Entries from March 2008
March 24, 2008
Lama-lama saya takut juga dengan motto Panglima Tian Feng yang saya anggap sebagai joke ini,
Cinta, deritanya tiada pernah berakhir…
Sampai capek saya. Lari ke sana, bukan. Lari ke situ, eh, ternyata juga bukan. Saya ingat komentar Paman Tyo di sini, sangat mengena,
Ah, belum ada cewe yang nyantel di hati saja, Dik Galih. Ndak masalah. Namanya juga jodoh, dianya mau, kita ogah. Kitanya pengin, dianya (yang lain) cuma mau berteman.
Ya ya… alangkah susahnya. Betapa melelahkannya berusaha memperkenalkan diri seadanya. Dan akhirnya terpaksa harus melangkahkan kaki beranjak pergi, memulai segala sesuatu dari nol lagi, mengulangi menyusuri jalan-jalan yang telah dilalui berkali-kali. Saya menganggap, sebuah hubungan yang berhasil adalah sebuah keajaiban kalau melihat begitu sulitnya membuat dua hubungan itu klik.
Seorang kawan berusaha menghibur saya. Kesulitan-kesulitan ini adalah sebuah persiapan agar kita menjadi lebih baik ketika akhirnya kita dipertemukan. Agar kita nanti menghargai sebuah komitmen karena pencariannya sangatlah sulit. Kekuatan sebuah proses, bukan hasil. Proses akan selalu membuat kita berkembang ke arah yang lebih baik.
Saya percaya itu.
Jadi, untuk seorang kawan saya yang trenyuh melihat posting-posting melankolis saya, saya ucapkan terima kasih untuk perhatian dan tawaran bantuannya. Bukan saya menolak itu, tetapi biarkan saya terus belajar mencari dengan segala upaya saya dulu. Biarkan saya melalui jalan ini berulang-ulang. Saya masih punya banyak waktu untuk itu. Nanti, ketika saya merasa tak mampu lagi, tentunya saya akan berteriak.
Saya yakin, saya akan menemukannya. Meskipun, harus jatuh berkali-kali. Lagi.. lagi.. lagi… dan lagi.
Posted in Catatan Harian
11 Comments »
March 18, 2008
Biasanya kalau sebuah hubungan persahabatan itu sudah akrab, maka batas-batas akan mulai hilang. Seperti dialog di bawah ini,
“Nduk (Adik — red), kenapa dulu kamu menolak aku?” tanya saya,
“Karena dulu aku belum begitu mengenal sampean (kamu dalam arti yang sopan, bahasa jawa — red)” jawabnya pasti tanpa pikir-pikir.
“Jadi, mari kita berandai-andai. Andai sekarang kamu lagi jomblo, kamu masih nolak aku nggak kalau kamu aku lamar sekarang?” sambung saya dengan sedikit jahil bin usil.
“Karena aku sekarang udah kenal, aku akan mau!” jawabnya, lagi-lagi dengan tegas dan pasti.
Wah… mungkin juga ia bisa menjawab dengan begitu pasti karena beberapa bulan lagi ia akan menikah. Suasana hatinya memang sedang gembira, karena saya baru saja menyatakan diri bersedia untuk menjadi fotografer pre-wedd buatnya dan menjadi seksi sibuk di acara pernikahannya — setelah berkali-kali saya berkata tidak mau waktu ia minta.
