Entries from March 2008
March 13, 2008
Satu lagi saya menemukan lagu jadul, yang nggak hits di jamannya, tapi enak didengarkan…
Aneh sekali, saya tak pernah menemukan Mus Mulyadi menyanyikan lagi selain keroncong. Lagu ini berirama pop bernuansa sedih.
Tetes Hujan di Bulan April
Mus Mulyadi
Bila hujan turun ke bumi
Rasa sangat pilu di hati
Pada saat sunyi begini
Kuteringat padamu
Waktu itu di bulan April
Pertama ku kenal dirimu
Saling mengisahkan derita
Saling mengalami pilu
Hujan turun tiada berhenti
Membasahi rumput hijau yang kini layu
Engkau kisahkan derita hatimu
Tetesan hujan membasahi dirimu
Oh… sayang…
Hatiku sedang menderita pula…
Kita berdua senasib dan serupa penderitaan
Kurasakan apa yang kau rasa tiada berbeda
Di saat itu hujan mulai reda cuaca terang
Tetes hujan kuusap lenyap di pipimu
Du du du du du….
Ku merasa mendapatkan ganti
Walau sejenak terasa cukup mesra
Tapi sayang setelah hujan berhenti
Kita saling mengucapkan kata berpisah….
Oh… sayang…
Sampai kini tak berjumpa lagi…
MP3-nya ada di box sayah…
Posted in Intermezzzo
2 Comments »
March 11, 2008

FLICKR
Lokasi: Fakultas Kedokteran Gigi, Salemba, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | 1/200s | F/8
Apa yang saya suka dari fotografi salah satunya adalah, ketika kita dihadapkan pada objek yang sebenarnya sama sekali tidak artistik dan menantang kita untuk memasukkannya ke dalam frame foto dengan artistik.
Demikian pula waktu saya ke kampus Magister Teknologi Informasi UI sabtu kemarin, lokasi kampusnya sebenarnya sama sekali tidak ada yang bisa difoto. Tapi saya tidak menyerah begitu saja. Mata saya nanar berputar-putar menyambar-nyambar ke sana kemari. Hingga akhirnya di ujung sana, di lantai dua kampus Fakultas Kedokteran Gigi, saya temukan pagar yang memiliki pola unik. Unik, karena tidak hanya berpola, tetapi warna dinding di baliknya memiliki gradasi warna-warni.
Sambil tersenyum, saya ambil Nikkor AF-S 55-200, dan membidiknya. Dan ah, inilah hasilnya, cukup memuaskan. 
Posted in Fotografi
7 Comments »
March 11, 2008
Judul Buku: Valentine Sweetcase, Love Birds
Penulis: Astri Adhe
Penerbit: Terrant Books
Hahaha… tak saya duga saya memilih mengambil buku yang terserak di kumpulan chicklite ini daripada buku Mein Kampf-nya Adolf Hitler untuk mendampingi buku Ketika Cinta Bertasbih yang sudah masuk keranjang belanja duluan. Yah, siapa kira saya beli buku lagi kemarin. Inilah racun yang tak bisa ditahan waktu masuk Gramedia. Adaa… saja yang menarik untuk dibeli. Padahal, saya sangat sinis terhadap novel bergenre chicklit: terlalu ringan, sederhana, dan mudah ditebak. Tentu saja, lhawong target marketnya adalah cool teens, bukan yang sudah tua kayak saya.
Tapi saya langsung ambil tanpa pikir panjang ketika ada kata-kata ini di sampul depannya yang berwarna pink lembut:
I love you not because of who you are but because of who I am when I am with you
Alamak…
Saya yang termasuk pengkhayal sejati saja tak pernah bisa bikin kata-kata seperti ini, dalam tingkat melankolis tertinggi sekalipun.
Ada dua cerita di sini, semuanya adalah kisah remaja yang sedang jatuh cinta. Kisah utama adalah kisah seorang secret admirer bernama Bali. Bali adalah seorang siswi yang cerdas yang bisa masuk ke sekolah elit (dalam konteks: sekolah yang didominasi orang-orang kaya) dengan beasiswa. Ia menyukai seorang bintang basket bernama Bas. Bas tampan, kaya, dan menjadi idola semua gadis di sekolah itu. Bali sadar, dunia mereka jauh berbeda. Ia memendam perasaan selama dua tahun dan menikmati cintanya lewat foto-foto Bas yang ia ambil dengan kamera tua miliknya dengan lensa tele pinjaman dari sekolah. Begitulah konflik bermula…
Membaca buku ini, saya serasa kembali ke sekitar tahun 1990-an, dimana ketika itu saya menyukai cerpen-cerpen remaja yang dimuat majalah Anita Cemerlang [Masih ada nggak ya majalah ini sekarang?]. Gaya bahasa, penceritaan, alur, manajemen konflik dan klimaks, teknik penyentuhan emosi pembaca, sangat mirip dengan cerpen-cerpen itu. Entah mungkin karena alur ceritanya yang mudah ditebak, ataukah emosi saya yang memirip-miripkan perjalanan kisah cinta saya dengan sang tokoh utama, saya rela melewatkan waktu kerja setengah hari di hari Minggu kemarin.
Mungkin memang seharusnya mimpi tetap menjadi mimpi. Terlalu sulit untuk dianggap nyata.
