L COHOLIC
Guyonan yang saya yakin hanya dimengerti oleh maniak fotografi saja. Ada alcoholic, workaholic, dan yang ini.. L COHOLIC!
Valentine Day: Akibat Kampanye dan Edukasi Marketing
Kalau kita membaca buku tentang pemasaran semacam buku-buku Hermawan Kertajaya, atau blog-nya Pak Nukman Luthfie, kita menyadari bahwa teknologi pemasaran telah berkembang sedemikian pesat dan canggih. Kini fokus yang digarap bukan hanya pada bagaimana membuat produk semengkilap dan semenarik mungkin, tetapi juga pada “rekayasa” budaya dan pola pemikiran target pasar.
Ambil contoh, produk pemutih dari Pond’s Institute misalnya. Mungkin Anda tidak sadar bahwa Ponds telah mengedukasi pasar Indonesia selama bertahun-tahun. Iklan-iklan Ponds tidak terlalu fokus pada produk, tapi lebih ke brand building. Bandingkan dengan iklan dari TV Innovation Store yang demikian gegap gempita mengeksplorasi produknya. Akibat edukasi bertahun-tahun yang dilakukan Ponds cukup mengerikan. Kini asosiasi masyarakat tentang definisi cantik adalah berkulit putih imut jilbaban. Padahal mayoritas wanita Indonesia berkulit berwarna (cokelat, kuning langsat, hitam manis). Ini otomatis akan mendongkrak penjualan produk-produk pemutih semacam Ponds.
Kemudian soal perayaan Valentine yang jatuh kemarin. Perayaan yang selalu kontroversial. Di sini saya melihatnya sama sekali bukan event keagamaan. Jadi saya heran kenapa masyarakat Islam begitu gerah dengan perayaan ini — ditandai dengan memberondong berbagai fatwa, dalil, dan hadist. Saya melihatnya sebagai salah satu rekayasa budaya yang dilakukan oleh industri dengan target market remaja dan orang yang sedang dimabuk cintah. Tak ayal, kemarin, beribu-ribu tangkai mawar segar terjual, berjuta-juta potong cokelat beredar, restoran dan kafe penuh, kamar hotel habis terpesan, dan beribu-ribu plastik bungkus kondom tersobek dari kotaknya. Marketer tertawa, mereka berhasil.
Tentu saja ini rekayasa budaya yang membawa dampak buruk. Bukan event Valentine-nya, tetapi apa yang dilakukan saat perayaan ini yang buruk. Ini hanyalah salah satu arus pengrusakan budaya dan moral sebagai akibat arus globalisasi. Marketer tidak mempedulikan ini, mereka hanya peduli dagangannya harus laku terjual, dengan cara apapun, termasuk rekayasa budaya ini. Ungkapan cinta dan kasih sayang telah dibungkus secara belebihan menjadi berfoya-foya dan bahkan berzina. Nah, inilah yang jelas-jelas tidak boleh di agama saya. Tidak ada salahnya mengungkapkan cinta dan kasih sayang di hari tertentu, misalnya 14 Februari yang secara global telah dikenal sebagai hari kasih sayang. Tetapi apa yang kita lakukan berikutnya-lah yang perlu mendapat perhatian.
Catatan:
Saya termasuk yang sedih kemarin karena tak ada yang bisa saya ucapi, “Be My Valentine, sweetheart…” Banyak ide tentang puisi patah hati, tapi, biarlah tahun ini, puisi Valentine saya adalah tentang harapan dan cita-cita tentang cintah. [Cintah? Makan tuh Cintah!]
Cita Sederhana dari Kuncup Daun
Lihatlah kuncup daun yang sedang tumbuh itu
Sebuah wujud nyata dari kecantikan yang terbungkus dalam kesederhanaan
Bukan cantik seperti melati
Bukan cantik seperti mawar
Hanya sederhana, tak lebih.
Mawar telah banyak mempesona di taman bunga
Melati telah banyak menebarkan aroma wangi
Namun di sudut yang tak terlihat itu,
Kuncup daun yang tulus membangun harapan
Kelak, ia bisa menjelma menjadi pesona mawar atau melati
Entah apa yang terjadi besok, ia tidak tahu
Apakah akan ada badai yang merusak kuncupnya?
