Seklumit Pesan dari AAC The Movie: Cinta yang Membawa Luka
Nah, setelah semua orang mereview film AAC yang tak kalah fenomenal dengan novelnya, kini izinkan saya untuk juga bercerita tentang kesan saya tentang Ayat-Ayat Cinta the Movie. Tak perlu ada Spoiler Alert di sini bukan? Saya yakin semua telah membaca dan menonton AAC.
Dalam keseharian kita, kita mungkin saja menemukan sosok yang seperti Fahri yang begitu sempurna. Berwajah tampan, berotak cerdas, rendah hati, jujur, dan segudang sifat-sifat baik lainnya. Saya tak melulu bicara sosok Fahri di sini, tapi secara umum. Ada saja wanita yang begitu menarik, ramah, baik hati… Mereka bahkan tidak perlu berusaha tampil menarik, sudah begitu banyak orang yang tertarik dan memuja. Fahri bahkan tidak sadar bahwa dirinya memiliki semua kapasitas yang bisa menjadikan ia seorang playboy kelas kakap. Bayangkan saja, ada empat wanita yang jatuh cinta padanya: Aisha, Maria, Nurul, dan Noura.
Inilah tragisnya. Cinta mereka adalah cinta yang membawa luka. Semua terluka ketika sang pujaan hati menjatuhkan pilihannya kepada Aisha. Cahaya kehidupan Nurul padam meskipun ia masih bisa tegar menerima kenyataan. Maria jatuh sakit. Tapi saya yakin, Maria sakit bukan karena disiksa penyakit jantungnya, tapi lebih karena siksaan perasaan yang terlanjur hancur. Hancur hingga kematiannya. Noura yang paling parah. Ini adalah hero worship yang membawa bencana. Tertolak cintanya, ia malah memfitnah sang pujaan hati sebagai caranya untuk membalas dendam. Begitu dekat batas antara benci dan cinta.
Aku mengerti satu hal Fahri, ternyata… cinta dan keinginan untuk memiliki itu berbeda
–Maria, sesaat sebelum ajal menjemputnya
Keinginan untuk memiliki adalah sebuah obsesi. Ia seharusnya bukan sebuah representasi dari cinta. Karena obsesi itu egois. Cinta seharusnya ikhlas dan sabar. Cinta itu luka. Tetapi luka yang akan menjadikan kita menjadi jauh lebih tegar, lebih dewasa, dan lebih arif dalam menghadapi setiap permasalahan.
Oke.. oke.. saya bicara begini memang saya selalu ada di pihak luar. Saya ada di pihak yang selalu mengalami kasih tak sampai. Mungkin jika saya ada di pihak dalam saya juga akan berkata, “Ah, itu hanya kata-kata orang yang tertolak cintanya. Kacian deh lo!” Tapi bukankah setiap kejadian selalu ada hikmah yang bisa kita petik?
Apakah ada bedanya
Ketika kita bertemu dengan saat kita berpisah?
Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
Di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan,
Dada yang terluka
Duka yang tersayat
Rasa yang terluka….– Apakah Ada Bedanya, Ebiet G Ade
Ayat-Ayat Cinta, baik novel maupun film, mencoba menyampaikan pesan pada kita tentang sabar dan ikhlas lewat pendekatan cinta. Fahri yang harus ikhlas ketika dikeluarkan dari Al-Azhar, padahal Al-Azhar adalah pusat kehidupannya. Aisha yang harus ikhlas dimadu, demi agar Maria sembuh karena ia adalah kunci Fahri lolos dari fitnah dan jeratan hukuman gantung. Di sini kita melihat pancaran cinta seorang isteri kepada suaminya. Aduh, jadi pengen punya isteri kayak gitu (ya iyalah: cakep, baik hati, kaya lagi ) ).
Tentang bagaimana eksekusi Hanung dalam film ini, saya tak banyak berkomentar. Wajar jika banyak yang kecewa dan tak sesuai dengan imajinasinya. Namanya juga novel yang divisualisasikan, tentu berbeda dengan imajinasi banyak orang. Tapi bagi saya, film ini jauh lebih manusiawi daripada novelnya. Di novel, saya lebih melihat Fahri sebagai malaikat daripada manusia biasa.
Tapi bagi saya, ide sedikit memplesetkan cerita film ini adalah ide marketing yang luar biasa. Cerita yang sedikit berbeda akan menuai banyak komentar. Komentar menimbulkan kontroversi. Dan kontroversi, hingga saat ini, adalah salah satu bahan bakar yang paling efektif dalam masyarakat Indonesia.
FOCUS Jakarta Photo & Digital Imaging Expo 2008
Kawan-kawan pecinta fotografi, mulai minggu depan kita akan disuguhi pameran tentang fotografi di JCC. Akan ada sangat banyak informasi dan ilmu yang bisa kita dapatkan dari sana (kalau saya lihat outline jadwalnya lho). Diselenggarakan mulai tanggal 12 Maret 2008 (Rabu) hingga 16 Maret 2008 (Minggu) di Jakarta Convention Centre.
Tentunya, selain ilmu dan info terbaru, kita bisa cari yang “bening-bening” kayak di IIMS dulu =p~
Ada yang mau bareng sama sayah?
Sudut Lain Jakarta
FLICKR
Lokasi: Wisma Mulia Lt. 48, Jakarta
Nikon D40 | Sigma 10-20mm @10mm EX HSM | 1/40s | F/11
Menyambung foto sebelum ini dan yang di posting ini, sebuah ironi dan kontradiksi. Jakarta hanya mengkilap di gedung-gedung perkantorannya yang menjulang tinggi dan begitu mewah. Anda bisa menemui mobil yang belum pernah Anda temui, misalnya Toyota Fortuner, Toyota Harrier, Lexus, Landrover, Rangerover, dll. Tapi di balik gedung-gedung mengkilap ini, berjejalan perkampungan penduduk yang begitu jauh berbeda dengan keindahan gedung-gedung itu.
