Laskar Pelangi, Pelangi di Antara Arus Sastra Perusak Moral
February 12, 2008
Judul Buku: Laskar Pelangi
Penulis: Andrea Hirata
Penerbit: Bentang Pustaka
SPOILER ALERT.
Saking bagusnya buku ini, tak bisa saya berkata-kata banyak. Kita butuh buku-buku semacam tetralogi Laskar Pelangi lebih banyak lagi untuk meng-counter serangan bertubi-tubi dari sinetron-sinetron perusak moral bangsa itu!
Sudah lama saya merindukan cerita tentang kehidupan sekolah seperti Laskar Pelangi. Sinetron selalu menampilkan dan memperkenalkan budaya kehidupan sekolah yang sangat mengerikan: glamor, cenderung berandalan, make-up tebal, asesoris berlebihan… Tidak ada persahabatan, yang ada permusuhan. Anak pandai selalu digambarkan berkacamata tebal, culun, dan tidak gaul. Guru-guru selalu dilecehkan, diperankan oleh para pelawak, dan menjadi ejekan para murid.
So sad. Entah dendam apa yang dimiliki para sineas sinetron kepada bangku sekolahnya sampai membuat tayangan seperti ini.
Tapi tidak dengan novel Laskar Pelangi ini. Ini adalah cerita anak-anak muda jenius dari kampung Belitong. Lintang, Mahar, dan tentu saja Ikal. Kita dibawa terharu, dikuras air mata sampai habis, bahwa semangat anak-anak muda ini menyala-nyala demi bisa belajar walaupun himpitan ekonomi mencekik leher keluarga mereka. Ini jelas-jelas sindiran yang sangat ironis bagi anak keluarga yang berkecukupan yang bisa mengenyam pendidikan yang layak. Anak-anak keluarga kaya yang uang saku-nya cukup untuk menghidupi keluarga Lintang dkk. harus baca ini saya kira.
Ironi mengenai jurang miskin dan kaya digambarkan dengan sangat jelas antara kehidupan lingkungan PN Timah (disebut Gedong) dan kehidupan orang-orang kampung. Dengan pendekatan sastra gaya metafora dan hiperbolis yang sedikit berlebihan, perbedaan itu diceritakan dengan gaya paparan nyaris tanpa dialog yang menghabiskan beberapa bab.
Setelah air mata Anda terkuras habis, siap-siaplah untuk tertawa terkikik-kikik di sepanjang novel ini. Anak-anak Laskar Pelangi lucu-lucu, unik dan memiliki ikatan persahabatan yang sangat erat. Semua anggota laskar pelangi memiliki karakter dan prinsip masing-masing. Tak ada permusuhan layaknya sinetron remaja di lingkungan SD-SMP Muhamadiyah. Yang ada hanyalah persahabatan yang erat, keceriaan, sekaligus semangat yang makantar-kantar (Jawa: meluap-luap) dari mereka.
Bu Muslimah. Saya menjadi rindu guru-guru saya ketika membaca Bu Muslimah. Kasih sayang beliau kepada murid-murid, dan betapa sayang dan hormat murid-murid kepada Bu Mus. Mereka memanggil Bu Mus dengan Ibunda Guru. Khas melayu, tapi terdengar sangat sayang. Himpitan ekonomi benar-benar tak menyurutkan cahaya pendidikan di lingkungan sekolah yang kumuh itu. Bahkan, anak-anak muda ini berkembang dengan begitu cepat dan jenius.
Demikian pula dengan lomba cerdas cermat yang diadakan di Tanjong Pandan, dimana SD Muhamadiyah datang sebagai tim underdog yang melawan sekolah-sekolah mapan nan berkilau dari PN Timah. Saya seperti kembali mengulangi perjalanan saya semasa di SD dulu. Begitu dekat dengan pengalaman saya. Bagaimana serunya Lintang menghajar lawan-lawan cerdas cermat-nya. Semua begitu dekat, begitu nyata.
Kita perlu lebih banyak lagi buku semacam Laskar Pelangi. Itu kesimpulan saya. Biasanya buku semacam ini tidak pernah menjadi best seller. Masyarakat kita masih suka buku-buku ringan sekelas chick-lite. Tetapi Andrea Hirata telah membuat novel yang penuh muatan dan pesan dengan gayanya sendiri yang kocak, yang telah membawanya menjadi buku best seller yang sanggup menyaingi Harry Potter di etalase toko-toko buku terkemuka.
Posted in 












February 12th, 2008 at 1:09 pm
hiks,,,iyo mas,,
jaman2 SD ne sampean gak bedo adoh karo ndesoku,,tapi perane sampean lak dadi lintang+mahar,,cos selain genius sampean lak pemenang lomba karawitan,,bener gak yo?? hehe
February 12th, 2008 at 2:11 pm
I think, buku seperti Laskar Pelangi harus lebih banyak. I’m glad sineas kita, si Mira Lesmana, yang graduate from Aussie udah mo buat itu filem. Kowe monyet harus nonton film itu kalo edar. Ngerti?
*antara Cincha Lawra dengan pasukan Belanda jaman penjajahan
*
February 12th, 2008 at 5:18 pm
Buku bagus ini! Weh, ndak sabar saya nunggu wiken hunting ini buku. Tenkiu infonya!
February 12th, 2008 at 7:16 pm
Wah, posting juga nih Mas Galih soal Laskar Pelangi, udah baca sampe Edensor dong ya pastinya.
*Lagi nungguin Maryamah Kapov keluar nih…
February 12th, 2008 at 8:03 pm
#ciplux:
ngarang, juara karawitan dari hongkong? nyekel gender ae isone gur gendhing bubaran hudan mas pelog pathet 9.
#dnial:
cinchta lagi populer ya?
#GoenRock:
gak nyesel bacanya
#Nike:
Belom baca… lagi nunggu pinjeman
February 13th, 2008 at 11:19 am
Nih buku emang inspiring bgt..pasti dlm benak kita langsung terbang ke kampung mengenang masa kecil (yg sangat bahagia…halah..heheh..)
Buruan baca edensor Lih, top bgt deh.. (cuma menurutku terlalu “novel” bgt ceritanya..tp petualangannya ok bgt deh pokoknya..)
February 13th, 2008 at 5:01 pm
Kayanya mesti baca juga 3 buku yg laen deh, Sang Pemimpi, Edensor, n Maryamah Karpov…..ok punya smuanya

Salam kenal tuk Galih…mau dong diajarin motret…
February 13th, 2008 at 9:59 pm
judul postingnya tepat banget, buku ini membawa kesegaran di derasnya novel chicklit dan novel populer
February 21st, 2008 at 11:59 am
wuuah.. mas andre is the best d pokoknya..
ge nungguin maryamahnya..
kug gag kluar2 ya ?
Q paling suka sang pemimpi tu lho.. top abiezz..
pokoknya wajib de baca ne buku..
February 22nd, 2008 at 3:08 pm
Dadi eling perjalanan TA-SBY by Rapih Dhoho karo Nduk Ciplux wingi. Suwun banget Laskar Pelangine yo, Nduk…… Oh iyo karo pisang remes’e barang.
July 28th, 2008 at 12:00 pm
Laskar Pelangi sudah menjadi buku favorit saya, malah sedang menunggu buku ke-4 nya.
dari buku pertama hingga buku ketiga, membacanya enak sekali, penuh dengan hikmah pelajaran dan perjuangan kehidupan.
thanks