Instalasi Windows XP di HP Compaq Presario V3660

Posted by: on Jan 18, 2008 | 24 Comments

Saya mendapatkan HP Compaq Presario 3660 warna hitam berlampu biru ini dari sebuah toko di Mal Ambassador. Meskipun didesain untuk Windows Vista, notebook ini datang tanpa sistem operasi pre-installed. Hanya sebuah FreeDOS sekedar untuk menunjukkan bahwa notebook ini berjalan dengan baik. Saya punya firasat bahwa melakukan instalasi XP di sini akan cukup berdarah-darah. Kenapa? Karena hardisk yang digunakan si Compaq ini adalah SATA, sedangkan installer XP secara default tidak menyertakan driver SATA. Nah lo…

Saya harus mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk Mbak Gita lewat postingannya tentang cara-cara instalasi Windows XP di notebook ini. Praktis, saya tidak perlu berdarah-darah, cukup mengikuti step-by-step yang dengan gamblang dijelaskan oleh Mbak Gita.

Nah, masalah yang tak kalah peliknya adalah instalasi driver-driver hardware. Terutama audio yang sulit dibunyikan. CD bawaan yang diberikan toko penjual notebook juga tidak sesuai dengan perangkat kartu suara Conexant dengan speaker Altec Lansing ini. Mbak Gita juga tidak terlalu banyak membantu sampai step ini karena installer driver yang saya download dari situsnya tidak bisa dijalankan di notebook ini. Wah, gimana dong?

Thanks to Bang Juis. Ia menyarankan untuk mendapatkan driver dari situs Windows Update? Hah? Sedia driver juga to si Microsoft? Saya coba konek ke internet dan menghubungi Windows Update. Wah, ternyata benar. Driver-driver yang dari CD tidak bisa jalan (audio, modem, dan ethernet card) ada semua di sini. Jadi tinggal download dan install. Sedangkan untuk driver VGA, card reader, WLAN, bluetooth bisa terinstall dengan sukses. Tentu saja, syarat agar bisa mendownload dari Windows Update, Windows-nya harus legal, bukan bajakan, sehingga lolos dari pemeriksaan software piracy oleh Microsoft.

Kenapa saya tak pakai Linux yang segala-galanya lengkap termasuk driver-driver hardware? Well, sekarang ini, banyak pekerjaan saya yang saya rasa belum bisa tergantikan sepenuhnya di Linux. Saya kira, satu-satunya software yang telah tergantikan hanyalah Open Office saja. Selebihnya, belum. Saya tak mau berdebat jargon di sini. Realistis saja lah, kalau belum bisa tergantikan, kenapa harus memaksakan diri? Konsekuensinya, Anda harus pakai software propietary yang mahal. Apakah harus membajak? Oh, tentu tidak. Apakah harus beli? Belum tentu. Banyak cara mendapatkan software legal tanpa membajak, meng-crack, mencuri, atau apapun istilahnya. Ayolah, be creative! )

After Shutter Click

Posted by: on Jan 16, 2008 | 11 Comments


FLICKR
Lokasi: Kompleks Museum Fatahillah, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR | 1/250 s | F/7.1

Foto ini sudah nyaris terselip di antara ribuan foto-foto yang pernah saya jepret dengan D40 saya. Maklum, secara teknis, banyak kelemahannya. Tapi tiba-tiba tadi malam saya ingat fotografer nikon ini yang saya colong gambarnya Juni 2007 lalu. Berkesan, karena saya agak jarang melihat fotografer cewek. Kalaupun ada pasti jauh lebih sedikit.

PS: Nduk, sido tuku S3 IS gak?

Lebih Gede MegaPixel, Lebih Bagus Kualitas?

Posted by: on Jan 15, 2008 | 5 Comments

2 MP
6 MP
8 MP
10 MP….

Seringkah kita mendengar istilah mega pixel? Kalau kita akan membeli kamera saku, kita selalu dihadapkan pada pertanyaan, “Berapa mega pixel?” Di iklan-iklan, produsen HP tercanggih terbaru dengan bangga memperkenalkan fitur kamera dengan jumlah mega piksel yang semakin besar. Melalui berbagai kampanye brand kamera dan HP, konsumen seolah-olah diarahkan kepada opini bahwa semakin besar jumlah mega pixel, semakin bagus kamera itu. Saya yang punya kamera saku 3,2 MP selalu dipandang sebelah mata oleh mereka yang memiliki kamera saku 10 MP.

Apakah benar? Semakin besar MegaPixel, maka semakin bagus kualitasnya?

Perlu diketahui dulu, besaran mega pixel berhubungan dengan sensor kamera. Sensor kamera digital bertindak seperti rol film seluloid pada kamera analog: perekam cahaya. Sensor menangkap cahaya dari lensa dan menerjemahkannya dalam titik-titik pixel digital. Kapasitas jumlah pixel dari sensor inilah yang akhirnya terkenal.

