Tour de South Java

Kemarin, Minggu 30 Desember 2007 adalah hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Sama seperti seminggu sebelumnya saat saya tur ke Malang berdua ditemani bidadari cantik itu [you know who — I can still admire her at least for 1,5 years left until she marry a lucky man at 2009]. Kali ini saya mengitari Jawa Timur bagian selatan mulai Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, Saradan, Nganjuk, Kediri, balik lagi ke Tulungagung.

Tujuan pertama adalah tempat ngunduh mantu Mas Ferdy (seri home dari rangkaian home-away) di Ponorogo. Awalnya saya agak ragu-ragu mengambil jalur Trenggalek-Ponorogo karena baru-baru ini ada berita tentang banjir di Trenggalek dan Ponorogo. Tapi berhubung dua hari tidak hujan, saya berasumsi jalur telah bisa dilewati. Benarlah, jalur telah bersih. Bekas-bekas berupa jalan berlubang-lubang ada di beberapa tempat. Ditemani alunan musik dari W200i [HP, MP3 Player, sekaligus modem], saya meluncur menyusuri jalanan berbukit Trenggalek-Ponorogo. Jalannya meskipun cukup sempit tapi mulus. Tapi saya tak berani menyusuri jalanan ini sendirian kalau malam hari. Suasananya singup — auranya mistik berhantu, seperti halnya jalanan di bukit.

Tujuan kedua adalah Madiun. Saya menjemput teman-teman yang akan hadir di acara pernikahan. Mereka menginap di hotel Merdeka, Madiun. Baru kali kemarin saya masuk jalanan kota Madiun. Selama ini hanya lewat saja. Seperti kota kecil di Jawa, Madiun memiliki jalanan yang mayoritas searah, lebar, dan sepi. Tenang… damai… Madiun termasuk kota yang bersih kalau saya boleh menilai. [Ullie’, nih, tak promosi’in kotamu 😛 ]. Sayangnya, di dalam kota tidak banyak yang bisa dikunjungi selain wisata kuliner.

Selepas di acara pernikahan, kami meluncur ke Telaga Ngebel, Ponorogo. Telaga yang cukup mantabs. Saya akan buatkan laporan tersendiri mengenai telaga ini. Saya dapat beberapa foto yang cantik di sana. Juga tak lupa memotret pasangan yang baru menikah beberapa bulan lalu: Joko Arisanto dan Wuwus Ardiatna. Daripada disebut foto post-wedding, saya lebih suka menyebutnya foto pre-wedding, karena sebelum Mbak Wuwus menikah dengan Mas Joko, saya belum sempat memotretnya.

Jam lima sore, saya berangkat bertolak dari Madiun untuk pulang. Saya tak mau lewat Ponorogo lagi meskipun secara teoritis jaraknya lebih pendek. Ditemani hujan rintik-rintik, pelan saya menginjak gas dan meluncur santai di jalanan Madiun-Nganjuk. Wiper sebelah kiri mati. Punggung juga mulai terasa pegal-pegal. Jadi tak bisa sengebut tadi pagi ketika melahap tikungan [kadang nge-drift dikit] ala hairpin, chicane, tusuk konde, dan apapun namanya di sirkuit jalanan perbukitan Ponorogo.

Terkutuklah mobil-mobil SUV itu. Lampunya terang membutakan mata. Karena gelap, saya salah belok waktu mencari belokan pintas ke Kediri. Saya sempat tertahan di belakang safety car truk tronton milik pabrik rokok Gudang Garam sampai menjelang masuk kota Kediri. Mau disalip terlalu berisiko, jalanan terlalu sempit, gelap, licin, dan berlubang-lubang. Rupanya oleh petugas “tukang cat” rambu penunjuk jalan yang hijau-putih itu, saya di-bypass lewat pinggir kota, tidak pernah dimasukkan ke dalam jantung kota Nganjuk.

Di Kediri lagi-lagi saya salah belok. Saya belum hapal Kediri bagian baratnya sungai Brantas. Jadi agak putar-putar di situ. Saya lupa kalau menyeberang sungai Brantas, saya bisa memotong jalan via Jalan Doho buat masuk ke jalur menuju Tulungagung. Saya kira, saya mesti harus memutar lewat Stadion Brawijaya, markas Persik Kediri, seperti jalur angkutan umum.

Sampai di rumah memerlukan waktu 3 jam 15 menit. Lebih lambat 1 jam 45 menit dari perkiraan waktu jika saya lewat bukit Ponorogo lagi. Jam delapan malam sudah kembali ke rumah. Hehehehe….

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

7 thoughts

  1. Heheh, thx buat promosi Madiun nya..mantabs kan ngebel nya? (hiks..jadi pengen pulkam..) jangan lupa diuplod fotonya ok!
    btw selama di madiun makan kemana aja nih? (kl ke madiun n gak makan pecelnya, rugi kmu lih! 😀 )

  2. alo..alo..alo….ki cah magetan nech1lg BT pengen pulkamp tp lg banyak gawean lom dapet cuti hixs..hixs…blh ikt nimbrung kan?????…

  3. JOGJA FANTASTIC TOUR
    Day 1
    08.30 ; Mengunjungi Taman sari ( Water-castle ) dan Keliling melihat kampung sekitar dalam Kraton dengan Andong wisata
    10.00 ; Mengunjungi Kraton Kasiltanan Ngayogyokarto
    11.30 ; Melihat proses pembuatan kerajinan perak di Kota Gede dan dilanjutkan dengan makan siang
    13.00 ; Singgah sejenak melihat proses pembuatan batik tulis khas Jogjakarta
    14.30 ; Mengunjungi ” Pabrik kaos kata kata lucu ” DAGADU
    15.30 ; Kembali ke hotel untuk istirahat
    19.30 , Mengikuti permainan malam hari dengan masuk tengah diantara 2 pohin beringin di Alun – alun selatan ” Masangin ”
    20.45 ; Kembali ke hotel

    Day 2
    08.30 ; Mengunjungi Candi Borobudur
    11.30 ; Makan Siang
    12.30 ; Menuju Candi Prambanan dan Legenda Candi sewu melewati lereng gunung Merapi dan perkebunan salak Pondoh
    15.00 ; kenbali ke hotel untuk istirahat
    18.30 ; Makan Malam dan menikmati sendra tari spektakuler ” Ramayana ” dengan cerita perjuangan cinta sejati si Rama merebut kembali si Shinta dari tangan jahat Rahwana
    22.45 ; singgah sejenak ke pusat oleh2 khas Jogja ” Bakpia ”

    Harga paket keselurahan Rp 1.361.500,- + Sendra Tari Ramayana Rp 240.000,-/2 orang = Rp 1.601.500,-
    Bila tidak pake Tour ke Candi Borobudur tinggal harga dikurangi Rp 20.000,-

    Harga tersebut termasuk:
    1. Tiket obyek wisata
    2. 2 x Lunch dan 1 x Dinner ( Romantic dinner )
    3. Guide Tour/Local Guide
    4. Car Avanza / Xenia ( Driver, Oil, Parking )
    5. Ijin foto
    6. Local Transportasi / Andong Wisata

    SAYA MASIH BANYAK TOUR UNTUK ANDA BILA BERKUNJUNG DI JOGJA, DISAMPING ITU SAYA JUGA DAPAT MEMBANTU KEMUDAHAN2 ANADA MENCARI HOTEL, TRANSPORTASI, DLL
    An : Dewa Budi Chisara
    Add: Taman Kt 1/309.Kraton.Jpgjakarta 55133
    Cp : 08170955983
    Email : dewabudichisara@yahoo.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *