Entries from January 2008

Truk Tronton

Date January 22, 2008


FLICKR
Lokasi: Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya
Canon Powershot A400 | 1/125 s | F/3.8

Foto lama, saya ambil bulan September 2006, menjelang masa-masa akhir kuliah saya di Surabaya. Waktu itu saya menjemput kakak yang datang dari Maumere, NTT. Hari yang menggembirakan bagi keluarga kami karena akhirnya kakak saya dipindah ke Jawa, tepatnya ke Solo, dan beberapa bulan berikutnya melangsungkan pernikahannya.

Mobil Jatuh dari Parkiran Menara Jamsostek

Date January 22, 2008

Kekokohan tempat parkir bertingkat di gedung-gedung Jakarta memang patut diragukan. Baru saja terjadi mobil Honda Jazz Accord berwarna hitam silver terjun bebas dari lantai 7 parkiran Menara Jamsostek. Konon kabarnya, sopir Honda Jazz itu tewas seketika (ada semburat warna merah kecokelatan di sekitar mobil di foto di bawah).

Foto saya ambil dari Wisma Mulia lantai 48. Sayang sekali kamera DSLR saya tidak saya bawa, jadi hanya bisa beraksi dengan Powershot A400.

Link di detik: Link1, Link2

Update dari kang Bedjo:
Ceritanya si Honda Accord silver lagi mundur di parkiran lantai 7. Sopirnya cowok. Mungkin karena capek atau bagaimana, mobil tersentak mundur terlalu kencang. Karena kebetulan tempat itu tidak ada ganjalan ban, mobil langsung menghajar pagar besi yang rapuh dan langsung nyelonong jatuh.

Di bawah, ada mobil Jazz warna hitam meluncur pelan. Pengendaranya cewek. Si Accord terbanting di tanah dengan ekor belakang jatuh lebih dulu dan bagian depan menimpa si Jazz hitam di sebelah kiri. Untung tidak sebelah kanan. Si pengendara cewek selamat. Sopir Accord meninggal dunia di tempat. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun…


Instalasi Windows XP di HP Compaq Presario V3660

Date January 18, 2008

Saya mendapatkan HP Compaq Presario 3660 warna hitam berlampu biru ini dari sebuah toko di Mal Ambassador. Meskipun didesain untuk Windows Vista, notebook ini datang tanpa sistem operasi pre-installed. Hanya sebuah FreeDOS sekedar untuk menunjukkan bahwa notebook ini berjalan dengan baik. Saya punya firasat bahwa melakukan instalasi XP di sini akan cukup berdarah-darah. Kenapa? Karena hardisk yang digunakan si Compaq ini adalah SATA, sedangkan installer XP secara default tidak menyertakan driver SATA. Nah lo…

Saya harus mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya untuk Mbak Gita lewat postingannya tentang cara-cara instalasi Windows XP di notebook ini. Praktis, saya tidak perlu berdarah-darah, cukup mengikuti step-by-step yang dengan gamblang dijelaskan oleh Mbak Gita. :)

Nah, masalah yang tak kalah peliknya adalah instalasi driver-driver hardware. Terutama audio yang sulit dibunyikan. CD bawaan yang diberikan toko penjual notebook juga tidak sesuai dengan perangkat kartu suara Conexant dengan speaker Altec Lansing ini. Mbak Gita juga tidak terlalu banyak membantu sampai step ini karena installer driver yang saya download dari situsnya tidak bisa dijalankan di notebook ini. Wah, gimana dong?

Thanks to Bang Juis. Ia menyarankan untuk mendapatkan driver dari situs Windows Update? Hah? Sedia driver juga to si Microsoft? Saya coba konek ke internet dan menghubungi Windows Update. Wah, ternyata benar. Driver-driver yang dari CD tidak bisa jalan (audio, modem, dan ethernet card) ada semua di sini. Jadi tinggal download dan install. Sedangkan untuk driver VGA, card reader, WLAN, bluetooth bisa terinstall dengan sukses. Tentu saja, syarat agar bisa mendownload dari Windows Update, Windows-nya harus legal, bukan bajakan, sehingga lolos dari pemeriksaan software piracy oleh Microsoft.

Kenapa saya tak pakai Linux yang segala-galanya lengkap termasuk driver-driver hardware? Well, sekarang ini, banyak pekerjaan saya yang saya rasa belum bisa tergantikan sepenuhnya di Linux. Saya kira, satu-satunya software yang telah tergantikan hanyalah Open Office saja. Selebihnya, belum. Saya tak mau berdebat jargon di sini. Realistis saja lah, kalau belum bisa tergantikan, kenapa harus memaksakan diri? Konsekuensinya, Anda harus pakai software propietary yang mahal. Apakah harus membajak? Oh, tentu tidak. Apakah harus beli? Belum tentu. Banyak cara mendapatkan software legal tanpa membajak, meng-crack, mencuri, atau apapun istilahnya. Ayolah, be creative! ;))

After Shutter Click

Date January 16, 2008


FLICKR
Lokasi: Kompleks Museum Fatahillah, Jakarta
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR | 1/250 s | F/7.1

Foto ini sudah nyaris terselip di antara ribuan foto-foto yang pernah saya jepret dengan D40 saya. Maklum, secara teknis, banyak kelemahannya. Tapi tiba-tiba tadi malam saya ingat fotografer nikon ini yang saya colong gambarnya Juni 2007 lalu. Berkesan, karena saya agak jarang melihat fotografer cewek. Kalaupun ada pasti jauh lebih sedikit. :)

PS: Nduk, sido tuku S3 IS gak? ;)

Lebih Gede MegaPixel, Lebih Bagus Kualitas?

Date January 15, 2008

2 MP
6 MP
8 MP
10 MP….

Seringkah kita mendengar istilah mega pixel? Kalau kita akan membeli kamera saku, kita selalu dihadapkan pada pertanyaan, “Berapa mega pixel?” Di iklan-iklan, produsen HP tercanggih terbaru dengan bangga memperkenalkan fitur kamera dengan jumlah mega piksel yang semakin besar. Melalui berbagai kampanye brand kamera dan HP, konsumen seolah-olah diarahkan kepada opini bahwa semakin besar jumlah mega pixel, semakin bagus kamera itu. Saya yang punya kamera saku 3,2 MP selalu dipandang sebelah mata oleh mereka yang memiliki kamera saku 10 MP.

Apakah benar? Semakin besar MegaPixel, maka semakin bagus kualitasnya?

Perlu diketahui dulu, besaran mega pixel berhubungan dengan sensor kamera. Sensor kamera digital bertindak seperti rol film seluloid pada kamera analog: perekam cahaya. Sensor menangkap cahaya dari lensa dan menerjemahkannya dalam titik-titik pixel digital. Kapasitas jumlah pixel dari sensor inilah yang akhirnya terkenal.

Tentu saja, semakin besar jumlah mega pixel, resolusi/intensitas yang bisa dihasilkan akan semakin besar. Semakin besar pula kesempatan untuk mencetak dalam ukuran besar. Tetapi apakah semakin besar mega pixel, kualitas yang dihasilkan akan semakin baik?

Untuk kamera saku dan kamera ponsel: TIDAK.

Syarat kamera saku dan kamera ponsel adalah harus kompak dan kecil. Ini memaksa ukuran sensor menjadi ikut kecil. Dengan semakin bertambahnya jumlah pixel dalam satu sensor, hal ini memaksa ukuran tiap satu piksel akan semakin kecil. Hal ini akan meningkatkan jumlah pixel error atau yang lazim disebut noise karena jumlah cahaya yang dikumpulkan dalam satu pixel semakin sedikit. Cahaya berwarna merah kekuning-biru-an bisa jadi hanya akan diterjemahkan sebagai merah kekuning-kuningan. Dan inilah penyebab noise, warna kusam, dan tidak cerah.

Masalah ini bisa diatasi dengan penggunaan lensa yang berkualitas baik, memiliki resolusi tinggi, dan memiliki tingkat chromatic abberation yang lebih rendah. Namun celakanya, lensa seperti ini selalu berukuran besar dan berat, menyalahi syarat utama sebuah kamera saku dan kamera ponsel!

Jadi, who needs megapixels?? Apakah Anda ingin mengorbankan kualitas gambar dengan memiliki kamera ber-mega-pixel tinggi? Apakah Anda ingin mencetak gambar ukuran baliho satu lapangan sepakbola dengan kamera saku? Halo? Kamera saku saya hanya 3,2 MP dan memiliki kualitas yang sangat baik. Saat ini, batas psikologis kamera saku adalah di 6 MP. Selebihnya, kualitas gambar akan menurun. Bahkan kamera DSLR saya “hanya” memiliki kekuatan 6.1 MP dan saya cukup percaya diri untuk mencetaknya dalam standing banner ukuran 1,5 meter dengan hasil yang sangat memuaskan.

Disarikan dari: http://6mpixel.org/