Tentu saja, semakin besar jumlah mega pixel, resolusi/intensitas yang bisa dihasilkan akan semakin besar. Semakin besar pula kesempatan untuk mencetak dalam ukuran besar. Tetapi apakah semakin besar mega pixel, kualitas yang dihasilkan akan semakin baik?

Untuk kamera saku dan kamera ponsel: TIDAK.

Syarat kamera saku dan kamera ponsel adalah harus kompak dan kecil. Ini memaksa ukuran sensor menjadi ikut kecil. Dengan semakin bertambahnya jumlah pixel dalam satu sensor, hal ini memaksa ukuran tiap satu piksel akan semakin kecil. Hal ini akan meningkatkan jumlah pixel error atau yang lazim disebut noise karena jumlah cahaya yang dikumpulkan dalam satu pixel semakin sedikit. Cahaya berwarna merah kekuning-biru-an bisa jadi hanya akan diterjemahkan sebagai merah kekuning-kuningan. Dan inilah penyebab noise, warna kusam, dan tidak cerah.

Masalah ini bisa diatasi dengan penggunaan lensa yang berkualitas baik, memiliki resolusi tinggi, dan memiliki tingkat chromatic abberation yang lebih rendah. Namun celakanya, lensa seperti ini selalu berukuran besar dan berat, menyalahi syarat utama sebuah kamera saku dan kamera ponsel!

Jadi, who needs megapixels?? Apakah Anda ingin mengorbankan kualitas gambar dengan memiliki kamera ber-mega-pixel tinggi? Apakah Anda ingin mencetak gambar ukuran baliho satu lapangan sepakbola dengan kamera saku? Halo? Kamera saku saya hanya 3,2 MP dan memiliki kualitas yang sangat baik. Saat ini, batas psikologis kamera saku adalah di 6 MP. Selebihnya, kualitas gambar akan menurun. Bahkan kamera DSLR saya “hanya” memiliki kekuatan 6.1 MP dan saya cukup percaya diri untuk mencetaknya dalam standing banner ukuran 1,5 meter dengan hasil yang sangat memuaskan.

Disarikan dari: http://6mpixel.org/

Akhirnya Hehehe…

Posted by: on Jan 12, 2008 | 9 Comments

Hehehehe…
Thanks 2 flickr!

Sepuluh Foto Terbaik Saya

Posted by: on Jan 11, 2008 | 29 Comments

Mumpung lagi awal tahun, mumpung musim orang bikin kaleidoskup, bikin resolusi, segala macem [frase perusak bahasa nih!], saya mau buat seleksi foto-foto terbaik dan saya suka yang pernah saya jepret. ) Disusun secara acak, tidak diurutkan berdasarkan kadar baik-jelek, karena foto saya semuanya bagus-bagus ) (siapa lagi yang memuji kalau bukan saya sendiri?)

Judul: Di Pantai Cinta
Lokasi: Tanah Lot, Bali – November 2006
Kamera: Canon Powershot A400

Saya suka foto ini karena siluet orang ciuman-nya benar-benar nyata. Bukan hasil plot. Pak Suhadi Lili sempat memuji foto ini.

Judul: Tekun Bekerja
Lokasi: Taman Nasional Ujung Kulon – Mei 2007
Kamera: Canon Powershot A400

Saya cukup beruntung karena perahu yang saya tumpangi melintasi sebuah nelayan yang sedang asyik sendirian di tengah lautan. Saya juga beruntung karena cuaca waktu itu sangat fotogenik (biru), didukung “kostum”pak nelayan yang kebetulan biru juga

Judul: Wazzup?!?
Lokasi: Bagian Belakang Honda CRV – Juni 2007
Kamera: Nikon D40

Pengalaman pertama dengan DSLR. Saya senang karena mulai bisa mengisolasi POI dengan background.

Judul: Pemburu Pagi
Lokasi: Pelabuhan Sunda Kelapa – Juni 2007
Kamera: Nikon D40

Idenya memang tidak orisinil, tapi saya suka eksekusinya. Gradasi pagi yang membentuk siluet para fotografer FN-021

Judul: Museum Fatahillah (2)
Lokasi: Kawasan Kota Tua Jakarta – Juni 2007
Kamera: Nikon D40

Mendapatkan langit sebiru ini, apalagi dengan ornamen secarik awan sebagai pemanis, sungguh merupakan pengalaman memotret yang sangat sulit saya dapatkan lagi di Jakarta.

Judul: A New Day Has Come
Lokasi: Pelabuhan Sunda Kelapa – Juni 2007
Kamera: Nikon D40

Saya cukup surprise dengan settingan white balance shade dipadu dengan kondisi suasana sunrise. Hasilnya benar-benar merah. Apalagi ketika ada tukang perahu lewat. Klop lah untuk POI.

Judul: Ratu Dayak
Lokasi: Stadion PTIK Kebayoran Baru – Agustus 2007
Kamera: Nikon D40

Saya suka foto ini. Juga dengan gadis yang saya snapshot ini. Anak Chevron nih, halooo… sahabat-shabat saya di Chevron, ada yang tahu cewek cakep ini?