Kemudian pembicaraan mengalir ke masa-masa lalu. Waktu masih zamannya Wartel. Waktu saya masih suka menelepon nomor berkepala 0274-562xxx itu lewat Wartel Sakinah (supermarket di lingkungan kampus ITS). Waktu saya menembaknya dan ia tolak, waktu ia kemudian berpacaran, lalu putus dan memiliki waktu jeda sebentar untuk sendirian.
“Dulu, waktu kamu lagi kosong beberapa bulan itu, andai aku masuk dan menyatakan cinta lagi, kamu mau nggak?” tanya saya lagi. Masih penasaran rupanya saya, hehe.
“Mau.” sahutnya pendek.
“Aaarggh….! Kenapa dulu aku nggak masuk yah??”
“Salah mas sendiri kenapa dulu nggak mendekati aku lagi, padahal aku kan nggak cari yang aneh-aneh, ” semburnya.
“Hah, iya yah… yah.. namanya… kalau nggak jodoh…” desah saya agak menyesal.
Begitulah, percakapan yang aneh. Kami sendiri heran, karena apa yang mendekatkan kami adalah hal yang akan membuat orang lain saling membenci: yaitu luka karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kami telah beranjak beberapa tahun lebih tua. Terlalu banyak yang telah kami lalui bersama dalam persahabatan yang aneh. Dia menganggap saya kakak, tetapi saya tak pernah menganggapnya adik.
Pesan moral dari dialog tadi adalah: Nyatakanlah cintamu atau kamu akan menyesal. Ini adalah pesan moral dari guru Matematika SMA saya, Pak Priyo. Sakit karena ditolak ternyata memang tak seberapa dibandingkan dengan sakit karena tak sempat menyatakan cinta. Menjadi secret admirer itu ternyata lebih sakit. Sekarang saya baru sadar perbedaannya. Paling tidak, kita telah lega kalau sudah menyatakan cinta. Urusan kok ternyata setelah itu ditolak, ya.. itu salah satu risiko yang harus diambil. Seperti koin mata uang. Fifty-fifty. Tapi rasanya, mak plong, tanpa beban. Jadi, nyatakanlah cintamu sekarang kawan, sebelum keduluan ia diambil orang, hahaha… 
Posted in Catatan Harian
11 Comments »
March 17, 2008
Seperti yang aku telah ceritakan, kemarin aku nonton pameran fotografi di JCC (Jakarta Convention Center). Ternyata pameran ini jadi satu dengan pameran komputer dan pameran audio video. Jadi sesaknya bukan main. Untung yang sesak seperti pasar hanya di pameran komputer, sedang di fotografi tidak terlalu sesak.
Aku pergi ke sana Jumat malam sepulang kantor. Naik taksi BlueBird. Udah mulai nggak pe-de kemana-mana bawa Tornado butut. Si Tornado sekarang hanya untuk rutinitas pulang-pergi kantor aja. Masuk lewat pintu utara. Ini adalah gerbang utamanya:

Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM
Sedangkan ini adalah gerbang masuk ke dalam pameran fotografi (secara hampir semua hall di JCC dipakai untuk pameran).

Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM
Di bawah ini adalah suasana pamerannya. Aku ngambilnya dari atap booth Olympus. Nekat naik. Cuek pas dipelototi sama orang-orang penjaga stand Olympus. Hehe… nah, ini pesan moral untuk para fotografer: Anda semua harus bermuka tembok haha…

Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM
Kemudian, stand yang paling depan adalah milik Datascrip, distributor resmi merk Canon di Indonesia. Stand-nya luas, dan salah satu SPG-nya cukup lumayan buat di-candid dan dijadikan koleksi 

Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM
Alta Nikindo, distributor resmi merk Nikon, tak mau kalah. Sayangnya booth-nya sepi pengunjung. Sepertinya Nikon tak bergairah dalam pameran ini.

Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR
Dan tentu saja sesi motret modelnya. Inilah kenapa fotografi model begitu diminati. Sebabnya, fotografer-nya cowok yang mayoritas ngiler melihat paha putih dan tubuh yang seksi 

Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR
Secara keseluruhan, sebenarnya pameran kali ini tak begitu menarik. Tidak ada yang baru yang dipamerkan. Kesannya seperti toko alat-alat fotografi yang pindah ke satu tempat aja. Tidak ada booth asesoris fotografi semacam Gary Fong, Hoya, Kenko, Velbond, atau Manfrotto. Stage-nya terlalu ramai dan sesak. Tidak bisa fokus. Aku juga tak sempat ikut seminar. Selain karena nggak gratis (
), juga tak ada jadwalnya. Di website resmi penyusunan dilakukan terpisah-pisah berbasis judul, bukan waktu. Jadi sangat tidak nyaman. 
Oh iya, sempat juga melihat-lihat pameran audio. Sebenernya naksir abis sama gitar Ibanez yang ada di situ. Apalagi pas mencoba pakai intronya Enter Sandman-nya Metallica. Pijak-pijak pedal efek, hohoho… bisa bergaya ala John Petrucci neh! (Lho, Metallica apa Dream Theater sih?) Tapi hooops… Lih! Enough! Cukup! Aku udah terlalu boros di fotografi, jangan tambah-tambah lagi bisikan setan kepingin punya gitar listrik. Hahah….
Keluar JCC agak mengalami disorientasi (nggak tahu arah). Bingung mau keluar lewat mana. Akhirnya aku malah tersesat menyusuri trotoar gelap di tepi Gelora Bung Karno. Mana gerimis lagi. Sambil jalan coba menelepon seseorang, eh, nggak diangkat. Bandel, telepon lagi. Wah, yang ini direject.
Ya sudah, mending langsung pulang saja. Aku akhirnya dapat taksi setelah berjalan hingga depan TVRI. Tapi menyenangkan juga berjalan-jalan sendirian dalam gelap begitu, hehehe… bisa diulangi lagi nih.
Posted in Catatan Harian, Fotografi
6 Comments »
March 15, 2008

FLICKR
Lokasi: Kampus FK UI, Salemba, Jakarta
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM
Saya terdiam sesaat setelah mengambil foto ini. Terpesona oleh pemandangan yang ada di depan saya. Bangunan tua berlabel Fakultas Kedokteran ini telah melahirkan ribuan dokter-dokter handal di Indonesia. Bangunan tua ini tampak begitu anggun dan berwibawa.
Tapi ketika saya lihat ada CRV di situ, keanggunan ini serta merta berubah menjadi keangkuhan. Zaman telah berubah. Gedung ini semakin lama semakin eksklusif, dan halaman luasnya telah menjadi lapangan parkir laksana showroom mobil mewah. Apakah saya kelak mampu mengantarkan anak saya ke dalam gedung ini?
….
Posted in Arsitektur
12 Comments »
March 14, 2008
Saya jadi ingin menulis ini ketika mendengarkan lagunya SHE: Selingkuh Sekali Saja. Lagu tentang selingkuh dan orang ketiga benar-benar sedang booming sekarang. Artinya market demand-nya memang banyak… mungkin banyak orang yang sedang selingkuh. Tren metropolis gitu locch…
Saya heran sekaligus tak mengerti, kenapa orang selingkuh? Padahal, mencari satu saja luar biasa sulit. Masih banyak orang yang belum dikaruniai anugerah untuk membagi cinta bersama orang yang juga mencintainya. Masih banyak orang yang harus jungkir balik terluka berkali-kali dalam usaha menemukan jodohnya.
Kenapa orang tidak menghargai anugerah itu dengan melakukan selingkuh?
Kenapa orang tidak mengingat masa-masa pertemuan dan ikrar untuk saling mencinta, berbagi suka dan duka?
Mitsaqan Ghaliza, perjanjian yang agung (berat), begitu Al-Qur’an menyebutnya. Al-Qur’an hanya menyebut tiga kali, dua perjanjian tauhid, satu untuk pernikahan. Komitmen yang sungguh tidak main-main.
Dan kenapa orang begitu mudahnya mencederai komitmen itu?
Entahlah, saya masih kanak-kanak, belum cukup umur untuk mengerti itu semuah…
Cintah… deritanya memang tiada pernah berakhir.
Posted in Catatan Harian
7 Comments »