Entries from January 2008
January 31, 2008
Salah satu hal yang paling aku benci adalah diam membiarkan waktu berlalu tanpa melakukan sesuatu yang berguna, atau paling tidak melakukan apapun selain terbengong-bengong ngelamun tentang cintah [cintah.. makan tuh cintah!]. Celakanya, cukup banyak juga keadaan yang memaksa kita untuk diam terbengong-bengong tanpa melakukan sesuatu. Apa aja? Menunggu kereta datang di stasiun, duduk diam di perjalanan, menunggu sesuatu…
Aku sering berandai-andai…. andai tempat fasilitas umum di Indonesia memungkinkan kita untuk bekerja, alangkah senangnya hati ini. Andai aku bisa membuka laptop dan mengerjakan sebaris dua baris saat menunggu kereta tiba di stasiun Gambir. Andai aku bisa membuka laptop dan browsing-browsing (blogwalking? :D ) waktu di perjalananan di dalam kereta yang biasanya memakan waktu semalaman itu.
Tapi kurasa, itu hanya akan jadi angan-angan yang tak bakalan terwujud. Di perjalanan, kita wajib melakukan safe mode: jangan menarik perhatian kriminalis berbahaya! Simpan laptop di tas yang paling butut, simpan ponsel kita di saku yang paling dalam. Kunci rapat-rapat saku belakang yang berisi dompet berhias kartu debet dan kartu kredit itu. Safe mode itu wajib dilakukan meskipun di stasiun paling eksekutif dan kereta yang paling eksekutif [ironis: kelas paling eksekutif yang dimiliki PT. KAI hanyalah rangkaian gerbong tua tak terawat dengan toilet macet berbau pesing :( dengan kecepatan tak lebih dari keong yang sedang merangkak].
Weekend kemarin, di perjalanan pulang kampung kesekian kalinya dengan kereta Gajayana, pagi-pagi tiba di stasiun Madiun aku sudah nyaris membuka laptop karena sebaris kursi A-B-C-D itu hanya tinggal aku yang tersisa. Tapi belum sempat aku mengambil tas, seorang wanita muda yang duduk beberapa baris dibelakangku menjerit histeris karena kehilangan tas berisi dompet dan handycam-nya. Nyarissss…. untunglah tas lowepro kecil yang berisi Nikon D40 dkk. ikut aku masukkan ke tas. Tidak seperti biasanya yang aku taruh di bawah dan kujaga dengan setengah menginjaknya. Perbuatan bodoh, karena lowepro itu pasti akan menarik perhatian.
Mungkin, fasilitas umum yang bisa digunakan untuk berlaptop ria adalah ruang tunggu di bandara (apalagi executive lounge-nya :D ). Masih di weekend kemarin, sambil menunggu penerbangan malam singkat ke Jakarta, aku melihat banyak orang membuka laptop dan bekerja dengan asyik di terminal keberangkatan Bandara Juanda yang masih baru gress itu. Waktu itu aku nggak sempat ikut-ikutan menghidupkan laptop karena disibukkan oleh sebungkus tahu tek asli Surabaya kesukaanku ;)) [Akhirnya! Makan tahu tek!!!] Di dalam tas, masih ada sebungkus besar nasi bebek asli Surabaya yang rencananya kumakan sesampainya di kamar kos nanti, heheh… :D
Apa yang biasa teman-teman lakukan untuk membunuh waktu? Tidur? Baca buku? Bengong? Ngobrol sama orang di samping? ;)
Posted in Catatan Harian
14 Comments »
January 28, 2008
Versi paparan dari puisi yang ini :D
Saya masih duduk di kelas 1 SMP ketika membaca novel Agatha Christie yang berjudul Three Act Tragedy (Tragedi Tiga Babak — Hercule Poirot series). Salah satu tokoh dalam novel tersebut, Hermione Lytton Gore (Egg), dideskripsikan sebagai wanita yang menarik, energik, penuh vitalitas, tetapi tidak cantik. Aura vitalitasnya yang membuat ia tampil begitu menarik. Ia membawa roh romantisme pada novel tersebut dengan hero worship (tergila-gila pada tokoh idola)-nya kepada sang tokoh utama, Sir Charles Cartwright yang tampan.
Waktu itu saya tidak mengerti, bagaimana bisa kecantikan dikonfrontasikan dengan ke-menarik-an. Di benak saya wanita cantik pasti menarik, dan wanita yang tidak cantik pasti tidak menarik. Tetapi kemarin, saya baru mengerti maksud Agatha Christie itu. Ternyata, wanita yang berwajah tidak terlalu cantik bisa sebegitu menariknya di mata saya, sampai saya spontan tergesa-gesa menuliskan draft puisi untuknya di ponsel saya.
