Dialog Aneh tentang Masa Lalu
March 18, 2008
Biasanya kalau sebuah hubungan persahabatan itu sudah akrab, maka batas-batas akan mulai hilang. Seperti dialog di bawah ini,
“Nduk (Adik — red), kenapa dulu kamu menolak aku?” tanya saya,
“Karena dulu aku belum begitu mengenal sampean (kamu dalam arti yang sopan, bahasa jawa — red)” jawabnya pasti tanpa pikir-pikir.
“Jadi, mari kita berandai-andai. Andai sekarang kamu lagi jomblo, kamu masih nolak aku nggak kalau kamu aku lamar sekarang?” sambung saya dengan sedikit jahil bin usil.
“Karena aku sekarang udah kenal, aku akan mau!” jawabnya, lagi-lagi dengan tegas dan pasti.
Wah… mungkin juga ia bisa menjawab dengan begitu pasti karena beberapa bulan lagi ia akan menikah. Suasana hatinya memang sedang gembira, karena saya baru saja menyatakan diri bersedia untuk menjadi fotografer pre-wedd buatnya dan menjadi seksi sibuk di acara pernikahannya — setelah berkali-kali saya berkata tidak mau waktu ia minta.
Kemudian pembicaraan mengalir ke masa-masa lalu. Waktu masih zamannya Wartel. Waktu saya masih suka menelepon nomor berkepala 0274-562xxx itu lewat Wartel Sakinah (supermarket di lingkungan kampus ITS). Waktu saya menembaknya dan ia tolak, waktu ia kemudian berpacaran, lalu putus dan memiliki waktu jeda sebentar untuk sendirian.
“Dulu, waktu kamu lagi kosong beberapa bulan itu, andai aku masuk dan menyatakan cinta lagi, kamu mau nggak?” tanya saya lagi. Masih penasaran rupanya saya, hehe.
“Mau.” sahutnya pendek.
“Aaarggh….! Kenapa dulu aku nggak masuk yah??”
“Salah mas sendiri kenapa dulu nggak mendekati aku lagi, padahal aku kan nggak cari yang aneh-aneh, ” semburnya.
“Hah, iya yah… yah.. namanya… kalau nggak jodoh…” desah saya agak menyesal.
Begitulah, percakapan yang aneh. Kami sendiri heran, karena apa yang mendekatkan kami adalah hal yang akan membuat orang lain saling membenci: yaitu luka karena cinta yang bertepuk sebelah tangan. Kami telah beranjak beberapa tahun lebih tua. Terlalu banyak yang telah kami lalui bersama dalam persahabatan yang aneh. Dia menganggap saya kakak, tetapi saya tak pernah menganggapnya adik.
Pesan moral dari dialog tadi adalah: Nyatakanlah cintamu atau kamu akan menyesal. Ini adalah pesan moral dari guru Matematika SMA saya, Pak Priyo. Sakit karena ditolak ternyata memang tak seberapa dibandingkan dengan sakit karena tak sempat menyatakan cinta. Menjadi secret admirer itu ternyata lebih sakit. Sekarang saya baru sadar perbedaannya. Paling tidak, kita telah lega kalau sudah menyatakan cinta. Urusan kok ternyata setelah itu ditolak, ya.. itu salah satu risiko yang harus diambil. Seperti koin mata uang. Fifty-fifty. Tapi rasanya, mak plong, tanpa beban. Jadi, nyatakanlah cintamu sekarang kawan, sebelum keduluan ia diambil orang, hahaha… ![]()
Posted in 












March 18th, 2008 at 2:01 pm
Ada seseorang yang pernah tanya gini ke saya sebelum saya menikah, tapi sayang, terlambat.
Hal ini bisa jadi hal yang ngangenin kayaknya
March 18th, 2008 at 2:57 pm
dau hal mas,,
pertama,, ini nduk yang mana ya? jangan2 nduk itu
yang kedua mas,,
bener kata sampean,, lebih baik diungkapkan,, pengalaman ku juga gtu,, plong,, yang penting dia dah tahu perasaanku ,,, meski akhirnya ya di-reject ,, hiks hikss
March 18th, 2008 at 4:17 pm
lha aneh juga sampeyan ini cak, belum deket kok udah nembak? ya ditolak to…
ah… tapi itu kan sudah terjadi, dan seperti kata sampeyan sendiri, sekarang dah plong meski gak jadian, malah dia akan menikah duluan..
inget kata maria girgis: cinta dan keinginan untuk memiliki itu tidak sama
jadi apa yang sampeyan rasakan sekarang?!
March 19th, 2008 at 7:02 am
#Nike:
wah, telah berapa hati ya yang telah Nike patahkan?
#Arif:

bukan nduk yang itu, tapi nduk yang itu lagi. adik-adik ketemu gede-ku kan buanyak tuh nggak cuma satu
hayo semangat rif! welcome to the rejected club
#det:
namanya juga masih amatiran hehehe… amatir forever lah… rasanya sekarang? tanpa beban, siap menyambut esok hari yang cerah, hahaha…
March 19th, 2008 at 12:35 pm
gabruks.. sik cerito CP (cintah pertamah) ae..
March 19th, 2008 at 11:18 pm
hallo sodara sebangsa dan setanah kusir,..
pie iki pesenan fotoku endi?
trus pre-wedding ku sido kapan?
March 20th, 2008 at 8:06 pm
“Pesan moral dari dialog tadi adalah: Nyatakanlah cintamu atau kamu akan menyesal”
akhirnya…. terjaga juga dirimu dari mimpi itu

udah bangunkan sekarang…. ayo tancap gas, masih ada seribu kesempatan yang akan ditemui.
klo ada kesempatan jangan dibuang lagi yah…
Gak ada noda gak belajar
March 21st, 2008 at 10:05 pm
wah mas galih, bukan perasaan yang salah, perasaan sering kali di luar kendali kita
,yang sering kali salah itu cara kita menyikapi perasaan itu
, hihihii, peace.
[akhirnya gak tahan kasih comment juga setelah senyum2 lek pas moco blog sampyan]
recommended blog: http://menjemputbidadarisurga.blogspot.com/
cerita tentang teman mulai taaruf sampai insyaaAllah nikah besok.
March 22nd, 2008 at 8:52 pm
Tapi kalau keseringan ditolak, pedih juga
Eiit, bukan saya lho! **menyangkal dengan gaya artis yang diwancarai di infotainment**
March 27th, 2008 at 10:36 am
“Pesan moral dari dialog tadi adalah: Nyatakanlah cintamu atau kamu akan menyesal”
Aku cinta padamu lih
( minimal ada yg bilang itu padamu kawan ) hahaha berjuang trus pren sampe pulsa penghabisan 
April 3rd, 2008 at 8:42 pm
yah … harusnya emang segera dinyatakan …
kalo tidak, hanya sesal yang menemani kita …
huhuhu