Memotret Event Pesta Pernikahan

FLICKR
Lokasi:Aula Benih Palawija, Lawang, Malang
Pernikahan Ria dan Ferdy, 23 Desember 2007
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | 1/15s | F/5

Saya tidak pernah secapek hari Minggu kemarin selama saya memotret dan meliput event. Rasanya benar-benar all out, semua kemampuan dan pengetahuan fotografi saya kerahkan untuk meliput jalannya pesta pernikahan Mas Ferdy Ferdian di Lawang, Malang, 23 Desember 2007. Meskipun capek, banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan dalam meliput sebuah wedding event. Dan akhirnya, hasil yang memuaskanlah yang mengobati pegal-pegal badan. Mari saya share pengalaman dalam meliput wedding, khususnya dengan piranti fotografi Nikon D40, lensa midrange Nikkor AF-S 18-55mm, lensa tele Nikkor AF-S 55-200mm VR, dan sebuah speedlight Nissin Di622 for Nikon.

Kamera Nikon D40 dan format RAW
Nikon D40 hanya memiliki resolusi maksimum 6.1 Mega Pixel. Jika menurut panduan praktis, hasil D40 maksimum hanya bisa dicetak dalam ukuran kertas 8R saja. Bagi saya, ini kurang. Orang biasanya akan mencetak satu dua foto dalam ukuran 10R Plus atau lebih untuk dipajang di dinding rumahnya.

Saya atasi hal ini dengan menggunakan seluruh kemampuan D40. Format foto saya simpan dalam format RAW (file-nya memiliki ekstensi .NEF), bukan JPEG seperti biasanya. Artinya, tidak ada informasi yang dikompres. Ini menyebabkan setiap file akan memiliki ukuran 6 MB atau lebih dengan ukuran 3000 px kali 2200 px.

Apa keuntungan menggunakan RAW?

  1. Informasi piksel yang masih utuh sehingga kita bisa meresize hingga 10R Plus bahkan 12R tanpa masalah.
  2. Informasi metadata yang lengkap. Mulai dari white balance, exposure, fasilitas untuk split tone. Melakukan koreksi foto jauh lebih mudah dilakukan ketika format foto masih RAW. Saya sering melakukan koreksi white balance dan exposure. Proses editing ini bisa dilakukan dengan Adobe Photoshop CS 3 atau software bawaan Nikon: Nikon Capture NX.

Apa kerugian menggunakan RAW?

  1. Sangat tidak praktis. Kita harus melakukan proses pasca produksi atau editing gambar. Minimal kita harus mengkonversi format RAW ke dalam JPEG yang umum digunakan.
  2. Boros space. Bayangkan, setiap satu file berukuran 6 MB. Jika ada 200-an file, berapa space yang harus diperlukan. SD Card 1 GB jadi terasa kurang.

Lensa

Di event inilah saya jadi sangat menginginkan lensa all round dengan panjang fokal yang lebar. Misalnya Nikkor AF-S 18-200 mm VR, atau Nikkor AF-S 18-135 mm. Sangat menyebalkan ketika harus gonta-ganti lensa pada saat event berlangsung. Untungnya kemarin saya dipinjami kamera Nikon D40 juga. Jadi dua lensa saya bisa dipakai di dua kamera. Tidak perlu gonta-ganti lensa.

Speedlight versus Continous Lighting

Serba salah jika kita memakai speedlight di gedung yang berlangit-langit tinggi karena tidak bisa pakai bouncing light (itu sebabnya saya memilih Nissin yang murah daripada beli seri SB-600 dari Nikon). Direct flash jelas akan merusak gambar. Memakai difusser tidak terlalu banyak membantu karena kondisi ruangan yang terlalu low-light.

Untungnya, ada continous lighting berupa spot light dari juru video. Saya bisa ikut mencuri nebeng cahayanya πŸ˜€ . Saya lebih suka continous lighting ini karena warnanya hangat, dan cahaya jatuh di tubuh objek dengan lembut, tidak kasar seperti lampu flash.

Selalu Siap Siaga dan Jeli dalam Mengendus Momment Menarik

Jangan kendorkan kewaspadaan selama event berlangsung. Juru foto konvensional biasanya hanya mengambil gambar yang penting saja dengan komposisi yang (hampir) pasti dead-centre. Saya, selain juga ikut pakem tersebut,tertarik untuk menangkap momment-momment lucu dengan meng-candid setiap orang, khususnya mempelai berdua. Di sinilah lensa tele saya beraksi. Fokal hampir selalu menjulur di posisi terpanjangnya: 200mm. Ada saja kejadian yang lucu, seperti anak-anak kecil dengan tingkah polahnya, mempelai yang bercanda dan senggol-senggolan ketika tamu sedang senggang, dan semacamnya. Di sinilah obat capek itu. Ketika saya berhasil menangkap momment yang jarang terjadi, saya bisa tersenyum atau tertawa sendiri. πŸ™‚