Apakah akan datang tangan lembut yang akan merawatnya?
Apakah citanya akan layu bahkan sebelum ia menjadi daun?
Bahkan sebelum daun itu akan memunculkan mawar atau melati yang ia citakan?
Who knows? Only heaven knows
Yang ia tahu, ia adalah kuncup yang masih muda
Ia tahu banyak kuncup-kuncup yang tak jadi daun
Dan ia tak tahu apakah batang daunnya masih sanggup bertahan
Dalam kesederhanaan itu,
Ia hanya ingin citanya tak padam
Kalaupun padam.
Ia berharap akan ada lagi kuncup daun yang baru
Ia berharap batang daun akan tetap sanggup bertahan
Hingga suatu saat nanti, sebuah mawar atau melati tumbuh di batang itu…
Sebuah cerita dan kata-kata sederhana, untuk memenuhi permintaan seseorang yang berkomentar di posting tentang Valentine tahun lalu. Lepas dari segala kontroversinya, salam penuh kasih sayang saya untuk Anda, di bulan penuh cinta ini.
Galih
Catatan Foto:
Lokasi: Rumah Rin, Pondok Cabe – Depok.
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | 1/200 | F/5.6
Laskar Pelangi, Pelangi di Antara Arus Sastra Perusak Moral
Judul Buku: Laskar Pelangi
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
SPOILER ALERT.
Saking bagusnya buku ini, tak bisa saya berkata-kata banyak. Kita butuh buku-buku semacam tetralogi Laskar Pelangi lebih banyak lagi untuk meng-counter serangan bertubi-tubi dari sinetron-sinetron perusak moral bangsa itu!
Sudah lama saya merindukan cerita tentang kehidupan sekolah seperti Laskar Pelangi. Sinetron selalu menampilkan dan memperkenalkan budaya kehidupan sekolah yang sangat mengerikan: glamor, cenderung berandalan, make-up tebal, asesoris berlebihan… Tidak ada persahabatan, yang ada permusuhan. Anak pandai selalu digambarkan berkacamata tebal, culun, dan tidak gaul. Guru-guru selalu dilecehkan, diperankan oleh para pelawak, dan menjadi ejekan para murid. So sad. Entah dendam apa yang dimiliki para sineas sinetron kepada bangku sekolahnya sampai membuat tayangan seperti ini.
Tapi tidak dengan novel Laskar Pelangi ini. Ini adalah cerita anak-anak muda jenius dari kampung Belitong. Lintang, Mahar, dan tentu saja Ikal. Kita dibawa terharu, dikuras air mata sampai habis, bahwa semangat anak-anak muda ini menyala-nyala demi bisa belajar walaupun himpitan ekonomi mencekik leher keluarga mereka. Ini jelas-jelas sindiran yang sangat ironis bagi anak keluarga yang berkecukupan yang bisa mengenyam pendidikan yang layak. Anak-anak keluarga kaya yang uang saku-nya cukup untuk menghidupi keluarga Lintang dkk. harus baca ini saya kira.
Ironi mengenai jurang miskin dan kaya digambarkan dengan sangat jelas antara kehidupan lingkungan PN Timah (disebut Gedong) dan kehidupan orang-orang kampung. Dengan pendekatan sastra gaya metafora dan hiperbolis yang sedikit berlebihan, perbedaan itu diceritakan dengan gaya paparan nyaris tanpa dialog yang menghabiskan beberapa bab.
Setelah air mata Anda terkuras habis, siap-siaplah untuk tertawa terkikik-kikik di sepanjang novel ini. Anak-anak Laskar Pelangi lucu-lucu, unik dan memiliki ikatan persahabatan yang sangat erat. Semua anggota laskar pelangi memiliki karakter dan prinsip masing-masing. Tak ada permusuhan layaknya sinetron remaja di lingkungan SD-SMP Muhamadiyah. Yang ada hanyalah persahabatan yang erat, keceriaan, sekaligus semangat yang makantar-kantar (Jawa: meluap-luap) dari mereka.
