Cara Ibu Merayakan Idul Adha
Minggu kemarin, di line telepon flexi itu…
“Ibuk, bolehkah saya ikut berkurban di Idul Adha tahun ini? Saya ingin kurban seekor kambing.”
Hening sejurus dua jurus di seberang sana. Sepertinya ibu berpikir dan menimbang-nimbang.
Akhirnya Ibu berkata, “Ndut, Ibuk tidak melarang kamu berkorban, bahkan Ibuk sangat senang. Tetapi kalau kita lihat lingkungan kita, bahwa pada kenyataannya daging yang dikurbankan itu dibagi-bagikan untuk tetangga-tetangga termasuk kita — bukan fakir miskin, dan melihat suasana politik yang baru saja reda di desa kita, Ibuk rasa kurban yang kamu lakukan kurang tepat guna dan tepat sasaran. Belum lagi nanti jika kita malah jadi sorotan dan gunjingan warga. Maksud hati berniat baik malah membawa dampak yang kurang baik bagi lingkungan…”
“Jadi, apa saran Ibuk?” saya bertanya.
“Bagaimana kalau uang yang akan dipakai untuk kurban itu kita serahkan pada Mbokdhe … (ibu menyebut sebuah nama yang sangat sering membantu keluarga kami). Rasanya lebih bermanfaat. Soal bagaimana pengaturannya, nanti ibuk atur.”
*
Keluarga kami hanyalah keluarga yang sedikit mengerti tentang agama kami, Islam. Tapi kata-kata ibu yang bijak itu bagi saya melebihi ceramah ustadz manapun. Dan saya akhirnya setuju dengan pendapat ibu saya itu.
Catatan:
Ibuk (baca: ibu’) adalah panggilan khusus saya ke ibu saya. Kebiasaan waktu kecil yang tetap dibawa hingga anaknya segede gaban ini . Ndut adalah kependekan dari Gendut, panggilan saya di rumah. Secara anak bungsu pasti punya panggilan manja (halah!)
SQL Tuning: Klausa EXISTS versus IN
Masih mengenai masalah performance tuning pada Oracle SQL Query. Dalam kasus correlated subquery, kita biasa menggunakan IN dan NOT IN. Misalnya
SELECT * FROM tabel1 a
WHERE a.kolom1 NOT IN
( SELECT b.kolom1 FROM tabel2 b)
Dalam kasus yang sama, kita juga bisa menggunakan klausa EXISTS dan NOT EXISTS. Misalnya
SELECT * FROM tabel1 a
WHERE a.kolom1 NOT EXISTS
( SELECT b.kolom1 FROM tabel2 b)
Apa beda dua statement SQL ini? Klausa IN dan NOT IN memeriksa apakah sebuah nilai terdapat dalam list (bisa array, bisa correlated subquery seperti contoh di atas) sedangkan klausa EXISTS dan NOT EXISTS hanya memeriksa keberadaan ada atau tidaknya row pada suatu list. Secara performance, tentu jauh lebih cepat EXISTS daripada IN dalam hal correlated subquery.
Kapan kita menggunakan IN? Sebisa mungkin, gunakan EXISTS, IN digunakan dalam hal seperti misalnya contoh di bawah ini:
SELECT * FROM tabel1 a
WHERE a.kolom1 IN (’1′, ’2′, ’3′)
Membuat Foto Liburan
Liburan bersama keluarga atau sahabat tentu sangat menyenangkan dan mungkin akan menjadi one of unforgettable momment di dalam hidup Anda. Nah, saya yakin, Anda akan membawa kamera dalam perjalanan liburan Anda. Entah kamera saku, entah kamera SLR. Saya 68% ainul yakin bahwa Anda membawa kamera saku dalam liburan Anda. Nah, bagaimana cara membuat foto yang lebih menawan dalam foto Anda? Saya menemukan edisi majalah Info Komputer bulan ini memuat booklet yang menarik tentang foto liburan. Saya sarikan dalam bahasa saya untuk Anda
Fotomodel Wannabe
FLICKR
Lokasi: Studio Alam TVRI, Depok
Model: Natalie (thanks to Hunting Bareng TheLight)
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | 1/25s | F/6.3
Bagi saya, genre yang paling sulit dalam fotografi adalah fotografi model. Motret model. Hal yang paling sulit tentu saja adalah menemukan feel, aura, dan karakter dari si model. Halah! Bicara apa saya ini. Motret aja masih asal jepret sudah berani-berani jumawa soal karakter dan aura.
Tapi begitulah kesimpulan yang saya dapat sepulang dari hunting bareng milis TheLight di Depok sebulan yang lalu. Saya tidak berbakat motret model. Ada sekitar 300-an foto, tapi tak satupun yang bisa memuaskan. Pikiran optimistis saya menghibur bahwa latihan terus menerus akan mengasah feel dalam memotret model.
