakan barang mewah dan mahal di negeri kita.

Web ITS, Ganti Layout dong!

Posted by: on Apr 3, 2008 | 18 Comments

Hari ini saya membuka halaman biru website Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Tampilan biru membuat pikiran saya melamun ke beberapa tahun sebelumnya…

Juli 2006, saya menyelesaikan kuliah  S1 saya dengan berhasil mempresentasikan Tugas Akhir bidang minat Sistem Bisnis Cerdas. Setelah itu, saya merasa waktu saya di ITSnet tinggal sebentar. Bagi saya ITSnet adalah tempat yang sangat baik untuk belajar dan mengeksplorasi segala hal yang berhubungan dengan teknologi informasi. Dan tentu saja, sudah saatnya saya harus pergi untuk mengaplikasikan apa yang saya dapatkan di bangku kuliah. Turun gunung kalau meminjam istilah serial Wiro Sableng 212.

Sebelum pergi, saya ingin membuat kenang-kenangan untuk keluarga saya di ITSnet: sebuah tampilan yang baru untuk website generasi berikutnya. Saya sebut generasi ini dengan nama V3. Versi ketiga. Boleh juga dibaca fitri. Mengekspos teknologi tableless layout dan Ajax, saya mencoba mendesain dengan penuh cinta dan kasih sayang dengan segala daya yang saya miliki selama saya belajar web design. Dan itulah hasilnya, layout biru sederhana. Saya suka kesederhanaan. Simpler is better.


Pertimbangan saya membuat tampilan baru sederhana juga, yaitu memberikan waktu untuk pengganti saya menyiapkan masterpiece-nya. Selama persiapan itu, website ITS masih dalam tampilan yang segar sehingga tidak perlu buru-buru menyelesaikan generasi berikutnya dari web ITS. Nanti ketika sudah waktunya web ITS harus ganti, tampilan baru telah siap. Tidak harus lebih baik daripada punya saya, tetapi cukuplah ganti dan segar. Website kampus sebaiknya memang digunakan untuk eksperimen mahasiswanya. Namanya juga belajar.

Hampir dua tahun berlalu. Siapa sangka layout yang sedianya untuk transisi itu masih belum berganti juga sampai sekarang? Saya lihat, informasi yang harus ditampilkan ITS semakin banyak. Layout yang sekarang sudah tidak mungkin lagi mengakomodasi informasi itu. Terlihat terlalu dipaksakan. Tak ada pilihan lain, kecuali ganti tampilan.

Ayo dong!

Switch to our mobile site