Entries from December 2007

Tour de South Java

Date December 31, 2007

Kemarin, Minggu 30 Desember 2007 adalah hari yang menyenangkan sekaligus melelahkan. Sama seperti seminggu sebelumnya saat saya tur ke Malang berdua ditemani bidadari cantik itu [you know who -- I can still admire her at least for 1,5 years left until she marry a lucky man at 2009]. Kali ini saya mengitari Jawa Timur bagian selatan mulai Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun, Saradan, Nganjuk, Kediri, balik lagi ke Tulungagung.

Tujuan pertama adalah tempat ngunduh mantu Mas Ferdy (seri home dari rangkaian home-away) di Ponorogo. Awalnya saya agak ragu-ragu mengambil jalur Trenggalek-Ponorogo karena baru-baru ini ada berita tentang banjir di Trenggalek dan Ponorogo. Tapi berhubung dua hari tidak hujan, saya berasumsi jalur telah bisa dilewati. Benarlah, jalur telah bersih. Bekas-bekas berupa jalan berlubang-lubang ada di beberapa tempat. Ditemani alunan musik dari W200i [HP, MP3 Player, sekaligus modem], saya meluncur menyusuri jalanan berbukit Trenggalek-Ponorogo. Jalannya meskipun cukup sempit tapi mulus. Tapi saya tak berani menyusuri jalanan ini sendirian kalau malam hari. Suasananya singup — auranya mistik berhantu, seperti halnya jalanan di bukit.

Tujuan kedua adalah Madiun. Saya menjemput teman-teman yang akan hadir di acara pernikahan. Mereka menginap di hotel Merdeka, Madiun. Baru kali kemarin saya masuk jalanan kota Madiun. Selama ini hanya lewat saja. Seperti kota kecil di Jawa, Madiun memiliki jalanan yang mayoritas searah, lebar, dan sepi. Tenang… damai… Madiun termasuk kota yang bersih kalau saya boleh menilai. [Ullie', nih, tak promosi'in kotamu :P ]. Sayangnya, di dalam kota tidak banyak yang bisa dikunjungi selain wisata kuliner.

Selepas di acara pernikahan, kami meluncur ke Telaga Ngebel, Ponorogo. Telaga yang cukup mantabs. Saya akan buatkan laporan tersendiri mengenai telaga ini. Saya dapat beberapa foto yang cantik di sana. Juga tak lupa memotret pasangan yang baru menikah beberapa bulan lalu: Joko Arisanto dan Wuwus Ardiatna. Daripada disebut foto post-wedding, saya lebih suka menyebutnya foto pre-wedding, karena sebelum Mbak Wuwus menikah dengan Mas Joko, saya belum sempat memotretnya.

Jam lima sore, saya berangkat bertolak dari Madiun untuk pulang. Saya tak mau lewat Ponorogo lagi meskipun secara teoritis jaraknya lebih pendek. Ditemani hujan rintik-rintik, pelan saya menginjak gas dan meluncur santai di jalanan Madiun-Nganjuk. Wiper sebelah kiri mati. Punggung juga mulai terasa pegal-pegal. Jadi tak bisa sengebut tadi pagi ketika melahap tikungan [kadang nge-drift dikit] ala hairpin, chicane, tusuk konde, dan apapun namanya di sirkuit jalanan perbukitan Ponorogo.

Terkutuklah mobil-mobil SUV itu. Lampunya terang membutakan mata. Karena gelap, saya salah belok waktu mencari belokan pintas ke Kediri. Saya sempat tertahan di belakang safety car truk tronton milik pabrik rokok Gudang Garam sampai menjelang masuk kota Kediri. Mau disalip terlalu berisiko, jalanan terlalu sempit, gelap, licin, dan berlubang-lubang. Rupanya oleh petugas “tukang cat” rambu penunjuk jalan yang hijau-putih itu, saya di-bypass lewat pinggir kota, tidak pernah dimasukkan ke dalam jantung kota Nganjuk.

Di Kediri lagi-lagi saya salah belok. Saya belum hapal Kediri bagian baratnya sungai Brantas. Jadi agak putar-putar di situ. Saya lupa kalau menyeberang sungai Brantas, saya bisa memotong jalan via Jalan Doho buat masuk ke jalur menuju Tulungagung. Saya kira, saya mesti harus memutar lewat Stadion Brawijaya, markas Persik Kediri, seperti jalur angkutan umum.

Sampai di rumah memerlukan waktu 3 jam 15 menit. Lebih lambat 1 jam 45 menit dari perkiraan waktu jika saya lewat bukit Ponorogo lagi. Jam delapan malam sudah kembali ke rumah. Hehehehe….