Suatu Sore di Sudut Jakarta
FLICKR
Lokasi: Sekitar Kali Ciliwung, Kalibata, Jakarta Selatan
Nikon D40 | Sigma 10-20mm EX HSM @10mm | 1/200 s | F/5.6
Uji coba pertama memakai Sigma superwide 10-20. Inilah salah satu wajah Jakarta, perkampungannya yang sangat padat. Saya memotret di tepi tanggul kali Ciliwung yang terkenal itu. Daerah ini bahkan jauh lebih rendah dari tanggul kali, maka tak heran jika setiap kali Ciliwung meluap, daerah ini selalu terendam. Waktu banjir besar Jakarta 2006, daerah ini termasuk daerah yang penyembuhannya paling lama.
It’s not my best shot, for sake. It’s just my first date with Sigma 10-20.
Catatan Hari Ini: 1 Maret 2008
Saya dan keluarga saya, tidak memiliki budaya merayakan hari ulang tahun. Bagi kami, hari ulang tahun tak ada bedanya dengan hari yang lain. Pesta, syukuran, atau apapun yang berhubungan dengan perayaan ulang tahun tidak ada dalam definisi kamus kami. Bagi kami, sesuatu yang dirayakan secara rutin tiap tahun adalah hari raya Idul Fitri.
Demikian pula hari ini. Saya nyaris lupa kalau hari ini saya genap berumur dua puluh sekian tahun kalau saja tidak ada SMS yang tiba di ponsel saya. Ah, kawan-kawan tersayang, mereka masih saja hapal hari lahir saya. Pertama kali adalah Mbak Menik (Rini), rekan berantem satu lantai waktu masih membangun www.its.ac.id bersama-sama. Jam dua pagi, ponsel saya berteriak-teriak sampai saya terbangun. Saya lirik, dan tersenyum sekilas dalam kantuk. Mbak Menik, terima kasih ya.
Tak lama kemudian pesan singkat Lusi membangunkan saya. Yak ampun, kami lama sekali tak saling tanya kabar, tetapi dia masih saja menyimpan reminder dan menyempatkan diri mengingatkan saya kalau saya semakin bertambah tua.
Juga Radika, sahabat saya yang sedang sekuat tenaga mendapatkan gelar dokternya. Sore hari, keponakan saya tersayang, Kaka, yang sedang bingung minum susu, mengucapkan doa untuk saya, tentu saja lewat Ayahnya (Kaka masih berumur beberapa bulan). Tak lama kemudian, Ibuk dan Bapak.
Surprise, ada SMS dari Pak Nixon Glenn dan Mbak Anitcha. Padahal mereka lagi ikut acara team building divisinya (Resource Management) di Anyer. Sempat-sempatnya mengingatkan saya. Thanks Pak Glen, thanks Mbak Nitcha. Tiwi, jauh-jauh dari Melbourne, membuat saya tersenyum waktu membaca SMS darinya. Thanks, Me!
Ada ide aneh datang di kepala saya sore tadi. Akhir-akhir ini saya agak terlalu kencang bekerja. Rata-rata saya bekerja 14-16 jam sehari. Bahkan sekarang, sabtu malam minggu, saya baru saja pulang dari diskusi seru di Plaza Semanggi mengenai grand design sebuah project. Jadi, kenapa tidak sedikit memberikan penghargaan terhadap diri sendiri? Kenapa saya tidak membuat sebuah kado ulang tahun untuk diri sendiri? Saya sering membelikan kado ultah untuk orang lain, tetapi tidak pernah untuk diri sendiri. Kenapa tidak sekarang saja?
Ah, baiklah. Saya turuti ide gila nan aneh ini. Apa kado untuk saya? Sebuah Sigma superwide 10-20mm F4-5.6 DC HSM dikirim dari jpckemang. Rasanya tak sabar untuk menangkap objek landscape dengan lensa ini. hehehe… entahlah, lhawong besok saya juga tak mungkin hunting foto, adik sepupu saya yang paling cantik, Lia, minta diajari menyelesaikan Tugas Akhirnya soal Information Retrieval, bidang keilmuan cabang ilmu komputer/informatika yang paling saya minati.
Kado sudah, tinggal make a wish.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang,
Ya Tuhan, dalam penuh syukurku kepada-Mu atas segala apa yang telah Engkau karuniakan kepadaku, ku memohon kepada-Mu, dalam sisa umurku ini, ampunilah aku karena tak kunjung juga bertobat kepada-Mu. Betapa benar yang dikatakan Rasulullah Muhamad SAW, bahwa ada perang yang jauh lebih berat daripada Perang Badar, yaitu perang melawan hawa nafsu. Betapa ikhlas itu sulit. Betapa berusaha tetap istiqomah itu luar biasa sulit, Ya Allah…
Izinkan aku untuk tetap berbakti kepada kedua orang tuaku,
Izinkan aku untuk tetap sayang kepada keluargaku,
Selalu sayang kepada kawan-kawan yang telah begitu sayang kepadaku
Selalu tetap bisa mengamalkan ilmu yang telah Engkau karuniakan kepadaku
Izinkan aku untuk makin dekat pada-Mu
Izinkan aku untuk ikhlas atas apa yang telah menjadi kehendak-Mu
karena kutahu Kau sayang padaku, jadi apapun itu adalah yang terbaik buatku
Rabbana atiina fidunya hasanah, wa fil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar…
Amin, ya Rabbal Alamiin…
Comments