Kartini Modern

Posted by: on Apr 21, 2008 | 8 Comments

FLICKR
Model: Anita (diupload tanpa seizin model)
Lokasi: Wisma Mulia, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55mm

Untuk ibu-ibu, selamat hari Kartini 21 April. Semoga cita-cita dan semangat ibu Kartini tetap terpancar di hati perempuan Indonesia. Habis gelap, terbitlah terang.

PS: Untuk Mbak Nitcha, kalau nggak berkenan fotonya diupload di sini, bilang yah

Membidik

Posted by: on Apr 17, 2008 | 10 Comments

FLICKR
Lokasi: Halaman depan kampus FK UI, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR

Kawan baik saya, Moh. Farid Taufiqurrahman, sedang membidik calon isterinya dari jauh. Di belakangnya, seorang fotografer juga sedang membidik. Kalau kata Farid sih, “Prepare your gun, aim your target, and give me your best shot!”

Tentang DagDigDug

Posted by: on Apr 15, 2008 | 8 Comments

Nama yang lucu: DagDigDug. Sangat mudah mengingatnya, meski agak sulit mengetikkannya di keyboard. Sebuah layanan blogging asli Indonesia yang berbasis mesin WordPress. Saya tahu layanan ini muncul dari salah satu entri di RSS Feed yang berserakan di notebook saya.

Awalnya, saya tak tertarik untuk buat account di sana. Merawat satu blog ini saja sudah memerlukan waktu dan perhatian. Kemudian, ada email datang dari Mbak Dwi yang menanyakan bagaimana mensetup blog di account-nya yang ada di deeply.dagdigdug.com. Waktu itu, DagDigDug masih dalam pengembangan. Wajar kalau di sana sini banyak yang error. Agar bisa membantu Mbak Dwi, akhirnya saya ikutan membuat account dengan nick galihsatria.dagdigdug.com. Meskipun ya… hehe… nggak tahu saya akan menulis apa di situ. Sepertinya akan tetap dibiarkan seperti aslinya

Kok sampai saya menulis posting ini? Karena tampilan baru DagDigDug yang telah matang membuat saya terkesan. Bravo!  Congrats, dagdigdug!

Curhat Mode: ON.

Saya jadi ingat kalau saya baru saja akan mendapatkan tanggung jawab baru untuk merombak total dan merawat sebuah portal. Kurang lebih, seperti dulu yang saya kerjakan di ITS. Melihat tampilan DagDigDug saya jadi keder. Gila perkembangan web designer dalam mengotak-atik CSS. Melihat saya yang sudah lama tidak mendesain CSS, dan melihat load kerja harian saya yang juga gila-gilaan, saya hanya tak yakin saya bisa mengerjakan sebaik dulu lagi. Itu saja yang sekarang agak membebani pikiran saya. Tuntutan untuk menghasilkan karya yang baik, dimana kini waktu makin lama makin mahal bagi saya. Fiuh…

Tantangan telah datang Galih. It’s time to do better than your best, ever.

Lentera

Posted by: on Apr 15, 2008 | 6 Comments

FLICKR
Lokasi: Lantai Dasar, Kampus FK UI Salemba, Jakarta Pusat
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Lentera yang unik ini saya temukan menghiasi sudut-sudut lobi utama lantai dasar kampus FK UI. Kesan saya ketika pertama kali masuk gedung ini bukanlah gedung kampus kedokteran, tetapi museum! Gelap dan remang-remang. Sangat artistik, apalagi setelah mengetahui kalau lampu ini menghiasi pintu utama dengan ornamen kaca hablur. Khas zaman dahulu kala. Hehe… Saya suka gedung ini, sangat fotogenik untuk difoto.

Layanan Pencucian Sepeda Motor

Posted by: on Apr 14, 2008 | 8 Comments

FLICKR
Lokasi: Tepi tol Jagorawi, Cililitan, Jakarta Timur
Canon Powershot A400 | Canon EF 3.2x zoom Built-in Lens

Jumlah sepeda motor di Jakarta kini sangat mengerikan. Jalanan telah didominasi oleh ribuan pengendara sepeda motor. Melihat karakteristik penduduk Jakarta yang mayoritas sibuk, tak punya waktu, individualis, serta memiliki rumah yang sempit, maka layanan pencucian sepeda motor seperti ini menjamur di Jakarta. Hanya dengan Rp. 6000, sepeda motor kesayangan Anda bisa bersih kembali dalam hitungan beberapa menit saja.

Sepeda Motor di Tulungagung

Posted by: on Apr 12, 2008 | 16 Comments

FLICKR
Lokasi: Pasar Ngemplak, Tulungagung, Jawa Timur
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55mm

Selain becak, sepeda motor adalah sarana transportasi favorit di Tulungagung. Transportasi terfavorit tentu saja adalah mobil. Semua orang ingin punya mobil sebagai bukti tingkat strata sosial. Tetapi bagi kebanyakan orang di Tulungagung, sepeda motor kini sudah sangat terjangkau. Sebagai pembantu urusan bisnis perdagangan, mengangkut hasil kebun untuk dijual ke pasar, atau sekedar berjalan-jalan santai di pagi hari bersama putra tercinta.

Proses Pemblokiran, Penjelasan Secara Awam

Posted by: on Apr 12, 2008 | 9 Comments

Dunia internet Indonesia sedang ribut-ribut gonjang-ganjing mengenai rencana pemblokiran beberapa situs yang dianggap kurang baik oleh pemerintah. Sebenarnya bagaimana sih proses pemblokiran tersebut? Saya akan mencoba menjelaskannya dalam kacamata awam se-awam mungkin yang saya bisa.