Lagu Penutup Doraemon versi Indonesia

Date December 27, 2007

Me, akhirnya aku menemukan mata rantai yang hilang di lagu penutup Doraemon! :))

Saya adalah fans sejati Doraemon. Sejak RCTI muncul di desa saya sekitar tahun 1992 (waktu itu masih pakai antenna parabola), saya sudah rutin mengikuti seri Doraemon hingga sekarang. Sejak suara Nobita diisi oleh Ivonne Rose yang legendaris — (dia juga diakrabi mengisi suara Murti Sari Dewi pemeran Mantili [Tutur Tinular] dan Lasmini [Saur Sepuh]) — hingga sekarang. Saya belum tahu nama pengisi suara Nobita yang baru, tapi saya hafal suaranya pertama kali muncul saat mengisi suara Mitsuo dalam seri P-Man (juga ditayangkan di RCTI).

Lagu penutupnya membuat saya penasaran setengah mati ingin tahu liriknya. Penyanyinya, masih kecil, cadel, belum bisa menyuarakan ‘R’ dengan benar. Ndak teteh kata orang Jawa. Tiap minggu kerjaan saya nguping di dekat speaker televisi untuk mendengarkan apa yang sebenarnya diucapkan. Hehe, thanks to Mas Sokam! Akhirnya lirik dan videonya ada di YouTube! Ternyata kata-kata yang membuat saya penasaran adalah berikhtiar. Haha, pantesan si kecil tidak bisa mengucapkannya dengan jelas.

Berikut liriknya,

Lihat-lihatlah bunga yang sedang mekar
Tiba saat mengucapkan selamat pagi
Masa depan semua mari kita bangun
Lalalala lalalala bernyanyi bersama

Saya hidup di bumi ini masa depan dengan kapal angkasa
Mari kita banyak-banyak berikhtiar
Menjadikan satu-satu kita wujudkan
Kita hidup di bumi ini
Pagi ini esok dan seterusnya
Masa indah sangat banyak kota impian… [cut]

Versi ini memang terpotong, masih ada satu baris “Menjadikan satu-satu kita wujudkan” sebagai penutup di versi pendahulunya yang dinyanyikan oleh Adit Dipo. Tentang siapa penyanyi lucu versi ini, saya belum tahu. Hehehehe….

Percaya Diri secara* PT Kereta Api Indonesia

Date December 26, 2007

Kedatangan Kereta Api Eksekutif Gajayana jurusan Jakarta-Malang memang membaik, syukurlah. Kedatangan kereta di stasiun Tulungagung hari Sabtu kemarin adalah pukul 07.30, setengah jam lebih baik dari terakhir aku naik kereta ini. Begitu juga kedatangan kereta ini di stasiun Gambir, Jakarta pagi tadi. Pukul 08.40 pagi. Rekor tercepat selama aku naik kereta ini. Terakhir naik Gajayana, sampai Gambir pukul 10.00 pagi.

Apakah ini merupakan perbaikan kinerja PT. KAI? Semoga. Memang laju kereta Gajayana terasa lebih cepat daripada dulu-dulu. Pagi-pagi buta telah sampai Cirebon. Kalau saja tidak terhambat traffic kereta di lalu lintas kereta api ibukota, kukira pukul 07.00 sudah bisa sampai Gambir.

Tapi ya beginilah percaya diri secara* PT KAI dalam penulisan waktu kedatangan kereta. 06:37. Lihat, sangat presisi. Bukan 07:00, atau 06:30, tapi 06:37!!! Cukup surprise aku melihat waktu kedatangan yang juga diupdate dari sekitar pukul delapan pagi di Jakarta menjadi pukul… 06:37. Kok sebegitunya lho… lhawong bisa datang jam delapan pagi aja sudah rekor dunia perkeretaapian endonesah. Kalau saja tidak diupdate, mungkin waktu kedatangan bisa lebih akurat. Ini percaya diri atau kelewat sombong sih? =))

Tapi setelah dipikir-pikir, mungkin waktu yang didapat adalah waktu teoritis yang didapatkan dari jarak tempuh dibagi kecepatan asumsi rata-rata kereta api. Cuma memang kelihatannya asumsinya terlalu over confident, hehehe…

*bagi yang tidak terlalu paham klausa “secara”, di sini berarti ala. Jadi judul di atas bisa dibaca “Percaya Diri ala PT Kereta Api Indonesia”  :D

Memotret Event Pesta Pernikahan

Date December 25, 2007

FLICKR
Lokasi:Aula Benih Palawija, Lawang, Malang
Pernikahan Ria dan Ferdy, 23 Desember 2007
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | 1/15s | F/5