Berhenti Upload di FN
Tidak dapat dipungkiri, pengajar fotografi saya adalah komunitas Fotografer.net. Karakter foto-foto saya (kalaupun punya karakter ) sangat dipengaruhi oleh FN. Saturasi, ketajaman, dan olah digital. Namun, sejak beberapa waktu yang lalu, saya berhenti upload di FN, bahkan mengunjungi situsnya pun sudah sangat jarang.
Ada beberapa hal yang membuat saya tidak upload lagi ke FN. Salah satu hal yang paling tidak nyaman adalah nilai dan komentar. Nilai FN dibagi menjadi 6: 3 Thumbs Up untuk foto yang paling sempurna, 3 Thumbs Down untuk foto yang paling parah. Setiap anggota FN diwajibkan memberikan nilai dan komentar. Sekarang, dari 6 kategorisasi nilai itu, 3 TD hanya untuk para penjiplak, plagiat, dan pembajak. Orang pun sudah jarang yang memberikan nilai 2TU dan 1TU, mayoritas 3TU meskipun sebuah foto tidak layak mendapatkan nilai sempurna. Jadi, jika disimplifikasi, nilai sekarang hanyalah 3TU dan miskin penilaian. Saya pribadi — dengan adanya penilaian ini — wajar jika ingin foto saya memiliki nilai yang bagus. Saya jadi dituntut untuk selalu upload foto-foto yang mencolok agar menarik perhatian di antara sekian ratus foto yang sama-sama tampil. Bukan foto-foto yang bagus, tapi asal mencolok! Saturasi warna dihajar sampai level tertinggi. Foto-foto sederhana tapi bermakna malah tidak laku di FN. Mayoritas foto FN kini dipenuhi dengan: foto sunrise, sunset, infra-red, dan tentu saja…. model cewek!
Saya menjadi tidak nyaman lagi upload sembarang foto, sehingga saya akhirnya memilih upload foto di blog saja. Saya bebas mengupload foto yang saya suka. Saya bebas bereksperimen warna dan komposisi. Saya bebas mengupload foto yang jelek sehingga dikritik teman-teman. Kritik yang membangun. Di FN, sebuah foto hanya tampak beberapa menit saja karena disusun dalam urutan waktu. Sebuah foto di halaman 3, artinya tidak akan ada orang yang melihat dan itu artinya tidak akan ada kritik dan masukan buat Anda.
Sebenarnya ada situs-situs baru yang berusaha memperbaiki FN yang terlalu malas untuk berubah. Ayofoto.com misalnya. Ayofoto tampaknya berusaha mengurangi keterlibatan olah digital dengan melarang penggunaan frame, berusaha memperbaiki sistem komentar dan nilai. Tapi karena komentar dan nilai bukan hal yang wajib, komentar dan kritik menjadi jauh lebih sepi. Jadi serba salah. Sehingga, saya menemukan tempat yang nyaman: blog sendiri dan flickr
Butuh Presisi
FLICKR
Lokasi: Padang Golf Gunung Putri, Bogor
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200 mm VR (@200mm) | 1/320 s | F/5.6
Sedikit Sport Jantung di Pagi Hari
Wisma Mulia, 07:10 AM
Rutinitas harian, masuk ke kantor lewat gerbang belakang. Disambut oleh senyuman ramah Mas Security [robot?] yang berjas lengkap dengan dasi dan memeriksa sekilas tasku dengan alat semacam tongkat pemukul bola kasti yang selalu berbunyi, tiit…. “Selamat Pagi, Pak? Apa kabar?” Huff… I’m still 23! Do I look that old?
Masuk lift bareng dengan Ibu Sthephanie Meadow yang beratnya tiga kali lipat beratku ) Jadi ragu apakah si lift bisa mengantar sampai tujuan Dan benarlah, masih setengah perjalanan, tiba-tiba indikator penunjuk lantai mati dan lift berhenti dengan sedikit hentakan. Agak panik, aku tempelkan lagi kartu akses lift, tapi tetap saja, lampu nomor 48 tidak mau menyala. Beberapa lama kemudian, lift bergerak turun dan lampu indikator lantai menunjukkan tanda G. Lega, aku berujar ke Ibu Meadow, “Come back to the ground…”
Si Ibu berceloteh sambil ketawa ketiwi yang kurang lebih artinya begini: Nanti kalau lift yang lain juga begini, kita kembali ke mobil dan pulang. )
Heheh, dulu, waktu di ITSnet, lift-nya jauh lebih sering ngadat. Berhenti di tengah-tengah, bergetar tidak karuan adalah hal biasa. Tapi lantainya hanya 6. Jadi kalau jatuh, paling banter patah tulang kaki. Lha kalau di sini, meskipun liftnya lebih canggih dan aman, tetap aja… 48 lantai je… ngeri…
Comments