Terus Bereksperimen, Cari Komposisi yang Unik

Manfaatkan segala sesuatu yang ada di gedung untuk membuat foto yang cantik. Miringkan komposisi ke kiri, ke kanan, ajak mempelai untuk tertawa lepas, buat sudut frog-view se-ekstrim mungkin, jika memungkinkan buat pula sudut bird-view, buat frame alami dari sela-sela rangkaian melati, dan masih banyak lagi yang bisa Anda lakukan. Keluarkan segala ide gila di sini. Tentu saja, dalam wedding, kita harus memotret komposisi dead-centre karena komposisi ini umum dalam dokumentasi wedding. Tapi alangkah mengasyikannya jika kita bisa melengkapi dengan komposisi-komposisi unik dan dinamis, dari sudut yang orang tidak pernah duga. πŸ™‚

Tentang Kertas Cetak

Perlu diketahui, kertas cetak yang digunakan di lab digital photo print seperti Fuji Digital Image Plaza memiliki rasio panjang-lebar yang berbeda dengan rasio milik kamera digital sehingga jika ingin mencetak, pasti ada bagian foto yang akan dipotong. Panduan praktis tentang konversi ukuran pixel ke kertas sekian R bisa Anda baca di sini. Saya belum tahu apakah saat ini telah ada layanan photo print yang menyediakan rasio panjang-lebar sama dengan sensor kamera digital. Jadi, hati-hati dengan rasio ini ketika menyiapkan foto-foto Anda untuk dicetak dalam kertas foto.

*

Terakhir, tak lupa saya ucapkan selamat menempuh hidup baru untuk Mas Ferdy dan Mbak Ria, semoga pernikahan ini akan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, dan warahmah untuk selama-lamanya. Amiin… πŸ™‚

Hah?? Apa?? Kapan saya menyusul???? Sebelum bisa menjawab ini, saya harus bisa menjawab dulu pertanyaan, “Dengan siapa??”

Salam hangat saya, untuk Anda πŸ™‚

Author: Galih Satriaji

Bookaholic, Workaholic. Chubby. That's me!

23 thoughts

  1. Memotret moment pesta pernikahan berbeda dengan moment2 lainnya. Kalo moment lainnya, tergantung selera kita untuk memberi tafsiran pada objek yang kita photo sehingga ketika orang lain melihat hasil karya kita .. orang bisa tahu pesan apa yang ingin kita sampaikan.

    Hal ini berbeda dengan memotret pernikahan. Kita kudu tahu latar belakang dan apa yang diinginkan oleh kedua mempelai beserta keluarganya. Makanya .. banyak yang saya perhatikan .. photo pernikahan itu ga bunyi. Mereka seperti manekin2 saja.

    Tapi bukan berarti tidak ada photographer yang bisa menterjemahankan seperti itu. Untuk photo diatas, menurut saya, not bad. Secara teknis photography sudah ok banget.

  2. Hah?? Apa?? Kapan saya menyusul???? Sebelum bisa menjawab ini, saya harus bisa menjawab dulu pertanyaan, Ò€œDengan siapa??Ò€

    Sedikit berbeda dengan reaksi spontanku waktu di pernikahannya temenku…

    “Emangnya manusia bisa hermaphrodit? Masak mau menikah dengan diri sendiri :D”

  3. klo di canon pake RAW waktu capture terasa lebih lama… apalagi klo noise reduction diaktifkan… wes… lodingnya gak ketulungan πŸ™‚ , bisa sampe 2-5 detik. so, klo ada momen bagus pasti liwat deh πŸ˜€

    nice shot… tajam.

  4. #jeepers:
    tengkyu πŸ™‚

    #tukang foto keliling:
    makanya pakai nikon πŸ˜›

    #arif:
    hahahaha…. pertanyaan bagus. tak lengkapi, moto dewe, gawe desain undangan + suvenir dewe, pre wedd dewe :))

    #deteksi:
    oke, ditunggu ya πŸ˜‰

  5. Mas, dengan ini saya menyatakan bahwa anda lulus kualifikasi untuk fotografer wedding tiui. tapi sebelum itu, dengan siapa?? [ambigu πŸ˜€ ]

  6. #tiwi:
    mmm… meskipun qualified, sayah menolak jadi fotografer wedding-mu (as same as i said this words to her). πŸ™‚

    #blackhell:
    ngg.. blom siap mas jadi fotografer wedding primer, biasanya saya jadi fotografer sekunder mendampingi fotografer aslinya.

  7. Mantaf mas.. tajam pisan shot-nya.. Btw dalam kondisi low lite dan modal kita adalah D70S, kit lens 18-70, tamron 70-300, nissin di-622 dan lambency; kira2 gimana setting-an yg tepat mas?

    Kondisi langit2 di resepsi adalah ukuran hall, tinggi lk 6-7 meter.. Dinding kiri kanan juga terlalu jauh utk bouncing…

    Kasi contekannya ya mas Galih hehehehe…. Thanks a lot lho..

  8. Mas Galih,,, komposisi & angelnya pas. Tone, detail & saturasi d PS jg bagus. Slamat …. (menempuh hidup baru) yach he he he…..

  9. Trims atas ilmunya, tentu saja ilmu itu diperoleh dai perjalanan panjang di dunia photography.

    Btw saya juga seorang jurnalis foto yang kerjaannya mengandalkan mata dan hati. see u next time

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *