Entries from February 2008

Preview: Why Men Can Only Do One Thing at One Time and Women Can’t Stop Talking

Date February 20, 2008

Saya mendapatkan pinjaman buku ini dari Mbak Wuwus. Kenapa saya tertarik terhadap buku yang berjudul panjang ini adalah gara-gara film Jumper yang saya tonton bersama teman-teman di Setiabudi 21 tadi malam. Dalam satu adegan diceritakan bahwa gadis pujaan sang tokoh sedang bekerja di kafe. Sang tokoh utama yang telah lama tidak bertemu duduk di salah satu sudut kafe dan memandanginya diam-diam tanpa sepengetahuan sang gadis. Ketika akan beranjak keluar kafe, sang gadis menghentikannya dan berkata kurang lebih, “Setelah memandang selama 45 menit, sekarang pergi tanpa berkata hai atau hello?”

Moral cerita: Wanita bisa mengetahui  pria yang sedang memperhatikan dia sehebat apapun pria berusaha menyembunyikannya. Dan Saya…. sudah mengalami hal ini berkali-kali.

Suatu ketika di dalam bus, perjalanan Tulungagung-Surabaya, dua baris di depan saya ada wanita cantik. Tipe-tipe saya. Saya perhatikan dia dari belakang mulai dari terminal Tulungagung hingga terminal Bungurasih Surabaya. Sudut yang tidak mungkin terlihat olehnya, kecuali kalau ia punya mata di belakang, atau punya spion rahasia, atau CCTV di balik kerudungnya yang terlipat rapi dan serasi dengan bajunya. Betapa terkejutnya saya ketika tiba-tiba saja, tanpa tanda-tanda sebelumnya, ia menoleh ke belakang, tanpa ragu menusuk mata saya dengan pandangan tajamnya. Benci sekali pandangannya.

Dulu, Int pernah sampai menjerit karena risi saya pandangi dalam-dalam. Waktu itu saya memang suka memandanginya dalam-dalam. Mumpung masih boleh dan masih bisa, begitu pikir saya. Kata Int, wanita tahu karena ada semacam indera ke-6 yang merasakan kehadiran sorot mata pria kepadanya.

Si Me pun pernah bercerita kalau ia bisa melihat dalam sudut 90 derajat tanpa menoleh. Padahal saya hanya bisa melihat dalam sudut sekitar 45 derajat saja.

Karena itulah buku ini jadi menarik buat saya. Paling tidak, struktur pemikiran seorang wanita sedikit banyak bisa saya ketahui dari sini. Saya tahu, mempelajari wanita tidak boleh secara logis struktural ala kode program. Saya duga, pemikiran wanita itu sangat tidak terstruktur dan tidak logis, karenanya jarang ada programmer yang berjenis kelamin wanita. Tapi boleh lah sedikit saya tahu? Halo teman-teman saya yang cewek, ada yang bisa bantu sayah? Hehe…

Sekilas Tentang Waduk Wonorejo

Date February 17, 2008

Waduk Wonorejo yang terletak di lereng Gunung Wilis ini masih merupakan wewengkon kabupaten Tulungagung. Terletak di sisi barat kota, waduk ini dapat diakses dari jantung kota dalam waktu sekitar 30 menit saja.

Saya sebenarnya tidak tertarik berkunjung ke waduk ini. Gara-gara si Listiyana yang bilang kalau waduk ini sudah tidak gersang lagi, penghujung tahun kemarin saya nekat pergi ke sana sendirian. Berbekal Nikkor AF-S 18-55mm. Next trip, harapannya bekal saya ganti Sigma 10-20mm HSM :D

Lis benar. Waduk sudah tidak gersang lagi. Sudah cukup rimbun, meskipun belum terlalu rungkut untuk muda-mudi bermojok-mojok ria. Tapi herannya, saya melihat sudah banyak juga yang mojok berdua di sana. DPR, Di Bawah Pohon Rindang. Motor baru kreditan punya Bapak yang menjual dua sapinya. Di atasnya, sang cowok dengan gagahnya duduk memeluk sang kekasih yang menggelayut manja di dadanya. Berdua menikmati hembusan angin lembah yang dingin. Mereka tidak mempedulikan ada cowok kesepian bertubuh tambun yang asyik dengan kamera hilir mudik di sekitar mereka.

Berikut adalah foto-foto tentang waduk Wonorejo yang saya tangkap di kamera saya. Pada waktu pulang mendatang, obsesi saya adalah mendatangi Pantai Brumbun. Semoga waktu itu N sedang tidak sibuk, sehingga bisa mengantarkan saya ke sana. Bosan juga kalau hunting sendirian. :)


Lansekap Wonorejo (1) - Flickr


Lansekap Wonorejo (2) - Flickr


Saluran Buang PLTA Wonorejo - Flickr


Gardu Pandang - Flickr


The Wonorejo Landscape - Flickr


Bendungan Wonorejo - Flickr


Asyiknya Mancing - Flickr


Wisata Kuliner @ Waduk Wonorejo - Flickr


Mistikus Wonorejo - Flickr

L COHOLIC

Date February 15, 2008

L COHOLIC

Guyonan yang saya yakin hanya dimengerti oleh maniak fotografi saja. Ada alcoholic, workaholic, dan yang ini.. L COHOLIC! :)

Valentine Day: Akibat Kampanye dan Edukasi Marketing

Date February 15, 2008

Kalau kita membaca buku tentang pemasaran semacam buku-buku Hermawan Kertajaya, atau blog-nya Pak Nukman Luthfie, kita menyadari bahwa teknologi pemasaran telah berkembang sedemikian pesat dan canggih. Kini fokus yang digarap bukan hanya pada bagaimana membuat produk semengkilap dan semenarik mungkin, tetapi juga pada “rekayasa” budaya dan pola pemikiran target pasar.

Ambil contoh, produk pemutih dari Pond’s Institute misalnya. Mungkin Anda tidak sadar bahwa Ponds telah mengedukasi pasar Indonesia selama bertahun-tahun. Iklan-iklan Ponds tidak terlalu fokus pada produk, tapi lebih ke brand building. Bandingkan dengan iklan dari TV Innovation Store yang demikian gegap gempita mengeksplorasi produknya. Akibat edukasi bertahun-tahun yang dilakukan Ponds cukup mengerikan. Kini asosiasi masyarakat tentang definisi cantik adalah berkulit putih imut jilbaban. Padahal mayoritas wanita Indonesia berkulit berwarna (cokelat, kuning langsat, hitam manis). Ini otomatis akan mendongkrak penjualan produk-produk pemutih semacam Ponds.

Kemudian soal perayaan Valentine yang jatuh kemarin. Perayaan yang selalu kontroversial. Di sini saya melihatnya sama sekali bukan event keagamaan. Jadi saya heran kenapa masyarakat Islam begitu gerah dengan perayaan ini — ditandai dengan memberondong berbagai fatwa, dalil, dan hadist. Saya melihatnya sebagai salah satu rekayasa budaya yang dilakukan oleh industri dengan target market remaja dan orang yang sedang dimabuk cintah. Tak ayal, kemarin, beribu-ribu tangkai mawar segar terjual, berjuta-juta potong cokelat beredar, restoran dan kafe penuh, kamar hotel habis terpesan, dan beribu-ribu plastik bungkus kondom tersobek dari kotaknya. Marketer tertawa, mereka berhasil.

Tentu saja ini rekayasa budaya yang membawa dampak buruk. Bukan event Valentine-nya, tetapi apa yang dilakukan saat perayaan ini yang buruk. Ini hanyalah salah satu arus pengrusakan budaya dan moral sebagai akibat arus globalisasi. Marketer tidak mempedulikan ini, mereka hanya peduli dagangannya harus laku terjual, dengan cara apapun, termasuk rekayasa budaya ini. Ungkapan cinta dan kasih sayang telah dibungkus secara belebihan menjadi berfoya-foya dan bahkan berzina. Nah, inilah yang jelas-jelas tidak boleh di agama saya. Tidak ada salahnya mengungkapkan cinta dan kasih sayang di hari tertentu, misalnya 14 Februari yang secara global telah dikenal sebagai hari kasih sayang. Tetapi apa yang kita lakukan berikutnya-lah yang perlu mendapat perhatian.

Catatan:
Saya termasuk yang sedih kemarin karena tak ada yang bisa saya ucapi, “Be My Valentine, sweetheart…” Banyak ide tentang puisi patah hati, tapi, biarlah tahun ini, puisi Valentine saya adalah tentang harapan dan cita-cita tentang cintah. [Cintah? Makan tuh Cintah!]

Cita Sederhana dari Kuncup Daun

Date February 12, 2008

Lihatlah kuncup daun yang sedang tumbuh itu
Sebuah wujud nyata dari kecantikan yang terbungkus dalam kesederhanaan
Bukan cantik seperti melati
Bukan cantik seperti mawar
Hanya sederhana, tak lebih.

Mawar telah banyak mempesona di taman bunga
Melati telah banyak menebarkan aroma wangi
Namun di sudut yang tak terlihat itu,
Kuncup daun yang tulus membangun harapan
Kelak, ia bisa menjelma menjadi pesona mawar atau melati

Entah apa yang terjadi besok, ia tidak tahu
Apakah akan ada badai yang merusak kuncupnya?
Apakah akan datang tangan lembut yang akan merawatnya?
Apakah citanya akan layu bahkan sebelum ia menjadi daun?
Bahkan sebelum daun itu akan memunculkan mawar atau melati yang ia citakan?

Who knows? Only heaven knows
Yang ia tahu, ia adalah kuncup yang masih muda
Ia tahu banyak kuncup-kuncup yang tak jadi daun
Dan ia tak tahu apakah batang daunnya masih sanggup bertahan

Dalam kesederhanaan itu,
Ia hanya ingin citanya tak padam

Kalaupun padam.
Ia berharap akan ada lagi kuncup daun yang baru
Ia berharap batang daun akan tetap sanggup bertahan
Hingga suatu saat nanti, sebuah mawar atau melati tumbuh di batang itu…

Sebuah cerita dan kata-kata sederhana, untuk memenuhi permintaan seseorang yang berkomentar di posting tentang Valentine tahun lalu. Lepas dari segala kontroversinya, salam penuh kasih sayang saya untuk Anda, di bulan penuh cinta ini.

Galih

Catatan Foto:
Lokasi: Rumah Rin, Pondok Cabe - Depok.
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | 1/200 | F/5.6