Bu Muslimah. Saya menjadi rindu guru-guru saya ketika membaca Bu Muslimah. Kasih sayang beliau kepada murid-murid, dan betapa sayang dan hormat murid-murid kepada Bu Mus. Mereka memanggil Bu Mus dengan Ibunda Guru. Khas melayu, tapi terdengar sangat sayang. Himpitan ekonomi benar-benar tak menyurutkan cahaya pendidikan di lingkungan sekolah yang kumuh itu. Bahkan, anak-anak muda ini berkembang dengan begitu cepat dan jenius.
Demikian pula dengan lomba cerdas cermat yang diadakan di Tanjong Pandan, dimana SD Muhamadiyah datang sebagai tim underdog yang melawan sekolah-sekolah mapan nan berkilau dari PN Timah. Saya seperti kembali mengulangi perjalanan saya semasa di SD dulu. Begitu dekat dengan pengalaman saya. Bagaimana serunya Lintang menghajar lawan-lawan cerdas cermat-nya. Semua begitu dekat, begitu nyata.
Kita perlu lebih banyak lagi buku semacam Laskar Pelangi. Itu kesimpulan saya. Biasanya buku semacam ini tidak pernah menjadi best seller. Masyarakat kita masih suka buku-buku ringan sekelas chick-lite. Tetapi Andrea Hirata telah membuat novel yang penuh muatan dan pesan dengan gayanya sendiri yang kocak, yang telah membawanya menjadi buku best seller yang sanggup menyaingi Harry Potter di etalase toko-toko buku terkemuka.
Membuat RSS Feed untuk Blog-Indonesia
Blog-Indonesia, mungkin adalah salah satu agregator blog terbesar di Indonesia. Blog ini memiliki sekitar 5500-an anggota yang terdaftar. Dari waktu ke waktu, agregator ini menyedot feed dari blog-blog anggota dan menampilkannya kembali dalam satu kesatuan.
Adanya RSS Feed dan datangnya Google Reader praktis mengubah cara saya dalam mengambil informasi dari internet. Sekarang, semua yang ada RSS-nya saya masukkan ke dalam Google Reader dan membacanya dari situ. Tapi tentunya malas juga kalau harus memasukkan satu per satu dari ribuan feed yang ada di internet. Oleh karena itu, saya lebih suka subscribe feed dari aggregator semacam Planet Terasi dan Merdeka. Maraknya komunitas blogger akhir-akhir ini juga cukup memberi harapan bagi saya. Tapi sayangnya hampir semua komunitas itu tidak menyediakan agregator untuk anggotanya. Komunitas ini mungkin lebih mirip dengan komunitas para breaker radio amatir dulu waktu saya aktif di jalur FM dan SW (ORARI registered user: yengki-delta-bla bla).
Blog-Indonesia sangat menjanjikan. Sayang beribu sayang, mereka tidak punya feed. Atau saya yang tidak tahu? Saya sudah ubek-ubek situs itu buat mencari sebuah file XML berspesifikasi RSS. RSS Feed yang saya dapatkan hanya berisi link yang menuju ke halaman web, bukan entrian posting seperti layaknya sebuah agregator. Ah!
Kebetulan, weekend ini saya memiliki waktu luang. Mau hunting foto… Jakarta sedang diguyur hujan lebat. Jadi saya berpikir, kenapa saya tidak buat sendiri saja RSS Feed-nya? Mengulang saat-saat saya masih memakai www.galihsatria.com yang berbasis JSF (Java Server Faces) sebagai situs utama saya. Saya tinggal ekstrak data-data yang saya perlukan dari blog-indonesia dan saya keluarkan kembali hasilnya sebagai feed. Karena saya tidak bisa memakai Java lagi di server ini, maka saya terpaksa memakai PHP. Agak sedikit aneh juga kalau sudah terbiasa dengan Java yang sangat kaku terhadap tipe data menghadapi PHP yang longgar.
Hasilnya? Daily entry bisa di-subscribe di sini, sedangkan untuk most popular bisa di-subscribe di sini. Namanya juga iseng-iseng, aplikasi ini sangat tidak stabil. Tapi lumayan lah buat saya, paling tidak saya bisa mengikuti apa yang terjadi di blog-indonesia via Google Reader saya.
