Studi Pustaka tentang Zakat Maal dan Zakat Profesi

Posted by: on Nov 21, 2007 | 19 Comments

Sebagai muslim, salah satu kewajiban kita adalah membayar zakat. Zakat yang wajib dikeluarkan adalah zakat fitrah yang dikeluarkan pada saat bulan Ramadhan. Selain zakat fitrah, ada zakat harta atau zakat maal yang wajib kita keluarkan jika telah melampaui nishab, yaitu batas jumlah yang tidak wajib dizakatkan. Dalil naqli-nya jelas, salah satunya adalah Surat Al-Baqarah (2) ayat 43: Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku’lah beserta orang-orang yang ruku.

Zakat maal sendiri telah jelas. Guru SD saya, Pak Ngisom, selama enam tahun mengajari ini. Objek harta yang kena zakat adalah:

  1. Hewan ternak,
  2. Hasil Pertanian,
  3. Emas dan Perak,
  4. Harta Perniagaan,
  5. Hasil Tambang,
  6. Barang Temuan.

Masing-masing memiliki aturan berapa batas minimal harta yang kena zakat. Ada yang berdasarkan jumlah. Misalnya, emas batasannya adalah 85 gram. Besaran harta yang wajib dikeluarkan zakatnya adalah 2,5% dari harta tersebut.

Nah, bagaimana dengan zakat profesi? Pertanyaan ini mengusik saya dan membuat saya memanfaatkan satu-satunya alat yang ada pada saya, Mbah Google. Maklum, secara haul (genap setahun), saya telah bekerja dan saya rasa telah wajib mengeluarkan zakat. Tetapi pelajaran SD saya dulu tidak menyebutkan adanya zakat profesi. Karena itulah saya mencoba melakukan studi pustaka lewat perpustakaan Google ini.

Ternyata, terjadi perbedaan pendapat dalam hal ini. Pendapat pertama mengatakan bahwa zakat profesi itu termasuk zakat maal dan pendapat kedua mengatakan bahwa zakat profesi itu tidak ada. Pendapat ekstrim bahkan menyebutkan bahwa zakat profesi adalah bid’ah (mengada-ada). Sedangkan pendapat ekstrim di sisi lain menyebutkan bahwa memang zakat profesi tidak ada di kitab-kitab fiqih kuno.

Menikah di Mata Cowok (Baca: Saya)

Posted by: on Nov 19, 2007 | 24 Comments

Disclaimer:
Hehehe… sori dori mori, topiknya masih seputaran melankolis dan cintah.. Dan sekali lagi, postingan di bawah ini sangat sok tahu, jadi jangan terlalu diambil hati kalau saya terlalu menggurui secara teoritis )

*

tinggi tidak lebih dari 150 cm, berkulit putih kemerahan, muslim, berkerudung,banyak omong,, mengidamkan jejaka yang mau segera diajak melakukan sunah rosul,alias menikah, untuk keselamatan dunia akhirat,,,

Baris-baris di atas saya temukan di halaman profile friendster-nya seseorang yang ada di daftar teman saya. Mirip kata-kata yang sering kita temukan di kontak jodoh. Kata-kata terakhir cukup menohok. Sunah Rasul. Menikah. Hal yang dalam agama saya hukumnya sunnah dan bisa menjadi wajib. Soal siapa pemilik kata-kata itu, tak usahlah saya beri tahu, yang jelas dengan membaca kalimat itu, ciri-cirinya… imut-imut, putih, berkerudung…

Agaknya, ada perbedaan persepsi dalam memandang permasalahan pernikahan antara pria dan wanita. Wanita cenderung lebih cepat siap untuk memasuki jenjang pernikahan daripada pria. Ada berapa banyak wanita yang menunggu calonnya untuk segera memasuki jenjang pernikahan, sedangkan sang pria cenderung mengulur-ulur saat tersebut? Ada berapa banyak hubungan yang gagal karena perbedaan persepsi seperti ini? (halah, sampel-nya kok pribadi — just for personal touch dear… ).