Ia memakai jilbab — atau lebih tepatnya kerudung — berwarna merah jambu (bukan pink) berpotongan sederhana yang tidak perlu skill lipat-melipat kerudung. Karek nylobokne (Jawa: Tinggal memasukkan [kepala]), int pernah berkata begitu pada saya. Memakai baju santai untuk jalan-jalan berwarna pink yang serasi dengan kerudungnya. Tingginya mungkin sebatas telinga saya. Kalau Anda pernah melihat busana presenter acara Perjalanan Tiga Wanita di Trans TV, semacam itulah model pakaiannya.
Saya lihat lagi wajahnya dalam-dalam dari sudut mata saya. Wajah itu berkulit putih lembut. Berbentuk bulat karena ia berpostur agak gemuk. Weweg, mungkin kalau menurut istilah sastra Jawa. Tidak cantik. Tidak, saya tidak dapat mengatakan ia cantik. Biasa saja. Bukan cantik seperti ular yang dikampanyekan produk pemutih di televisi dan radio yang cenderung kurus kering.
Entah beruntung entah apa, saya sempat menangkap senyumannya. Saya selalu suka menikmati senyuman semacam itu. Manis sekali. Itulah yang menjadikan ia menarik. Ia memiliki salah satu senyuman terindah yang saya tahu hanya dimiliki beberapa orang saja. Senyuman yang bisa membangkitkan imajinasi saya untuk menulis draft puisi pada ponsel saya dan menyelesaikan seluruh bagiannya pagi tadi, dan jadilah puisi pendek itu.
Dan inilah saya…
Hanya duduk di sisi gelap dan menikmati indah senyumannya diam-diam. Saya yakin ia sendiri tahu bahwa saya memperhatikan dia. Tiwi pernah berkata kalau ia bisa melihat orang tanpa menoleh dalam sudut 90 derajat. Focal length lensa mata cewek memang lebih lebar daripada mata cowok. Kalau cowok yang lebih berani, mungkin sudah mendatanginya, berkenalan, ngobrol basa-basi ngalor-ngidul, tukar menukar nomor HP. Tapi saya, seperti di ujung akhir puisi, saya hanya mengikuti bayangannya yang menghilang pelan-pelan di sela-sela kesibukan bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.
PS: Maaf, tidak ada foto. Saya ingin mengajak anda bermain-main dengan imajinasi dan membayangkan seperti apa wanita yang begitu istimewa-nya sampai saya membuatkan dua postingan khusus untuknya :D
Posted in Catatan Harian, Intermezzzo
5 Comments »
January 28, 2008
Bandara Soekarno-Hatta, 27 Januari 2008, Terminal A: Domestic Arrival…
Berkerudung merah jambu
Berwajah putih seperti kulit bayi
Warna pink bajunya serasi membungkus badannya yang sedikit gemuk
Wajah itu bulat…
……tapi tidak cantik
Sekali-sekali ia menyunggingkan senyum manis pada rekan seperjalanannya
Senyuman itu mungkin setara dengan milik Sembadra
Senyum yang pernah mempesona Raden Arjuna
Tak terbayangkan andai jika senyum itu dilayangkan padaku
Kuikuti langkah pelan menjauhnya dengan ujung mataku
Perlahan bayangannya kulihat menghilang malam itu
Hilang ditelan kegelapan senja yang temaram
Kawanku,
Mungkin wujud bidadari di surga seperti itu
Dan hari ini, padaku telah diperlihatkan salah satu bidadari itu….
Posted in Catatan Harian
5 Comments »
January 25, 2008

FLICKR
Lokasi: Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya
Kamera: Canon Powershot A400
Jangan pernah remehkan kualitas kamera saku saya ini. Meskipun sekarang harganya terus jatuh tinggal 1,1 juta, tapi lihat warna birunya yang benar-benar keluar. Padahal waktu itu bukanlah saat golden hour, tetapi matahari masih sedikit condong ke barat. Sekitar jam 2 siang… :)
Posted in Landscape
11 Comments »
January 23, 2008
Setelah sekian lama berada di alam fotografi, ada rasa rindu juga untuk menulis di dunia programming. :D
Ada yang kenal Crystal Report? Itu lho, reporting tool yang saya kenal dia berjaya di saat Visual Basic 6 di puncak popularitasnya. Pernah memakainya? Biasanya kita memakai reporting tool untuk memproduksi sebuah laporan yang outputnya secara fleksibel dalam berbagai format seperti PDF, dokumen MS-Word, dokumen MS-Excel, dsb.
Java memiliki banyak reporting tool, baik yang berlisensi free maupun yang propietary. Saya akan membahasnya beberapa — tentu saja, menurut subjektivitas dan sedikit pengalaman saya.
Oracle Report
Produk dari Oracle ini propietary. Anda harus membayar lisensi jika ingin menggunakannya dalam lingkungan produksi. Keunggulan utama Oracle Report adalah manajemen data source-nya. Karena produk Oracle, maka Oracle Report adalah report standar semua hal yang berbasis Oracle. Hal yang menjengkelkan dari Oracle Report adalah lembar kerja desain layout-nya. Tidak fleksibel. Sulit memindahkan sebuah field di section tertentu ke section yang lain. Salah-salah yang keluar adalah error dan celakanya, kita tidak bisa melakukan undo banyak-banyak. Karena tidak bisa kembali, seringkali solusi satu-satunya adalah memulai dari awal (hapus semua, dan buat lagi) :D
Homepage: Oracle Report.
