Oleh-Oleh dari Pameran FOCUS di JCC

Posted by: on Mar 17, 2008 | 6 Comments

Seperti yang aku telah ceritakan, kemarin aku nonton pameran fotografi di JCC (Jakarta Convention Center). Ternyata pameran ini jadi satu dengan pameran komputer dan pameran audio video. Jadi sesaknya bukan main. Untung yang sesak seperti pasar hanya di pameran komputer, sedang di fotografi tidak terlalu sesak.

Aku pergi ke sana Jumat malam sepulang kantor. Naik taksi BlueBird. Udah mulai nggak pe-de kemana-mana bawa Tornado butut. Si Tornado sekarang hanya untuk rutinitas pulang-pergi kantor aja. Masuk lewat pintu utara. Ini adalah gerbang utamanya:


Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Sedangkan ini adalah gerbang masuk ke dalam pameran fotografi (secara hampir semua hall di JCC dipakai untuk pameran).


Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Di bawah ini adalah suasana pamerannya. Aku ngambilnya dari atap booth Olympus. Nekat naik. Cuek pas dipelototi sama orang-orang penjaga stand Olympus. Hehe… nah, ini pesan moral untuk para fotografer: Anda semua harus bermuka tembok haha…


Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Kemudian, stand yang paling depan adalah milik Datascrip, distributor resmi merk Canon di Indonesia. Stand-nya luas, dan salah satu SPG-nya cukup lumayan buat di-candid dan dijadikan koleksi )


Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Alta Nikindo, distributor resmi merk Nikon, tak mau kalah. Sayangnya booth-nya sepi pengunjung. Sepertinya Nikon tak bergairah dalam pameran ini.


Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR

Dan tentu saja sesi motret modelnya. Inilah kenapa fotografi model begitu diminati. Sebabnya, fotografer-nya cowok yang mayoritas ngiler melihat paha putih dan tubuh yang seksi )


Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR

Secara keseluruhan, sebenarnya pameran kali ini tak begitu menarik. Tidak ada yang baru yang dipamerkan. Kesannya seperti toko alat-alat fotografi yang pindah ke satu tempat aja. Tidak ada booth asesoris fotografi semacam Gary Fong, Hoya, Kenko, Velbond, atau Manfrotto. Stage-nya terlalu ramai dan sesak. Tidak bisa fokus. Aku juga tak sempat ikut seminar. Selain karena nggak gratis ( ), juga tak ada jadwalnya. Di website resmi penyusunan dilakukan terpisah-pisah berbasis judul, bukan waktu. Jadi sangat tidak nyaman.

Oh iya, sempat juga melihat-lihat pameran audio. Sebenernya naksir abis sama gitar Ibanez yang ada di situ. Apalagi pas mencoba pakai intronya Enter Sandman-nya Metallica. Pijak-pijak pedal efek, hohoho… bisa bergaya ala John Petrucci neh! (Lho, Metallica apa Dream Theater sih?) Tapi hooops… Lih! Enough! Cukup! Aku udah terlalu boros di fotografi, jangan tambah-tambah lagi bisikan setan kepingin punya gitar listrik. Hahah….

Keluar JCC agak mengalami disorientasi (nggak tahu arah). Bingung mau keluar lewat mana. Akhirnya aku malah tersesat menyusuri trotoar gelap di tepi Gelora Bung Karno. Mana gerimis lagi. Sambil jalan coba menelepon seseorang, eh, nggak diangkat. Bandel, telepon lagi. Wah, yang ini direject. Ya sudah, mending langsung pulang saja. Aku akhirnya dapat taksi setelah berjalan hingga depan TVRI. Tapi menyenangkan juga berjalan-jalan sendirian dalam gelap begitu, hehehe… bisa diulangi lagi nih.

Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia

Posted by: on Mar 15, 2008 | 109 Comments


FLICKR
Lokasi: Kampus FK UI, Salemba, Jakarta
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM

Saya terdiam sesaat setelah mengambil foto ini. Terpesona oleh pemandangan yang ada di depan saya. Bangunan tua berlabel Fakultas Kedokteran ini telah melahirkan ribuan dokter-dokter handal di Indonesia. Bangunan tua ini tampak begitu anggun dan berwibawa.

