Sebuah Potret Gaya Hidup
Menurut gw,
Ant = merely a build tool. Or a “make” on a steroid.
Saya yakin, penulis kalimat ini tak bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar sekaligus tak bisa berbicara dalam bahasa Inggris dengan baik dan benar pula. Seklumit kata yang saya ambil dari sebuah mailing list ini benar-benar potret. Tapi if you don’t know yet, seperti inilah gaya bicara orang-orang metropolitan.
Bayangkan…
Sekelompok pria dan beberapa wanita duduk sambil bersenda gurau di sebuah tempat makan siang di gedung yang mengkilap. Usia mereka sekitar 27 – 30an. Wanitanya modis. Berpakaian kerja yang bisa membuat mata pria melirik spontan. Jemari lentiknya tak lupa menjepit sebatang rokok putih kecil dan sesekali menghembuskan asapnya dari bibir tipis yang dibalur lipstik mahal. Senyumnya menawan. Rambut panjang sebahunya di-highlite warna cokelat pirang. Para pria memakai kemeja lengan panjang, rambut pendek dan tegak karena ada gel yang membuat rambutnya tegak berdiri dan terkesan basah. Gaya bicara mereka campur aduk, bahasa Indonesia, Inggris, dengan dialek gw dan lu yang amat fasih….
Hehehe… jadi merasa udik gini saya…
Kita Sedang Dibodohi Operator GSM
Ya, apalagi kalau bukan soal tarif? Bukannya malah berlomba-lomba memperbaiki kualitas layanan, justru berlomba-lomba membuat mekanisme akal-akalan agar bisa kampanye tarif murah di TV. Saya sebenarnya tak ambil pusing terhadap iklan-iklan tersebut karena tidak yakin mereka tulus memangkas harga. Selalu ada tanda bintang yang berisi syarat dan ketentuan yang ditulis dengan font yang tidak mungkin terlihat. Gara-gara iklan XL versi kawin dengan monyet lah saya penasaran ingin cari tahu.
Kampanye XL menggembar-gemborkan tarif 0,1 rupiah per detik ke seluruh operator. 0,1 rupiah dari Hongkong? Ternyata tarif tersebut hanya berlaku pada menit ke-sekian hingga ke sekian. Menit pertama dan menit berikutnya menggunakan tarif yang normal. Artinya sama mahalnya. Hwarakadah… kalau begitu saya bisa saja bikin iklan dengan tarif gratis, ke semua operator, sepanjang waktu! Untuk menit ke 3000 dan seterusnya… menit pertama tarif tetap ) Dan memang setelah saya hitung-hitung, tarif XL pada menit pertama tetap mahal, 25 kali 60 = Rp. 1500. Tarif 0,1 yang digembar-gemborkan itu berlaku pada menit ke-2, artinya setelah orang mengeluarkan uang Rp. 3000.
Telkomsel dengan Simpati Pe-De-nya? Sama saja, hanya berlaku setelah menit pertama. Mereka pasti telah meriset dengan alat Bussiness Intelligence-nya, bahwa statistik pelanggan mereka rata-rata tidak pernah menelepon lebih dari satu menit. Itu artinya, mereka bisa bikin iklan bombastis seakan-akan turun tarif, padahal sebenarnya tidak. Strategi marketing yang luar biasa.
Indosat Mentari yang memasang Dian sebagai endorser mengusung gratis pada 1 menit pertama. Saya belum memeriksa lebih detail lagi, tetapi saya lihat di website Klub-Mentari, ada Term and Condition yang cukup panjang untuk dibaca.
Saya sendiri saat ini sudah jarang menggunakan telepon dan SMS. HP CDMA saya sudah lama tidak pernah aktif lagi, nomor Simpati saya sudah tidak saya isi dan akan memasuki masa tenggang besok lusa. Tinggal nomor IM3 yang masih saya gunakan sebagai nomor utama. Selain untuk SMS-an dan sesekali menelepon, pengeluaran terbesar pulsa M3 ini adalah untuk akses internet via GPRS.
Comments