Saya tidak pernah secapek hari Minggu kemarin selama saya memotret dan meliput event. Rasanya benar-benar all out, semua kemampuan dan pengetahuan fotografi saya kerahkan untuk meliput jalannya pesta pernikahan Mas Ferdy Ferdian di Lawang, Malang, 23 Desember 2007. Meskipun capek, banyak pengalaman dan pelajaran yang saya dapatkan dalam meliput sebuah wedding event. Dan akhirnya, hasil yang memuaskanlah yang mengobati pegal-pegal badan. Mari saya share pengalaman dalam meliput wedding, khususnya dengan piranti fotografi Nikon D40, lensa midrange Nikkor AF-S 18-55mm, lensa tele Nikkor AF-S 55-200mm VR, dan sebuah speedlight Nissin Di622 for Nikon.

Read the rest of this entry »

Tentang Situs Layanan Galeri Foto

Date December 21, 2007

Bagi saya, situs layanan foto yang paling saya suka adalah Flickr. Flickr sangat cocok untuk photoblogging. Saya suka Flickr karena fitur-fitur sbb:

  • Flickr membolehkan foto-foto ditampilkan di situs lain seperti blog.
  • Mendukung RSS Feed.
  • Set dan tag yang dinamis.
  • User interface berbasis Ajax yang menarik dan intuitif.
  • Hal yang paling saya suka dari Flickr adalah Flickr Badge! Sebuah kumpulan potongan gambar kecil-kecil yang bisa diatur dengan bebas, bahkan dengan kode kita sendiri. Plugin WordPressnya juga banyak, seperti yang saya pakai di navigasi sebelah kanan.

Hanya satu kelemahan Flickr. Dia hanya bisa menampilkan 200 gambar. Lebih dari itu, hanya 200 foto terbaru yang ditampilkan. Kalau mau menampilkan keseluruhan, upgrade dulu ke versi pro yang berharga 250 ribuan per tahun. Jumlah set juga dibatasihanya tiga buah. Resolusi foto maksimum juga dibatasi. Tapi dua poin terahir itu tidak terlalu berpengaruh bagi saya.

Saat ini, jatah upload di Flickr sudah saya gunakan 180-an buah. Tinggal 20 kali upload lagi. Oleh karena itu, saya mencoba mencari alternatif selain Flickr.

Kawan saya, Arif Hidayat, adalah fans Google Picassa. Ya, saya sudah mencoba Picassa. Tapi Picassa lebih mirip Yahoo! Pictures (alm.). Picassa lebih cocok untuk album foto online, bukan untuk photoblogging. Picassa menyediakan set-set yang dinamakan album, dan bisa menampilkan slide show berbasis Flash dengan cantik. Lagipula, Picassa memiliki batas upload seperti mailbox, yaitu dibatasi total ukuran yang diupload. Contoh slide punya saya ada di sini: http://www.galihsatria.com/bopi-nikah/

Kawan saya, Fahmi si Mimimama Wawawa, salah satu master fotografi bloghosphere, merekomendasikan Multiply. Multiply adalah sarana lengkap untuk sebuah situs personal. Jurnal, blog, musik, foto, semuanya ada. Jejaring sosial ala Friendster juga terdapat di Multiply. Saya mencoba upload tiga foto ke sana, dan saya coba tampilkan di sini. Ah, yang muncul hanyalah ikon Multiply kalau Anda tidak login dulu ke Multiply. Jadi, coret dari daftar.

Kawan saya yang lain lagi, Henri, merekomendasikan DeviantART. Tidak hanya karya fotografi ternyata yang ada di sini, tetapi semua yang berhubungan dengan karya seni. Tadi pagi saya coba buat account di sana. User interface-nya agak susah karena DeviantART menggunakan istilah-istilah baru yang bau-bau Deviant (misalnya Deviant Submission untuk istilah upload karya seni). Cukup menjanjikan, karena foto DeviantART bisa disedot dari website lain — hal utama yang paling saya butuhkan. Tetapi DeviantART tidak mendukung RSS Feed, jadi tidak mungkin akan ada “DeviantART Badge” seperti Flickr.

Bagaimana dengan Zooomr? Situs yang menjiplak habis Flickr ini ternyata sama dengan Flickr. Ada account pro yang berbayar dengan harga separuh lebih murah daripada Flickr. Tidak ada “Zooomr Badge”. Coret dari daftar. :)

Jadi, kesimpulan sementara, ketika jatah upload saya di Flickr habis, mungkin saya akan upgrade account ke pro, atau pindah ke DeviantART.