Pria membutuhkan kesiapan lebih dari materi untuk menyiapkan kehidupan baru bernama pernikahan. Dipandang dari luar, seorang pria mungkin telah siap secara materi: wajah relatif tidak terlalu mengecewakan, cukup dewasa, memiliki pekerjaan tetap, karier yang cemerlang. Apa lagi yang menghalangi pria untuk berkata: “Oke, saya siap menikah.”?

Pria adalah kepala keluarga, tulang punggung keluarga. Di tangannya masa depan keluarga akan dibentuk. Di tangannya anak-anaknya akan tumbuh besar. Inilah yang saya rasa membuat pria tidak siap secara mental. Hal yang lebih berat lagi adalah, ia harus meninggalkan dunia kekanak-kanakannya (ingat pepatah pria tak pernah dewasa?). Belum lagi masalah keluarga yang pasti seabrek. Pernikahan berarti menyatukan dua keluarga besar yang berbeda prinsip. Dan masih banyak lagi tantangan-tantangan yang “menakutkan” bagi pria.

Tapi pertanyaan lebih lanjut adalah, jika pria sudah siap, maka itu seberapa siap?

Waktu makan malam bareng di food court Plaza Semanggi — waktu itu saya baru saja “memperjelas” sebuah hubungan yang harus “berakhir” — Pak Bos saya bilang, “Lih, kamu kalau tetap ada di bingkai pemikiran itu, kamu tidak akan pernah siap!”

Lalu, bingkai pemikiran yang seperti apa agar segera siap? Anda punya tips dan saran yang jitu? Saya juga ingin mendengar paparan dari sudut pandang wanita soal masalah ini nih. Kenapa wanita begitu mudah mengatakan “Aku siap menikah.”? Buat para wanita, beruntunglah Anda yang memiliki pasangan yang mengajak segera menikah. He must be a wise man…

Kekuatan Kenangan Cinta Pertama

Posted by: on Nov 18, 2007 | 126 Comments

Bagi orang yang melankolis, percaya atau tidak, kenangan akan cinta pertama begitu membekas. Luka karena cinta pertama sangat sulit diobati. Bahkan ketika luka tersebut sembuh, bekasnya akan tetap ada di sana. Setiap perkataan, sikap, benda, permintaan, apa saja darinya mengendap dalam otak dan bangkit kapan saja setiap kita menemukan hal-hal yang bisa membangkitkan kenangan.

Dulu, waktu awal-awal saya di Jakarta, ia pernah berkata (kurang lebih) begini di telepon, “Mas, aku minta dibawakan kerak telor!” Permintaan yang susah, karena kerak telor hanya ada di malam hari dan cepat basi. Tetapi akibatnya, sekarang setiap saya menemui penjual kerak telor betawi, kata-kata itu kembali terngiang di telinga saya. Gila! )

Masih banyak lagi hal-hal yang bisa membangkitkan kenangan. Padahal semua itu kecil-kecil dan sepele. Ya.. seperti kerak telor tadi. Hal seperti ini tanpa disadari merupakan sebuah jebakan lembah waktu yang membuat kita tak bisa menatap masa depan. Terjebak dalam lembah waktu seperti ini membuat kita terus terilusi (ilusi — meminjam istilah dnial) dan luka tersebut tidak akan pernah sembuh.

Beberapa orang memiliki cara untuk lepas dari jebakan-jebakan perasaan tersebut. Jebakan ini memang bukan hal yang ringan untuk melaluinya, jadi beberapa orang memutuskan mengambil cara frontal dengan membuang semuanya, memutus tali silaturahmi. Tak heran jika ada lagu yang memiliki lirik “… merubah cintaku jadi benci.” Ada orang yang saling membenci dan memusuhi satu sama lain. Mereka lupa bahwa cinta pernah mempersatukan mereka. Cinta pernah membuat mereka mengagumi, menghormati, menyayangi, dan memuja satu sama lain. Mereka bahkan lupa apa yang menyebabkan mereka bisa pernah saling menyayangi (disarikan dari kata-kata Julia Roberts dalam film Notting Hill).

Saya bisa mengerti kenapa ada yang mengambil cara frontal seperti itu. “Akal-akalan” wanita setelah menolak dengan kata-kata, “Tetapi kita tetap bisa berteman baik…” adalah hal yang berat bagi pria. Sekali pria jatuh cinta, ia tidak bisa kembali ke state “berteman baik” lagi. Ia akan terus salah mengartikan senyuman yang tulus, ia akan terus membangun harapan biarpun sedemikian kecilnya. Dan itu tentu saja sia-sia. Itu hanya membuat pria terjebak dalam jebakan waktu lebih lama lagi.

Aha, saya mungkin tidak menyadari bahwa saya masih membangun harapan ketika pulang dari rumahnya untuk berkenalan dengan calonnya. Ditemani hembusan angin menjelang maghrib, saya tersenyum sambil membatin, “Mas, tidak ada yang perlu kamu cemburui dari aku, kamu telah mendapatkan cintanya, sesuatu yang tidak pernah lagi aku dapatkan.”

Wew… saya kira, hanya ada satu cara untuk keluar dari jebakan ilusi tersebut. Figur baru! Yeah, hanya figur baru yang bisa membuat kita membangun harapan yang benar-benar baru, membuat kita kembali bersemangat. Tidak dapat dibohongi, kita tetap membutuhkan cinta yang berbalas. Kita butuh curhat pada orang yang juga menyayangi kita juga. Itu manusiawi.

Jadi, janganlah lama-lama terjebak dalam ruang waktu masa lalu. Buka diri, buka hati, selalu membuka diri terhadap figur baru. Kegagalan demi kegagalan hanyalah keberhasilan yang tertunda. Ketika pada saatnya nanti kita berhasil, kita akan lebih menghargai keberhasilan itu. Seperti yang pernah saya katakan, cintailah dan sayangilah orang yang mencintaimu, jangan buat dia bersedih, karena masih banyak orang yang belum mendapatkan anugerah seperti itu. Saya mungkin menyesal pernah terlalu cinta pada seseorang pada saat yang salah, tapi saya tidak menyesal karena setiap kegagalan selalu membawa pelajaran baru.

Don’t ever give up, let’s see a new day has come for you.

Asmara Satu Ketika

Posted by: on Nov 16, 2007 | 14 Comments

Sama halnya ketika aku menemukan lagu Love-nya The Mercy’s di tumpukan file-file MP3-ku, tadi pagi aku menemukan lagu yang amat menarik. Sangat puitis dan dalam. Tentu saja bukan dari lagu zaman sekarang — kamu tidak akan pernah menemukan lagu puitis dan dalam sekarang, adanya lagu komersil . Lagu ini milik Ebiet G. Ade, berjudul Asmara Satu Ketika.

Berikut liriknya:

Asmara Satu Ketika
Ebiet G. Ade

Ketika kubuka jendela kegetiran datang menyergap
Apakah karena hembusan angin bawa aroma rumput basah?
Gemuruh air hujan menumpas nyanyianku
tentang asmara yang sirna terkubur dalam dada
Aku kembali terduduk di atas kebekuan bara hati

Ketika kuberjalan sendiri menyusuri sungai berliku
Apakah langkahku bawa ke hulu ataukah ke muara?
Gemuruh suara hati menikam kebisuan
Ketika cintaku kandas terkubur dalam jiwa
Aku kembali terduduk di atas kebekuan bara hati

Gemuruh air hujan menumpas nyanyianku
tentang asmara yang sirna terkubur dalam dada
Aku kembali terduduk di atas kebekuan bara hati

Oh malam dengarkanlah syair dari nyanyianku
Barangkali akan dapat menolongku
Coba bawakan dia meski hanya lewat mimpi
Oh… kelam bicaralah!
Oh… demi semi cintaku…
Oh… o… demi semi cintaku…

Bergenre pop lembut sedikit beraroma jazz, kalau penasaran silakan download di sini nee…

It’s Our November Rain

Posted by: on Nov 14, 2007 | 26 Comments
Lokasi: Suatu tempat di Bekasi
Nikon D40 | Nikkor AF-S 55-200mm VR | Adobe Photoshop CS 3
Pengarah Gaya: Puntadi

Foto pre-wedd pertama saya. Tanpa make up artist. Diambil waktu hujan rintik-rintik. Terima kasih kepada pasangan Imam dan Lisa yang sedang berbahagia pada 3 November 2007, tatkala musim hujan mulai mengguyur Jakarta dan sekitarnya….

Font-Font Baru Windows Vista

Posted by: on Nov 14, 2007 | 5 Comments

Salah satu yang selalu saya suka dari Windows dari versi satu ke versi berikutnya adalah font. Setiap Microsoft menelurkan versi yang baru, mereka selalu membawa bentuk-bentuk font baru dan sebagian besar meledak populer. Misalnya, era Windows 2000 menggunakan title bar dengan jenis font Tahoma, kemudian menyusul Windows XP mempopulerkan Trebuchet MS.

Demikian pula Windows Vista. Saya tertarik mencari nama font baru yang dibawanya karena melihat font yang digunakan Vista sangat mengusik perhatian. Baru dan luwes. Apa saja font-font tersebut? Ini dia:

  • Calibri.
    Diproyeksikan sebagai pengganti font Arial. Calibri secara total telah menggantikan Arial di jenis font default pada aplikasi Microsoft Office 2007.
  • Cambria.
    Sangat mirip dengan Georgia. Georgia adalah font serif (memiliki kait) yang paling enak dibaca di halaman web. Meskipun di dunia kertas, Times New Roman masih merajai, namun di halaman web saya rasa Georgia lebih nyaman dibaca.
  • Candara.
    Candara adalah jenis font yang benar-benar baru. Jika diukur kemiripannya, mungkin mirip Trebuchet MS.
  • Consolas.
    Font jenis monospaced: setiap huruf memiliki lebar yang sama. Era Windows 2000/XP mencoba membawa Lucida Console. Namun, belum ada yang bisa mengalahkan Courier New saya rasa. Paling nyaman untuk coding adalah Courier New.
  • Constantia.
    Font ini berjenis serif. Mirip dengan Times New Roman tapi masih belum bisa menjegal kejayaan Times New Roman, saya rasa.
  • Corbel.
    Nah, ternyata font inilah yang mengusik perhatian saya. Font ini digunakan Vista sebagai title bar-nya. Kecil, jangkung, sejelas Verdana. Enak dilihat. Saya rasa, saya suka font ini.

Sumber: The Windows Vista Fonts

Tim yang Baik dan Solid

Posted by: on Nov 13, 2007 | 9 Comments

Alkisah, dua teknisi IT dari background pendidikan yang berbeda bergabung dan bekerja sama dalam membangun sebuah aplikasi. Teknisi A bertugas membangun infrastruktur dan desain network dan server. Kebutuhannya adalah, server harus tetap tangguh ketika diakses oleh 10.000 pengguna secara bersama-sama. Teknisi B bertugas membangun sistem perangkat lunak yang akan dipasang di atas server tersebut. Kebutuhannya adalah, program harus cepat, tangkas, responsif, dan memiliki sistem validasi yang baik tanpa terlalu banyak membebani kerja server yang sudah berat melayani banyak koneksi.

Ternyata, dua teknisi ini membawa konsep dan desain yang berbeda sehingga pada akhirnya, ada beberapa data yang tidak lulus uji standardisasi. Teknisi B (sistem) berkata, “Itu disebabkan oleh desain dan infrastruktur servernya! Tahu cara menyusun server tercluster nggak sih?” Teknisi A (infrastruktur) berkata, “Itu pasti programnya jelek, terlalu banyak bug, dasar programmer culun tak punya pengalaman!”

Well… anyway, mereka seharusnya menjadi team yang solid bukan? Seharusnya ego masing-masing bisa ditekan untuk kepentingan bersama bukan?

Switch to our mobile site