Tapi ketika saya lihat ada CRV di situ, keanggunan ini serta merta berubah menjadi keangkuhan. Zaman telah berubah. Gedung ini semakin lama semakin eksklusif, dan halaman luasnya telah menjadi lapangan parkir laksana showroom mobil mewah. Apakah saya kelak mampu mengantarkan anak saya ke dalam gedung ini?

….

Selingkuh

Posted by: on Mar 14, 2008 | 7 Comments

Saya jadi ingin menulis ini ketika mendengarkan lagunya SHE: Selingkuh Sekali Saja. Lagu tentang selingkuh dan orang ketiga benar-benar sedang booming sekarang. Artinya market demand-nya memang banyak… mungkin banyak orang yang sedang selingkuh. Tren metropolis gitu locch…

Saya heran sekaligus tak mengerti, kenapa orang selingkuh? Padahal, mencari satu saja luar biasa sulit. Masih banyak orang yang belum dikaruniai anugerah untuk membagi cinta bersama orang yang juga mencintainya. Masih banyak orang yang harus jungkir balik terluka berkali-kali dalam usaha menemukan jodohnya.

Kenapa orang tidak menghargai anugerah itu dengan melakukan selingkuh?
Kenapa orang tidak mengingat masa-masa pertemuan dan ikrar untuk saling mencinta, berbagi suka dan duka?

Mitsaqan Ghaliza, perjanjian yang agung (berat), begitu Al-Qur’an menyebutnya. Al-Qur’an hanya menyebut tiga kali, dua perjanjian tauhid, satu untuk pernikahan. Komitmen yang sungguh tidak main-main.

Dan kenapa orang begitu mudahnya mencederai komitmen itu?

Entahlah, saya masih kanak-kanak, belum cukup umur untuk mengerti itu semuah…

Cintah… deritanya memang tiada pernah berakhir.

Tetes Hujan di Bulan April

Posted by: on Mar 13, 2008 | 5 Comments

Satu lagi saya menemukan lagu jadul, yang nggak hits di jamannya, tapi enak didengarkan… Aneh sekali, saya tak pernah menemukan Mus Mulyadi menyanyikan lagi selain keroncong. Lagu ini berirama pop bernuansa sedih.

Tetes Hujan di Bulan April
Mus Mulyadi

Bila hujan turun ke bumi
Rasa sangat pilu di hati
Pada saat sunyi begini
Kuteringat padamu

Waktu itu di bulan April
Pertama ku kenal dirimu
Saling mengisahkan derita
Saling mengalami pilu

Hujan turun tiada berhenti
Membasahi rumput hijau yang kini layu
Engkau kisahkan derita hatimu
Tetesan hujan membasahi dirimu

Oh… sayang…
Hatiku sedang menderita pula…

Kita berdua senasib dan serupa penderitaan
Kurasakan apa yang kau rasa tiada berbeda
Di saat itu hujan mulai reda cuaca terang
Tetes hujan kuusap lenyap di pipimu

Du du du du du….

Ku merasa mendapatkan ganti
Walau sejenak terasa cukup mesra
Tapi sayang setelah hujan berhenti
Kita saling mengucapkan kata berpisah….

Oh… sayang…
Sampai kini tak berjumpa lagi…

MP3-nya ada di box sayah

Pattern

Posted by: on Mar 11, 2008 | 7 Comments


FLICKR
Lokasi: Fakultas Kedokteran Gigi, Salemba, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | 1/200s | F/8

Apa yang saya suka dari fotografi salah satunya adalah, ketika kita dihadapkan pada objek yang sebenarnya sama sekali tidak artistik dan menantang kita untuk memasukkannya ke dalam frame foto dengan artistik.