*
Anyway, bagi saya, menulis baris-baris kode program adalah salah satu hal yang sangat menyenangkan. Apalagi jika ada hal-hal baru. Seperti kali ini, saya ingin memperdalam kungfu dalam hal Regular Expression. Saya sadar, regex sangat powerfull dalam hal pengenalan pola-pola teks, tetapi struktur kode-nya memang bikin putus asa. Saya biasanya lebih suka mengolah pola-pola teks dalam tumpukan prosedur-prosedur substring. Meskipun lebih panjang, tetapi jauh lebih santai. Kali ini, saya memaksakan diri untuk memakai regex yang lebih cepat. Walhasil, untuk parser RSS Blog-Indonesia, ada beberapa hal yang menarik:
- Langkah pertama, dapatkan file HTML-nya. Amati pola-polanya. Situs-situs yang memiliki sesuatu yang diulang seperti blog atau berita selalu memiliki pola yang mudah dilihat. Dari sini, definisikan pola tersebut dalam ekspresi regex. Meskipun memungkinkan mendapatkan semua yang kita butuhkan dalam satu pola regex, namun saya lebih suka melakukannya dalam beberapa langkah. Sekedar agar sedikit bisa dibaca kode regex-nya.
- Pola untuk mendapatkan kotak bloglist:
/(<div class=”bloglist[alternate]*”>)+(<([a-z0-9]+)[^>]*>.*?<\/\3>)*<\/div>/ - Setelah mendapatkan kotak itu, ekstrak data-data yang kita perlukan seperti judul posting, link, nama penulis, dan waktu publikasi.
- Ini pola untuk mendapatkan isi didalam kotak bloglist: /(<([a-z0-9]+)[^>]*>)+(.*?)</
- Mendapatkan link posting memakai pola ini: /<a\starget=”_blank”\shref=”(.*?&.*?)”/
- Dan akhirnya, memecah tanggal posting dengan pola: /([0-9]{1,2})\s(\w+)\s([0-9]{1,2})\s-\s([0-9]{1,2}):([0-9]{1,2})/
Kode yang rumit. Regex adalah hal yang paling saya benci setelah Javascript. Andai dulu saya tidak tidur waktu kuliah Teori Bahasa dan Otomata-nya Bu Chastine Fatichah, mungkin saya tidak selambat ini dalam belajar regex. Sekarang, saya mulai mengerti kekuatan regex yang tersembunyi dalam kode yang rumit itu.
Senyum Natalie
FLICKR
Lokasi: Studio Alam TVRI Depok
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | 1/160 s | F/4.8
Satu per satu foto-foto lama diupload. Harap maklum, belum bisa hunting foto lagee..
Membuat Java Servlet
SERI MEMBANGUN APLIKASI WEB-BASED DENGAN JAVA ENTERPRISE
- SERI 1: Pendahuluan
- SERI 2: Membuat Java Servlet
Dalam sesi tutorial kali ini, kita akan membuat servlet sederhana dalam langkah demi langkah dengan tujuan memahami bagaimana gaya Java menangani sebuah mekanisme website (request dan response) dalam mekanisme protokol HTTP. Seperti yang telah saya tulis di panduan ini, Java Servlet memiliki beberapa kelemahan yang sangat signifikan. Tetapi saya tetap mengantarkan konsep ini daripada saya memperkenalkan cara yang lebih mudah seperti JSP. Alasan utama saya, untuk memperkenalkan kepada Anda konsep sistem Java Enterprise dengan bertumpuk-tumpuk servlet, Anda harus mengerti konsep servlet terlebih dahulu karena framework-framework tersebut sebenarnya juga tersusun dari servlet.
Tutorial ini membahas mengenai pembuatan servlet sangat sederhana dengan menggunakan IDE Eclipse Europa versi 3.3. IDE ini sangat memudahkan kita dalam melakukan development sistem Java Enterprise. Servlet yang akan kita buat hanya menampilkan form, meminta pengunjung memasukkan nama, dan menyapanya kembali dengan nama yang telah dimasukkan tersebut.
Pada bagian akhir tutorial, kita melakukan deployment pada server production dengan menggunakan Apache Tomcat.
Silakan mendownload panduan ini (dalam format PDF) di sini: Membuat Java Servlet.
Jika Anda memerlukan source code lengkap beserta hirarki directory-directory-nya, silakan download di sini (dalam format ZIP): Source Code Lengkap.
Selamat mencoba.
Link yang mungkin terkait:
Comments