Judul: The Lounge
Lokasi: Lounge Wisma Mulia Lt. 48 – November 2007
Kamera: Nikon D40

Foto HDR (High Dynamic Range) yang saya buat dengan hanya satu frame — tanpa bracketing. Seluruhnya murni olah digital. The Magical of Adobe Photoshop

Judul: Bermain Bola
Lokasi: Pelataran Museum Fatahillah Jakarta – Juni 2007
Kamera: Nikon D40

White balance cloudy di pagi hari memang sangat membantu menghasilkan warna keemasan yang hangat. Saya suka foto ini karena efek berkilau dari pantulan pelataran museum.

Judul: Di Balik Awan
Lokasi: Waduk Wonorejo Tulungagung – Desember 2007
Kamera: Nikon D40

Sulit mendapatkan ray of light dari matahari seperti ini. Momment yang ada benar-benar pas, yaitu ketika sinar matahari masih terik dan ditutupi oleh sedikit awan hujan di bawahnya. Itulah yang membuat saya suka foto ini.

Di Balik Awan

Posted by: on Jan 11, 2008 | 5 Comments


FLICKR
Lokasi: Waduk Wonorejo, Tulungagung
Nikon D40 | Nikkor AF-S 18-55 mm | 1/400s | F/16

A little bit underexposed eh? never care about that, forget the conventional rule!

Listiana benar, Waduk Wonorejo tak segersang dulu lagi. Laporan tentang Waduk Wonorejo menyusul.

Btw, soal judul, seperti lagunya PeterPan ya? Tempatku melihat di balik awaaaan… tempatku melihat di balik hujaaaan…..

Tentang Layanan Hotspot Gratis dari Speedy

Posted by: on Jan 8, 2008 | 30 Comments


Alun-Alun Ibukota Tulungagung:
Taman Kusuma Wicitra

Baca artikel ibu Velisa jadi ingat kalau saya ingin cerita soal ini.

Waktu libur lebaran yang lalu, saya jalan-jalan bersama sahabat-sahabat saya (dr. Dika, Indri, Intan, Patrin) mengunjungi mall mini yang baru saja dibuka di sebelah alun-alun kota Kediri. Saat itu saya sempat membaca sekilas spanduk di tepi alun-alun bahwa di tempat itu telah ada sebuah hotspot persembahan dari Telkom Speedy. Waktu lewat alun-alun Tulungagung, saya juga melihat spanduk serupa. Wah, sayang sekali, saya tidak membawa notebook untuk mencobanya.

Waktu berlalu hingga liburan akhir tahun tiba.

Kali ini saya tidak lupa membawa notebook. Saya memang penasaran ingin mencoba, jadi saya bawa notebook dan saya taruh di kursi belakang. Berdua dengan int [thanks nduk, dah ditemeni], saya parkir ke tepi alun-alun Tulungagung dan segera mengaktifkan Wifi. Dua access point terdeteksi. Salah satunya memiliki SSID Hotspot_Speedy_TA. Wah, ini dia. Saya bisa tersambung dan uji coba pertama saya adalah mencoba menghubungi blog ini, google reader, google.com, dan yahoo.com.

Semenit, dua menit… tiga menit, tak ada satupun halaman yang membuka. Lima menit kemudian, si Firefox berhenti loading tanpa respon apapun. Bahkan respon Connection Timeout pun tidak. Wah, masak begini dibilang hotspot?? Hotspot dari Hongkong? ) Sejurus kemudian laptop saya tutup sembari bilang ke int sambil melirik wajah manisnya, “Halah, hotspot kok koyo entut.”

Dari hasil bertanya-tanya, Pak Agus Joko, guru Bahasa Inggris SMA saya, berkata kalau dulu pada waktu awal-awal hotspot ini masih cepat dan gegas. Tapi karena kemudian oleh masyarakat sekitar bandwidth-nya dicuri dengan cara memasang anttenna menembak langsung access point dari rumah, bandwidth hotspot langsung dipangkas habis.

Sebenarnya, alun-alun Tulungagung lumayan cocok diberi hotspot. Sangat menyenangkan duduk di sana sore-sore sambil bersantai. Udara yang hangat dan sejuk, lalu lintas yang relatif sepi. Sayang sekali memang, laptop belumlah menjadi barang yang umum seperti halnya di Jakarta. Jadi, andai tidak ada para pencuri bandwidth itu, hotspot di alun-alun Tulungagung tidak akan terlalu berguna. Lalu bagaimana cara mengatasi pencurian dengan antenna seperti ini? Agak sulit saya kira, karena jarak alun-alun dengan perumahan penduduk relatif dekat. Siapapun bisa memasang antenna RF dengan mudah di sana. Jadi, mungkin memang belum saatnya hotspot gratis ada di Tulungagung.

Switch to our mobile site