Demikian pula waktu saya ke kampus Magister Teknologi Informasi UI sabtu kemarin, lokasi kampusnya sebenarnya sama sekali tidak ada yang bisa difoto. Tapi saya tidak menyerah begitu saja. Mata saya nanar berputar-putar menyambar-nyambar ke sana kemari. Hingga akhirnya di ujung sana, di lantai dua kampus Fakultas Kedokteran Gigi, saya temukan pagar yang memiliki pola unik. Unik, karena tidak hanya berpola, tetapi warna dinding di baliknya memiliki gradasi warna-warni.

Sambil tersenyum, saya ambil Nikkor AF-S 55-200, dan membidiknya. Dan ah, inilah hasilnya, cukup memuaskan.

Review: Valentine Sweetcase

Posted by: on Mar 11, 2008 | 6 Comments

Judul Buku: Valentine Sweetcase, Love Birds
Penulis: Astri Adhe
Penerbit: Terrant Books

Hahaha… tak saya duga saya memilih mengambil buku yang terserak di kumpulan chicklite ini daripada buku Mein Kampf-nya Adolf Hitler untuk mendampingi buku Ketika Cinta Bertasbih yang sudah masuk keranjang belanja duluan. Yah, siapa kira saya beli buku lagi kemarin. Inilah racun yang tak bisa ditahan waktu masuk Gramedia. Adaa… saja yang menarik untuk dibeli. Padahal, saya sangat sinis terhadap novel bergenre chicklit: terlalu ringan, sederhana, dan mudah ditebak. Tentu saja, lhawong target marketnya adalah cool teens, bukan yang sudah tua kayak saya. Tapi saya langsung ambil tanpa pikir panjang ketika ada kata-kata ini di sampul depannya yang berwarna pink lembut:

I love you not because of who you are but because of who I am when I am with you

Alamak…
Saya yang termasuk pengkhayal sejati saja tak pernah bisa bikin kata-kata seperti ini, dalam tingkat melankolis tertinggi sekalipun.

Ada dua cerita di sini, semuanya adalah kisah remaja yang sedang jatuh cinta. Kisah utama adalah kisah seorang secret admirer bernama Bali. Bali adalah seorang siswi yang cerdas yang bisa masuk ke sekolah elit (dalam konteks: sekolah yang didominasi orang-orang kaya) dengan beasiswa. Ia menyukai seorang bintang basket bernama Bas. Bas tampan, kaya, dan menjadi idola semua gadis di sekolah itu. Bali sadar, dunia mereka jauh berbeda. Ia memendam perasaan selama dua tahun dan menikmati cintanya lewat foto-foto Bas yang ia ambil dengan kamera tua miliknya dengan lensa tele pinjaman dari sekolah. Begitulah konflik bermula…

Membaca buku ini, saya serasa kembali ke sekitar tahun 1990-an, dimana ketika itu saya menyukai cerpen-cerpen remaja yang dimuat majalah Anita Cemerlang [Masih ada nggak ya majalah ini sekarang?]. Gaya bahasa, penceritaan, alur, manajemen konflik dan klimaks, teknik penyentuhan emosi pembaca, sangat mirip dengan cerpen-cerpen itu. Entah mungkin karena alur ceritanya yang mudah ditebak, ataukah emosi saya yang memirip-miripkan perjalanan kisah cinta saya dengan sang tokoh utama, saya rela melewatkan waktu kerja setengah hari di hari Minggu kemarin.

Mungkin memang seharusnya mimpi tetap menjadi mimpi. Terlalu sulit untuk dianggap nyata.
Hal. 147

Yeah… mungkin sebaiknya…
Mimpi memang tetap menjadi mimpi…

The Icon

Posted by: on Mar 10, 2008 | 13 Comments


FLICKR
Lokasi: Gedung Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta
Nikon D40 | Sigma 10-20mm HSM | 1/500 s | F/7.1

Kalau kita bicara tentang kampus UI Salemba, maka yang terpikir kita pasti gedung tua buatan Belanda yang digunakan sebagai kampus Fakultas Kedokteran yang terkenal itu. Demikian pula dengan jaket almamater kuningnya. Begitu melekat nama UI di warna jaket tersebut. Karena itulah, foto ini saya beri judul: The Icon. Ikon dari Universitas Indonesia.

Switch to our mobile site