Hal. 147
Yeah… mungkin sebaiknya…
Mimpi memang tetap menjadi mimpi…
Posted in Review
5 Comments »
March 10, 2008

FLICKR
Lokasi: Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM | 1/500 s | F/7.1
Kalau kita bicara tentang kampus UI Salemba, maka yang terpikir kita pasti gedung tua buatan Belanda yang digunakan sebagai kampus Fakultas Kedokteran yang terkenal itu. Demikian pula dengan jaket almamater kuningnya. Begitu melekat nama UI di warna jaket tersebut. Karena itulah, foto ini saya beri judul: The Icon. Ikon dari Universitas Indonesia.
Posted in Arsitektur
9 Comments »
March 9, 2008
Nah, setelah semua orang mereview film AAC yang tak kalah fenomenal dengan novelnya, kini izinkan saya untuk juga bercerita tentang kesan saya tentang Ayat-Ayat Cinta the Movie. Tak perlu ada Spoiler Alert di sini bukan? Saya yakin semua telah membaca dan menonton AAC.
Dalam keseharian kita, kita mungkin saja menemukan sosok yang seperti Fahri yang begitu sempurna. Berwajah tampan, berotak cerdas, rendah hati, jujur, dan segudang sifat-sifat baik lainnya. Saya tak melulu bicara sosok Fahri di sini, tapi secara umum. Ada saja wanita yang begitu menarik, ramah, baik hati… Mereka bahkan tidak perlu berusaha tampil menarik, sudah begitu banyak orang yang tertarik dan memuja. Fahri bahkan tidak sadar bahwa dirinya memiliki semua kapasitas yang bisa menjadikan ia seorang playboy kelas kakap. Bayangkan saja, ada empat wanita yang jatuh cinta padanya: Aisha, Maria, Nurul, dan Noura.
Inilah tragisnya. Cinta mereka adalah cinta yang membawa luka. Semua terluka ketika sang pujaan hati menjatuhkan pilihannya kepada Aisha. Cahaya kehidupan Nurul padam meskipun ia masih bisa tegar menerima kenyataan. Maria jatuh sakit. Tapi saya yakin, Maria sakit bukan karena disiksa penyakit jantungnya, tapi lebih karena siksaan perasaan yang terlanjur hancur. Hancur hingga kematiannya. Noura yang paling parah. Ini adalah hero worship yang membawa bencana. Tertolak cintanya, ia malah memfitnah sang pujaan hati sebagai caranya untuk membalas dendam. Begitu dekat batas antara benci dan cinta.
Aku mengerti satu hal Fahri, ternyata… cinta dan keinginan untuk memiliki itu berbeda
–Maria, sesaat sebelum ajal menjemputnya
Keinginan untuk memiliki adalah sebuah obsesi. Ia seharusnya bukan sebuah representasi dari cinta. Karena obsesi itu egois. Cinta seharusnya ikhlas dan sabar. Cinta itu luka. Tetapi luka yang akan menjadikan kita menjadi jauh lebih tegar, lebih dewasa, dan lebih arif dalam menghadapi setiap permasalahan.
Oke.. oke.. saya bicara begini memang saya selalu ada di pihak luar. Saya ada di pihak yang selalu mengalami kasih tak sampai. Mungkin jika saya ada di pihak dalam saya juga akan berkata, “Ah, itu hanya kata-kata orang yang tertolak cintanya. Kacian deh lo!”
Tapi bukankah setiap kejadian selalu ada hikmah yang bisa kita petik?
Apakah ada bedanya
Ketika kita bertemu dengan saat kita berpisah?
Sama-sama nikmat
Tinggal bagaimana kita menghayati
Di belahan jiwa yang mana kita sembunyikan,
Dada yang terluka
Duka yang tersayat
Rasa yang terluka….
– Apakah Ada Bedanya, Ebiet G Ade
Ayat-Ayat Cinta, baik novel maupun film, mencoba menyampaikan pesan pada kita tentang sabar dan ikhlas lewat pendekatan cinta. Fahri yang harus ikhlas ketika dikeluarkan dari Al-Azhar, padahal Al-Azhar adalah pusat kehidupannya. Aisha yang harus ikhlas dimadu, demi agar Maria sembuh karena ia adalah kunci Fahri lolos dari fitnah dan jeratan hukuman gantung. Di sini kita melihat pancaran cinta seorang isteri kepada suaminya. Aduh, jadi pengen punya isteri kayak gitu (ya iyalah: cakep, baik hati, kaya lagi
).
Tentang bagaimana eksekusi Hanung dalam film ini, saya tak banyak berkomentar. Wajar jika banyak yang kecewa dan tak sesuai dengan imajinasinya. Namanya juga novel yang divisualisasikan, tentu berbeda dengan imajinasi banyak orang. Tapi bagi saya, film ini jauh lebih manusiawi daripada novelnya. Di novel, saya lebih melihat Fahri sebagai malaikat daripada manusia biasa.
Tapi bagi saya, ide sedikit memplesetkan cerita film ini adalah ide marketing yang luar biasa. Cerita yang sedikit berbeda akan menuai banyak komentar. Komentar menimbulkan kontroversi. Dan kontroversi, hingga saat ini, adalah salah satu bahan bakar yang paling efektif dalam masyarakat Indonesia. 
Posted in Catatan Harian, Review
13 Comments »