Untuk memahami jaringan internet yang rumit, mari kita bayangkan sebagai kompleks perumahan saja. Kita bayangkan komputer-komputer kita adalah rumah yang ada di dalam kompleks. Setiap rumah memiliki nomor rumah. Nah, untuk keluar dari kompleks, kita harus melalui gerbang utama yang dijaga oleh pak satpam.

Kegiatan mengakses sebuah situs di internet, kita seperti keluar dari kompleks, melalui gerbang utama, kemudian minta izin ke pak satpam dulu. Pak Satpam akan bertanya kita akan kemana. Kita jawab ke suatu rumah di kompleks lain dengan alamat ini. Pak Satpam akan mencocokkan dengan peraturan apakah kita memang diperbolehkan berkunjung ke sana. Jika tidak boleh, kita sama sekali tidak bisa keluar dari kompleks dan berkunjung ke rumah yang akan kita tuju, meskipun rumah itu adalah saudara kita sekalipun.

Hanya Menghambat, Tidak bisa Mencegah

Apakah kita memang tidak bisa berkunjung ke rumah itu kalau sudah dilarang pak satpam? Selama pak satpam membolehkan kita keluar, kita tetap bisa. Biasanya, pak satpam hanya membolehkan kita keluar jika kita akan menuju ke:

  • Perpustakaan (80, HTTP)
  • Kantor polisi  (443, HTTPS)
  • Pasar (21, FTP)
  • Kantor Pos (25, SMTP)

Pak Satpam biasanya akan melarang jika tujuan kita adalah:

  • Agen Pengiriman Paket (3128, 8080, Proxy Server)
  • Gedung Pertemuan (5050, Yahoo Messenger)
  • Rumah-rumah yang bernomor selain nomor tersebut di atas.

Pak Satpam yang lebih teliti akan melihat lebih detail lagi. Pak satpam akan melarang kita berkunjung ke perpustakaan tertentu seperti Youtube dan Multiply misalnya, karena mereka memiliki koleksi pornografi. Atau bahkan lebih detail lagi, kita boleh berkunjung ke perpustakaan Youtube tetapi tidak boleh masuk ke lantai 2 gedung tersebut karena di sana ada koleksi pornografi.

Pak Satpam juga manusia yang memiliki keterbatasan. Kita tetap bisa mengunjungi rumah-rumah yang dilarang pak satpam tanpa harus menyakitinya. Cukup yakinkan pak satpam bahwa kita akan berkunjung ke tempat yang menurutnya boleh.

Cara pertama

Kita bilang ke pak satpam, “Pak, saya akan ke kantor polisi mengurus SKKB.” Siapa yang akan melarang dengan niat mulia tersebut? Pak satpam tentu akan mengizinkan. Tetapi pak satpam tidak tahu kalau ternyata kita tidak berkunjung ke kantor polisi, tetapi ke agen pengiriman paket yang memiliki nomor pintu sama dengan kantor polisi, yaitu 443. Pak Satpam hanya bisa mengenali tujuan kita dengan nomor pintu yang kita tuju. Pak Satpam tidak bisa mengikuti kita dan ikut memeriksa apakah benar yang ada di balik pintu 443 benar-benar kantor polisi. Lha, karena kita telah berhasil keluar dari pak satpam dengan cara yang sah dan tiba ke agen pengiriman paket, kita bisa minta agen tersebut mengantarkan kita kemana saja yang kita mau, termasuk ke gedung pertemuan Yahoo Messenger yang bernomor 5050. Inilah yang dinamakan HTTP Tunneling. Contohnya adalah yang dilakukan Pak Harry Sufehmi ini. Semoga Allah memberikan amal jariyah buat bapak dengan layanan ini. Amin.

Cara kedua

Cara ini lebih mudah. Kita bilang ke pak satpam, “Pak, saya akan ke perpustakaan dengan alamat ini.” Karena alamat ini tidak masuk dalam daftar alamat “hitam” milik pak satpam, kita akan diizinkan keluar. Tetapi ternyata perpustakaan tersebut sama sekali tidak memiliki koleksi buku. Istimewanya, kita bisa minta ke petugas bahwa kita ingin koleksi dari perpustakaan lain yang bisa jadi dilarang oleh pak satpam. Perpustakaan macam begini jumlahnya sangat banyak. Inilah yang dinamakan Web Proxy. Contohnya, misalnya http://56st.com

Begitulah, pak satpam tetap memiliki keterbatasan. Untuk cara pertama, kalau mau, pak satpam bisa saja mengikuti kemana kita pergi dan memeriksa apakah kita benar-benar pergi ke tempat yang kita bilang ke pak satpam. Tetapi bayangkan berapa tenaga yang harus dikeluarkan pak satpam untuk mengurusi sekian banyak penghuni kompleks yang sama-sama sibuk.

Untuk cara kedua, pak satpam harus memiliki catatan perpustakaan mana saja yang tidak memiliki koleksi. Jumlahnya sangat banyak. Catatan pak satpam bisa membengkak menjadi beribu-ribu halaman. Dan tentunya memerlukan waktu yang lama untuk mencocokkan tujuan kita dengan ribuan halaman itu. Tenaga yang dibutuhkan tidak sebanding dengan hasil.

Solusi

Itulah kenapa, pengurus kompleks (Pak Menteri Kominfo) berkali-kali berkata bahwa pemblokiran hanyalah satu layer dari tiga layer yang direncanakan. Saat ini sedang disiapkan satpam yang bisa ditempatkan di masing-masing rumah. Satpam ini tidak memblokir, tetapi memberi tahu. “Ibu, situs ini kurang baik karena mengandung pornografi. Berbahaya bagi anak-anak Anda yang masih remaja.” Sehingga peran orang tua dan guru sangat diperlukan untuk memberikan pendidikan kepada masyarakat.

Switch to our mobile site