Olah Digital, Menurut Saya
February 25, 2008
Waktu masih setia memakai kamera analog pinjaman (Nikon FM-10), saya termasuk dalam kubu yang menentang keras adanya olah digital dalam fotografi. Sindiran keras saya ada di sini.
Anda fotografer atau potosoper sih?
Bagi saya, seni fotografi adalah murni seni melukis dengan cahaya. Kepuasan dalam hobi fotografi terletak saat bagaimana sulitnya mengukur cahaya, mengira-ngira seberapa kombinasi bukaan diafragma, kecepatan rana (shutter speed), dengan ASA film kamera yang telah terpasang. Ingat, Anda hanya diberi jatah 36 kali jepret dalam satu rol film. Hasil yang tidak dapat dilihat langsung juga menambah tingkat kepuasan jika ternyata hasilnya bagus. Jika jelek, atau ternyata celakanya film telah terbakar sehingga tidak ada satupun hasil yang jadi, menangisnya bisa sampai semalaman.
Pernah saya dulu, memotret lingkungan mengkilap salah satu hotel berbintang lima di Kuta Bali dengan FM-10. Di perjalanan di tempat lain, waktu film sudah habis, saya coba gulung rol film dan menggantinya dengan yang baru. Celaka, saya lupa melepas kunci rol film sehingga waktu saya gulung film-nya putus. Jadilah menangis bombay semaleman. Jadi, ketika satu saja foto dari kamera analog berhasil, seperti foto ini, senangnya luar biasa.
Sampai datangnya era kamera digital di dunia saya. Berawal dari Canon Powershot A400 dan adiknya sekarang: Nikon D40. Perlahan, saya berganti pandangan 180 derajat seiring kemampuan olah digital yang semakin terasah. Dengan olah digital, kita bisa memberikan sentuhan yang kita inginkan dimana kamera kita tidak bisa melakukannya. Keterbatasan ini bisa jadi karena kemampuan kamera itu sendiri ataupun kondisi lingkungan yang kurang mendukung.
Efek biru dari filter Circular Polarizer (CPL) bisa didapat dengan mengatur Curve dan Color Balance. Efek filter Infra Red (IR) bisa didapat dengan mengatur Channel Mixer. Efek Depth of Field bisa didapat dengan mengatur seleksi dan melakukan proses Gaussian Blur atau Lens Blur (PS CS3+). Oh, Anda melakukan kesalahan pengaturan exposure? Gampang, pakai Exposure Adjustment, Contrast and Brightness. Warna kurang ngejreng? Pakai Saturation & Hue Adjustment.
Olah digital sampai batas ini, orang masih bisa menerima karena olah digital seperti ini bisa dilakukan di kamar gelap bagi film seluloid (analog) dan bukan merupakan manipulasi atau rekayasa digital. Lalu bagaimana dengan rekayasa digital dalam fotografi itu sendiri? Titik inilah yang menjadi perdebatan sengit di dunia fotografi digital.
Wajah pacar Anda kurang cantik karena pipinya ada dua titik jerawat? Anda tak perlu menyuruh make-up artist untuk menambah alas bedaknya. Cukup memakai Healing Brush Tool atau Patch Tool, jerawat pacar Anda hilang tanpa bekas. Anda merasa foto Anda akan jauh lebih bagus andai ada dua pohon, bukan hanya satu? Duplikasi layernya, geser pohon ke tempat yang Anda inginkan. Beres.
Sampai batas ini, saya setuju ini bukanlah fotografi lagi tetapi sudah masuk dunia digital imaging. Namun demikian, saya sangat tidak setuju dengan pernyataan,
Ah, sekarang mah gampang bikin foto bagus. Tinggal asal jepret, lakukan sisanya di Photosop.
Saya harus menarik ucapan saya yang dulu begitu meremehkan fotografer penganut olah digital. Memang zaman sekarang jauh lebih mudah membuat foto bagus, seiring perkembangan teknologi. Namun bagaimanapun juga, olah digital hanyalah sebuah alat bantu untuk menjadikan foto kita lebih sempurna lagi. Semakin bagus “foto mentah” hasil jepretan kamera, semakin mudah olah digitalnya, semakin bagus hasil akhirnya. Olah digital adalah sesuatu yang wajib di dunia fotografi digital. Tidak percaya? Apakah Anda kira kamera digital memproses gambar tidak secara digital? Mengubah ISO level dan white balance jelas proses yang melibatkan software internal kamera untuk mengisi sensor dengan pixel-pixel. Berawal dari titik inilah perlahan-lahan saya mulai menerima olah digital dengan software pengolah citra seperti Adobe Photoshop. Tentu saja, hingga batas-batas tertentu.
Mari saya tunjukkan bagaimana olah digital mengubah sebuah foto menjadi begitu eye-catching. It’s all about the magic of Adobe Photoshop. ![]()
Asli dari kamera:
Setelah di-retouch:


Posted in 












February 26th, 2008 at 11:25 am
Hardware (kamera) dan software (photoshop)sudah tersedia, skrg tinggal pinter2nya brainware (manusia) yg make aja hehe..
Mas Galih, kapan2 bahas tutorial step by step buat retouch gambar pantai diatas dong. Trims
February 26th, 2008 at 11:26 am
wehhh… oldig foto perahune asik cak, jadi seperti sore hehe, dan mambu2 FN
February 26th, 2008 at 11:36 am
whehehe… kadang2 a man behind computer is more powerful than a man behind camera
iya neh… mana tutorial buat oldignya,
masa’ foto atas langsung disulap jadi foto bawah
February 26th, 2008 at 1:25 pm
saya photoshoper

tapi dikit dikit moto bisa lah.. walo lom mahir
salam kenal mas galih.. dari saya galih juga
February 26th, 2008 at 1:32 pm
yup… itu, yang harus dilakukan di photosopnya mana nih lih
sapa tau foto2ku bisa tak edit 
hehehe
February 26th, 2008 at 1:43 pm
loh tutornya mana mas, kok spt sulapan
February 26th, 2008 at 3:14 pm
Fotografi pada dasarnya tetep jualan gambar, olah digital apapun tak akan mengurangi dan menambah nilai asli obyek gambar tersebut, kecuali hanya untuk kosmetik. Beda lagi jika rekayasa, misalnya photo vector. Itu udah bukan lagi fotografi, tapi digital imagining/designing. CMIIW
February 26th, 2008 at 5:59 pm
#Jie, huda, geblek:
mmm.. kalau buka tutorial potosop blog ini jadi semakin gado-gado dong
#fahmi!:
maklum mi, murid jebolan FN
#galih:
salam kenal juga lih
#Hedi:
setuju!
February 27th, 2008 at 9:26 am
bisa juga dari WB-nya kamera ya? warna kuning diatas di set Cloudy..tul ga ya
February 27th, 2008 at 9:59 am
#tukangmoto:
yap, tentu saja bisa. pembahasan saya mengenai white balance ada di http://blog.galihsatria.com/2006/10/01/white-balance/
February 27th, 2008 at 10:19 pm
Belajar moto dari internet gak pinter-pinter, payah.
February 27th, 2008 at 10:50 pm
Ternyata komparasi excel yg aku baca & berhasil memprovokasi aku utk beli A570 gaweanmu yo mas! Sory lg ngerti…
February 28th, 2008 at 3:48 am
Keren mas retouchnya, kapan2 yang objeknya manusia dong mas
February 28th, 2008 at 10:35 am
oldi sama poto2 kan masih ada hubungannya mas,jadi wajar saja kalau sampean nulis cara membuat re touch tsb, biar gak naggung
May 23rd, 2008 at 10:46 pm
this is kuaren…