Actuate e.Report Designer
Produk dari Actuate corp. ini bersifat propietary. Saya mengenalnya karena IBM Maximo (dulu milik MRO) memakai ini sebagai report standar-nya. Sangat fleksibel. Lembar kerja actuate memakai slot-slot yang bisa diibaratkan rak-rak kosong yang bisa diisi macam-macam, mulai dari koneksi, SQL Query terpisah, bahkan SubReport yang berisi slot-slot kosong lagi. Setiap Report Section memiliki blok-blok Before Section, After Section, Page Header, Column Header, Detail, dll yang masing-masing menandakan dimana report akan ditampilkan, apakah sebagai header setiap halaman, apakah sebagai footer, tergantung penempatannya. Actuate adalah report tool yang menurut saya paling nyaman dan paling enak dipakai.
Homepage: Actuate e.Report Designer
Jasper Report
Jasper mungkin adalah reporting tool open source yang paling populer. Memiliki IDE designer terpisah yang dinamakan iReport, Jasper merupakan tool yang fleksibel, utamanya dalam hal data source. Banyak sumber data yang didukung Jasper selain database relasional via SQL, salah satunya bisa bersumber dari prosedur-prosedur Java. Jadi, Jasper bisa menerima sebuah java.util.List untuk dijadikan data source-nya. Hal ini dimungkinkan, karena Jasper bersifat embedded dan dikompilasi menjadi kode binari Java juga.
iReport Designer juga sangat mudah. iReport memperkenalkan istilah yang disebut band sebagai container dari field-field report. Ada band title, pageHeader, columnHeader, detail, columnFooter, lastPageFooter, dan summary. Meskipun fleksibel, sayangnya masih banyak hal yang tidak bisa dilakukan oleh Jasper. Misalnya dukungan terhadap format HTML. Meskipun mendukung format HTML lewat StyledText-nya, tetapi tag HTML yang didukung sangat-sangat sedikit dan jika Jasper menemukan tag yang tidak ia kenal, ia langsung mereset diri menjadi unformated text sehingga semua tag HTML akan ditampilkan seluruhnya, bukan dalam kondisi terformat. Selain itu, dalam beberapa kasus, Jasper tidak bisa mengatur data memanjang ke kanan. Ia hanya bisa scrolling down ke bawah, tapi tidak ke kanan. Kita kadang perlu membuat susunan yang memanjang ke kanan dan sayangnya hal itu tidak didukung oleh Jasper.
Dan seperti produk-produk open source lainnya, Jasper miskin dokumentasi. Sebagian besar pengetahuan saya tentang Jasper berasal dari source code-nya, bukan dokumentasi. Dokumentasi yang buruk yang tidak tersedia bebas cukup menyulitkan developer. Hanya developer yang geek yang mau membongkar kode sumber. Dan untungnya, hampir semua developer relatif geek dengan tingkat geek yang berbeda-beda. :)
Homepage: Jasper Report dan iReport
Eclipse Bussiness Intelligence Reporting Tool (Eclipse BIRT)
Di bawah proyek Eclipse Foundation, BIRT yang disponsori langsung oleh Actuate corp. (pemilik Actuate e.Designer) muncul dengan pendekatan yang berbeda dan menjanjikan. Ada kemiripan dengan Actuate meskipun tidak persis sama. BIRT menggunakan IDE berbasis Eclipse dan memiliki pendekatan pendesainan seperti ketika kita mendesain halaman HTML dengan Macromedia Adobe Dreamweaver. Jadi kita diberi lembar kerja kosong, tanpa slot (istilah Actuate) atau band (istilah Jasper). Kita bebas menaruh sebuah field di mana saja.
Cukup menjanjikan. Sangat menjanjikan bahkan. Kekurangan Jasper yang tidak bisa merender HTML dan tidak bisa memanjang ke kanan diatasi oleh BIRT. Apalagi produk ini bersifat open source. Namun sayangnya, ketika saya mencoba membuat report dengan SQL yang sederhana, — tidak terlalu banyak nested SQL, hanya menampilkan 75 kolom yang dijoin dari 2 tabel –BIRT cukup terengah-engah dengan responnya yang begitu lambat. Harus melakukan beberapa kali tuning viewer (bongkar source code) baru BIRT bereaksi dengan cepat. Kalau query sederhana saja begitu lambat, apalagi query yang rumit?
Tetapi mungkin saya yang masih perlu banyak belajar tentang BIRT. Tool ini sangat menjanjikan dan bisa jadi menaklukkan popularitas Jasper Report di dunia open source reporting tool.
Homepage: Eclipse BIRT.
Posted in Java, Review
6 Comments »